
“Dimana rumahmu nak?” tanya Adam sembari berjalan pergi meninggalkan Leathina untuk mengantar si anak kembali pada orang tuannya.
“Disana paman?” jawabnya singkat dan pandangannya hanya fokus ke depan tanpa memberitahukan alamatnya dengan jelas.
“Sampai disini saja paman, terimakasih.” Baru beberapa meter Adam mengantarnya si anak tiba-tiba melompat turun dari gendongannya kemudian menghilang ditengah-tengah keramaian.
“Sialan, aku sudah tahu ini!” umpatnya kemudian segera berlari kembali ke tempat Leathina berada dan disana ternyata sudah tidak ada siapa-siapa Leathina tidak lagi ada di sana.
...
“Hummpf!” Leathina menghela nafas melihat Adam yang kini berjalan pergi meninggalkannya untuk mengantar si anak yang ditabrak Adam untuk kembali ke orang tuannya. Namun belum lama Adam pergi tiba-tiba dua orang menyekapnya dan menutup mulutnya agar tidak berteriak ataupun memberontak.
“Jangan melawan atau mencoba untuk berteriak atau lehermu akan putus!” bisiknya kemudian menodongkan sebuah pisau tepat ke leher Leathina.
Dua orang yang tiba-tiba menyekapnya itu langsung membawanya ke jalan sempit yang sepi kemudian baru melepaskan Leathina.
“Cepat buka jubahnya dan periksa!” Ucapnya sembari membuka paksa tudung jubah yang menutupi rambut Leathina.
Keduanya saling pandang seakan kehilangan sesuatu yang berharga bagi mereka berdua.
“Bukan.” Katanya sambil menepuk lengan temannya yang juga masih tertegun.
“Iya bukan yang ini.” Ucapnya lagi sambil menarik-narik rambut Leathina.
“Tuan, ada apa?” tanya Leathina dengan polosnya ia membiarkan dua orang aneh itu terus menyentuh rambutnya.
Mendengar Leathina keduanya langsung pergi agak menjauh dari Leathina agar Leathina tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua dan saling berbisik satu sama lain.
“Terus apa yang kita lakukan padanya?” bisiknya pada temannya.
Lawan bicaranya menggelengkan kepalanya kemudian mengangkut bahunya setelah itu berbalik melihat Leathina. “Tidak tahu.” ucapnya lagi setelah melihat.
“Kalau begitu kita lepaskan saja.”
“Eh! Jangan, kau tidak lihat dia cukup cantik.” Bisiknya lagi.
“Husst! Jangan sembarangan kamu, tuan memerintahkan untuk fokus melakukan pencarian putri duke!” Ucapnya memperingati temannya yang mempunyai pikiran aneh di kepalanya itu. “Tapi apa informasi yang mereka berikan pada kita salah? Aku yakin targetnya adalah dia.” Ucapnya curiga.
“Mungkin kita yang salah mengikuti orang, cepat bawa dia ke tempat semula sebelum orang yang bersamanya tadi menemukan kita.” Mereka berdua kemudian kembali menghampiri Leathina yang juga ikut menyimak pembicaraan mereka.
“Nona, apa ada yang terluka?” tanyanya pada Leathina karena sedikit merasa bersalah telah mengancamnya menggunakan pisau.
“Tuan, apa saya punya salah.” Tanya Leathina sambil memegang lehernya yang terluka karena tergores pisau yang ditodong kan padanya tadi.
“Akh!” maafkan maki Nona, kami salah orang.” Mereka panik saat melihat Leathina terluka.
“Kami akan mengantar kembali ke tempat tadi.” Mereka berdua lalu menuntun Leathina kembali ke jalan besar namun dalam perjalanannya Leathina memilih untuk kembali sendiri.
“Saya bisa pergi sendiri Tuan.” Ucapnya.
“Apa tidak apa-apa Nona?”
“Tidak apa-apa, bukankah tuan-tuan sedang sibuk mencari seseorang.”
Mereka berdua lalu saling tatap. Benar katanya kita sibuk.” Bisiknya kemudian yang satunya mengangguk membenarkan.
‘Ah! kalau begitu sekali lagi maafkan kami nona, selamat tinggal.” Ucapnya melepaskan Leathina setelah sama-sama sepakat setelah itu dalam waktu yang singkat mereka berdua telah menghilang dari pandangan Leathina.
“Hufft!” Leathina menghela nafas lega. “Untunglah mereka benar-benar bodoh.” Gumamnya kemudian segera berlari ke jalan utama.
Leathina kembali ke tempatnya menunggu adam. “Apa Adam masih belum kembali?” Gumamnya panik takut jika Adam sibuk mencarinya setelah kembali dari mengantar anak yang tadi mereka tabrak tapi tidak menemukan dirinya di sana.
“Mungkin belum.” Gumamnya lagi kemudian tetap menunggu Adam di tempat yang sama.
...
“Apa sudah ketemu?!” tanya Edward pada Adam setelah bertemu kembali.
“Belum, saya masih belum menem ....” Tiba-tiba Adam terdiam pandangannya tidak lagi fokus melihat Edward melainkan sosok perempuan yang sedang berdiri di depan toko tempatnya tadi meninggalkan Leathina.
“Leathina!!” seru Edward panik setelah ikut melihat dimana pandangan Adam tertuju, walaupun warna rambut Leathina berubah instingnya dapat langsung mengenali bahwa perempuan yang berdiri disana pastilah Leathina.
Secepat mungkin Edward langsung berlari ke sana disusul oleh Adam yang juga ikut panik takut jika ternyata mereka kembali salah mengenali orang.
“Leathina!” tanpa memeriksa lagi Edward langsung menarik perempuan yang sedang membelakanginya itu kemudian memeluknya erat.
“Oh! Ed?!” Gumam Leathina yang terkejut karena tiba-tiba dipeluk.
“Ah! syukurlah ternyata memang benar Nona Leathina.” Gumam Adam lega akhirnya menemukan Leathina.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Edward sembari melihat wajah Leathina dan memeriksanya, “Apa ini! Dari mana kamu mendapatkan luka sayatan ini?” tanya Edward geram saat melihat luka di leher Leathina.
“Ah! ini?” ucap Leathina sambil memeriksa lehernya sendiri. “Tadi ada dua orang bodoh yang salah mengenali orang.” Ucapnya kemudian menutup lukanya dengan tangannya dan setelah membukanya kembali luka dilehernya itu telah menghilang seperti tidak pernah terluka sebelumnya.
“Kemana mereka?! Aku harus menangkap dan membunuh mereka semua.” Edward yang geram kemudian meminta Leathina untuk memberitahukan dimana dua orang yang telah melukainya.
“Ed, Ed! Tenanglah.” Leathina menenangkan Edward yang sedang emosi namun bukannya tenang Edward malah semakin menggila diseretnya Leathina kembali ke penginapan.
“Aw! Ed! Tunggu dulu, pelan-pelan. Aku tidak apa-apa kenapa kamu jadi begini?!” Leathina yang tidak tahan lagi melepas tangan Edward secara paksa.
“Kamu bodoh ya!” bentak Edward membuat Leathina terdiam, “Bukankah kamu sendiri sudah tahu bahwa anak kecil itu jebakan!!” teriaknya marah.
“Ed! Kamu khawatir?” tanya Leathina.
Edward terdiam sejenak ditatapnya Leathina, ia kini lebih marah dari pada sebelumnya.
“Apa perlu kau masih bertanya seperti itu?” tanyanya geram, “Tentu saja aku khawatir!”
“Ed, maafkan aku.” Leathina segera meminta maaf karena tahu ia sekarang telah kelewatan bertanya seperti itu ditengah-tengah situasi Ed yang panik mencarinya.
“Aku mengikuti mereka dengan sengaja, karena mereka terus mengikutiku dan Adam jadi aku bertaruh mereka tidak lagi mengenaliku setelah aku dengan sengaja tertangkap karena telah merubah warna rambutku untungnya mereka benar-benar tidak mengenaliku karena yang mereka tahu putri duke mempunyai rambut merah tanpa pernah melihat wajah ku secara langsung. Mereka hanya membawaku kemudian melepaskan ku tidak terjadi apa-apa padaku.” Leathina mencoba menjelaskan pada Edward agar Edward bisa tenang terlebih dahulu.
“Aku tahu Leathina, tapi bagaimana jika kamu salah dan mereka tetap membawamu atau membunuhmu karena kamu bukan orang yang mereka cari!”
“Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi.” Pada akhirnya Leathina hanya bisa meminta maaf dan berjanji untuk tidak lagi melakukan hal berbahaya.
“Hah!” Edward menghela nafas.
“Ah! Tuan Ed, sepertinya kita harus kembali ke penginapan sekarang karena sebelumnya kami juga bertemu dengan seseorang yang sepertinya mengenali Leathina.” Ucap Adam meminta keduanya tenang dan segera kembali ke penginapan.
Edward menatap Leathina kemudian Leathina langsung mengangguk membenarkan.
“Baiklah, kita kembali ke penginapan sekarang. Aku juga punya sesuatu yang harus aku tanyakan padamu Leathina!” ucap Edward kemudian mereka bertiga akhirnya kembali ke penginapan.
Leathina menurut takut jika Edward kembali emosi dan malah membawanya secara paksa kembali.
“Tuan Ed! Anda sudah kembali?” sambut Troy saat melihat Edward masuk ke penginapan.
“Nona Leathina?” panggil Nina kebingungan saat melihat Leathina di bawa oleh Edward.
Troy dan Nina yang sedang duduk bersama di bar kecil yang ada di dalam penginapan tepatnya di depan pintu masuk mengikuti Edward dan Leathina yang masuk ke dalam.
“Eh! Kalian mau kemana?!” cegat Adam menarik Nina dan Troy duduk kembali ke tempatnya semula.
“Ada apa?” tanya Troy.
“Apa terlah terjadi sesuatu diantara tuan Ed dan Nona Leathina?” Nina pun ikut bertanya penasaran kenapa susananya begitu dingin diantara mereka berdua.
“Kalian berdua jangan ikut campur dan diam saja disini.” Jawab Adam kemudian ikut duduk bersama Troy dan Nina.
...
“Edward ada apa?” tanya Leathina kebingungan.
Edward tidak menjawab setelah masuk ke dalam ruangan yang ia ingat nomornya setelah diberitahu oleh Adam. Ia lalu mengunci dari dalam agar tidak ada yang mendengar percakapannya dengan Leathina.
“Ada apa? Kenapa kamu jadi mengerikan begini Edward?” tanya Leathina yang mulai khawatir karena Edward tidak mau menjawab setiap pertanyaannya.
“Leathina kemari.”
Setelah mengunci pintu dari dalam Edward membawa Leathina dan mendudukkannya di kursi sementara ia sendiri segera mengambil kursi lainnya dan duduk tepat di depan Leathina.
“Ada apa Edward?” tanya Leathina untuk yang kesekian kalinya.
Edward tidak langsung menjawab ia hanya menghembuskan nafas berat kemudian menatap Leathina.
“Leathina apa alasanmu tidak ingin kembali ke kerajaan dan terus mendorongku menjauh? Apa karena aku salah satu orang yang akan membahayakan nyawamu? Bukan hanya kau tapi beberapa karakter lainnya, Yardley, Zeyden, dan Nicholas. Dengan kata lain kami semua lah yang akan mengeksekusi mu di hari ulang tahun yang ke 25 tahun.” tanyanya serius.
Leathina terbelalak ditatapnya Edward dengan serius. “Darimana kamu tahu?” tanyanya tidak percaya dan tidak habis pikir Edward menanyakannya langsung padanya.
“Edward dari mana kamu tahu semua cerita itu?!” tanya Leathina panik.
“Cerita tentang cara kematianmu dan bagaimana kami semua mendorongmu menuju tiang gantung serta bagaiman semua nasib kami berakhir?” ucap Edward.
“Edward aku tanya sekali lagi, dari mana kamu tahu semua itu!” Leathina mulai emosi karena Edward tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Aku tahu dari ayahmu, ayahmu mengirimkan ini padaku sebagai Pangeran Edward dan sebagai Ed, ini semua tertulis disini.” Edward mengeluarkan dua surat dan ia perlihatkan pada Leathina. “Ayahmu tahu dari buku catatan mu.”
“Buku catatanku?!” Leathina mengingat-ingat kembali. “Ah! Astaga buku catatanku! Bagaimana caranya dia menemukannya?!” Teriaknya histeris setelah tahu buku catatan yang Edward maksud adalah buku catatan yang selalu ia gunakan sebagai tempatnya menyusun rencananya.
“Didalam buku itu aku banyak mengumpat dan menyumpahi semua orang.” Gumamnya panik. “Apa aku akan mati gara-gara buku konyol itu.” Leathina semakin panik mengingat bahwa yang ia tuliskan di dalam buku catatannya itu bukanlah hal yang bagus untuk dibaca.
“Leathina, sekarang katakan bagaimana kamu bisa begitu yakin bahwa kami semua akan membunuhmu dan dari mana kamu tahu kamu hal-hal yang belum pernah terjadi itu?” Tanya Edward serius.
“Itu karena aku berasal dari dunia lain dan aku membacanya di novel.” Batin Leathina menjawab pertanyaan Edward.
“Leathina katakan semuanya sekarang, apa yang sebenarnya terjadi?!”
“Apa aku harus memberitahukan padanya?” batin Leathina yang masih ragu-ragu untuk mempercayai Edward sepenuhnya.
“Kamu masih belum mempercayaiku Leathina?” Tanya Edward melihat Leathina. “Baiklah kalau begitu aku akan membuat kontrak sihir dan berjanji tidak akan melukaimu dan akan melindungi mu seumur hidupku jika aku mengingkarinya maka disaat itu juga aku akan mati karena kontrak ini.” Ucap Edward serius.
“Ah! Edward, baiklah, akan aku katakan.” Leathina yang panik segera menahan Edward yang beranjak dari tempat duduknya hendak membuat kontrak.
“Kamu percaya padaku?” tanya Edward menyakinkan Leathina kemudian dibalas anggukan oleh Leathina.
“Aku akan menceritakan semuanya tapi kamu harus berjanji tidak akan menganggapku gila dan harus percaya dengan apa yang akan aku katakan.”
“Aku janji Leathina, sekarang katakan!”
“Sebenarnya aku bukan Leathina.”
“Apa maksudmu Leathina, bagaimana mungkin kamu mengatakan itu sedangkan kamu berbicara dengan wujud Leathina.”
“Edward dengarkan dulu!”
“Baiklah, maafkan aku Leathina.”
“Aku berasal dari dimensi lain, disana aku meninggal karena sebuah kecelakaan saat aku pikir akan mati ternyata aku selamat tapi saat membuka mataku ternyata aku tidak lagi berada di tubuhku dan masuk ke dalam tubuh Leathina, dengan kata lain jiwa kami bertukar. Aku tidak tahu kemana Leathina yang asli berada, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa masuk ke dalam tubuhnya.”
“Sejak kapan?” tanya Edward.
“Semenjak tersadar dari koma setelah meminum racun.” Jawab Leathina sembari menunduk takut menatap mata Edward secara langsung.
“Setelah ini mereka semua pasti akan mengusirku atau memenjarakanku karena mengambil tubuh Leathina, atau mungkin akan dianggap gila, pada akhirnya aku tetaplah harus menghadapi kematian seperti yang ditakdirkan.” Batin Leathina pasrah.
“Terus dari mana kamu tahu aku akan membunuhmu?”
“Ditempat tinggalku dulu, aku pernah membaca sebuah cerita dimana kalian adalah pemeran dalam cerita tersebut kami menyebutnya novel.”
“Jadi maksudmu kami semua berada di dalam buku yang kamu baca?”
Leathina mengangguk membenarkan dan masih menunduk tidak berani melihat wajah Edward.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Edward sekarang, apa dia akan menganggapku aneh? atau Gila? Terserahlah jika nanti mereka menyalahkanku pastilah aku harus menerima.” Batin Leathina yang masih ketakutan.
“Apa kami semua bergerak seperti yang tertulis dalam buku itu?” tanya Edward lagi.
Leathina kembali mengangguk membenarkan. “Pada awalnya kalian semua bergerak seperti yang dituliskan dalam buku, tapi karena aku ingin hidup maka aku merubahnya dan beginilah jadinya sekarang. Aku membatalkan pertunanganku dengan pangeran Yardley, kemudian Yasmine mati, dan disinilah kamu sekarang Edward yang dijalan cerita yang sebenarnya kamu seharusnya membenciku.”
“Jadi karena itu kamu bisa mengetahui identitasku yang sebenarnya, mengetahui sifat busuk Yasmine yang sebenarnya dan bahkan menyelamatkan adikmu Nora yang seharusnya mati tenggelam di danau malam itu, Dan jalan ceritanya bisa berubah?”
“Iya aku mengubah semua itu demi bertahan hidup di dunia ini.” Jawab Leathina.
“Ah! Edward.”
Leathina terkejut ketika tiba-tiba Edward berlutut di depannya, Leathina yang panik segera mundur ke belakang tapi ditahan oleh Edward.
“Leathina dengarkan ucapanku.” Edward meminta Leathina untuk menatapnya kemudian menahan wajah Leathina agar tidak mengalihkan pandangannya darinya.
“Edward, apa yang kamu lakukan? Tidak ada gunanya Leathina yang asli tidak akan bisa kembali, aku mohon Lepaskan.” Pinta Leathina ketakutan tangannya gemetaran dan keringat dingin mulai bercucuran di wajahnya.
“Leathina dengarkan aku. Mari kita ubah alur ceritanya sama-sama.” Ucap Edward membuat Leathina tertegun.
“Selama ini kamu bisa bertahan bukan? Maka biarkan aku berada disisimu dan membantumu, aku akan melindungi mu aku janji. Maksudku mari kita buat akhir bahagia untukmu, tidak aku tidak akan membuat akhir tapi aku akan membuatmu bahagia untuk selama-lamanya aku janji.” Ucap Edward tulus.
“Edward, tapi aku bukan Leathina yang asli.” Leathina masih ragu-ragu walaupun sebenarnya ia sangat senang mendengar perkataan Edward.
“Leathina dengarkan aku, memang pada awalnya aku tidak tertarik padamu seperti yang kamu katakan tapi sekarang berbeda kamu telah berhasil mengubah jalan ceritanya dan membuatku ingin berada disisimu, jadi aku mohon biarkan aku berada disisimu, apa boleh?” tanya Edward.
Leathina tidak menjawab ia hanya menatap Edward mencoba mencari tahu apakah Edward tulus atau ia hanya berbohong, tapi ia tidak menemukan adanya kebohongan di setiap kalimat yang Edward ucapkan, semakin lama ia menatap edward semakin membuta hatinya tersentuh matanya berkaca-kaca menahan tangisnya agar tidak pecah.
“Leathina?” panggil Edward dan dengan lembut mengusap air mata Leathina yang mulai menetes di pipinya. “Apa boleh aku berada di sisimu?” tanyanya lagi pada Leathina.
Leathina kemudian mengangguk pelan tidak kuasa menahan tangisannya lagi ia akhirnya malah menangis.
“Terimakasih Edward!” ucap Leathina kemudian memeluk Edward erat.
“Terimakasih Leathina, terimakasih telah membiarkanku berada di sisimu.” Bisiknya pada Leathina dan balas memeluk Leathina.
Tangisan Leathina malah semakin mejadi-jadi karena tidak menyangka Edward tetap akan mempercayainya setelah mendengar seluruh cerita nya yang tidak masuk akal itu.
Dengan sabar Edward menenangkan Leathina yang masih menangis sesenggukan di pelukannya Leathina dan sesekali ia juga membersihkan wajah Leathina yang basah akibat air matanya sendiri.
“Ah, terimakasih Edward.” Ucap Leathina lagi kemudian melepaskan pelukannya. “Ini memalukan, aku belum pernah menangis di depan seseorang.” Gumamnya sambil mengusap wajahnya sendiri karena malu dilihat edward.
“Sudah merasa baik?” tanya Edward.
Leathina mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya karena malu memperlihatkan wajahnya pada Edward yang kini mata dan wajahnya membengkak akibat menangis terlalu lama.
Edward tersenyum melihat tingkah Leathina yang terus menutupi wajahnya karena malu.
“Kamu menertawakan ku?” tanya Leathina pada Edward.
“Tidak, aku tidak menertawakanmu.” Jawab Edward kemudian berhenti tersenyum karena tidak ingin membuat Leathina lebih malu lagi di hadapannya.
“Kau berbohong, kamu menertawakan ku karena aku menangis seperti anak kecil di depanmu kan?” tanya Leathina yang mulai jengkel dan menyesali perbuatannya sendiri.
“Tidak, sungguh aku tidak menertawakanmu Leathina.” Ucap Edward menyakinkan Leathina.
“Terus kalau bukan menertawakanku untuk apa kamu tersenyum selebar itu?” Tanya Leathina.
“Aku hanya merasa senang karena aku orang pertama yang melihat mu menangis Leathina, untuk ke depannya aku harap kamu tidak menangis di depan orang lain dan hanya menunjukkannya padaku saja.” Ucap Edward sembari membersihkan wajah Leathina yang masih lembab karena air mata.
“Aku tidak akan menangis lagi di depan siapapun, jadi jangan berharap terlalu banyak.” Leathina menepis tangan Edward yang terus menyentuh wajahnya.
“Tidak apa-apa setidaknya aku telah melihat sisimu yang lain.” Ucap Edward sembari tersenyum melihat Leathina namun tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi serius seperti biasanya.
“Ada apa Edward?” tanya Leathina bingung ketika melihat perubahan ekspresi pada wajah Edward yang semakin menakutkan.
“Ah! ada orang di balik pintu itu pasti Troy, Nina dan Adam.” Gumam Leathina melirik ke arah pintu.
Edward berdecak kesal karena ada pengganggu yang sedari tadi terus berulah di depan pintu, ia kemudian beranjak dan berjalan menuju pintu memutar kuncinya kemudian setelah itu langsung membuka pintu.
Edward yang membuka pintu secara tiba-tiba membuta Troy, Nina dan Adam terkejut kemudian mereka bertiga hanya mematung di depan pintu karena takut pada Edward, mereka bertiga tidak berani bergerak.
“Maafkan kami tuan.” Seru ketiganya sembari langsung berlutut di depan pintu. “Kami khawatir karena tuan tiba-tiba menyeret nona Leathina dan karena takut terjadi apa-apa kami mengikuti sampai di depan pintu.”
“Kalian menguping?” tanya Leathina dari dalam ruangan.
“Tidak! Kami sama sekali tidak menguping! kami juga tidak mendengar apa-apa!” seru ketiganya bersamaan.
“Jadi benar kalian menguping dan mendengar pembicaraan kami.” Ucap Edward kemudian menghela nafas berat membuta mereka bertiga langsung menutup mulut.
“Kami juga ingin berada di sisi Nona Leathina.” Ucap Troy tiba-tiba kemudian mulai sesenggukan menahan tangis.
“Saya juga bersedia membantu Nona Leathina jika diizinkan.” Ucap Nina yang juga ikut-ikutan sesenggukan sementara Adam hanya mengangguk mengiyakan.
Leathina tersenyum bahagia melihat mereka bertiga juga tenyata mendukungnya. “Terimakasih, Adam, Nina, dan Troy.” Ucap Leathina yang benar-benar merasa senang karena ada orang yang mau berada di sisinya.
“Kali ini aku tidak akan berjalan sendirian.” Gumam Leathina pelan.
Troy, Nina dan Adam kemudian menatap Edward memohon untuk diampuni karena telah menguping, Edward yang tidak mau menghancurkan suasana hati Leathina yang terlihat sangat senang kemudian mengangguk mengiyakan.
Melihat itu mereka bertiga langsung mendatangi Leathina dan memeluk Leathina secara bersamaan karena ikut bahagia.
...***...