
Hampir separuh dari hutan timur kini telah berhasil mereka babat, mereka seperti membelah lautan pohon untuk menemukan jalan bagi mereka sendiri.
Karena mereka sudah tidak memiliki rencana, ide, ataupun strategi selain tujuan yang pasti yaitu untuk menemukan pintu masuk agar bisa menyelamatkan Leathina yang kini masih berbaring lemah di atas tempat tidur.
“Bagaimana?” Tanya Aelfric sambil menghapus keringatnya dengan lengan bajunya sendiri, “Apa segini masih belum cukup?” tanyanya pada yang lainnya yang masih sibuk menebang pepohonan yang ada di hutan.
“Tebang saja pohonnya, lumayan untuk latihan ketahanan lengan dan kaki,” ucap Damian sambil terus mengayunkan senjatanya ke dahan pohon, “Kalau perlu babat saja habis, bukannya orang-orang dari bangsa mu mempunyai kemampuan khusus,” Ucap Damian lagi menanggapi pertanyaan Aelfric.
Edward dan Duke Leonard telah jauh di depan membabat habis seluruh pohon, begitu juga dengan Zeyden yang sekali melepaskan sihirnya langsung menebang banyak pohon sekaligus sementara Damian, Aelfric dan Farkas sedikit tertinggal di belakang.
“Apa kalian sudah lelah?” teriak Zeyden saat melihat mereka yang ada di belakang semakin melambat.
“Tidak!” jawab Damian dan Aelfric hampir bersamaan sementara Farkas sendiri hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zeyden.
Mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka dan tidak henti-hentinya menebang pohon-pohon yang menghalangi jalan mereka.
“Hati-hati, ada badai,” teriak Edward yang ada di depan untuk memperingati yang lainnya.
Sebuah angin kencang tiba-tiba saja datang menerjang mereka semua hingga membuat mereka harus berpegangan jika tidak ingin terbawa oleh angin tersebut.
“Aelfric!”
“Baik Duke, akan saya coba!” balas Aelfric saat mendengar Duke Leonard memanggil namanya.
Ia segera mengeluarkan kemampuannya dan perlahan-lahan mencoba mengambil alih gerakan angin yang datang menerjang mereka. Tidak beberapa lama kemudian, akhirnya sihir milik Aelfric berhasil mengambil alih angin yang datang menyerang mereka dan kini Aelfric telah mendominasi segala pergerakan angin dan setelah itu angin yang menerjang mereka perlahan-lahan mereda.
“Jangan kau lepaskan begitu saja!” teriak Duke Leonard kembali memberikan arahan pada Aelfric.
“Jadi mau diapakan? Aku tidak bisa menahannya terlalu lama.”
“Kumpulkan saja semua angin itu, kemudian jika waktunya tepat maka lepaskan hingga menghempas pepohonan agar kita tidak perlu repot-repot membabatnya lagi,” jawab Duke Leonard kembali mengarahkan.
“Baik,” jawab Aelfric segera mengerti dan mulai melakukan apa yang diperintahkan Duke Leonard padanya.
“Tidak! Hentikan, kau akan merusak seluruh hutan!”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang menghentikan mereka, suara yang tidak diketahui dari mana asalnya dan sepertinya si pemilik suara telah mengamati mereka sejak awal.
Damian menatap Aelfric untuk mencari tahu tentang keberadaan suara tadi, tapi Aelfric malah menaikkan kedua bahunya karena ia juga tidak tahu karena hanya mendengar sekilas dan samar-samar.
Mereka semua langsung terdiam untuk mendengar baik-baik suara yang entah muncul darimana itu dan menghentikan mereka, tapi tidak ada suara lagi setelahnya. Karena tidak lagi mendengar suara tadi mereka pun kembali melanjutkan kegiatan mereka untuk membabat habis pepohonan yang ada di hutan, tidak ia pedulikan lagi suara aneh tadi.
“Tidak! Aku mohon hentikan sekarang juga manusia!” Terdengar lagi sebuah suara dan mereka semua refleks langsung berhenti dan kembali mendengarkan dengan seksama.
“Kenapa kami harus menurutimu?” tanya Zeyden karena ingin memancing nya agar kembali bersuara lagi.
“Kau akan merusak hutan timur dan menghancurkan segalanya! Kalian harus dihukum karena telah menganggu kami.” ucapnya lagi kembali berbicara yang menanggapi pancingan dari Zeyden.
Mereka berenam mendengarkan dengan serius tapi ketika mendapati bahwa mereka ternyata sedang diancam oleh suara misterius itu, mereka segera kembali menebang pohon-pohon, tidak ia pedulikan peringatan yang mereka dapat dari suara misterius dan fokus mencari jalan masuk ke dunia elf.
“Tunggu! Tunggu! Aku mohon hentikan, kalian akan benar-benar merusak hutannya jika kalian semua teruskan,” ucapnya lagi dan kini terdengar sangat khawatir.
Damian, Aelfric, dan Farkas berhenti sejenak saat kembali mendengar suara misterius tadi kemudian melihat ke arah Duke Leonard, Damian dan Zeyden berada. Dilihatnya mereka bertiga yang ada di depan masih tetap tidak mempedulikan suara tadi dan terus menebang semua pohon yang ada di depan mereka. Damian, Aelfric, dan Farkas yang melihat itu kemudian segera kembali melanjutkan kegiatan menebang pohon mereka dan kembali mengabaikan suara misterius tadi.
“Hei! hei! Hentikan manusia!” teriak seseorang lagi yang kini muncul di tengah-tengah mereka.
Melihat orang itu mereka berenam kemudian segera berhenti dan memperhatikan dengan seksama orang yang muncul entah dari mana itu, dilihatnya seseorang yang perawakannya sangat mirip dengan Aelfric yaitu bertelinga lancip dan memiliki mata yang berwarna unik. Yang membuat mereka berdua berbeda hanya terletak pada warnanya, Aelfric mendominasi ke warna hijau sementara orang yang menghentikan mereka mendominasi berwarna silver.
“Apa yang kalian inginkan sampai harus bertindak sejauh ini, bahkan membabat habis hutan yang kami lindungi manusia!” Ucapnya dengan nada tegas dan terlihat sangat berwibawa.
“Aelfar!!” Seru Aelfric ketika melihat orang yang muncul tiba-tiba itu.
“Aelfric?! Serunya tidak kalah terkejutnya saat melihat Aelfric bersama para manusia yang berani menghancurkan hutan yang dilindungi oleh bangsa elf selama turun temurun dan telah berlangsung sangat lama.
Aelfric yang kegirangan karena akhirnya dapat melihat salah satu sebangsanya segera berlari ingin memeluknya untuk melepaskan rasa rindu dan menyalurkan rasa senangnya karena akhirnya ia dapat benar-benar kembali ke kampung halamannya.
“Aww! Aww! Aelfar sakit,” teriak Aelfric saat ia sudah berada di jarak yang sangat dekat dengan Aelfar tapi Aelfra dengan gesit malah melumpuhkannya hingga tidak bisa bergerak dan mengikatnya dengan sihir miliknya.
“Tidak! Tidak! Aelfar, jangan menyakiti mereka,” Aelfric mencoba menjelaskan pada Aelfar.
“Kenapa sekarang kau memihak pada mereka Aelfric, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa tidak ada manusia yang bisa dijadikan teman karena mereka memiliki sifat serakah, tamak, sombong bahkan tidak bisa dipercaya.”
“Itu karena orang-orang ini berbeda, mereka menyelamatkanku.”
“Oh, jadi benar. Manusia-manusia ini telah berhasil mencuci otakmu hingga membuatmu berperilaku aneh seperti ini.”
Aelfric yang mendengar tuduhan itu segera membela mereka dan berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya tapi sekeras apapun Aelfric mencoba menjelaskan pada Aelfar, dia tetap tidak ingin mendengar penjelasan itu.
“Maafkan saya karena mencela reuni antara kalian berdua,” Ucap Duke Leonard mencoba menangkan mereka berdua, “Tapi sepertinya anda salah paham Tuan Aelfar, kami datang karena memang benar sudah menyelamatkan salah satu saudara kalian Aelfric.” Ucapnya lagi mencoba membantu Aelfric untuk menjelaskan pada Aelfar.
“Itu benar, mereka telah menyelamatkanku dan membantuku untuk pulang ke sini.” Aelfric ikut membenarkan ucapan Duke Leonard.
“Tapi kalian merusak hutan yang bahkan kami sendiri tidak berani untuk merusaknya.”
“Ah, soal itu nanti bisa aku jelaskan, tapi mereka benar-benar memiliki alasan penting hingga harus melakukan hal semacam itu, emm.. mereka bahkan bisa melakukan hal yang lebih buruk lagi jika kau mencoba menghalangi mereka.” Aelfric berusaha menenangkan kemarahan Aelfar.
“Baiklah sekarang jelaskan kemana saja kau selama ini Aelfric! Kau tahu, paman mencari mu kemana-mana.” Aelfar mulai melemah dan sudah tidak sekeras sebelumnya.
“Aku sebenarnya berniat berpetualang sendiri ke dunia luar, dan aku diam-diam keluar dari hutan timur seperti yang kau tahu aku hilang selama beberapa waktu ...” Aelfric mulai menjelaskan pada Aelfar mengenai apa yang telah ia alami.
“Jadi kau benar-benar melakukannya Aelfric?!” teriak Aelfar yang terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Aelfric.
“Huss, diam dan dengarkan penjelaskan ku dulu,” Ucap Aelfric menenangkan Aelfar.
“Teruskan,” Aelfar kembali terdiam dan kembali mendengarkan cerita dari Aelfric.
“Saat aku berhasil keluar tanpa diketahui oleh para tetua aku mulai melakukan petualanganku sendiri dan karena ketidaktahuanku aku ditangkap oleh para pemburu dan dijual ke para penjahat dan akan dijadikan hewan peliharaan tapi untung saja ada seorang wanita yang datang dan menyelamatkan aku.”
“Dasar manusia-manusia tamak,” Ucap Aelfar geram mendengar cerita Aelfric, “Tapi mana wanita yang kau maksud, kenapa semua orang yang ada di sini hanya laki-laki saja?” tanya Aelfar penasaran.
“Nah, karena itulah kami disini,”
“Apa maksudmu Aelfric, aku tidak paham.”
“Aku kembali bersama mereka karena ingin bertemu dengan paman, apa kau bisa membiarkan kami masuk dan membantu kami bertemu dengan paman,” Tanya Aelfric yang terdengar penuh harapan atas jawaban Aelfar.
“Tidak!” tanpa berfikir panjang Aelfar langsung menolak permintaan Aelfric.
“Tidak! Kalian tidak bisa seenaknya bertemu dengan paman, baiklah tuan-tuan terimakasih telah mengantar saudaraku kembali dengan selamat, untuk sekarang serahkan si pembuat masalah ini padaku dan kembali lah ke tempat kalian, seharusnya kalian tidak diperbolehkan masuk kesini.” Ucap Aelfar dan berbalik hendak kembali ke asalnya dengan membawa Aelfric bersamanya.
Mendengar penolakan dari Aelfar, Edward dan yang lainnya kembali menebang pohon dan kali ini berskala luas.
“Jika kau tidak bisa mengantar kami, maka biarkan kami sendiri yang akan mencari jalan masuknya sendiri,” ucap Edward tidak mempedulikan ucapan Aelfar.
“KALIAN!” Teriak Aelfar marah karena mereka kembali menebang pohon.
“Aku telah melepaskan kalian setelah apa yang kalian lakukan sebelumnya tapi kalian malah memilih untuk terus membuat masalah dengan kami jadi jangan salahkan aku yang akan menghukum kalian tanpa ampun.”
Kesabaran Aelfar yang telah menipis akhirnya meledak dan segera mengeluarkan energi aneh, tiba-tiba cahaya yang ada disekitarnya meredup seakan-akan berkumpul di satu titik kemudian berubah menjadi ribuan anak panah yang berterbangan di langit dan sengaja ia arahkan ke arah mereka berlima.
“Aelfar! Hentikan kau bisa membunuh mereka!!” teriak Aelfric berusaha menenangkan Aelfar.
“Diam kau!!” bentak Aelfar, “Aku bingung sebenarnya apa yang dilihat oleh para tetua hingga terus membelamu dan mengutamakan mu padahal ...”
“Hentikan! Jangan kau teruskan ucapan mu itu Aelfar,” Aelfric memotong ucapan Aelfar tidak ingin mendengar kelanjutannya tapi sepertinya Aelfar juga tidak ingin mendengarkannya dan malah terus berbicara.
“Padahal kamu hanyalah si pembuat onar dan selalu menyulitkan semua orang, bahkan para tetua pun terus berusaha melindungi dan menutupi kesalahanmu, dasar tidak berguna!”
“AKU BILANG HENTIKAN!!” Bentak Aelfric dan berusaha menjaga kestabilannya dan masih menahan dirinya untuk tidak ikut marah setelah mendengar apa yang telah diucapkan oleh Aelfar.
...***...