
Leathina disambut dan dijamu dengan baik oleh keluarga Damian mereka bahkan memberikan Leathina tempat istirahat yang cukup layak di banding si pemilik rumah sendiri. Kamar yang diberikan Leathina adalah kamar milik Damian dan kakaknya tidur sementara mereka berdua akan tidur di tempat pamannya untuk malam ini.
“Kakak Lea.” Panggil seorang anak perempuan sambil terus mengekor pada Leathina karena baru pertama kali melihat wanita lain yang datang ke tempat mereka selain orang-orang yang tinggal bersama mereka.
“Ada apa Demina.” Tanya Leathina karena anak perempuan itu terus mengekor kemanapun ia pergi.
Mereka tiga bersaudara dua orang laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak pertama adalah bandit yang tadi tangannya di tusuk Leathina dengan tombak berumur sekitar usia sembilan belas tahun namanya Denis, anak kedua merupakan bandit yang tadi berlutut pada Leathina dan umurnya lima belas tahun namanya Demian dan anak terakhir adalah Demina satu-satunya anak perempuan pada keluarga bandit tempat Leathina menginap dan umurnya sepuluh tahun.
“Ibu memintaku memanggil kakak Lea ke ruangan makan, makanan sudah selesai ditata di meja makan.” Ucapnya sambil mendekati Leathina.
Alis Leathina berkerut melihat Demina merasa ada sesuatu yang aneh dengan anak perempuan itu. Perasaanya dengan otomatis merasa waspada dengan anak perempuan yang baru berusia sepuluh tahun itu. Leathina merasa senyumannya tidak natural seperti anak-anak lainnya dan dia sepertinya tidak biasa bertingkah manja seperti itu, Leathina mengetahuinya setelah secara tidak sadar mengamati tingkah Nora saat bersamanya.
“Apa hanya perasaanku saja, anak ini sepertinya menyembunyikan sesuatu.” Batinnya saat dalam perjalanannya menuju ruangan makan.
“Ada apa?” Tanya Demina dengan wajah polosnya saat Leathina terus menatapnya.
Leathina tidak mempedulikannya ada rasa was-was dibenaknya terhadap anak perempuan yang selalu mengekorinya itu semenjak ia tidak di kediaman para bandit.
“Rasanya sifatnya seperti milik Yasmine, Licik. Jika dibiarkan maka akan tidak baik aku berharap seseorang memberi pelajaran padanya.” Batin Leathina kemudian langsung meninggalkan Demina yang masih menunggu jawabannya karena tidak ingin berlama-lama dengan Demina.
“Nona Leathina, silahkan duduk.” Sambut Demian yang sudah lebih dulu duduk di kursi makan menunggu kedatangan mereka.
“Silahkan duduk Nona.” Ucap ayah Demian dan Denis hampir bersamaan menyambut kedatangan Leathina.
“Ekspresinya?” Gumam Leathina pelan saat tidak sengaja melirik ke arah Demina karena tidak ada orang yang mempersilahkannya duduk sekilas Leathina melihat ekspresi tidak suka seperti yang digunakan Yasmine jika di keramaian.
“Aku sepertinya terlalu sering mengamati ekspresi orang-orang saat masih berada di kehidupan sebelumnya. Aku tahu mana tatapan jijik, tidak suka, atau bahkan mengejek karena menjadi peminta-minta yang harus memelas." Leathina menutup matanya sebentar kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan ingatan masa lalunya di kehidupan sebelumnya saat masih menjadi Isabella.
“Tak”
“Aww!”
Demian tersandung kakinya sendiri kemudian menabrak Leathina yang berada di depannya dan terjatuh ke belakang, Leathina juga hampir terjatuh tapi karena berpegangan pada tiang yang ada di dekatnya Leathina bisa menjaga keseimbangannya dan segera berdiri dengan tegak kembali.
“Kau tidak apa-apa Demina!” Tanya ayah dan ibu Demina hampir bersamaan.
“Aku tidak apa-apa ayah, ibu.” Ucap Demina kemudian kembali berdiri.
“Maafkan kecerobohan saya kakak Lea.” Ucapnya sopan meminta maaf pada Leathina.
Leathina merasakan sesuatu yang aneh, kedua alisnya semakin berkerut dan mengeluarkan ekspresi tidak suka terhadap Demina.
“Ada apa Nona Lea?” Tanya Demian yang melihat tatapan tidak suka Leathina pada adiknya Demina.
“Berikan!!” Bentak Leathina pada Demina dan tidak mempedulikan pertanyaan Demian.
“A-a-apa yang kakak Lea maksud?” Tanya Demina dengan terbata-bata.
“Berikan padaku barang yang barusan kamu curi!” Ucap Leathina tegas tanpa merasa kasihan pada Demina matanya tajam melihat ke arah Demina sementara orang yang melihat mereka berdua hanya kebingungan karena tidak paham dengan maksud ucapan Leathina.
Demina masih tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah matanya malah menatap Leathina kembali seakan-akan menantangnya mana yang akan kalah dan menyerah di antara mereka berdua.
“Anak ini?!” Sekilas Leathina kembali melihat senyuman di sudut bibirnya Demina kemudian kembali memelas dan berpura-pura menjadi anak polos kembali.
“Srek.”
Leathina semakin geram dan menarik pedangnya yang selalu ia bawa kemana-mana, ia tidak boleh membiarkan pengawasannya menurun hanya karena akan tinggal bersama mereka semalam dan karena itu Leathina selalu membawa pedangnya kemanapun ia pergi di sarang penjahat tersebut.
Pedangnya ia ayunkan dan berhenti tepat saat akan menyentuh kulit leher Demina hingga kerah bajunya terpotong karena pedang Leathina.
“Tak! Teriinnnggg.” Karena kaget tidak menyangkan Leathina berani dengan terang-terangan mengayunkan pedangnya pada dirinya padahal berada di wilayah kekuasaan para bandit membuat Demina gemetar ketakutan dan menjatuhkan sebuah cincin kemudian cincin yang ia jatuhkan menggelinding dan sampai di dekat kaki ayahnya.
“Demina?” Ucap ayahnya sambil menunduk mengambil cincin yang dijatuhkan anaknya. “Ayah tidak habis pikir kau akan mempermalukan ayah di depan tamu yang ayah dan kakak-kakakmu hormati.” Sambungnya lagi setelah mengambil cincin dan mengamati cincin milik Leathina yang sekarang ada di tangannya.
“Astaga!” Pekiknya setelah melihat gambar yang ada di cincin milik Leathina.
“Ada apa ayah?” Tanya Denis penasaran karena melihat ayahnya begitu terkejut dan berjalan ke ara ayahnya ingin melihat cincin dan diikuti oleh Demian dan yang lainnya.
Dilihatnya cincin tersebut memiliki ukiran dua pedang bersilang di depan sebuah perisai simbol kebesaran salah satu keluarga bangsawan tinggi di kerajaan yakni dari kediaman duke dengan nama keluarga Yarnell.
Mereka semua kemudian melihat ke arah Leathina dan kembali mengingat rumor yang beredar bahwa anak pertama keluarga Yarnell adalah seorang perempuan, berambut merah dan ahli dalam menggunakan pedang dan semua ciri-ciri itu sekarang mereka lihat di depannya secara langsung.
“Ada apa ayah?” Tanya Demina kebingungan melihat ekspresi semua orang menjadi ketakutan.
“MAAFKAN PENGHINAAN YANG KAMI LAKUKAN PADA ANDA NONA LEATHINA!” Ucap mereka semua hampir bersamaan kemudian berlutut di depan Leathina. Mereka menyadari bahwa orang yang sedang berdiri di depannya itu bukan orang sembarangan sekali perintah penangkapan yang keluar dari mulutnya maka akan membabat habis seluruh keluarga mereka.
“Maafkan kebodohan putriku ini Nona.” Ucap Ibu Denis sambil terbirit-birit ke arah anak perempuannya dan memaksanya berlutut pada Leathina.
“Ibu ada apa?” Tanya Demina pada ibunya yang terlihat sangat ketakutan.
“Bodoh kenapa kau selalu saja membuat masalah Demina.” Bisik ibunya pada Demina.
“Memangnya siapa perempuan ini?” Tanya Demina lagi pada ibunya karena masih tidak paham.
“Dia adalah nona Leathina, berasal dari salah satu keluarga bangsawan besar di kerajaan. Dia dari keluarga Yarnell salah satu keluarga yang ayah larang untuk berurusan dengan mereka.” Bisik ibunya memberitahukan pada Demina.
“Oh, Astaga.” Pekik Demina yang akhirnya paham dengan situasinya.
“Ma-maafkan saya Nona Le-leathina.” Ucap Denisa dengan terbata-bata meminta maaf pada Leathina
“Hah!” Leathina menghembuskan nafasnya kasar karena masih merasa jengkel dengan kejadian barusan yang ia alami tapi perlahan-lahan tenang kembali berhubung perutnya merasa lapar.
“Baiklah tidak masalah buatku. Aku tidak ingin memperpanjang masalah ini tapi ini merupakan peringatan terakhir bagi kalian agar tidak membuat masalah lagi kedepannya.” Ucap Leathina kemudian berjalan mengambil cincinnya yang tergeletak begitu saja di lantai setelah tadi dilihat oleh semua orang kemudian memasukkannya kembali ke kantongnya dan tatapannya beralih ke arah Demina yang masih berlutut.
Demina cepat-cepat menundukkan pandangannya tidak berani melihat ke arah Leathina karena ketakutan.
“Kalian tidak akan berdiri?” tanya Leathina ketika melihat semu aorang masih berlutut.
“Heh hanya begini dan tidak ada hukuman?” Celetuk orang yang dikatakan Demian adalah pamannya yang tadi pingsan tapi sekarang sudah pulih kembali.
“Kalian ingin hukuman?” Tanya Leathina jahil saat mendengar nya mencari lubang kematiannya sendiri dengan meminta hukuman.
“Eh tidak, tidak, nona.” Ucap ayah Denis panik dan segera berdiri kemudian menarik yang lainnya juga agar cepat berdiri.
“Hanya saja para bangsawan yang berurusan dengan orang seperti kami biasanya akan memberi hukuman. Tahun lalu salah satu saudara kami tidak sengaja berurusan dengan salah satu bangsawan dan berakhir mati di penggal.”
“Jadi?” tanya Leathina lagi dan berhasil membuat mereka semua ketakutan.
“Maafkan kami nona Leathina.” Seru mereka hampir bersamaan.
“Kalian beruntung aku bukan lagi Leathina yang dulu.” Gumam Leathina dan mengambil tempat duduk di kursi makan.
“Ka-kami mana mungkin berani kurang ajar dengan duduk semeja dengan Nona.” Ucap Demian memberitahu Leathina karena para bangsawan biasanya tidak akan sudi duduk bersama orang-orang yang tidak sederajat dengan mereka.
“Tidak apa-apa duduklah, kalian bisa berpura-pura tidak mengetahui identitasku kan?” Tanya Leathina dengan tatapan memaksa bahwa mereka harus melupakan identitas Leathina dan tidak akan memberitahukan sipapun tentang dirinya.
“Ba-baiklah, ayo duduklah kalian semua. Nona Lethi.. maksudku Nona Lea telah menunggu kita untuk makan bersama.” Ayah Denis dan yang lainnya duduk dengan takut-takut dan makan bersama dengan tenang.
Leathina melihat Demina tapi saat ia melihat ke arah Demina ia langsung menunduk atau memalingkan wajahnya ke arah lain tidak berani melihat ke arah Leathina karena kesalahan yang tadi ia lakukan.
Setelah menyelesaikan makanannya Leathina langsung kembali ke kamar untuk beristirahat di antar oleh Demian.
“Jadi begitu ya.” Gumam Leathina setelah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mengingat penjelasan Demian yang menyusulnya dan menjelaskan mengenai adiknya saat mengantarnya ke kamar tempatnya beristirahat.
Demina adalah anak yang cerdas, walau usianya masih sepuluh tahun tindakan dan pikirannya tidak sesuai dengan usianya dan terkadang Demina lah yang menyusunkan strategi pada mereka saat akan merampok. Demina juga telah terbiasa mencuri di pasar-pasar dan ikut dengan ayah dan kakak-kakaknya merampok orang yang melintas.
Karena kelelahan Leathina akhirnya berusaha menutup matanya dan tertidur agar tidak merasa kelelahan lagi saat akan melanjutkan perjalanannya kembali di hari esok.
“Trak” suara deritan pintu kamar Leathina berderit saat dibuka oleh seseorang.
Leathina mendengarnya dan masih menutup kedua matanya berpura-pura untuk tertidur dengan pulas.
Leathina merasarakan tangan seseorang melintas di depan wajahnya dan dengan gesit menangkap tangan itu dan memelintirnya.
“Aww, Aww! No-nona ini aku Demina.” Pekiknya saat merasakan sakit pada tangannya yang di pelintir ke belakang oleh Leathina.
“Demina, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Leathina dan melepaskan cengkraman tangannya yang masih memengang tangan Denisa dengan kuat.
“Aku ingin mengambil selimutku, rencananya tadi saat mendengar ada tamu wanita yang akan datang saya berencana tidur dengan anda tapi setelah mengetahui siapa Nona sebenarnya saya tidak mungkin tidur bersama anda.” Jelas Demina memberitahu yang sebenarnya pada Leathina.
“Maksudmu kau ingin tidur bersama karena ingin mengambil diam-diam semua barang-barangku saat aku tertidur.” Ucap Leathina kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap Demina yang masih berdiri di depannya.
“Itu, itu, sebenarnya yang dikatakan Nona Lea benar.” Ucap Demina pasrah karena Leathina mengetahui tujuanya yang sebenarnya.
“Tapi kali ini aku benar-benar hanya ingin mengambil selimutku yang aku simpan di sana.” Ucap Demina sambil menunjuk ke arah selimut yang di letakkan di atas kasur.
“Ambillah.” Leathina membiarkan Demina mengambil selimut yang ia maksud.
"Terimakasih Nona.” Ucapnya sambil membungkuk sopan dan kemudian segera keluar dari kamar Leathina dengan membawa selimutnya.
“Waktu istirahatku hanya tersisa lima jam saja.” Gumam Leathina sambil mengembuskan nafas panjang.
Setelah Demina keluar Leathina segera mengunci pintu ruangannya dari dalam dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
...
..
.
“Tak”
“Tak”
“Srek”
“Tak”
“Brak!”
“Oh, astaga apa itu?!” Leatina terbangun karena mendengar suara ribut dari luar dan langsung terduduk dan waspada dengan keadaan sekitarnya karena mendengar suara orang yang sedang bertarung.
“Denis dan Demian?” Gumam Leathina saat mengintip di cela-cela dinding kayu dan melihat dua bersaudar itu sedang latihan tanding dan diawasi langsung oleh ayahnya.
“Pagi-pagi sekali mereka latihan.” Gumam Leathina lagi saat menyadari bahwa matahari belum benar-benar keluar.
Leathina mengambil jubah dan tasnya kemudian segera mengenakannya dan berjalan keluar hendak memulai kembali perjalanannya untuk kembali ke kerajaan.
“Nona anda sudah ingin pergi?” Tanya ibu Denis tiba-tiba saat melihat Leathina keluar dengan membawa semua barang-barangnya.
“Iya benar madam, saya harus segera kembali ke kerajaan. Terimaksih terlah melayani saya dengan baik.” Ucap Leathina sambil menyerahkan beberapa keping uang emas sebagai biya penginapannya.
“Apa ini Nona Lea? Anda seharusnya tidak perlu membayar kami. Kami bahkan tidak menyediakan sesuatu yang istimewa untuk Nona.” Ucapnya sambil menolak uang peberian Leathina.
“Benar kata ibu saya, Nona tidak perlu memberikan sesuatu seperti ini pada kami, justru kamilah yang berterimakasih pada Nona.” Ucap Demian yang tiba-tiba telah berada di dekatnya bersama kakak dan ayahnya.
“Aku memintamu untuk mencari sebuah penginapan untukku dan kau melakukannya dengan baik. karena aku mengatakan penginapan berarti aku harus membayar biaya sewanya bukan, makanya aku membayar.” Ucap Leathina dan memberikan uang sewa kamar miliknya secara paksa dan dengan sopan pamit pergi untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
“Nona sebenarnya ada yang ingin saya katakan.” Ucap sang ayah tiba-tiba dengan wajah serius.
“Ada apa Tuan? Katakanlah.” Jawab Leathina.
“Nona aku tahu bahwa permintaanku ini sungguh sangat tidak masuk akal tapi jika di perbolehkan Nona tolong bawalah salah satu putraku bersamamu.” Ucapnya sambil berlutut karena permintaannya yang menurutnya terlalu berlebihan.
“Apa maksudmu tua?” Tanya Leathina lagi.
“Bawalah salah satu putraku mereka mahir dalam menggunakan pedang dan bela diri. Nona mungkin bisa menjadikannya pelindung atau penjaga di kediaman Nona atau bahkan Nona bisa membawa putriku untuk dijadikan pelayan, sejujurnya aku sudah lama berniat berhenti dari pekerjaan ini tapi karena semua orang telah mengetahui bahwak kami berasal dari keluaraga dengan leluhur perampok maka tidak ada satu orangpun yang bersedia menerima kami sebagai pekerja mereka.”
“Kau sungguh-sungguh akan memberikan anakmu padaku?” tanya Leathina untuk memastikan.
“Aku bersungguh-sungguh Nona.” Jawabnya yakin.
“Walaupun kau memberikan anak-anakmu untuk bekerja padaku tapi belum tentu anak-anak mu mau ikut denganku.”
“Kami bersedia Nona Lea!” Ucap Denis, Demian dan Demina hampir bersamaan.
“Kau pasti mendengar rumor tentangku buka, tidak mudah bekerja untukku walaupun kalian mendapat pekerjaan orang-orang masih tetap akan merendahkan kalian kau tahu aku berdarah campuran bukan bangsawan murni ibuku orang biasa dan para bangsawan tidak menyukai hal-hal yang tidak murni sepertiku." Leathina berusaha menggoyahkan tekad mereka agar tidak ingin ikut lagi bersama Leathina.
“Itu tidak masalah bagi kami, kami mohon bawalah kami atau salah satu dari kami.”
“Astaga anak-anak ini sungguh keras kepala. Jika. aku membawanya aku tidak yakin mereka akan mampu beradaptasi.
“Baiklah jika kalian memaksa, aku akan memberikan pekerjaan pada kalian bertiga dan jika kalian tidak dapat menyelesaikannya sebelum waktu yang aku tentukan maka tidak akan ada dari kalian yang aku pekerjakan tapi jika kalian berhasil maka kalian semua bisa ikut denganku.”
“Baiklah Nona, kami paham.” Ucap mereka bertiga hampir bersamaan.
Setelah Leathina menjelaskan pada mereka pekerjaan seperti apa yang harus mereka lakukan dan kapan jangka waktu tugas mereka berakhir Leathina segera pergi dan kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke kerajaan sebelum pesta dimulai.
...***...