
“Permisi Nona Leathina, selamat malam.” Sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba menyapa Leathina hingga membuat Leathina mengurungkan niatnya untuk menarik belatinya dan menyerang orang yang mengikutinya itu.
“Umpanku berhasil dimakan aku hanya perlu berpura-pura masuk ke dalam jebakan mereka.” Batin Leathina kemudian berbalik dan tersenyum ramah melihat laki-laki yang telah mengikutinya itu sejak tadi.
Leathina hanya memandang laki-laki yang mengikutinya itu tanpa membalas sapaan nya, dilihatnya laki-laki yang mendatanginya itu telah membawa dua gelas alkohol ditangannya.
“Oh, maafkan atas ketidak sopanan yang saya Lakukan terhadap anda Nona Leathina. Perkenalkan nama saya Thomas, saya putra tertua dari grand duke Alcott.” Thomas memperkenalkan dirinya sopan kemudian sedikit membungkuk dan segera kembali berdiri dengan tegap agar alkohol yang dipegangnya tidak tumpah.
“Sepertinya anda sengaja mengikuti saya sampai kesini.” Tanya Leathina menyelidik mencoba menyudutkan Thomas yang berdiri dengan tenang di hadapannya itu.
“Seperti kupu-kupu yang mencari nektar sebuah bunga, tentu saja saya mengikuti anda yang terlihat sangat menawan Nona Leathina.”
“Dia pandai menggunakan mulutnya.” Batin Leathina ketikan mendengar apa yang baru saja diucapkan Thomas.
“Maafkan aku tapi sejujurnya anda terlihat seperti ngengat di mataku.” Ucap Leathina dengan nada datar menunjukkan ketidaktertarikannya pada rayuan yang keluar dari mulut Thomas.
“Sebuah kehormatan untukku Nona, setidaknya aku masih terlihat di mata Nona Leathina yang luas dan sebiru langit.”
“Ah, aku benar-benar muak mendengar rayuannya. Aku penasaran berapa banyak wanita yang telah dipatahkan sayapnya dengan rayuan nya itu.”
“Terimakasih atas pujiannya Tuan Thomas.”
“Kau bisa memanggilku Thomas, Nona Leathina.”
“Baiklah Thomas.”
“Terimakasih Nona Leathina, ingin meminum segelas alkohol untuk menenangkan pikiran?” ucapnya sambil menunjukkan dua gelas alkohol yang ia bawa sejak tadi. “Sepertinya mood Nona Leathina sedang kacau karena kejadian tadi.” Sambungnya lagi kemudian memberikan pada Leathina salah satu gelas alkohol yang ada di tangannya.
“Jadi kau melihatnya?” Tanya Leathina sambil mengambil minuman yang disodorkan Thomas untuknya.
“Tentu saja aku melihatnya, semua orang bahkan menganggap kejadian tadi sebagai tontonan yang cukup menarik.”
“Kau bisa melupakannya untukku, Thomas.” Ucap Leathina kemudian meminum alkohol yang diberikan Thomas untuknya.
“Seperti yang aku duga.”
Setelah meminum alkohol yang diberikan Thomas Leathina mulai merasakan pusing pada kepalanya kemudian pandangannya mulai mengabur.
“Brak”
Leathina menjatuhkan gelas kaca yang masih tersisah sedikit alkohol di dalamnya karena tidak bisa lagi menjaga kesemimbangan tubuhnya dan perlahan-lahan pandangannya yang tadi mengabur kini gelap seutuhnya.
Diujung kesadarannya Leathina melihat samar-samar wajah Thomas yang tersenyum melihatnya. "Kau akan membayarnya sepuluh kali lipat dari yang lakukan ini." Batin Leathina sebelum kesadarannya benar-benar menghilangkan dan masih sempat ia rasakan Thomas menangkapnya.
“Hap”
Thomas menangkap tubuh Leathina yang hampir terjatuh dan segera mengangkat tubuh Leathina kemudian menggendongannya serta membawanya pergi.
Thomas pergi ke area ruangan peristirahatan para tamu, kemudian mencari ruangan kosong dan setelah menemukannya Thomas segera masuk ke dalam meletakkan tubuh Leathina di atas kursi berlapis bantal dengan hati-hati kemudian segera kembali ke pintu dan menguncinya dari dalam.
“Gelap sekali.” Gumam Thomas kemudian menyalakan lilin untuk menerangi ruangan yang ia tempati.
Thomas mendekatkan lilin ke wajah Leathina yang terlihat seperti tertidur dibanding tidak sadarkan diri.
“Cantik sekali.” Gumamnya ketika mengawati wajah Leathina dari jarak yang sangat dekat, “Aku tidak percaya pangeran pertama tidak menginginkannya dan malah menyukai perempuan itu, tenang saja aku tidak akan menyia-nyiakanmu Nona Leathina.” Sambungnya lagi kemudian meletakkan lilin di dekatnya agar bisa melihat degan jelas kemudian memperhatikan gaun yang dikenakan oleh Leatina. Thomas melihat tali yang terikat di punggung Leathina kemudian mulai melepaskan ikatannya satu-persatu.
...
“Nona, Nona, Nona Leathina dimana anda?” Gumam Anne mengelilingi Aula utama untuk mencari Nonanya.
“Aku telah mencarinya di kamarnya dan di ruangan istrirahat tapi aku tetap tidak bisa menemukan anda Nona Leathina.” Ucap Anne gusar ketika tidak bisa menemukan Leathina dimanapun.
“Anne dengarkan aku.” Anne kembali mengingat apa yang diberitahukan Leathina padanya ketika membantu Leathina bersiap saat pesta akan dimulai.
“Ada apa Nona Leathina?” Tanya Anne yang melihat Leathina terlihat sangat serius.
“Saat pesta berlangsung kemungkinan ada orang suruhan yang akan membunuhku atau menculiku.”
“Tak”
Anne menjatuhkan barang-barang yang ada di tangannya karena sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Leathina.
“Aku akan segera memberitahu Tuan Duke untuk mengirimkan penjaga untuk Nona Leathina, aku juga aka....” Anne dengan cepat segera keluar dari ruangan Leathina untuk melapor pada Duke Leonard tapi dengan cepat Leathina menghentikannya kemudian menggelengkan kepalanya agar Anne tidak pergi melapor.
“T-tapi ke-kenapa?” Tanya Anne kebingungan bercampur dengan perasaan takut.
“Jangan lakukan itu, aku berniat untuk menagkapnya.”
“Ba-bagaiaman jika terjadi sesuatu dengan Nona Leathina.”
“Itu tidak akan terjadi lihatlah,” Leathina memperlihatkan belati pada Anne yang a sembunyikan dibalik gaunnya. “Dengan ini aku tentu bisa melindungi diriku.” Sambung Leathina menenangkan Anne yang masih terlihat panik.
“Ta-tapi Nona.” Ucap Anne yang masih ketakutan.
“Kau meragukan kemampuanku.”
Dengan cepat Anne menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Leathina, “tentu saja tidak, Nona adalah ahli pedang wanita pertama di kerajaan.” Sambungnya lagi, membuat Leathina tersenyum karena melihat ekspresi Anne sekarang kembali bersemangat karena membicarakan kemampuan Leathina.
“Kau bilang akan membantuku kan?” Tanya Leathina dan dibalaskan anggukan oleh Anne.
“Jadi apa sekarang kau ingin membantuku?” tanya leathina lagi pada Anne.
“Tentu saja untuk nona Leathina aku bisa melakukan apapun.”
“Anne jika kamu tidak melihatku di aula utama maka segeralah pergi untuk mencariku, jangan meminta bantuan orang lain cukup kamu saja yang mencariku, kamu paham?”
“Saya paham Nona.”
“Bagus.”
“Terus setelah saya menemukan anda?”
“Ingat mereka pasti akan membawaku ke ruangan tertutup jadi jika kau akhirnya menemukanku jangan langsung menerobos masuk atau membuat suara, segeralah kembali ke aula utama kemudian berpura-puralah seperi kamu mendengar sebuah jeritan dan minta orang-orang mengikutimu ke ruangan tempatku berada.”
“Baik saya paham Nona, tapi bagaimana saya tahu bahwa yang ada di dalam ruangan adalah Nona Leathina?” Tanya Anne kebingungan.
“Aku akan meninggalkan tanda untukmu, jad tenang saja kau pasti bisa menemukanmu. Apa aku bisa mengandalkanmu Anne?” tanya Leathina lagi untuk memastikan kesediaan Anne.
“Tentu saja anda bisa mengandalkan aku, aku pasti akan melakaukan yang tebaik untuk Nona Leathina.”
Setelah mengingat percakapan antara dirinya dengan Leathina membuat Anne semakin panik dan ketakutan. Anne takut jika ternyata dirinya tidak bisa menemukan Leathina dan mengakibatkan Leathina terluka karena ketidak becusannya menjalankan apa yang telah dipercayakan Leathina untuknya.
Dengan mimik wajah khawatir yang terpampang jelas di wajahnya Anne terus berkeliling ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari Leathina. Bertekad untuk menemukan Leathina sebelum terjadi hal-hal buruk pada Leathina.
...***...