I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 225



Adam yang juga telah meningkatkan rasa waspadanya ikut menyadari bahwa penginapan yang sekarang mereka tempati bukan lagi tempat yang aman, dari berbagai sisi terlihat beberapa orang yang terlihat mencurigakan tengah mengintai penginapan tersebut.


“Bagaimana ini Tuan?” tanya Adam setelah mengumpulkan barang bawaan bersamaan dengan Nina dan Troy yang juga baru mengintip keluar setelah mengambil barang-barangnya yang tidak banyak.


“Kita hanya tinggal menunggu arahan dari anda Tuan Ed.” Ucap Troy bersungguh-sungguh dengan tangan kanannya telah memegang erat gagang belatinya yang tersembunyi di balik jubahnya.


“Jangan berlebihan bodoh, kau akan menarik perhatian orang-orang jika menyerang mereka secara terang-terangan.” Celetuk Nina dengan sedikit meninju bahu Troy.


Ed memberikan isyaratnya kemudian langsung membuat Adam, Nina dan Troy serentak menganggukkan kepala mereka masing-masing tanda mengerti apa perintah Ed.


“Ayo pergi!” ucap Ed tegas sembari menuntun Leathina kemudian diikuti oleh Adam dan Troy.


“Pakai jubahmu Lea.” Bisik Ed sembari menunduk melihat wajah Leathina sembari membenarkan tudung kepala Leathina agar menutup rambutnya.


“Duh saying kenapa berantakan sekali wajahmu.” Ucap Ed tiba-tiba dengan suara lembut dengan perpaduan yang sedikit menggoda.


Leathina terhentak kemudian mendongakkan wajahnya melihat Ed dan dengan sengaja Ed menunduk tersenyum lembut menatap lurus melihat mata Leathina yang kebingungan.


“Kau kerasukan apa?” tanya Leathina dengan berbisik di telinga Ed.


“Seseorang sedang mengawasi kita dari ujung koridor, bersikaplah selayaknya pasangan yang tengah melakukan perjalanan jauh.” Bisik Adam, kemudian tanpa aba-aba langsung merangkul Leathina dan berjalan pergi selayaknya pasangan paling mesra yang pernah ada.


“Akh!” Pekik Leathina sedikit terkejut saat Ed tiba-tiba merangkulnya, ia kemudian reflek menarik tangan Ed hendak menyingkirkannya namun ia urungkan saat Kembali melihat kesekelilingnya yang tiba-tiba banyak pelayan yang berkeliaran di sekitar mereka.


“Sayang, hari ini kamu sedikit agresif ya.” Balas Leathina sembari balas merangkul pinggang Ed dengan sedikit erat sengaja agar Ed kesulitan bernafas.


Merasakan rangkulan Leathina yang semakin lama-semakin mengekangnya tidak membuat Ed berkomentar apapun, ia hanya menatap Leathina dengan senyum tersungging di wajahnya kemudian mengedipkan satu matanya. “Kamu sungguh tidak sabaran ya, padahal semalam kita sudah sangat kelelahan melakukan itu.” Gumam Ed sambal tergelak pelan.


Leathina Kembali terhentak kaget. “Apa yang dilakukan semalam? Dasar tidak waras!” celetuknya dengan ketus.


“Aku akan baik padamu, jadi menurut lah.” Ucap Ed sambal menepuk-nepuk pelan kepala Leathina.


Leathina memutar bola matanya dengan kesal karena Ed sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan setelah ia kekang, namun akhirnya menghela nafas pasrah melihat sekelilingnya semakin ramai saat mereka keluar dari penginapan.


“Ayo!” Ucap Ed, tegas sembari menggenggam erat tangan Leathina dan berbaur dengan pengguna jalan serta berjalan dengan sedikit terburu-buru.


Leathina mengangguk paham, kemudian mengikuti Ed melupakan segala kekesalannya perhatiannya fokus pada beberapa orang yang tengah mengikuti mereka secara diam-diam.


...***...


Beberapa orang yang juga mengenakan jubah saling Padang Ketika melihat beberapa orang mencurigakan keluar dari penginapan dengan sedikit terburu-buru dengan jubah hampir menutupi seluruh tubuhnya.


“Kau melihat mereka?” Tanya seseorang berjubah pada rekannya.


Yang lain mengangguk dan mengekori beberapa orang mencurigakan dengan matanya.


“Ayo!” Ucap salah satu dari mereka, kemudian tanpa perlu diperintah lagi orang-orang berjubah tersebut berpencar namun memiliki tujuan yang sama yakni mengawasi diam-diam beberapa orang yang keluar dari penginapan tadi.


“Ada yang aneh!” gumam salah satu dari mereka memberi tahu temannya.


“Cepat ikuti, mereka semakin menjauh.” Seru rekannya memerintah saat melihat orang yang mereka awasi semakin terburu-buru pergi.


...***...


“Mereka terus mengikuti kita!” Ucap Nina dengan menyesuaikan iringan Langkah kakinya dengan Troy yang juga terburu-buru.


“Cepat kita harus bergegas!” Troy dengan tegas menarik tangan Nina membuat Nina harus memperlebar Langkah kakinya lagi untuk bisa mengikuti Troy yang memiliki tubuh tinggi besar lengkap dengan kaki panjangnya.


Mereka terus berjalan menghindari orang-orang yang mengejar mereka, sesekali beristirahat jika dirasa jarak di antara mereka aman.


“Mereka masih mengikuti!” Ucap Nina memberitahu Troy saat mereka memasuki sebuah rumah singgah untuk beristirahat sejenak setelah perjalanan jah mereka.


Troy tidak membalas ucapan Nina, matanya fokus melihat isi rumah singgah yang mereka datangi itu. Tidak terlalu banyak pengunjung namun juga tidak sedikit, setelah selesai mengamati Troy lalu mengajak Nina duduk di tempat paling pojok agar bisa leluasa memperhatikan orang-orang yang keluar masuk rumah singgah itu.


“Mereka hanya mengikuti kita, tidak ada tanda-tanda mereka berniat untuk menyerang atau menangkap kita.” Ucap Troy pada akhirnya membalas ucapan Nina setelah duduk.


Seorang pelayang wanita dengan ramah menghampiri mereka dan menawarkan beberapa makanan kemudian segera Kembali untuk memberitahukan orang dapur perihal pesanan para pelanggannya.


 “Mereka beruntung tidak menyerang, kalua tidak kepala pintarnya itu pasti sudah remuk.” Celetuk Troy saat pelayan wanita tadi pergi dari meja mereka.


“Bersikaplah sewajarnya, jangan memancing keributan jika mereka tidak memulai duluan biarkan saja kita perlu menyimpan tenaga kita perjalanan kita masih jauh mungkin mereka akan lelah dan menyerah mengikuti kita saat di perjalanan pulang ke kerajaan nanti.” Setelah selesai berbicara Nina dengan ramah menyambut seorang pelayan pria yang membawakan pesanan mereka.


“Terimakasih.” Ucap Nina ramah, membuat pelayan pria yang nampaknya masih muda itu ikut tersenyum dengan sedikit tersipu malu karena Nina mengedipkan satu matanya padanya.


“Matamu mau aku cungkil!” ucap Troy ketus tidak suka melihat Nina yang sangat suka menggoda pria-pria yang ditemuinya.


“Congkel saja kalua kau bisa!” Balas Nina menantang sembari menikmati makanannya, “Fokus saja pada makananmu.” Ucapnya lagi dengan acuh tak acuh pada Troy yang menatapnya dengan tatapan kesal namun akhirnya menurut juga dan memakan makanannya.


Nina sesekali melirik beberapa orang yang ada di dalam rumah singgah itu, dilihatnya orang-orang yang masuk beberapa saat setelah dirinya dan Troy masuk.


Nina tidak sengaja bersitatap dengan mereka membuat Nina refleks tersenyum ramah dan mengedipkan matanya pada mereka agar mereka tidak curiga bahwa ia sedang mengawasi.


“Kepada siapa lagi kau tersenyum?” tanya Troy saat Kembali melihat Nina tersenyum manis sambil mengedipkan matanya.


“Diam, aku tidak sengaja bersitatap dengan orang-orang yang mengikuti kita sejak meninggalkan penginapan.


“Mana? Diaman mereka!” seru Troy emosi melihat ke sekelilingnya.


“Hei! Hei! Bodoh! Kenapa kau tiba-tiba seperti ini.” Ucap Nina panik memaksa Troy untuk diam.


“Mana oran-orang bodoh itu!” Troy semakin membesarkan suaranya sengaja agar orang-orang melihatnya.


“Hei! Troy!” teriak Nina ikut emosi.


“Mana orang yang menggoda pasanganku!” ucap Troy tidak mempedulikan Nina yang kini sedang naik pitam.


“Hei apa-apaan ucapanmu itu!” Tanya Nina jengkel karena Troy tiba-tiba mengatakan hal-hal aneh.


“Hustt! Diam sebentar!” Bisik Troy pelan membuat Nina semakin tidak paham dengan tingkahnya.


“Hei! Kau pria sialan yang duduk di sana, jangan terus-menerus melirik pasanganku kalua tidak mau matamu aku congkel dengan garpu!” gertak Troy membuat orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka salah tingkah dan langsung keluar dari rumah singgah tersebut.


“Lihat mereka pergi!” Ucap Troy senang dan Kembali menikmati makanannya.


“Dari mana kau belajar hal-hal aneh seperti itu untuk mengusir mereka tanpa dicurigai?” tanya Nina dengan perasaan yang masih marah.


“Aku melihat tuan Ed melakukannya Bersama Nona Leathina.” Ucapnya santai.


“Akh! Dasar bodoh, jangan pernah meniru apa yang dilakukan oleh tuan Ed, jika kau melakukannya maka kau terlihat seperti orang bodoh tahu dan apa-apaan itu, pasangan? Huh! Siapa yang mau berpasangan denganmu.” Celetuk Nina emosi namun tidak dapat melampiaskan emosinya karena perbuatan Troy justru membantu mereka.


Troy hanya diam mendengar celoteh Nina kemudian tersenyum tipis melihat wajah Nina yang memerah karena menahan emosinya kemudian Kembali menikmati makanannya.


...***...


Hai Para Reader! 😊


Author benar-benar meminta maaf karena kelalaian Author yang hampir tidak pernah Up cerita lagi, Author sedang sibuk di dunia nyata saya harap pengampunannya dari para pembaca.😁


Author akan berusaha untuk menyelesaikan cerita ini.


Semoga kalian semua sehat☺️


Terimakasih semua 💙 💙