I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 240



Seperti yang dikatakan Edward, perjalanan Leathina kembali ke ruangannya benar-benar mulus tidak ada pengejaran, penyerangan bahkan sama sekali tidak ada yang mengikuti mereka perjalanannya benar-benar aman terkendali.


‘Sesuai perkataannya ini benar-benar mulus, jadi ini kekuatan ketua guild padahal sebelumnya banyak yang mengejar mereka  padahal karena sudah di kota seharusnya makin banyak yang mengejarnya.’


“Nona.” Panggil seseorang saat Leathina tidak fokus.


“Kita sudah sampai  di kediaman  Duke Leonard.”  Ucapnya sopan.


“Ah? Be-benarkah, ternyata sudah sampai di rumahku.”Leathina gugup.


“Tidak apa-apa Nona, Duke Leonard sudah menunggu anda dari tadi.” Ucapnya menenangkan Leathina yang terlihat jelas bahwa dia gugup.


Leathina memandangi mansion yang berdiri megah di depannya itu beberapa lampu di sebagian badan mansion sudah mati yang menandakan bahwa separuh isi mansion sudah beristirahat, memang sudah waktunya  para pelayan untuk beristirahat begitu juga keluarganya sendiri.


“Sepertinya  orang-orang di mansion sudah tidur, sebaiknya kita pergi saja aku akan datang sendiri besok.” Leathina semakin gugup, bingung entah apa yang akan dipikirkan seluruh keluarganya nanti Leathina tidak tahu apa yang membuatnya begitu gugup dan takut bertemu dengan keluarganya.


“Nona, anda harus masuk. Tenang saja Duke Leonard tidak akan terkejut begitu juga dengan adik-adik anda kami sudah memberitahu sebelumnya bahwa anda akan datang sebaliknya mereka akan semakin cemas karena kami sudah menjanjikan mereka untuk membawa anda kembali dari beberapa jam yang lalu.”


“Tapi…”


Tentu saja mereka tidak datang melalui jalan utama, mereka melalui hutan dan kebun di sisi mansion agar keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh siapapun, kini mereka bersama dengan Leathina telah memanjat menyebrangi dinding dan berada di taman belakang mansion.


Keadaan hening juga tidak terlihat penjaga yang bertugas seperti biasanya mereka bebas dari perhatian orang-orang.


“Nona mari, ini sudah  saatnya.”


Leathina mengangguk ragu-ragu mengikuti orang-orang yang mengantarnya itu, dari seberang sana tiba-tiba salah satu pintu kecil di sisi mansion yang sering di lewati para pelayan terbuka terlihat dua orang berdiri di ambang pintu hanya siluetnya saja yang terlihat sebab tubuh mereka membelakangi cahaya.


“Ayo!”


Langkah mereka semakin cepat hingga sampai di pintu itu, mereka berunding kemudian dua orang di pintu menarik Leathina.


“Nona Lea, kenapa lama sekali aku pikir rombongan kalian diserang Bisiknya penuh dengan kekhawatiran.


Terdengar suara orang tersebut akrab di telinga Leathina.


“kita sudah terlambat dari waktu yang di janjikan pada klien, apa yang kalian lakukan?!” bentak yang satunya pada yang lainnya.


“Maafkan kami, kita terlambat karena tiba-tiba ada kesatria kerajaan yang melakukan pemeriksaan tiba-tiba di restoran tadi jadi kami harus menunggu sampai pemeriksaan selesai terlebih dahulu.”


“Baiklah, cepat masuk.”


Pintu kemudian di tutup.


“A-adam?” panggil Leathina bingung melihat adam mengenakan pakaian pelayan.


“Saya juga ada di sini loh.” Sambung Nina menunjukkan penampilannya yang juga sedang mengenakan pakaian pelayan wanita.


“Nina? Apa yang kalian lakukan disini? Dimana Troy?”


“Kami datang lebih dulu memastikan keadaan, dan Troy sedang melakukan tugas lain.” Jawab Adam sembari memperbaiki jubah Leathina kembali untuk menutupi wajahnya.


“Kenapa?” tanya Leathina bingung kenapa masih harus menyembunyikannya padahal sudah sampai dirumahnya sendiri.


“Ini untuk jaga-jaga, bisa saja salah-satu pelayan rumahmu adalah tikus pencuri remah.” Celoteh Nina dengan perasaan was-was.


Leathina baru menyadari bahwa semua orang masih mengenakan jubahnya seperti dirinya dan menutupi wajah mereka semua hingga sulit mengenalinya dalam rombongan berjubah itu.


“Ayo.” Adam menuntun berjalan memimpin di depan begitu juga Nina kemudian diikuti oleh Leathina sementara orang-orang yang datang bersama Leathina tadi memencar ke dalam mansion untuk berjaga di posisi masing-masing mereka seketika menghilang kini Leathina diserahkan sepenuhnya pada Adam dan Nina untuk mengantarkannya pada klien mereka.


“Gugup?” Bisik Nina pada Leathina menjahili sengaja ia lakukan karena wajah Leathina terlihat pucat.


Leathina tersenyum kemudian mengangguk lemah.


“Mereka pasti sangat senang.”


“Semoga saja.” Balas Leathina sembari tetap mengikuti Adam.


“Tidak bisa dibiarkan, aku harus pergi menjemput kakak ku.” Nicholas gelisah, kesal karena telah menunggu terlalu lama.


“A-aku akan ikut kakak Nico.” Nora setuju dan berdiri di sisi Nicholas.


“Tenanglah dulu, kita tunggu sebentar lagi bagaimana jika ada kendala di jalan.” Duchess Nice menenangkan anak-anaknya.


Duke Leonard sendiri tidak berkomentar ia sekarang dilema ingin sekali menyusul Leathina tapi juga takut mengambil keputusan karena surat yang dikirimkan burung gagak tadi.


Tok…


Tok…


Terdengar suara pintu di ketok.


“Bukankah aku tadi sudah meminta untuk semua orang di mansion kembali ke kamarnya?” seru Duke Leonard tidak langsung membukakan pintu.


Tok…


Kembali lagi pintu di ketuk.


“Ada apa?” seru Duchess Nice.


“Saya pelayan ingin membawakan sesuatu, Tuan!” seru lawan bicara mereka dari balik pintu.


“Siapa sih…” Nicholas geram sambil berjalan ke arah pintu ingin mengusir si pelayan untuk segera kembali ke kamarnya.


Trak…


Namun belum sampai Nicholas memegang gagang pintu, pintu tersebut sudah dibuka lebih dahulu.


“Lancang sek…..


Ucapan Nicholas terhenti saat melihat wajah dua pelayan yang sama sekali belum pernah ia lihat, Nicholas bertanya-tanya tapi salah satu pelayan memberikan kode untuk diam barulah Nicholas paham bahwa dua orang itu adalah orang dari guild yang mereka sewa untuk mencari kakaknya.


“Kalian kembalilah ke kamar kenapa masih berkeliaran, bukankah sudah diperintahkan untuk tidak keluar dari kamar kalian.” Duchess yang tidak mengerti langsung mengusir mereka berdua sementara itu Nicholas menatap ayahnya dengan bingung.


“Mereka datang?” Gumam Duke Leonard langsung paham.


Mereka semua bingung sesaat tapi kemudian kembali sadar.


“Dimana anakku?” Tanya Duke Leonard langsung pada intinya.


“Akan kami serahkan jika kalian memberikan bayarannya terlebih dahulu.” Ucap Adam mulai bernegosiasi.


“Wah, mereka benar-benar professional. Aura mereka berdua jadi berbeda dan agak menyeramkan jika sedang bekerja.” Leathina mendengarkan dari luar karena di minta oleh Adam dan Nina untuk menunggu di luar sampai transaksi selesai dilakukan.


“Bagaimana kami bisa percaya kalian membawanya?” Duke Leonard berhati-hati karena sama sekali belum melihat keberadaan Leathina bersama mereka dan lagi semua guild pembunuh bayaran memiliki sifat licik yang mendarah daging dengan mereka.


“Kalian tidak perlu khawatir, putri kalian aman bersama kami.”


“Ayahku bertanya bagaimana kami bisa percaya dengan kalian.”


“Sudah cepat Adam, jangan mencoba mendramatisir keadaan kita harus cepat kembali.” Bisik Nina sambil mencubit pelan Adam agar tidak melanjutkan drama anehnya.


“Duh.., kau ini tidak seru sama sekali.” Balas Adam berbisik.


“Putri kalian ada di luar.” Adam pada akhirnya menyerah dan memberitahu dimana Leathina berada.


“Benarkah!” Seru Nora kegirangan dan langsung berlari  ke luar namun sayangnya di cegat oleh Nina.


“Kenapa?” Tanya Nicholas juga bingung kenapa menghentikan Nora.


...***...