
Leathina berjalan melewati gang - gang kecil secepat yang ia bisa agar bisa cepat sampai di alun - alun kota, namun sayangnya tenaganya berangsur - angsur melemah karena baru sadar dari koma dan belum makan sama sekali.
Akhirnya Leathina memilih untuk beristirahat karena tidak sanggup lagi melanjutkan pelariannya, kedua kakinya gemetaran karena menahan lapar sementara perutnya terus berbunyi.
"Ah, aku lapar. Apa di sini tidak ada yang menjual makanan?"
Leathina menghela nafas panjang sambil memegang perutnya, kemudian menatap sekelilingnya mencari kedai makanan yang bisa mengganjal perutnya yang sedang kelaparan.
Sayangnya di sekeliling Leathina hanyalah perumahan kumuh, sesekali orang - orang dan para tunawisma yang lewat terus memandangi wajah Leathina yang terlalu mencolok di tempat kumuh seperti itu.
Karena merasa diawasi cepat - cepat Leathina memakai jubahnya sampai menutupi separuh wajahnya kemudian kembali melanjutkan perjalanan dalam keadaan lapar.
"Hey kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu dari tadi."
Tiba - tiba saja seorang pria merangkul Leathina seolah-olah mereka berdua adalah teman lama yang berjanji untuk bertemu.
"Eh! lancang sekali kau!"
"Husstt! beberapa orang sedang mengikuti mu, bersikaplah seolah kita kenal."
Saat Leathina mendorong pria tersebut secara paksa, pria tadi malah melakukan sebaliknya dia malah menarik Leathina sampai berdempetan dengannya dan merangkul lebih dekat lagi.
"Benarkah? aku tidak merasakan seseorang sedang mengikuti, satu - satunya orang yang terus membuntuti ku sekarang adalah kamu Tuan."
"Eh, Jangan menoleh, nanti mereka sadar."
Pria yang merangkul Leathina mencegah untuk melihat ke arah belakang dan memaksa Leathina untuk terus berjalan ke depan.
"Nah, sekarang sudah aman."
Setelah berjalan agak lama pria tadi melihat sekitarnya kemudian segera melepaskan rangkulannya.
"Kau pasti baru di sini Nona, apa kamu sedang dalam pelarian sekarang?"
"Urus saja urusan mu sendiri Tuan penyelamat."
"Grooooaamm."
Leathina menjawabnya dengan ketus kemudian melangkah pergi meninggalkannya. Namun saat baru akan pergi tiba - tiba suara dari perut Leathina terdengar.
Leathina tertegun sendiri karena suara perutnya yang terdengar sangat jelas, ia menoleh berharap pria tadi tidak mendengar suara perutnya, tapi pria tadi sudah dengan posisi menahan tawanya saat Leathina melihatnya.
"Kau mendengarnya?" Leathina bertanya sambil menutupi perutnya dengan kedua tangannya, dan rona di pipinya bersemu merah karena menahan malu.
Yang ditanya menganggu cepat sambil berusaha menahan tawanya.
"Kau lapar?" Pria tadi bertanya kepada Leathina.
Kini gantian Leathina yang mengangguk cepat menjawab pertanyaan si pria.
"Kau tahu kedai makanan yang bisa aku datangi?"
"Iya, tentu saja aku tahu. Sini aku antar."
Laki - laki itu, menarik Leathina yang ragu - ragu mengikutinya, dan tersenyum dengan lebar untuk membuat Leathina merasa aman.
"Tidak apa - apa, ayo ikut. Aku tidak berbahaya untuk sekarang."
"Untuk sekarang? maksudmu kamu bisa saja tiba - tiba menggila, begitu?"
"Ummm, anggap saja seperti itu."
"Tunggu, tunggu, ..."
"Sudah ikut saja, kamu pasti sangat lapar aku juga akan menunjukkan penginapan yang murah untuk orang sepertimu yang dalam pelarian pasti tidak memiliki banyak uang."
"Oh iya namaku Adam, siapa namamu agar aku bisa memanggilmu dengan nyaman, Nona?"
"Lea, kau bisa memanggilku dengan itu."
"Kau tidak punya nama yang lebih panjang."
"Tidak ada."
"Oh, baiklah jika kamu tidak ingin memberitahu nama aslimu, Lea."
"Nah di sini tempatnya. Ada tiga lantai, Lantai pertama adalah bar, lantai kedua penginapan, dan lantai ke tiga khusus untuk pemilik bangunan."
"Di.. di sini?"
Leathina melihat sebuah bangunan yang didepannya terdapat papan penanda bertuliskan "Hunter Gatherers"
Leathina melihat semua orang yang keluar masuk dari bangunan yang ada di depannya itu. Terlihat berbagai wanita yang keluar masuk dengan berbagai jenis pakaian pula, dan beberapa laki - laki yang juga terlihat aneh. Hanya satu persamaan yang Leathina dapat simpulkan, mereka semua sama - sama membawa senjata bersamanya.
"Ka.. kau tidak salah tempat kan, Adam? ini terlihat seperti sarang pembunuh untukku."
"Tu.. tunggu, tunggu dulu, Adam, Adam."
Adam tidak mempedulikan Leathina dan terus mendorong nya masuk melewati pintu.
"Teng.. teng.. tengg."
Lonceng di pintu berbunyi saat adam memasuki bangunan tersebut, semua mata tertuju padanya tapi diwaktu berikutnya orang - orang kembali pada kesibukannya masing - masing.
"Hoi! kau datang terlambat Adam."
Seorang pria paruh baya yang mengenakan celemek berwarna biru berteriak ke arah Adam yang baru memasuki barnya.
"Paman, aku menemukan sesuatu yang menarik saat perjalanan ke sini."
"Oh maksud, wanita cantik yang berdiri di samping mu itu? hahaha."
Pria bercelemek biru itu melirik Leathina kemudian tertawa terbahak - bahak.
"Paman, buatkan aku 2 mangkuk mie hangat dan bawah ke meja 7."
"Baiklah."
"Ayo, Lea kita duduk di meja 7."
Adam, kembali menarik Leathina mengikutinya menuju meja yang ia maksud.
"Brakk"
Baru saja mereka berdua duduk di meja yang Adam maksud, seorang laki - laki berbadan besar dengan dua pedang menggantung di pinggangnya memukul meja dengan sangat keras membuat Leathina terkejut dan langsung berdiri.
Meja laki - laki berbadan besar itu tepat berada di sebelah meja tempat Adam dan Leathina duduk.
Leathina menatap Adam penuh tanda tanya tapi Adam hanya tersenyum dan menyuruh Leathina untuk duduk kembali.
"ADAM! Berani sekali kamu duduk di sebelah ku tanpa menyapaku terlebih dahulu."
"Husst... Adam, sebaiknya kita pindah saja." Leathina berbisik menyarankan untuk pindah tempat duduk.
"Tidak apa - apa, duduklah."
Adam kemudian berdiri dan berjalan menuju meja lelaki yang memukul meja tadi.
"Hoi, Abraham! kawan lamaku, lama tidak berjumpa."
"Kau akhirnya menyadari keberadaan, sialan."
"Hahaha, tentu saja aku mengingatmu."
Mereka berdua berbincang - bincang sebentar kemudian setelah itu Adam kembali ke meja tempat Leathina duduk menunggunya.
"Hey, kau mengenal nya?" Leathina menyambut kedatangan Adam dengan pertanyaan.
"Iya, dia kawan lamaku, dia seorang pembunuh bayaran kau bisa menyewanya jika mau."
"Benarkah?" Mata Leathina berbinar - binar mendengar perkataan Adam.
"Iya." Adam menjawab pertanyaan Leathina dengan santai.
setelah mendengar perkataan Adam, Leathina kemudian segera berdiri dan berjalan menuju meja tempat Abraham berada.
"Hey, hey, kamu mau kemana Leathina?"
Adam yang melihat Leathina pergi ke meja tempat Abraham berada segera menariknya dan membawanya kembali ke meja tempat mereka duduk tadi.
"Kau mau apa ke sana Leathina? aku hanya bercanda."
"Benarkah? aku kira aku bisa menyewa jasanya."
"Memangnya siapa yang ingin kamu bunuh."
"Ada banyak orang." Leathina kemudian mengangkat tangannya dan mulai menghitung orang - orang yang ingin dia bunuh.
"Kau bisa bercanda juga rupanya, Lea."
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku memang benar - benar ingin membunuh mereka semua." Leathina berbicara sambil menatap Adam dengan serius.
"Tidak, kau tidak serius. Aku sarankan jangan menyelesaikan masalahmu dengan jalan pintas seperti membunuh, cepat atau lambat kau pasti akan menyesalinya."
"Benar juga apa yang kamu katakan, pasti aku akan menyesalinya nanti."
Leathina menghela nafas panjang kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan di saat bersamaan pesanan mereka berdua telah diantarkan oleh pelayan bar.
......***......