
Leathina menatap semua orang berharap seseorang mempercayainya tapi semuanya memiliki tatapan yang sama. Mereka semua sama - sama hanya menatap Leathina tanpa berniat membela atau bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kita harus melakukan penyelidikan terlebih dahulu Tuan Duke." Winter berbicara mencoba menenangkan Duke Leonard.
"Nicholas, cepat bawa Nora ke ruangan pengobatan kerajaan."
Duke Leonard memerintahkan Nicholas mengambil Nora yang masih tidak sadarkan diri untuk segera diobati sementara Leathina dengan khawatir melihat Nora dibawa pergi dan berharap Nora baik - baik saja.
"Jangan pura - pura peduli kau, perempuan jahat!" Tiba - tiba saja Janneth membentak Leathina membuat perhatian orang - orang kembali ke Leathina.
"Penjaga! Penjaga! cepat bawa dia ke penjara sebelum membunuh orang lain."
Dua orang penjaga segera bergerak mengikuti instruksi Janneth.
"Jangan ada yang berani menyentuhnya, ini urusan keluarga kami. Aku yang akan menghukumnya secara langsung sebagai orang yang bertanggung jawab atas didikan yang telah ia terima." seketika kedua penjaga tadi berhenti dan kembali ke tempatnya saat Duke Leonard melarangnya.
"Keluarga? siapa? aku dengan mu? kami? Huahahahah." Leathina tertawa terbahak - bahak setelah mendengar perkataannya Duke Leonard yang barusan ia ucapkan.
"Dia sudah benar - benar tidak waras."
"Sayang sekali, padahal wajah nya bernilai."
"Dia bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun setelah mencoba melakukan pembunuh terhadap keluarganya sendiri."
"Karena dia seorang bangsawan dia tidak akan di eksekusi, tapi aku yakin dia akan diasingkan oleh ayahnya."
"Malam sekali Tuan Duke memiliki anak perempuan sepertinya."
orang - orang mulai tidak membatasi perkataannya, tidak berbisik seperti sebelumnya mereka sekarang telah berani terang - terangan menghina Leathina karena menganggap Leathina tidak menakutkan jika tidak didukung oleh keluarganya.
"LEATHINA! APA KAU WARAS!" Duke Leonard membentak Leathina karena Leathina yang seharusnya menyesali perbuatannya dan meminta maaf malah tertawa terbahak - bahak.
"Ah, maafkan aku karena tertawa, soalnya omongan mu itu sangat lucu. perutku seperti digelitik. Ptts, Hahahah." Leathina mengusap air matanya yang keluar karena tertawa kali ini ia mencoba menahan tawanya tapi semakin dia menahannya semakin dia tertawa.
"LEATHINA!" Duke Leonard semakin marah karena tingkah laku Leathina.
"Leathina, kenapa kamu seperti ini? sejak kapan kamu benar - benar menjadi seperti yang di bicarakan orang - orang aku..... ."
"ITU KAMU! KAMU!" Setelah puas tertawa tiba - tiba saja ekspresi Leathina berubah menjadi datar dengan tatapan dingin dan tajam ke arah Duke Leonard.
" Berani sekali kamu berbuat tidak sopan dengan aya..."
" Itu kamu! yang membentukku seperti sekarang! orang tidak tahu diri yang dengan percaya dirinya menyebutkan bahwa kamu adalah ayah dari anak yang telah ditelantarkan semenjak kecil, namun tiba-tiba bersikap seolah kamu adalah ayah yang baik."
"Leathina?"
"Huh! jangan bercanda, jangan membual! mendidik? semua didikan mu itu telah benar - benar menyatu dengan ku. aku wanita jahat, itu karena didikanmu, aku tidak berperasaan juga karena didikanmu! dan jika aku berani membunuh itu karena aku tumbuh dalam naunganmu, wah.. kamu benar - benar ayah yang bai.... "
"Plak!" Tangan Duke Leonard melayangkan tamparan untuk yang kedua kalinya pada pipi Leathina membuat Leathina menghentikan ucapannya.
Disudut bibir Leathina terlihat bercak darah karena tamparan keras yang ia terima.
"Cukup Leathina! cukup! hentikan omong kosong ini."
"Aku penasaran sampai kapan kamu akan bersikap seolah - olah peduli padaku, jadi ini adalah batasmu." Leathina berbicara sambil mengusap bibirnya yang berdarah dengan jempolnya.
"Aku tidak pernah semenyesal ini karena memiliki mu Leathina." Duke Leonard menghela nafas panjang kemudian menatap Leathina.
"Aku tidak pernah seterkutuk ini karena menjadi anakmu, Duke Leonard."
"Ka.. kamu!"
"Paman, Paman, kita harus melakukan investigasi terlebih dahulu."
mendengar perkataan Leathina, Duke Leonard tertegun kemudian kembali berjalan mendekati Leathina tapi dengan cepat Winter menahan tubuh Duke Leonard dan kembali mengingatkan untuk melakukan penyelidikan.
"Leonard! aku tahu dia adalah putri mu, tapi kamu harus ingat aku adalah seorang raja dan Leathina adalah salah satu dari rakyatku maka aku perintahkan untuk melaksanakan penyelidikan seadil - adilnya." Raja Daylen juga angkat bicara menghentikan Duke Leonard.
"Leathina berhentilah bertingkah, mau tidak mau karena perbuatan mu aku harus menghukum mu. Penjaga bawa dia ke penjara bawah tahan sampai penyelidikan selesai." Duke Leonard memberikan perintah kemudian datang dua orang penjaga mengawal Leathina.
"Lepaskan! jangan berani menyentuh jika tidak ingin leher dan tangan mu putus. Aku bisa jalan ke sana sendiri."
Leathina memberontak, dengan gesit dia mengambil pedang milik panjang dan menodongkan nya tepat di salah satu leher penjaga yang ingin membawanya.
Ah, sial kenapa harus sekarang!
Belum beberapa langkah Leathina berjalan tiba - tiba saja telinga Leathina berdenging dengan sangat keras ia tidak bisa lagi mendengar dengan jelas sementara pandangannya mengabur kemudian pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.
...
"Aku harus membawa makanan pada Nona Leathina agar dia bisa menikmatinya dengan tuan muda Nora di taman."
Anne dengan riang dan langkah cepat berjalan menuju taman dengan membuat nampan yang penuh dengan makanan berharap Nonanya bisa menikmatinya.
"Eh, kenapa banyak orang di taman?"
"Permisi, tunggu dulu."
"Ada apa?"
Karena penasaran Anne bertanya pada orang yang kebetulan melewati nya.
"Tuan, apa yang terjadi kenapa semua orang berkumpul di dekat danau?"
"Kau tidak tahu? Nona Leathina sedang diinterogasi karena Melakukan percobaan pembunuhan pada adiknya."
"Maksudmu Nona Leathina Yarnell?"
"Iya."
"Ah, jangan asal bicara tuan."
"Kalau kamu tidak percaya kesana dan lihatlah sendiri."
Mendengar informasi mengenai Nonanya, Anne buru - buru meninggalkan nampan dan berlari menuju kerumunan orang - orang yang ada di pinggir Danau."
"Permisi, permisi, biarkan aku lewat."
Anne menerobos kerumunan orang - orang berusaha melihat dari dekat apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Nona Leathina? apa yang sebenarnya terjadi." Anne tertegun melihat melihat keadaan.
Anne melihat Leathina telah dikepung oleh beberapa penjaga, dress putih yang ia pilihkan untuk Leathina kini telah berubah warna menjadi merah darah. sementara Duke Leonard berdiri tepat dihadapan Leathina.
"NONA LEATHINA!"
Belum beberapa langkah Leathina berjalan tiba - tiba saja telinga Leathina berdenging dengan sangat keras ia tidak bisa lagi mendengar dengan jelas sementara pandangannya mengabur kemudian pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.
Anne yang melihat Leathina akan terjatuh segera berlari hendak menopang tubuhnya tapi sayang Anne tidak sanggup menahan tubuh Leathina dan ikut terjatuh.
"Bagaimana Tuan Duke, Nona Leathina tidak sadarkan diri." salah satu penjaga bertanya pada Duke Leonard.
"Bawa dia ke ruangan tahanan."
"Tuan, apa yang anda perintahkan? kenapa Nona harus di bawa ke tahanan?"
"Kamu sudah pasti tahu apa penyebabnya."
"Tidak! Nona tidak boleh masuk ke sana."
"Atau dasar apa seorang pelayan membantah ku."
"Apa tuan melihat Nona melakukan nya?"
"Semua orang disini melihat nya!"
"Melihat apa? KALIAN SEMUA MELIHAT APA? APA KALIAN MELIHAT NONA LEATHINA MEMBUNUH?"
"kami melihat Leathina menekan dada Nora, dan lihatlah darah di pakaiannya itu."
"apa kalian pura - pura bodoh atau memang sudah bodoh! Lihatlah!
Anne menyingkap derss Leathina yang masih tidak sadarkan diri kemudian terlihat luka di sekujur kaki Leathina yang masih mengeluarkan darah.
......***......