
“Hadiah? Apa maksudnya dengan permintaanku? Tunggu sebentar jika aku ingat - ingat kejadian hari itu...”
(Flashback ingatan saat hari kecelakaan Isabella terjadi)
Siapapun itu Dewa atau Tuhan jika reinkarnasi atau kehidupan kedua atau apapun itu, yang berkaitan dengan kehidupan selanjutnya benar-benar ada aku mohon aku ingin menjalani hidup dengan baik tidak dilahirkan dengan orang tua bodoh seperti ayahku yang sekarang, bisa hidup dengan kemewahan dan keistimewaan, jika boleh memilih apa aku bisa memohon hidup seperti pemeran protagonis yang ada dalam novel si karakter utama. Ah, tidak.. tidak.. hidup seperti pemeran protagonis akan lebih sulit selalu ada adegan dimana sang antagonis selalu berbuat jahat, memikirkannya saja sudah sangat merepotkan atau bagaimana jika hidup dengan karakter yang kuat, tegas, dan ditakuti itu karakter yang sangat cocok jika tidak ingin dibully oleh orang lain. Ah tapi mungkin aku ingin hidup normal saja seperti anak perempuan pada umumnya tidak dicintai juga tidak apa-apa yang penting aku punya rumah untuk berteduh dan tidak kelaparan oh dan juga segepok uang. Apa aku terlalu banyak berimajinasi? Tidak apa-apalah toh aku sebentar lagi akan mati. Hahahaha karena hidup dalam kemelaratan sampai dalam hayalankupun aku masi mementingkan sifat realistisku, yah harta dan kedudukan memang yang terbaik.
.........
Uukh kenapa juga aku membuat permohonan konyol seperti itu, kenapa aku tidak memohon jadi konglomerat yang hidup dengan kemewahan atau meminta menjadi anak pemilik warisan tunggal keluarga kaya. Kau benar-benar bodoh Isabella lihat apa yang sudah kamu lakukan dengan permohonan dan imajinasi konyolmu itu.
“Nah sekarang sudah waktunya kamu kembali, ulurkan tanganmu aku akan memberikanmu sebuah bonus hadiah tambahan, ini akan sangat berguna untukmu di kehidupan keduamu.”
“Begini?”
“Iya pertahankan seperti itu sebentar.”
“Apa yang kamu berikan padaku?”
“Aku memperkuat kekuatan sihirmu khususnya dalam penyembuhan, di dunia yang akan kamu tinggali mulai dari sekarang sebagian orang bisa menggunakan sihir, jika kamu memiliki sihir setidaknya itu sudah cukup untuk melindungi dirimu sendiri.”
“Sihir penyembuh?”
“Iya benar sihir ini akan sangat berguna untukmu tapi jika kamu menggunakannya terlalu sering ini juga berdampak buruk bagi tubuhmu, nah sekarang sudah waktunya kita berpisah ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita aku akan terus mengawasimu dari sini, semoga beruntung, oh aku hampir lupa ingatan Leathina masih belum menyatu seluruhnya dengan ingatanmu, ingatan itu berangsur-angsur akan masuk ke dalam ingatanmu dan itu akan sedikit menyakitkan tapi tenang saja itu tidak akan berbahaya, selamat tinggal Isabella eh.. apa sekarang aku harus memanggilmu Leathina pokonya sampai jumpa setelah mati tapi jangan mati terlalu cepat yah.”
“Tunggu.. tunggu.. tunggu dulu..”
...***...
“TUNGGU!!”
“Oh aku lupa bertanya apa aku boleh mengatakan identitasku yang sebenarnya atau tidak.”
Ternyata aku sudah terbangun di dunia ini lagi, sudah berapa jam aku tertidur “Aww” tubuhku terasa kaku semua. Dan apa yang akan aku lakukan dengan kehidupanku yang kedua dengan karakter jahat milik Leathina apa aku harus hidup seperti penjahat juga. tidak, jika aku hidup seperti itu maka aku akan mati di hari ulang tahunku yang ke 25 tahun. Aku harus menyusun rencana hidupku sampai hari di mana aku bisa terbebas dari takdir kematianku telah terlewatkan, sebelum itu aku perlu mengisi tenagaku dulu bagaimana caraku memanggil pelayan aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan keluar oh aku ingat ada bel di sisi tempat tidur.
“Teng... teng... teng.”
Mari kita lihat berapa lama para pelayan akan merespon.
“Tok.. tok.. tok.”
“Teeeekkk”
Terdengar ketukan pintu yang diketuk oleh pelayan dan disusul dengan deritan pintu yang dibuka oleh para pelayan. Ternyata mereka lumayan cepat juga, apa karena mereka takut dihukum jadi secepat ini menurut cerita di dalam novel Leathina sangat sering menghukum para pelayan walau hanya melakukan sedikit kesalahan bahkan ada yang sampai ia penjarakan.
“Akhirnya anda sadar Putri, aku khawatir bahwa anda tidak akan membuka mata anda untuk selamanya, segera beritahukan Tuan Duke dan panggi...”
“Tidak usah!”
Lihatlah pelayan ini, berpura-pura khawatir padaku padahal mungkin dia akan lebih bahagia kalau aku tidak bisa bangun lagi.
“Maaf putri tapi tuan Duke memerintahkan untuk segera membe..”
“Aku bilang tidak usah, beritahukan saja nanti.”
“Baiklah akan saya beritahukan nanti saja, kalau begitu apa ada yang Tuan Putri butuhkan.”
“Berapa lama aku tertidur?”
“Anda sudah tertidur selama tiga hari.”
“Tiga hari?” Aku kira aku hanya tertidur selama beberapa jam saja.
“Iya Putri anda sudah tertidur selama 3 hari.”
“Sebelum itu kenapa kalian terus memanggilku Putri padahal aku hanya anak dari seorang Duke?”
“Anu.. itu sebelumnya..”
“Katakan saja kenapa?”
“Putri Leathina yang memerintahkan kami untuk memanggil seperti itu, Putri Leathina mengatakan bahwa anda adalah satu-satunya yang akan menjadi putri mahkota dan anda adalah satu-satunya wanita paling terhormat di kerajaan ini.”
“Mulai sekarang jangan panggil aku putri lagi, panggil seperti sebagaimana mestinya saja."
“Ba.. baik Put.. Nona Leathina.”
“Baiklah. Sekarang bawakan aku makanan yang mudah dicerna.”
“Baik nona akan saya bawakan.”
“Treeekk.” (Suara deritan pintu yang ditutup kembali).
Keadaan ini benar-benar lebih buruk dari perkiraanku, apa yang harus aku lakukan sekarang, semua orang bahkan para pelayan pun takut terhadapku. Aduh “Lea.. Lea” sebenarnya apa yang membuatmu sampai menjadi sejahat ini. sekarang aku harus berjuang sendirian untuk melindungi hidupku dari takdir kematian.
“Umm mari berfikir rencana apa yang akan aku buat dan akan aku lakukan untuk bertahan hidup.”
Sekeras apapun aku mencoba mencari jalan keluar tetap saja aku tidak bisa berfikir dan menyusun rencana jika berfikir dengan perut keroncongan seperti ini, apa mereka masih lama menyiapkan makanannya, apa aku susul saja ke dapur? Ah.. jangan itu bisa menimbulkan kekacauan nanti jika aku datang ke sana. Aku merasa aku seperti bom waktu dan sekaligus bom berjalan yang setiap saat bisa menimbulkan ledakan kekacauan padahal aku masih berada di atas tempat tidur bagaimana nantinya jika aku berkeliling, apa aku berdiam diri saja di dalam kamar dan tidak usah bertemu dengan orang lain agar tidak menimbulkan masalah.
“Tok.. tok.. tok.”
Akhirnya makananku datang juga.
“Masuk.”
“Kenapa kamu berdiri di sana?”
“MA.. MAAFKAN AKU NONA LEATHINA!”
Huh kenapa dia malah berlutut dan meminta maaf dengan suara sebesar itu, jika orang-orang mendengarnya mereka pasti mengira bahwa aku sedang menyiksanya. Efek dari pemeran antagonis memang kuat.
“Kenapa kau minta maaf seperti itu, apa kau melakukan kesalahan?”
“Anu i.. itu nona menegurku kenap aku berdiri di depan nona.”
“Aku bertanya kenapa kamu berdiri disitu, jika kamu sudah tidak ada urusan kamu boleh pergi itulah kenapa aku bertanya.”
“Ah iya jadi seperti itu, tapi aku tidak bisa meninggalkan nona sendiri aku harus membantu nona untuk makan.”
“Tidak perlu.”
“Tapi itu sudah jadi tugasku.”
“Memangnya kamu siapa?”
“Aku Anne, aku baru ditugaskan untuk menjadi pelayan pribadi nona Leathina.”
“oh jadi namamu Anne dan kamu adalah pelayan pribadiku?”
“Iya Nona Leathina.” (menjawab sambil mengangguk dengan cepat)
Seingatku di novel yang pernah aku baca pelayan pribadi Leathina bernama Diana, apa yang terjadi dengannya.
“Kemana pelayan pribadiku yang lama?”
“I.. itu, Diana dihukum karena dicurigai menaruh racun di dalam minuman nona Leathina.”
“Oh jadi seperti itu.” Pelayan malang itu pasti sudah sangat geram dengan sifat Leathina sampai kehilangan kesabaran sehingga menginginkan Leathina mati.
“Baiklah sekarang kamu keluar, aku tidak perlu didampingi saat makan, aku bisa makan sendiri aku akan memanggilmu jika aku sudah selesai. Dan sampaikan kepada orang-orang jangan ada yang mengunjungiku atau masuk ke ruangan ini untuk sementara waktu jika ada yang bertanya kenapa katakan saja aku perlu istirahat yang banyak untuk pemulihan dan bawakan aku tinta dan kertas."
“Baik nona akan saya lakukan tapi apa aku harus memanggil dokter terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan nona Leathina?”
“Tidak usah itu tidak perlu, aku baik-baik saja sekarang keluarlah dan lakukan seperti yang aku perintahkan.”
“Baik Nona Leathina, saya pamit terlebih dahulu.”
“Treeekkk” (Suara deritan pintu yang sedang ditutup).
......***......