I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 197



Hi Semua!


Sesuai keinginan kalian ceritanya akan author lanjutkan ya, author juga senang kalau banyak orang yang terhibur karena tulisan author.


Kemungkinan tidak akan sering-sering update tapi kalau author punya waktu author akan usahain untuk update secepatnya.


Jangan lupa berikan dukungan ya, biar author tambah semangat!


Terimakasih!


💙💙💙


.


.


.


...


Leathina menyarankan Edward, Nina, Adam dan Troy untuk kembali ke penginapan mereka dan bertemu lagi di hari berikutnya karena malam semakin larut namun seakan tidak ingin berpisah lagi dengan Leathina Edward bersikeras untuk ikut ke penginapan yang Leathina tempati.


“Tapi di penginapan yang aku tempati mungkin sudah tidak punya kamar kosong lagi untuk disewakan.” Tolak Leathina halus pada Edward. “Apa lagi tentu kalian tidak akan memesan satu kamar saja bukan, di sana terlalu ramai mustahil ada kamar kosong kamar yang ku tempati aku dapatkan karena kebetulan ada pengembara yang baru pergi.” Sambung Leathina menjelaskan pada Edward tentang kondisinya.


“Pasti ada, biarkan aku ikut denganmu Leathina.” Ucap Edward memaksa membuat Leathina harus memutar otak untuk memisahkan mereka darinya.


“Aku pikir petualangan ku akan benar-benar menyenangkan tapi kalau seperti ini rasanya menganggu juga, mereka seperti anak ayam.” Batin Leathina kemudian menghembuskan nafas panjang.


“Leathina, bos Edward akan uring-uringan jika berpisah dengan mu sekarang dan yang akan mendapat imbasnya itu kami, jadi izinkan saja kami ikut.” Bisik Adam pada Leathina membuat Leathina lagi-lagi menghembuskan nafas berat.


“Baiklah aku tidak bisa membuat kalian pergi jadi ikut saja.” Ucap Leathina yang akhirnya mengizinkan untuk mereka ikut kembali dengannya di penginapan yang telah disewanya.


“Tapi dimana penginapan kalian yang sebelumya?” Tanya Leathina tiba-tiba.


“Ada di sekitar alun-alun desa, memangnya ada apa?” tanya Troy kemudian memberitahukan Leathina.


“Ah, penginapan ku juga ada di sana. Sebelum ke penginapanku ayo ke tempat kalian terlebih dahulu.”


“Untuk apa?” tanya Edward.


“Bukankah barang-barang kalian ada di sana? Jadi kita perlu mengambilnya dulu.”


“Tidak perlu ini sudah terlalu larut kamu harus segera beristirahat Leathina.” Ucap Edward sambil melepaskan mantel bulunya kemudian memakaikannya pada Leathina. “Ayo kembali lebih dulu dan beristirahatlah.” Ucap Edward kemudian menarik Leathina bersamanya.


Sesuai dugaan Leathina, sesampainya di penginapan ternyata tidak ada lagi kamar kosong. Di penginapan itu hanya ada lima kamar empat diantaranya telah di sewa oleh orang lain dan satu kamar terakhir di sewa oleh Leathina sendiri, itu karena rata-rata penginapan di desa dibangun dari rumah yang ruangannya di jadikan sekat-sekat kamar lalu kemudian dijadikan penginapan untuk para petualang yang ingin beristirahat atau pedagang yang kebetulan lewat di desa tersebut. Jarang ada bangunan khusus dengan kamar yang banyak seperi penginapan di kota-kota besar.


“Nah, bagaimana? apa kalian ingin kembali ke penginapan kalian?” tanya Leathina lagi karena memang sudah tidak ada kamar yang bisa disewakan di penginapan tersebut semuanya telah penuh oleh pengunjung.


“Ah, kalian bisa berbagi kamar jika mau. Kamar kami cukup luas jadi separuh dari kalian bisa tidur di lantai hanya perlu selimut.” Ucap sang pemilik penginapan memberi solusi cepat karena sudah ingin berisitirahat sementara perdebatan antara Leathina dan Edward belum juga selesai-selesai sementara waktu malam semakin tipis.


“Bagaimana? Bisa kan? Cepatlah saya juga butuh istirahat karena pagi-pagi nanti saya harus berjaga lagi tuan-tuan dan nona-nona.” Ucap si pemilik penginapan mulai mendesak mereka semua untuk segera memutuskan.


Leathina menatap si pemilik penginapan berharap pemilik penginapan itu memberikan solusi untuk mereka semua bahwa merak hanya perlu tinggal mencari penginapan lainnya yang masih memiliki kamar kosong namun sayangnya si pemilik penginapan itu sudah terlalu mengantuk untuk kembali berfikir bahkan berbicara pun sudah menguap dan mengucek matanya untuk yang ke sekian kalinya.


“Kalau begitu kami akan akan menginap bersama di kamar teman kami ini karena tidak ada kamar kosong lagi.” Ucap Edward tiba-tiba memutuskan sendiri tanpa meminta persetujuan dari Leathina sementara Adam, Troy, dan Nina tentu saja akan menyetujui semua keputusan yang di pilih Edward.


“Ah...’ Leathina menghela nafas berat. “Baiklah kalian bisa berbagi kamar denganku.” Ucapnya pasrah dengan Edward yang keras kepala.


“Nah, kalau begitu tuan pemilik penginapan yang baik tolong bawakan kami Empat selimut dan bantal tambahan.” Ucap Troy memberitahu si pemilik penginapan.


“Baiklah tuan-tuan kalau begitu satu pasang selimut dan bantal seharga tiga koin perak jadi... satu, dua, tiga...” Si pemilik penginapan berhenti berbicara menghitung dengan cepat menggunakan dengan jarinya kemudian terdiam sebentar sepertinya kembali memikirkan soal harga selimut dan bantalnya. “Ah! Totalnya 12 koin perak tuan – tuan dan nona – nona.” Ucapnya antusias memberitahu total harga, rasa kantuknya tiba-tiba menghilang matanya malah kembali cerah ketika membahas tentang uang.


“Astaga! seharusnya dari awal aku sudah harus tahu kalau pemilik penginapan ini bukan malas memberi solusi tapi karena dari awal memang ingin menyewakan barang-barangnya yang bisa menghasilkan uang dan membuat kantungnya tebal. Huff...” leathina kembali menghela nafas berat pasrah dengan keadaanya.


“Edward bukankah kau dan yang lainnya sudah memesan kamar di penginapan lain jadi sebaiknya kalian kembali ke penginapan kalian dari pada harus mengeluarkan uang lagi, kitakan bisa bertemu lagi besok.” Leathina kembali memberitahu Edward bahwa lebih baik kembali ke penginapannya dari pada harus mengeluarkan uang lagi hanya karena ingin berada di penginapan yang sama dengannya.


“Aku, aku, akan memberikan kalian diskon jadi totalnya hanya 10 koin perak saja.” Ucap si pemilik penginapan menyela pembicaraan Leathina dan Edward karena tidak ingin kehilangan uang calon miliknya.


“Pemilik penginapan disini baik sekali bahkan memberikan kami diskon bukankah itu sudah sangat murah Leathina?” Ucap Edward kemudian tersenyum ramah. “Nina cepat bayar agar kami semua bisa beristirahat secepatnya.” Sambungnya lagi.


Nina yang tahu apa yang harus dilakukannya cepat-cepat membuka kantung uangnya menghitung-hitung beberapa koin. “Ini uangnya 10 koin perak!” Ucap Nina kemudian mengeluarkan sepuluh koin perak dari kantung uangnya dan meletakkannya di depan si pemilik penginapan.


“Terimakasih tuan!” seru si pemilik penginapan kegirangan. “Empat selimut tebal lengkap dengan bantal tambahan akan segera sampai di ruangan anda.” Sambungnya lagi kemudian segera beranjak dari tempatnya menuju penyimpanan barang yang juga sebagai tempat tinggalnya, mengeluarkan empat selimut dan bantal dari lemari untuk di bawakan ke ruangan Leathina.


“Silahkan kembali lebih dulu ke ruangan anda saka akan segera membawakan selimut dan bantal anda!” teriak si pemilik penginapan lagi dari dalam ruangan penyimpangan karena sepertinya kesulitan membawa empat selimut dan bantal sekaligus.


“Hufff ....” leathina lagi-lagi menghela nafas berat kemudian berjalan lebih dulu menuju kamar sewaannya diikuti oleh Edward serta Adam, Troy, dan juga Nina.


“Silahkan masuk.” Ucap Leathina setelah membuka pintu kamarnya dengan kunci miliknya.


Setelah memasuki ruangan masing-masing dari mereka malah memeriksa ruangan Leathina membuat Leathina lagi-lagi menghela nafas berat. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Leathina.


“Ah, aku memeriksa apakah ruangan ini aman.” Jawab Edward cepat.


“Aku juga.”


“Aku juga.”


Jawab Adam, Troy, dan Nina hampir bersamaan.


“Memangnya siapa yang akan melakukan hal aneh seperti itu di desa kecil seperti ini.” Gumam Leathina kemudian mengabaikan mereka, melepaskan jubahnya dan melerai rambutnya yang sedari tadi ia sembunyikan agar tidak menarik perhatian banyak orang.


“Ini salah satu bentuk pencegahan, berada di kota besar atau pun desa terpencil sekali pun kita tidak akan pernah tahu bahaya seperti apa yang menuggu.” Jawab Troy memberitahu dengan gaya sok bijak, sementara Adam dan Nina mendukung ucapan Troy dengan mengangguk – angguk beberapa kali mendukung sepenuhnya ucapan Troy tadi.


“Terserah kalian saja. Nina tidur lah di tempat tidur bersamaku kita sama-sama wanita jadi tidak akan terjadi masalah.” Ucap Leathina yang duduk di tepi tempat tidurnya.


“Ah, saya tidak masalah tidur dimana pun Leathina.” Tolak Nina sopan karena tidak ingin menganggu waktu istirahat Leathina.


“Tidak masalah tidurlah di tem ...”


“Tok ... tok ... tok.”


“Permisi Tuan dan Nona saya datang mengantar selimut anda.”


Belum sempat Leathina menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dan disusul suara si pemilik penginapan yang datang mengantarkan selimut sewaannya untuk Adam, Troy, nina dan Edward tadi.


“Iya sebentar.” Teriak Troy dari dalam kemudian Adam yang paling dekat dengan pintu berjalan membukakan pintu kamar kemudian mengambil selimut-selimut serta bantal yang di bawakan oleh si pemilik penginapan.


“Terimakasih tuan.” Ucap Adam ramah.


“Sama-sama, selamat beristirahat.” Jawab si pemilik penginapan tidak kalah ramahnya dari Adam kemudian kembali setelah mengantarkan selimut dan bantal.


“Saya tidur di sini saja.” Cepat-cepat Nina merebut salah satu selimut dan bantal yang dibawa Adam kemudian langsung menggelarnya di sembarang tempat membuat Leathina tidak bisa berkata-kata lagi dan tidak lagi memintanya untuk tidur bersama karena menghargai keinginan Nina yang ingin tidur terpisah dengannya.


“Sebegitu tidak inginnya tidur denganku ya.” batin Leathina.


“Jadi karena kalian sudah ada disini bersamaku dan menemukanku disini kemudian setelah mengetahui keadaanku baik-baik saja apa keputusan kalian?” tanya Leathina tiba-tiba menghentikan pergerakan Adam dan Troy yang masih sementara menggelar selimut untuk mereka dan untuk Edward kemudian saling bertukar tatap setelah itu Adam, Troy dan Nina secara bersamaan melihat ke arah Edward yang masih berdiri di tempatnya seakan menyerahkan semua keputusan terakhir pada Edward.


Sejak awal mereka bertiga sudah memutuskan untuk mengikuti Edward jadi semua keputusan yang akan di ambil tentu saja harus mengikuti keputusan yang diberikan oleh Edward.


“Kenapa kamu masih bertanya Leathina.” Jawab Edward setelah lama terdiam sambil menatap Leathina.


“Tentu saja aku harus bertanya.” Balas Leathina lagi.


“Bukankah sudah aku bilang sekarang aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi.” Jawab Edward mantap tanpa berfikir sebelum berbicara.


“Sungguh?!” tanya Leathina masih ragu menerima jawaban spontan dari Edward. “Tapi aku mungkin tidak akan kembali selama beberapa tahun ke depan aku akan terus berpetualang kemanapun kakiku membawaku dan mungkin saat kembali posisimu di kerajaan mungkin akan berubah.”


“Tidak masalah untukku.” Jawab Edward lagi dengan spontan nya tanpa perlu berlama-lama berfikir tentang kerugiannya sendiri.


Untuk Edward sekarang yang lebih utama adalah berada disisi Leathina.


“Walaupun sepertinya sekarang Leathina masih belum menetapkan hatinya untuk bersandar pada seseorang tapi semoga adanya aku di sisinya membuatnya untuk menempatkan ku sedikit lebih spesial di hatinya untuk sekarang aku hanya perlu berada disisinya dan jika masih belum menyukaiku aku hanya perlu membuatnya menyukaiku.” Batin Edward, setelah merasakan kehilangan Leathina selama beberapa kali membuatnya seperti orang yang berbeda dan tidak terkontrol hanya karena tidak melihat Leathina.


“Huff....” Leathina lagi-lagi menghela nafa berat karena merasa bersalah dengan Edward yang harus merelakan segala keuntungan yang mungkin bisa ia peroleh jika tetap tinggal di kerajaan.


“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan Leathina tapi jangan salah paham. Aku mencari mu karena memang itu yang aku mau.” Ucap Edward yang seakan tahu isi pikiran Leathina.


“Untuk kalian bertiga Adam, Troy, dan Nina kalian bisa kembali ke kerajaan jika kalian mau.” Edward berbicara tanpa menoleh ke arah ketiga bawahannya ia hanya duduk di kursi kemudian dengan posisi duduk tegaknya ia hanya duduk menghadap Leathina yang juga duduk di tepi tempat tidurnya.


“Bagaimana dengan kalian bertiga?” tanya Leathina lagi pada Troy, Nina dan Adam.


“Kalian kembalilah jika ingin kembali, sebenarnya tujuan awal ku untuk tidak langsung kembali ke kerajaan setelah berhasil selamat dari Almo kar...”


“Almo?” tanya Edward memotong kalimat Leathina.


“Ma-maksudku selamat dari Naga yang membawaku, namanya Almo aku mengetahuinya setelah tinggal selama berbulan-bulan di tempatnya tanpa punya kesempatan keluar.” Jawab Leathina gugup takut jika Edward tahu bahwa sekarang dirinya dan sang naga yang menculiknya sekarang berteman. “Sebaiknya hubunganku dengan Almo tidak perlu aku beritahukan pada meraka aku takut Edward akan datang ke sana dan menyerang serta melukai para manusia setengah manusia yang tinggal disana. Bagaimanapun Almo sudah menculik ku dan memberikan kerugian pada kerajaan terlebih menyerang Raja dan Ratu walaupun bukan Edward yang nantinya menyerang pasti akan ada orang lain yang akan datang  untuk balas dendam pada Almo.” Batin Leathina khawatir.


“Seperti yang aku duga monster itu memenjarakan mu syukurlah kau selamat, apa kau ingat dimana dia menetap akan lebih baik jika monster itu dilenyapkan.” Ucap Edward dengan serius kemudian beranjak dari tempat duduknya menghampiri Leathina.


 “Tidak perlu sampai seperti itu karena sepertinya dia terluka cukup parah dan tidak mungkin lagi bisa keluar, kau ingat saat aku menombak matanya? Luka di matanya akan sulit untuk sembuh dan tidak bisa terbang karena penglihatannya rusak.”


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu jika monster itu sekarat.” Jawab Edward dengan serius memeriksa Leathina dari ujung rambut, tangan sampai kaki Leathina.


Apa yang kau lakukan Edward?” tanya Leathina kebingungan dan sedikit canggung dengan posisi mereka yang sangat berdekatan.


“Diam lah sebentar aku memeriksa mu.” Ucap Edward kemudian melanjutkan kegiatannya. “Apa ada yang terluka? Apa dia menggigit mu? Waktu itu kau di bawa terbang dengan cara dikekang dengan cakarnya.” tanya kemudian setelah tidak menemukan kelainan atau pun luka pada Leathina.


“Aku baik-baik saja lihatlah, aku bahkan sama sekali tidak terluka. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya bahwa aku ini kuat.” Jawab Leathina kemudian mendorong tubuh Edward yang condong ke padanya agar sedikit menjauh.


“Dia menjadi sedikit gila setelah lama tidak bertemu” Batin Leathina saat mendapati Edward yang menjadi posesif jika membahas tentang dirinya.


“Ah, sebelum itu bagaimana dengan kalian bertiga? Aku belum mendengar keputusan kalian tapi akan lebih baik jika kalian semua kembali saja.” Ucap Leathina kembali fokus dengan percakapannya yang tadi teralihkan karena Edward tiba-tiba menanyakan tentang Almo.


...***...