
Duke Leonard pergi meninggalkan ruangan berobat kerajaan tersebut bersama dengan Leathina dan diikuti oleh Anne di belakang mereka, mereka berjalan mengikuti koridor menuju sebuah ruangan yang di depan pintunya terdapat dua orang prajurit kerajaan yang sedang berjaga di depan pintu, saat Duke Leonard sampai di depan pintu prajurit yang berjaga di depan pintu segera membungkuk memberi hormat setelah itu barulah mereka membukakan pintu.
Duke Leonard segera memasuki ruangan tersebut bersama dengan Leathina sementara Anne hanya menunggu di luar pintu.
“Anne kenapa kamu tidak ikut masuk?” Leathina yang melihat Anne tidak ikut masuk segera menanyainya karena Anne hanya berdiri di luar saja.
“Saya menunggu di luar saja Nona.”
Mendengar jawaban Anne, Leathina tidak berkata apa – apa lagi dia segera menyusul Duke Leonard yang telah berjalan lebih dulu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Saat Leathina memasuki ruangan terdapat seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sebuah kursi menyambutnya dengan senyuman.
“Salam Raja Daylen Arathon Cahaya dari kerajaan Coniferland.” Setelah melihat pria paru bayah itu Duke Leonard langsung membungkuk memberi hormat padanya sementara Leathina hanya mengikuti apa yang dilakukan Duke Leonard ia juga segera membungkuk untuk memberi hormat.
“Duduklah.” Raja Daylen mempersilahkan Duke Leonard dan Leathina untuk duduk.
“Akhirnya kamu datang juga Leathina aku sudah lama ingin bertemu langsung denganmu dan maafkan aku karena selama kamu sakit aku tidak pernah datang menjengukmu tapi aku sudah mengutus putraku Yardley untuk menjengukmu.”
“Tidak apa – apa Raja Daylen dan seharusnya anda tidak perlu repot – repot mengutus pangera Yardley untuk datang menjengukku karena itu pasti akan membebaninya.” Leathina tesenyum menanggapi ucapan Raja Daylen.
“Hahaha, cara bicaramu selalu saja sama Lea, kamu tidak melebih – lebihkan sesuatu dan kamu mengucapkannya apa adanya yah walaupun agak menyakitkan untuk di dengar tapi entah kenapa aku menyukai kejujuranmu itu.”
“Saya akan langsung pada intiya, aku ingin menanyakan apa yang membuatmu tiba – tiba ingin membatalkan pertunanganmu dengan putraku, Lea?”
“Maafkan aku Raja Daylen tapi sepertinya aku dan pangeran Yardley tidak memiliki kecocokan untuk bersama.”
“Tapi aku sangat menginginkan kamu yang mendampinginya sebagai pasangan kelak, kamu tahu sendiri bukan anakku Yardley sangat lembut dia tidak bisa bersikap tegas dia bahkan sulit memutuskan perkara jika memberikan hukuman pada orang yang dia kenal perlu seseorang sepertimu yang mendampinginya jika dia ingin menduduki tahta nantinya.”
“Tenang saja Raja Deylen, pangeran Yardley telah menemukan pasangan yang sangat cocok dengannya jika dia bersamanya mugkin dia akan berubah demi orang yang ia cintai.”
“Maksudmu wanita yang selalu dia kunjungi itu? Sebenarnya aku tidak terlalu menyukai perempuan itu. Yardley sangat mudah di perbudak oleh cinta dia bisa melakukan apaupun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan tapi dia tidak bisa menjaga batasannya sebagai penerusku, sebenarnya besar harapanku kamu tetap menjadi pasangannya kelak, Lea kamu sudah aku anggap seperti anakku sendiri dan aku tahu betul sifatmu.”
“Sekali lagi maafkan aku Raja Deylen aku tetap akan membatalkan pertunangan ini, aku tidak ingin lagi hidup tanpa dicintai.”
“Baiklah maafkan aku jika memaksamu Lea, sebagai orang tua aku juga menghargai pendapatmu.” Raja Daeylen berbicara sambil menoleh ke arah Duke Yarnell sementara Duke Yarnell hanya diam saja.
“Tapi kabar tentang pembatalan pertunaganmu ini akan membuatmu dalam kesulitan, para petinggi dan bangsawan lain akan memandang rendah dirimu itu sama saja seperti aku membuangmu dan aku tidak suka hal itu terjadi.”
“Tidak akan ada yang akan memandang rendah putriku, Raja Daylen.” Mendengar ucapan raja Daylen membuat Duke Yarnel sedikit marah.
“Baiklah.. baiklah aku paham Yarnell, memang benar bahwa tidak akan ada yang merendahkanmu jika berada langsung di depanmu tapi mungkin mereka akan menyerangmu dari belakang.”
“Terimakasih telah mengkhwatirkan aku, tapi aku akan baik – baik saja dengan itu aku sudah mempersiapkan diri untuk menanggung resiko dalam membatalkan pertunangan ini.” Leathina yang melihat percakapan di antara Duke Yarnell dan Raja Daylen memanas segera berbicara untuk menghentikan perdebatan mereka berdua.
“Jika memungkinkan untuk aku tepati maka akan aku tepati Raja Daylen.”
“Kamu harus memanggilku dengan sebutan ayah, kamu tahu aku sangat menginginkan anak perempuan sepertimu Lea.”
“Hey.. hey.. Daylen dia putriku bukan putrimu.” Duke Yarnell merasa tidak terima putrinya di ambl oleh Raja Daylen.
“Aku kaisar di sini Yarnell, jadi aku bebas ingin mengambil apapun ynag aku mau termaksud putrimu.”
“Bersiap – siap saja kamu harus menangani pemberontakan jika kamu berani mengambil putriku.”
“Baiklah.. baiklah kamu terlalu serius Yarnell.”
Kenapa tiba – tiba alur percakapannya menjadi seperti ini sih, kedua orang tua yang ada di depanku sekarang lebih mirip anak kecil yang memperebutkan satu permen.
Tapi, walaupun mereka berdua terlihat telah menerima dan menyayangi Leathina mereka berdua tetap saja menyembunyikan sesuatu, Duke Yarnell masih belum menerima Leathina seutuhnya sementara Raja Daylen menyukai Leathina mungkin hanya karena kemampuannya telah diakui oleh orang - orang dia sangat menyukai orang yang memiliki potensi yang berguna untuk kerajaannya.
“Baiklah kalau begitu panggil aku paman, tidak masalahkan Leonard?” Duke Leonard tidak membalasa perkataan Raja Daylend tanda bahwa sebutan paman tidak apa – apa untuknya.
“Nah baiklah kalau kalau kamu tidak membantah berarti kamu setuju denganku, yang pertama panggil aku paman dan kedua kamu harus sering – saring datang mengunjungiku, bagaimana Lea?”
“Baikah Raja Daylen akan aku lakukan.”
“Karena kamu ingin membatalkan pertunaganmu aku takut jika kamu tidak ingin lagi menemuiku makanya aku mengajukan perjanjian ini, kamu tahu aku punya dua orang putra tapi dua – duanya tidak ada yang peduli denganku aku takut mereka akan menghianatiku di hari tuaku nanti.” Raja Daylen berbicara sambil terkekeh karena ucapannya sendiri.
“Jangan mengeluh pada putriku Daylen, pergi ke anak – anakmu.”
“Kejam sekali kau Yarnell, padahal kita sudah lama bersahabat.”
“Dua putra?” Leathina berbicara sambil mengulangi ucapan raja Daylen.”
“Mungkin kamu sudah lupa dengan putra keduaku karena dia tidak tinggal di sini semejak dia berumur 5 tahun, aku memiliki dua putra kamu dulu sering bermain dengan mereka berdua tapi itu sudah lama sekali jadi wajar jika kamu melupakan putra keduaku itu, tenang saja kamu bisa bertemu dengannya saat perayaa ulang tahunku dalam beberapa hari nanti dia akan pulang ke kerajaan, ohiya aku hampir lupa kamu aku wajibkan datang Lea dan bawakan hadiamu secara langsung padaku ini perintah kerajaan, aku telah mengirimkanmu undangan tapi kamu tidak pernah membalasnya untuk memastikan bahwa kamu akan datang atau tidak di perayaan nanti.”
“Jangan seenaknya memberi titah menggunakan nama kerajaan untuk kepentingan pribadi Deylen.”
“Kamu terlalu tegang Yarnell.”
“Baiklah karena kamu telah menyetujui untuk membatalkan pertunangan Lea, maka kami akan segera kembali ke kediaman kami, salam Raja daylen.”
Setelah memberi hormat Duke Yarnell kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut di ikuti oleh Leathina.
......***......