I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 32



Leathina telah mengelilingi mansion kediaman keluarga Yarnell dan separuh dari para pelayan ternyata kebanyakan dari mereka memiliki luka atau sakit akibat kecelakaan kerja baik sakit karena terjatuh, sakit karena memang penyakit bawaan, atau sakit karena lukanya dibiarkan dan terinfeksi telah Leathina temui dan obati dengan sihir penyembuhan miliknya. Kini Leathina berjalan sempoyongan menuju taman dan segera beristirahat kembali di gazebo, saat sampai Leathina langsung mendudukkan dirinya di atas kursi taman dan menyandarkan bahunya di sandaran kursi, seluruh energi Leathina kini telah terkuras habis karena terlalu sering menggunakannya dalam jarak waktu yang berdekatan.


Separuh dari keseluruhan pelayan yang bekerja di kediaman ini memiliki penyakit, kenapa mereka tidak ke dokter untuk mengobati lukanya atau penyakitnya sakit kok mereka tabung – tabung sih. Kedepannya aku harus memberi saran pada pemimpin keluarga ini nanti agar menyediakan pelayanan kesehatan kerja bagi para pekerjanya kalau di kehidupanku sebelumnya istilahnya apa yah? Oh iya kalau tidak salah ingat namanya itu P3K “Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan” nah itu  mungkin bagus diterapkan untuk menjamin keselamatan para pelayan atau pekerja di sini. Tapi apa itu mungkin karena di sini orang dari kalangan bawah nyawanya tidak begitu di hargai dan dipedulikan tapi biar aku coba saja nanti akan aku usulkan jika ada kesempatan.


“Tapi ngomong – ngomong Anne kok lama ya?” Leathina bergumam sambil mengubah posisinya yang semula menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kini menyilangkan kedua tangannya dan meletakkan wajahnya di atasnya.


Mudah – mudahan saja orang – orang yang aku obati tadi tidak ada yang membuka mulutnya karena aku tidak bisa mengigat wajah mereka satu – persatu jadi aku tidak bisa mengintrogasi mereka jika nanti ada yang membuka mulut. Sebelumnya Leathina tidak bisa menggunakan sihir karena berdarah campuran makanya Leathina hanya bisa mengandalkan teknik berpedangnya untuk mengangkat namanya kalau orang – orang tahu bahwa sekarang aku bisa menggunakan sihir mungkin akan terjadi sedikit kehebohan nanti jadi untuk sekarang akan aku rahasiakan dulu.


“Nona! Nona! Nona Leathina!”


Tiba – tiba saja Leathina tersadar dari lamunannya karena mendengar suara teriakan Anne yang terus – menerus berteriak memanggilnya.


Dari kejauhan terlihat Anne sedang berlari – lari kecil sambil membawa nampan berisi teko dan gelas di tangannya, Anne berjalan ke arah Leathina dengan langkahnya yang sengaja ia percepat agar segera sampai pada gazebo tempat Leathina sedang beristirahat.


Apa yang membuat Anne menjadi begitu bersemangat seperti itu? Sekarang aku juga ingin memiliki semangatnya itu. Sekarang ini aku bahkan tidak bisa mengangkat kedua tanganku untuk melambaikan ke arah Anne, ini imbas karena aku terlalu serakah dan terlalu arogan tadi setelah aku mahir menggunakan sihir penyembuh aku jadi lupa bahwa segala sesuatunya memiliki batasan – batasan tertentu.


“Nona.. Nona.. Nona Leathina! Anne yang kini telah sampai di gazebo segera meletakkan nampan yang berisi teko dan gelas yang ia bawa di atas meja dan kembali memanggil – manggi nama Leathina.


“Anne, apa yang membuatmu menjadi berisik seperti ini?” Leathina berbicara dengan posisinya yang masih menyandarkan wajahnya di atas kedua tangannya karena sudah tidak memiliki tenaga untuk bereaksi atas panggilan Anne.


“Astaga! Apa aku terlalu lama membuat Nona Leathina menunggu? Kenapa wajah Nona Leathina menjadi pucat seperti ini? perasaan tadi saat aku tinggal nona masih baik – baik saja apa yang terjadi? Apa Nona sudah mendengarnya?”


Setelah Anne sampai di gazobo tempat Leathina beristirahat dan melihat wajah majikannya yang sekarang tidak memiliki warna dan menjadi pucat pasih membuat Anne sangat khawatir pada keadaan nonanya itu.


“Anne keadaanku malah akan bertambah parah jika kamu menyerangku dengan banyak pertanyaan seperti itu.” Leathina berbicara sambil mencoba membuka kedua matanya tapi baru sebentar Leathina membuka matanya ia kembali menutupnya karena pandangannya sekarang terlihat mengabur.


“Ah maafkan aku Nona Leathina, aku sangat terkejut melihat keadaanmu.”


“Anne.”


“Iya Nona?”


“Air.”


Leathina meminta Anne untuk segera memberinya air minum agar keadaanya bisa kembali membaik tapi Anne tidak bisa mendengar ucapan Leathina karena Leathina berbicara dengan intonasi yang tidak jelas.


Karena sudah tidak memiiki banyak tenaga Leathina kemudian menggerakkan jari telunjuknya dan memberi kode pada Anne agar Anne mendekatkan kupingnya pada Leathina. Anne yang melihat gerakan tangan majikannya segera memahami maksudnya dan mendekatkan kupingnya dekat kepala Leathina yang masih dalam posisi memangku wajahnya dengan tanganya.


“Aku bilang berikan aku air.”  Setelah Anne mendekat barulah Leathina mengulangi ucapannya yang tadi tidak dia dengar oleh Anne, Leathina berbicara dengan setengah berbisik dan suaranya bahkan hampir tidak bisa lagi didengar  oleh orang lain.


“Ah iya.. Iya.. baik Nona.” Anne yang mendengar samar – samar perkataan Leathina tapi masih bisa memahami apa maksudnya segera menuangkan air dari teko dan mengisi gelas kemudian segera memberikan air tersebut pada Leathina.


“Ini Nona silahkan bangun dulu.”


“Nona? Nona?”


Anne menyodorkan gelas yang telah ia isikan dengan air pada Leathina tapi Leathina tidak meresponnya dan hanya melihat ekspresi Leathina yang seperti menahan rasa sakit.


Aku sekarang benar – benar tidak memiliki tenaga bahkan untuk membuka kedua mataku terasa sangat berat, maafkan aku Anne karena menyusahkanmu sejauh ini. Astaga sebenarnya berapa banyak energi yang aku gunakan untuk menyembuhkan semua orang – orang tadi, aku benar – benar ceroboh sampai melupakan keselamatan diriku sendiri.


“Nona? Nona? Nona Leathina?” Anne masih terus memanggil – manggil nama Leathina tapi nonanya itu masih belum meresponya, Anne hanya melihat bulu mata Leathina yang sedikit bergerak.


Karena Anne tidak mendapat respon dari Leathina saat memanggil namanya akhirnya Anne mendekati tubuh Leathina kemudian memegang kedua bahunya dan mengangkat Leathina dan menariknya sampai punggung Leathina bersandar pada sandaran kursi Anne Lalu mendekatkan gelas yang berisi air di bibir Leathina dan dengan hati – hati meminumkannya pada Leathina.


Saat Anne memberi Leathina air, Leathina kemudian segera meminumnya dengan keadaan matanya tertutup dan bersandar di kursi karena masih merasa lemah.


“Nona? Apa nona baik – baik saja? Aku akan memanggilkan dokter segera.” Anne kembali menanyai keadaan Leathina karena merasa khawatir dengan nonanya yang terlihat sangat payah sekarang.


“Aku baik – baik saja Anne, aku hanya butuh beristirahat sebentar jadi untuk sementara jangan berbicara padaku atau menanyaiku biarkan aku mengumpulkan energiku dulu.” Setelah meminum sedikit air Leathina sudah merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya dan energinya mulai terkumpul kembali walau hanya sedikit.


“Baik Nona Leathina.”


Anne yang mendengar perkataan Leathina segera menurut tapi sebelum itu Anne memperbaiki syal yang tadi ia pakaikan pada Leatihina sebelum keluar karena agak sedikt melorot ke bawah Anne memperbaiki posisinya sampai menutupi seluru bahu Leathina agar tidak kedinginan terkena angin kemudian setelah itu barulah Anne berdiri di samping Leathina dan menunggu sampai keadaan Leathina membaik.


......***......