I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 114



Dengan mengendap-endap Leathina menuju kadang kuda milik keluarga yarnell, memili satu kuda yang menurutnya tidak diperhatikan oleh petugas kuda dan diam-diam membawanya pergi agar tidak ada yang menjadi bahwa ada salah satu kuda yang hilang.


"Sepertinya kau tidak di rawat dengan baik sama sepertiku, kita berteman sekarang." Gumam Leathina sambil mengeluarkan kepala kuda yang akan dibawanya.


Leathina memacu kudanya dengan cepat dan sesekali menoleh ke belakang berjaga-jaga jika ada seseorang yang mengikutinya.


Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit bagi Leathina untuk sampai di pusat kota dengan menunggangi kuda ia kemudian mengambil arah menuju sebuah mansion yang pernah ia datangi bersama Adam dan Ed’ tapi kini telah digunakan sebagai rumah bagi anak-anak yang tidak memiliki tempat tinggal.


Setelah samapi pada tujuannya Leathina segera melompat turun dari kudanya kemudian menuntunnya dan mengikatnya di sebuah pohon yang berada di halaman mansion.


Mendengar bunyi kuda yang sesekali mengeluarkan suara ternyata terdengar oleh beberapa anak dari mansion dan mengintip dari jendela mencari tahu siapa kira-kira yang datang berkunjung ke tempat mereka tapi tidak ada yang berani keluar untuk menyambutnya karena wajahnya tertutupi dan memakai jubah.


Melihat ekspresi anak-anak yang mengintipnya dari jendela membuat Leathina menyadari bahwa kedatangannya menakuti mereka, Leathina segera menarik turun penutup wajahnya dan tersenyum sambil melambai kan tangannya ke arah anak-anak yang dilihatnya di jendela mengutip nya.


“NONA BANGSAWAN!” Teriak Toni dan Messy hampir bersamaan ketika melihat Leathina tengah melambai ke arah mereka.


“NONA PENYELAMAT!” Teriak anak-anak yang lainnya memanggil Leathina kemudian mereka semua berlari membuka pintu dan menyambut kedatangan Leathina.


Sebuah pelukan hangat mereka gunakan sebagai acara penyambutan bagi orang yang telah menyelamatkannya itu dari perbudakan.


“SELAMAT DATANG!” Seru semua anak-anak hampir bersamaan kemudian sedikit membungkuk untuk menghormati Leathina.


“Oh, Astaga kalaian tidak perlu seperti itu.” Leathian berbicara sambil mengusap kepala anak-anak yang ada di dekatnya.


Mata Leathina kemudian tertuju pada seorang anak laki-laki yang terlihat paling muda di antara anak-anak lainnya dan tingginya hanya sekitar selutunya saja, pipinya seakan terayun-ayun saat anak laki-laki itu berjalan mencoba mendekati Leathina tapi kesulitan karena anak-anak yang lain menghalanginya.


“Mari kita lihat siapa nama anak luci ini.” Leathina berjongkok dan menggendongnya sesekali Leathina menoel-noel pipinya yang tembeb dengan jari telunjuknya membuat anak yang ada di dalam gendongannya itu tersenyum ceriah.


“Namanya Agam, umurnya baru empat tahun.” Ucap salah seoran anak saat memberitahu Leathina.


“Dari mana asalnya, aku tidak melihatnya saat terakhir kali bertemu dengan kalian.” Tanya Leathina kemudian kembali melihat anak laki-laki yang sedang digendongnya itu.


“Madam Gisella menemukannya di depan pintu, orang tuanya membuangnya.”


“Oh astaga malang sekali nasib mu nak.” Leathina dengan gemas mengusap kepala Agam dan membuat Agam menyipitkan salah satu matanya karena rambutnya hampir mengenai matanya karena di tekan Leathina.


“Semenjak kami datang banyak anak-anak yang masuk ke tempat ini mereka ada di sana.” Anak yang menjawab pertanyaan Leathina menunjuk ke arah pintu dan jendela.


Terlihat beberapa anak-anak yang mengintip Leathina dari pintu dan jendela karena penasaran, mereka tidak berani mendekat karena belum pernah melihat Leathina sebelumnya hanya anak-anak yang Leathina selamatkan dari penjualan perbudakan dan beberapa anak-anak yang rasa penasarannya tinggi lah yang kini mengerumuni Leathina.


“Oh iya ambillah ini.”  Leathina mengingat sesuatu kemudian menurunkan Agam dari gendongannya dan berjalan kembali ke kudanya yang belum teralu jauh ia tinggalkan.


Leathina mengambil dua toples besar permen yang dia gantungkan di kudanya yang ia beli saat diperjalanan nya kemudian memberikannya pada salah satu anak yang menurutnya paling besar dan menyurunya untuk membagikan pada semua anak permen yang ia bawa tadi.


“Terimakasi banyak Nona.” Mereka semua serentak mengucapkan teremikasih pada Leathina.


“Aku senang sekali melihat kalian semua sehat-sehat, jangan panggil aku nona kalian bisa memanggilku dengan kakak Lea.” Leathina merasa sedikit terharu ketika melihat semua anak-anak sangat menyukainya termaksud Agam yang kini terus melengket di dekat Leathina.


“Terimakasih banyak kakak Lea.” Seru anak-anak lagi mengulangi ucapannya.


“Selamat datang Nona Lea.” Sambut seorang wanita paruh baya pada Leathina dan di belakangnya diikuti Toni dan Messy.


“Oh, anda pasti Madam Gisella yang di katakan anak-anak tadi.” Jawab Leathina tersenyum melihat perempuan paru baya yang sangat berwibawa saat ia melihatnya.


“Betul Nona izinkan aku memperkenalkan diriku dengan baik, Saya Gisella salah satu pengurus rumah anak ini.”


“Perkenalkan Nama saya Lea, senang mengenal anda madam Gisella.”


“Aku sudah sering mendengar cerita tentang anda Nona Lea, terutama dari Toni dan Messy yang hampir setiap hari menceritakan tentang anda yang telah menyelamatkan mereka.”


“Ah, tidak juga Madam Gisella anak-anak itu hanya melebih-lebihkan ceritanya.”


“Silahkan masuk Nona Lea.”  Anak-anak masuk nanti kalian bisa kena demam jika terkena banyak angin.” Madam gisella dengan sopan meminta Leathina masuk, setelah itu berteriak untuk memberi tahukan anak-anak untuk segera masuk karena cuaca mulai terasa dingin.


“Aku tidak menyadarinya, ternyata hari sudah akan berakhir semoga saja Anne tidak datang kekamarku untuk memeriksa keadaanku.” Gumam Leathina saat melihat langit telah berubah warna menjadi kemerahan dan sebentar lagi berubah menjadi gelap.


“Aku datang hanya ingin melihat keadaan anak-anak madam gisella.” Ucap Leathina kemudian membuat Madam Gisella paham bahwa Leathina ingin bermain dengan anak-anak.


“Silahkan masuk Nona Lea, aku akan mempersiapkan sesuatu yang dapat menghangatkan tubuh anda.” Madam Gisella kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam.


“Terimaksih Madam.” Jawab Leathina sebelum madam gisella masuk.


“Kalian masuklah ke dalam dan bagi permen itu pada teman-temanmu.” Leathina menyuruh anak-anak masuk terlebih dahulu tapi tangannya memengan tangan Toni yang berdiri di sampingnya.


Semua anak-anak akhirnya masuk dan hanya menyisahkan Toni dan Leathina di luar.


“Toni, apa kau menemukan alamatnya?” Tanya Leathina sambil berjongkok di depan Toni untuk menyejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Toni.


“Iya aku menemukannya dan aku memberikannya surat yang anda berikan padaku dan dia memberiku surat ini sebagai balasannya.” Toni berbicara sambil mengeluarkan sebuah surat yang masih tersegel dari saku celananya dan menyerahkan surat itu pada Leathina.


“Kau sudah bekerja keras Toni, terimakasih.” Ucap Leathina sambil memberikan beberapa keping koin emas pada Toni.


“Nona aku tidak membutuhkan ini lagi.” Toni menggeleng kan kepalanya menolak pemberian Leathina.


“Kenapa? Bukankah kau dulu sangat menyukai uang?” Tanya Leathina kebingungan karena sebelumnya Toni tidak ingin bekerja jika tidak memmiliki bayaran sebagai imbalannya.


“Itu karena dulu aku hidup dijalanan setiap saat aku harus memikirkan bagaimana aku dan adikku bisa hidup dan membeli makanan makanya aku sangat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Tapi, sekarang tidak lagi aku telah memiliki rumah yang aku tinggali dan tidak kelaparan lagi. Itu sudah cukup untukku Nona, Terimakasih banyak karena telah menolongku.” Toni kemudian membungkuk dengan posisi sembilan puluh derajat untuk berterimakasih pada Leathina.


Leathina hanya tersenyuk kemudian mengelus lembut kepala Toni tapi tetap memberikan beberapa koin yang sudah ia keluarkan untuk Toni.


“Kenapa? Aku tidak ingin dibayar aku benar-benar ingin bekerja dan membalas kebaikanmu padaku Nona Lea.” Tanya Toni kebingungan karena Leathina tetap memberikannya uang.


“Terimakasi Nona Lea.” Suara toni bergetar karena menahan tangis kemudian melap wajahnya dengan pundaknya karena sudah ada beberapa butir air bening yang keluar dari sudut matanya.


“Astaga cengeng sekali, hahah.” Leathina tertawa ketika melihat wajah Toni yang terlihat mengemaskan karena mencoba bersikap seperti orang dewasa tapi masih menagis seperti anak kecil.


“Masuk lah, nanti kau kedinginan.” Ucap Leathina kemudian memasuki mansion dan di ikuti Toni yang berjalan di sampingnya.


“Agam! Seru Leathina gemas ketika melihat Agam berdiri didekatnya berusaha menarik perhatian Leathina.


“Kau berpotensi menjadi perayu para wanita dengan wajah menggemaskanmu ini, hahah.” Leatina berbicara sambil tertawa kemudian mengangkat tubuh mungil Agam dan mendudukannya di pangkuannya.


“Malang sekali padahal masih kecil, ada lagi anak yang bernasib menyedikan seperti diriku karena keegoisan orang tuanya.”


“Silahkan diminum Nona Lea, maaf jika tehnya hanya teh yang sering diminum orang biasa.” Madam Gisella datang dengan membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan meletakkannya di depan Leathina.


“Tidak apa-apa Madam Gisella, dan terimakasih. Tapi aku penasaran sekarag berapa jumlah anak-anak yang tinggal di sini bersamamu?” Tanya Leathina sambil menyeruput teh hangat yang dibawakan oleh madam Gisella.


“Ada dua puluh enam orang anak nona.” Jawab madam gisella sambil menenangkan salah satu anak yang sedang merengek.


“Dua pulu enam anak? Tapi aku aku lihat hanya 25 orang anak saja, yang satunya kemana madam?”


“Oh anak itu, kemarin ada satu orang anak perempuan yang baru tiba seseorang menemukannya tergeletak begitu saja di pinggir jalan dan membawanya kemari. Tubuhnya dipenuhi luka dia sedang dikamar sekarang, kami belum tahu nama dan darimana dia berasal karena sampai sekarang anak itu belum mau berbicara dan hanya diam saja semenjak datang kesini.”


“Oh, astaga. maafkan aku Nona Lea aku akan membuatkan secangkir teh lagi untuk anak ini.” Madam Gisella kembali ke dapur meninggalkan Leathina sendiri karena ingin membuatkan teh pada anak yang tadi merengek padanya.


“Agam?” Panggil Leathina dan membuat anak yang ada di pangkuannya itu mendongak melihat wajah Leathina.


“Aku penasaran dengan anak yang dibicarakan madam Gisella, apa kau mau menunjukanku di mana dia sekarang?” Bisik Leathina pada Agam tapi Agam hanya melihat Leathina dengan kedua mata mungilnya.


“Bodoh sekali aku ini, kenapa aku bertanya pada anak kecil mana mungkin dia mengerti.”


Leathina menepuk jidatnya kemudian mencoba bertanya pada anak-anak lainya tapi Agam menahanya.


“Kau paham perkataanku?” tanya Leathina pada Agam kemudian dibalas dengan anggukan.


“Kau bersedia menunjukkan di mana anak itu?” Tanya Leathina lagi dan kembali di balas dengan anggukan.


Agam kemudian menunjukkan jalannya pada Leathina dan sampailah mereka berdua di depan sebuah pintu kamar.


Leathina membuka pintu pelan-pelan kemudian dilihatnya seoran anak perempuan yang menyembunyikan dirinya di dalam selimut tidak ingin menunjukkan dirinya pada Leathina.


“Tunggu di sini Agam.” Leathina masuk ke dalam bersama dengan Agam dan menutup kembali pintu kemudian menyuruh Agam untuk menunggunya di dekat pintu.


“Pemisi Nona.” Sapa Leathina lembut tapi tidak ada jawaban.


“Maaf jika aku mengganggumu tapi aku datang untuk mengobatimu kau pasti menderita menahan sakit karena luka di sekujur tubuhmu, aku akan membantumu menghilangkan sakitnya.” Leathina berbicara sambil pelan-pelan menarik selimut yang menutupi tubuh anak perempuan yang ada di depannya itu.


“Oh astaga.” Pekik Leathina ketika melihat tubuhnya.


Dilihatnya anak perempuan itu bertubuh kerempeng, piyama putih yang dikenakannya sedikit kebesaran dan kedodoran memerlihatkan setengah bahunya yang di dipenuhi luka memar dan di betisnya terlihat bekas-bekas cambukan. Sementara si anak hanya menunduk tidak berani menatap wajah Leathina.


“Apa sakit?” Tanya Leathina lagi kemudian dibalas anggukan pelan.


Leathina meletakkan tangannya di dada anak itu kemudian keluar aura hijau yang pelan-pelan menyelimuti seluruh tubuhnya dan mulai menyembuhkan dan menutup seluruh luka-luka yang ada di tubuh si anak perempuan yang Leathina obati.


“Apa masih sakit atau masih ada yang terasa sakit? Apa ini?” Leathina berbicara sambil memeriksa seluruh tubuh anak itu kemudian melihat sebuah bekas luka berbentuk silang di dada anak perempuan itu tapi cepat-cepat anak perempuan tadi menarik bajunya dan menutupiya.


“Ah, maafkan aku. Kalau tidak ada yang sakit lagi aku akan segera pergi.” Leathina segera mengankat tangannya menjauh darinya.


“Ini seperti besi yang dipanaskan dan dengan sengaja di cetak dikulitnya sebagai tanda budak suatu keluarga, kejam sekali.”


“Ayo Agam kita kembali!” Ajak Leathina sambil kembali menggendong Agam.


Leathina kembali bersama agam kemudian dalam perjalannay dia berbisik pada Agam memintanya untuk merahasiakan bahwa tadi dia telah menyembuhkan anak perempuan yang di ceritakan Madam Gisella, Agam mengangguk dan berjanji untuk merahasiakannya.


“Anda akan kembali Nona Lea?” Tanya madam Gisella yang terburu-buru keluar dari dapur saat mendengar Leathina akan kembali dan melihat Leathina telah berada di ambang pintu.


“Iya madam Gisella, aku harus segera kembali.”


“Terimakasih atas kunjungan anda.”


Saat Leathina akan benar-benar pergi Agam menarik pakaiannya membuat Leathina menunduk melihatnya dan melihat agam memberikan isyarat agar Leathian menunduk.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku Agam?”


Leathina berjongkok bersedia mendengar apa yang akan Agam bisikkan ditelinganya tapi ternya Agam malah memberinya ciuman di pipi Leathina setelah itu berlari dan bersembunyi di balik madam Gisella.


“Sepertinya Agam sangat menyukai anda Nona Lea.” Ucap Madam Gisella sambil tertawa.


“Sepertinya begitu madam Gisella, aku juga menyukainya. Kalau begitu aku akan benar-benar pegi sekarang jaga diri kalian anak-anak dan dengarkan apa kata madam Gisella jangan nakal.” Leathina menasehati anak-anak sebelum meninggalkan mereka.


Leathina berjalan menuju tempatnya menyimpan kuda miliknya dan menaikinya kemudian segera memacunya meninggalkan mansion yang sekarang dijadikan rumah tinggal bagi anak-anak yang terlantar.


Leathina harus secepatnya kembali ke kediamanya sebelum seseorang menyadari bahwa dia tidak ada di kamarnya.


...***...