
Setelah Adrian pergi dan tinggal Duke Leonard sendiri di dalam ruangan kerjanya, Duke mengambil beberapa kertas dan pena dan mulai menuliskan surat balasan untuk segera ia kirimkan pada tentara bayangan yang ia sewa untuk mencari Leathina dan juga untuk Pangeran Edward yang ia utus untuk ikut dalam pencarian Leathina bersama para tentara bayangan.
Tidak berselang lama datanglah Nicholas yang menghadap pada ayahnya dengan tujuan untuk memberikan laporan harian.
Nicholas mulai aktif ikut langsung ke lapangan dengan para prajurit serta ikut latihan rutin bersama dengan para prajurit yang dipimpin langsung oleh Winter sebagai wakil Duke Leonard dalam mengontrol dan bertanggung jawab atas semua latihan dan kebutuhan para prajurit.
“Ayah, apa ada masalah?” tanyanya pada ayahnya yang dapat langsung tahu dengan melihat wajahnya yang lusuh bercampur dengan kelelahan.
“Nicholas?” Duke Leonard yang baru sadar jika seseorang memasuki ruangan ketika mendengar suara Nicholas, ia kemudian mengentikan kegiatannya dan melihat kedatangan Nicholas. “Laporan harian?" tanya nya pada Nicholas kemudian dibalas dengan anggukan.
“Winter tidak sempat untuk datang melapor ayah karena tiba-tiba paman Adrian memintanya ikut pulang bersamanya setelah latihan tadi, Winter kemudian memintaku melaporkan laporan harian pada ayah untuk mewakilinya dan karena itulah saya datang.”
“Baiklah, katakan!” Duke Leonard kemudian kembali melanjutkan kegiatannya sembari menunggu Nicholas menyelesaikan laporannya.
“Latihan rutin berjalan seperti biasannya, tidak ada masalah dan semuanya berjalan dengan baik.” Nicholas memberikan laporan singkat namun pandangannya fokus melihat kesibukan ayahnya yang hanya fokus menulis pada secarik kertas, tidak biasanya ayahnya itu mengabaikan lawan bicaranya dan tidak memberikan perhatian sama sekali padanya yang datang melapor.
“Baik, aku sudah dengar kamu kembalilah Nicholas. Kau pasti lelah.” Ucap Duke Leonard yang sekilas mengangkat kepalanya melihat Nicholas kemudian kembali menunduk untuk melanjutkan kegiatannya.
“Ayah apa ada masalah?” Nicholas kembali bertanya karena pertanyaannya yang pertama sepertinya sengaja diabaikan oleh ayahnya.
Karena tidak ada jawaban atau respon yang baik dari ayahnya Nicholas kemudian memilih untuk tidak lagi bertanya karena takut ia menganggu ayahnya yang sepertinya sedang sibuk.
“Baiklah ayah, saya akan kembali sekarang.” Ucapnya sebelum pergi.
Duke Leonard mengangguk kemudian melihat Nicholas pergi setelah itu kembali fokus menulis surat balasan untuk Pangeran Edward dan tentara bayangan.
Nicholas keluar dari ruangan kerja ayahnya dirasakannya ayahnya akhir-akhiri ini terus bertingkah aneh dan tidak seperti biasanya.
“Apa ayah sesibuk itu sampai seperti itu?” gumamnya kemudian segera menepis pikiran buruk yang tiba-tiba muncul di kepalanya setelah itu melanjutkan perjalanannya kembali.
Nicholas tidak langsung kembali ke ruangannya ia berjalan menuju ruangan Leathina, semenjak Leathina menghilang Nicholas rutin mengunjungi ruangan Leathina berharap suatu saat jika ia masuk ia bisa melihat sosok Leathina yang sedang duduk bermalas-malas di ruangannya sambil menatapnya malas karena ia datang ke ruangannya.
“Akh!”
“Tuk!”
Saat Nicholas baru akan membuka pintu ruangan Leathina tiba-tiba pintu ruangan Leathina sudah terbuka dan seseorang dengan terburu-buru berlari keluar dan tidak sengaja menabraknya.
“Nora?!” Panggil Nicholas panik saat adiknya itu terjatuh setelah menabrak dirinya.
“Ah! kakak Nico.” Serunya kemudian dengan cepat memungut sebuah buku yang tadi bersamaan jatuh dengannya saat bertabrakan dengan Nicholas.
“Ada apa, kenapa kamu sampai terburu-buru seperti itu?” tanya Nicholas penasaran, ia kemudian mengintip ke dalam tapi tidak menemuka adanya hal yang aneh dalam ruangan tersebut dan karena penasaran Nicholas kembali melihat Nora berniat untuk meminta penjelasan, sayangnya Nora sudah pergi sebelum ia bertanya.
“Nora ..?!”
“Maafkan aku kakak Nicholas, aku sedang terburu-buru sekarang.” Serunya kemudian hilang setelah berbelok keluar dari koridor.
“Ada apa dengannya?” gumam Nicholas kemudian melanjutkan tujuan awalnya untuk mengunjungi ruangan Leathina.
“Hum.. masih sama, tidak ada yang berubah.” Gumamnya sembari duduk di kursi yang paling sering Leathina gunakan.
Nicholas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari tahu apakah ada yang hilang atau berubah setelah Nora masuk, setelah Leathina menghilang dan belum ditemukan orang yang paling sering berkunjung ke ruangan Leathina selain pelayan pribadinya Anne adalah Nora bahkan hampir setiap hari ia datang ke sana bahkan beberapa kali Nora kedapatan memindahkan beberapa benda milik Leathina yang ditemukan di ruangannya saat di tanya ia mengatakan bahwa mungkin suatu saat Leathina akan datang mencari barangnya di kamarnya jika ia kembali nanti.
“Ada apa dengan anak itu? Apa ada sesuatu yang membuatnya harus terburu-buru seperti ini? Akan aku tanyakan pada anak itu nanti.” Gumam Nicholas kemudian beranjak dari tempat duduknya setelah ia merasa cukup berada di ruangan Leathina.
...
Nora melewatkan jam belajarnya sejak pagi ia hanya diam-diam datang ke ruangan Leathina untuk menghabiskan waktu disana seperti yang sering ia lakukan saat bersama Leathina, ia dengan tenang hanya menunduk sambil membaca buku-bukunya tanpa memperdulikan hal lainnya.
Nora mendengar langkah kaki seseorang yang mendekati ruangan yang ditempatinya karena khawatir jika orang yang mencarinya itu adalah pelayan yang datang mencarinya karena melewatkan jam belajarnya cepat-cepat Nora bersembunyi di bawah tempat tidur untuk bersembunyi.
Nora menunggu beberapa saat tapi belum ada yang masuk derap langkah kaki yang tadi ia dengar tiba-tiba berhenti membuatnya berpikir bahwa mungkin hanya seorang pelayan yang lewat. “Sepertinya hanya orang lewat saja.” Gumamnya dan kembali keluar.
“Trak!”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka Nora yang panik langsung kembali bersembunyi di bawah tempat tidur untungnya baru sebagian badannya yang keluar jadi ia dapat kembali bersembunyi dengan mudah.
“Ayah?” gumamnya saat melihat ternyata Duke Leonard yang datang bukan seorang pelayan, Nora tidak berniat menunjukkan dirinya karena akan lebih berbahaya jika ayahnya yang menemukannya dan mengetahui bahwa ia melewatkan jam belajarnya.
Dilihatnya Duke Leonard mengelilingi ruangan Leathina membuka Lemari dan memeriksa yang lainnya namun Anne tiba-tiba datang dan menghentikan kegiatan Duke Leonard.
Nora mendengar seluruh percakapan antara ayahnya dengan Anne, awalnya ia tidak merasakan adanya yang aneh dari percakapan keduanya tapi saat Duke Leonard bertanya adakah hal yang membuat Leathina tidak ingin kembali atau membuatnya ingin pergi Nora tiba-tiba mengingat saat Leathina terus-terusan mengendap-endap keluar bahkan beberapa kali mendengar gumaman Leathina yang mengatakan ada orang yang akan melenyapkannya.
“Tidak, tidak boleh, aku sudah berjanji pada kakak Leathina untuk merahasiakan kejadian itu.” Batinnya ambil terus bersembunyi tidak berniat menunjukkan keberadaannya sampai keduanya pergi meninggalkan ruangan Leathina.
“Sudah pergi?” gumamnya kemudian mengintip keluar dan tidak lagi melihat siapa-siapa di dalam ruangan. “Bisa gawat kalau ayah tahu aku kembali melewatkan pelajaran ku lagi.”
Setelah memastikan tidak ada lagi orang yang berada di dalam ruangan yang ditempatinya itu Nora segera keluar dari tempat persembunyiannya kemudian berjalan menuju lemari Leathina yang sebelumnya sudah dibuka oleh ayahnya namun telah kembali ditutup oleh Anne.
“Apa ada yang disembunyikan kakak Leathina di lemarinya?” ucapnya sembari membuka kembali lemari Leathina dan memeriksa isinya karena penasaran.
“Tidak ada yang aneh.” Gumamannya setelah melihat seluruh isi lemari Leathina, “Kakak mungkin membutuhkan uang untuk diberikan pada panti asuhan yang dulu ia kunjungi bersamaku dan tidak mau ayah atau orang-orang mengetahui bahwa ia sedang mendukung sebuah rumah panti, humm... kakakku memang baik, bahkan seluruh perbuatan baiknya ia sembunyikan.” Gumamnya dengan menyimpulkan sendiri kenapa Leathina menjual gaun dan perhiasannya.
“Aku sering melihat kakak Leathina menulis sesuatu tapi tidak pernah mau memperlihatkan atau memberitahukan apa yang ia tulis padaku.” Nora kembali memeriksa meja Leathina kemudian membuka lacinya satu persatu namun tidak menemukan apa-apa disana.
“Tidak ada yang aneh.” Gumamnya kemudian menunduk di bawah meja kembali mencari sesuatu di bawah sana.
“Bruk!” Kepala Nora terbentur meja saat akan keluar dari bawah meja karena tidak berhati-hati.
“Aww!” pekiknya menahan sakit sembari mengusap kepalanya yang terbentur.
Nora terdiam saat merasakan tempatnya terbentur mengeluarkan bunyi aneh, seperti memiliki rongga kosong di didalamnya.
“Tok, tok, tok,” Nora yang masih belum keluar dan masih berada di bawa meja mendongak memperhatikan bagian bawah meja tempat kepalanya terbentur dan melihat tidak ada yang aneh setelah itu Nora kembali memukulnya beberapa kali dan benar saja suara yang dikeluarkan seperti memiliki rongga kosong di dalamnya.
“Aneh.” Gumamnya kemudian segera keluar dan memperhatikan dari luar namun meja tersebut masih terlihat normal.
“Huh!” Ini bisa bergeser!” serunya terkejut karena merasa takjub. “Aku tidak tahu kalau kakak Leathina sehebat ini, bahkan mempunyai penyimpanan barang tersembunyi seperti ini.” Gumamnya kagum.
Nora memasukkan tangannya pada cela kecil yang tidak sengaja ia temukan di meja Leathina dan mengetahui bahwa ia bisa menggesernya keluar hingga membuka dan memperlihatkan isinya, terlihat seperti laci namun tidak terlalu besar hanya cukup menyimpan beberapa barang saja.
Nora mengintip ke dalam dan hanya menemukan sebuah buku kecil di dalamnya, “Ah! ini buku yang sering kakak Leathina gunakan untuk menulis dan tidak mau ia perlihatkan pada orang-orang, dia akan langsung menutup atau menyimpannya ketika aku datang sebaiknya tidak boleh aku buka.” Ucapnya sambil bergegas menyimpan kembali buku milik Leathina yang ia temukan dan menutup kembali laci rahasia yang sebelumnya berhasil ia buka secara tidak sengaja.
Dan karena panik serta merasa bersalah membongkar barang-barang milik orang lain apa lagi sampai menemukan penyimpanan rahasia Nora bergegas keluar setelah menutupnya. Tapi saat berada di depan pintu Nora berhenti dan melirik kembali ke arah meja Leathina tempatnya ke bawah meja tempat penyimpanan rahasia itu berada.
“Sedikit saja, aku hanya ingin tahu apa yang selalu kakak Leathina tulis hingga menyimpannya dengan sangat hati-hati seperti itu.” Gumamnya kemudian kembali ke meja.
“Mungkin saja aku bisa menemukan cara untuk membawa kakak kembali.” Batinnya namun masih diselimuti rasa takut karena harus mengintip barang milik orang lain, “Aku hanya melihat sebentar dan setelah kakak kembali aku akan mengatakan yang sejujurnya padanya.”
Rasa penasaran yang Nora miliki lebih tinggi dari pada rasa bersalahnya ia membuka kembali tempat penyimpanan rahasia yang tadi ia temukan kembali dilihatnya sebuah buku kecil di dalam, namun kembali ragu-ragu untuk membukanya tapi pada akhirnya ia tetap mengeluarkannya dari laci dan menyimpannya di atas meja.
“Aku hanya ingin melihatnya sebentar, dan mengatakan yang sejujurnya bahwa aku tidak sengaja melihat tempat penyimpanan rahasianya dan melihat sedikit isi bukunya setelah kakak Lea kembali.” batinnya menguatkan tekatnya untuk tetap membuka buku milik Leathina yang disimpan secara khusus.
Nora melihat ke arah pintu khawatir jika tiba-tiba ada orang lain yang masuk ia kemudian membawa buku milik Leathina itu kemudian masuk ke kolom meja dan mulai membukanya dibawah sana.
“JANGAN DIBUKA!”
Tertulis pada halaman awal dengan cukup besar dan jelas serta terlihat seperti ancaman membuat Nora kaget dan segera menutup buku itu kembali. “Merasa sedang diawasi cepat-cepat Nora memeriksa ke sekelilingnya namun ia tidak menemukan siapa-siapa disana.
“Apa ini? Apa kakak Leathina tahu bahwa aku akan membuka bukunya?” Gumamnya ketakutan.
Namun karena rasa penasarannya belum teratasi dan bahkan ia semakin penasaran untuk mengetahui apa isinya Nora kembali membuka buku milik Leathina yang diambilnya secara diam-diam itu.
“Maafkan aku kak Lea.” Ucapnya sembari menutup matanya sambil membuka buku Leathina pada sampul dan lembaran pertama yang tadi ia lihat dan berhenti pada lembaran kedua berharap tidak ada lagi kalimat ancaman di dalamnya agar mengurangi rasa gugupnya.
“Lembar kedua pasti sudah aman.” Batin Nora dan pelan-pelan membuka matanya.
“Aakh!” pekiknya ketakutan kemudian secara spontan melempar buku yang di perangnya itu.
“Aku tahu bahwa kakak Leathina memang menakutkan, tapi aku tidak tahu jika dia juga pandai membuat orang ketakutan hanya dengan tulisannya saja.” Gumamnya sambil melihat buku yang sudah ia lempar tadi.
Nora menenangkan dirinya dan setelah berhasil tenang ia merangkak dan kembali memungut buku yang sudah ia lempar tadi kemudian masuk kembali ke bawah meja.
Pelan-pelan ia buka kembali namun kali ini Nora tidak menutup matanya, ia sudah mempersiapkan diri dan menahan rasa takutnya.
“MASIH BERANI?!”
“AKAN AKU CUNGKIL MATAMU!!!”
Tulisan ancaman pada lembaran kedua yang tadi membuat Nora ketakutan, tidak hanya tulisan saja melainkan disertai beberapa gambar mengerikan yang juga ada disana, salah satunya gambar kepala manusia dengan kedua matanya yang bolong, membuat Nora bergidik saat melihatnya dengan jelas.
“Kakak pikir kakak Lea hanya pandai dalam menakuti orang-orang dengan tatapannya tapi ternyata juga pandai menggambar hal-hal mengerikan seperti ini, dari mana kakak belajar menggambar? Akan aku tanyakan jika kakak Lea kembali nanti?” Gumamnya pelan kemudian cepat-cepat membuka halaman selanjutnya karena masih takut melihat gambar-gambar Leathina di halaman kedua bukunya.
Untungnya pada halaman berikutnya tidak ada lagi tulisan-tulisan yang mengancam atau gambar-gambar yang mengerikan membuat Nora menjadi sedikit lega dibuatnya.
“Apa ini?” tanyanya kebingungan karena tidak bisa mempercayai apa yang ia baca di buku milik Leathina itu.
Nora yang masih belum percaya dengan apa yang dituliskan Leathina di bukunya itu kemudian kembali membacanya secara berulang-ulang untuk meyakinkan dirinya dan berharap bahwa dirinyalah yang salah menanggapi tulisan Leathina itu, namun walaupun sudah ia baca secara berulang-ulang tulisannya tetaplah sama dan tidak berubah seperti yang dia harapkan.
“Apa kami semua benar-benar sejahat ini pada kakak Leathina?” gumamnya lirih dan mulai menerima kenyataan.
...
(Setelah berusaha sekuat tenaga menjalani hidup yang mengenaskan dengan fakta ayahku sendiri yang membuang ku aku malah mati dengan cari yang paling mengenaskan, aku merenggang nyawa dalam keadaan kesepian, tidak ada bantuan yang datang menolongku atau setidaknya kehangatan disaat-saat nafas terakhirku. Jika aku ingat-ingat kembali hari itu saat berusaha bertahan hidup aku malah mati dengan tatapan dingin orang-orang yang melihat ke arahku seakana aku pantas mendapatkannya dan aku adalah tontonan yang menarik, aku bahkan merasakan pelan-pelan beberapa bagian tubuhku sudah tidak aku rasakan lagi hingga semuanya menjadi gelap. Pada saat itu aku benar-benar merasakan sakit yang luar biasa tidak bisa aku tahan)
“Kakak Leathina?” ucap Nora dengan suara bergetar berusaha menahan tangisnya, kemudian melanjutkan membaca pada halaman berikutnya.
(Aku berhasil hidup kembali setelah menjalani kehidupanku yang mengenaskan dengan kematian yang paling menyedihkan, Beruntungnya aku ternyata selamat, mungkin karena tuhan, dewa, atau apapun itu sedang mengasihani ku saat itu walaupun aku harus hidup di dunia yang jauh berbeda dari kehidupanku dahulu. Namun walaupun berhasil selamat dari kematian dan bisa hidup kembali ternyata peruntunganku masih lah buruk, ayah yang aku temui kali ini tidak ada bedanya dengan yang dulu, mereka sama-sama membuang putrinya dengan sengaja)
(Dasar para orang tua bodoh! Kenapa harus melahirkan seorang anak jika tidak bisa bertanggung jawab merawat dan membesarkannya dengan baik, sialan!)
Nora dengan serius membaca tulisan tangan Leathina yang ada dalam buku membuka lembaran demi Lembaran.
(Aku akan mati disini! Kenapa aku harus hidup sebagai toko penjahat dalam kehidupan ini?! Kenapa Leathina harus dijadikan penjahat!! Aku akan mati! Mereka pasti akan membunuhku, dasar toko utama sialan!!)
(Anaknya baru saja sadar tapi tidak ada yang bertanya apakah anaknya ini baik-baik saja. Dasar keluarga sialan!)
(Mereka kembali mengunjungiku terutama si protagonis pria sialan itu! Aku benar-benra stress hidup disini, aku secepatnya harus melarikan diri)
(Hari ini ada anak yang tidak bisa aku ingat eksistensinya dalam cerita dan mengaku sebagai saudara Leathina, dan setelah aku ingat-ingat lagi ternyata karakternya memang ada tapi sayangnya dia akan mati muda di usianya yang masih sepuluh tahun dengan cara mengenaskan di sebuah acara, dia ditakdirkan mati tenggelam di sana)
“Ini aku? Tapi aku masih hidup dan sekarang aku sudah berumur lebih dari yang kakak tuliskan, ini semua berkat kakak yang menyelamatkanku di danau malam itu.” Gumamnya.
(Dan aku juga akan mati menyusulnya nanti! Aku harus mencoba mengingat kembali siapa yang mencoba membunuh Leathina.)
“Ini?!” Seru Nora terkejut melihat fakta-fakta yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Nora bergegas keluar dari bawah meja dan sambil memeluk buku milik Leathina itu ia bergegas menuju ruangan ayahnya. “Mungkin ini akan membantu ayah untuk menyelamatkan kakak Leathina.” Batinnya penuh dengan harapan.
“Bruk!”
“Aww!” Pekiknya menahan sakit.
Nora tidak sengaja menabrak Nicholas yang berada di depan pintu. Nora tidak memperdulikan keberadaan kakaknya Nicholas, dengan panik ia mencari buku yang dibawanya kemudian segera memungutnya kemudian pergi meninggalkan Nicholas.
“Ah! kakak Nico.” Serunya kemudian dengan cepat memungut sebuah buku yang tadi bersamaan jatuh dengannya saat bertabrakan dengan Nicholas.
“Nora?!” Panggil Nicholas panik tapi tidak Nora tanggapi ia dengan tergesa-gesa berlari di sepanjang koridor menuju diaman ayahnya berada.
...***...