
Raja Daylen mengangkat tangannya memberi isyarat membuat seluruh orang yang hadir terdiam seketika dan ruangan menjadi tenang kembali.
“Aku tidak tahu kalian semua terutama Tuan Alger sangat memperhatikan keluarga Duke Loenard Yarnell, tapi bukankah kalian terdengar sangat mengurusi urusan keluarga orang lain itu tidak terdengar pantas bagi serang bangsawan seperti kalian.”
Mendengar kalimat yang diucapkan Raja Daylend membuat suasana menjadi benar-benar hening, terlihat beberapa wajah termaksud Tuan Alger memerah. Perkataan Raja Daylen adalah sebuah peringatan bagi mereka.
“Maafkan kami yang mulia Raja Daylen, kami tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan keluarga orang lain.”
“Ah, aku yakin kalian semua sudah tahu peraturan dasar ini tapi sepertinya beberapa kalian ada yang lupa bahwa perekrutan pengguna sihir bukanlah kewajiban yang setiap siapapun yang bisa menggunakan sihir wajib bekerja untuk kerajaan dan semua penyihir yang bekerja di kerajaan baik itu sihir penyembuh atau yang lainnya adalah mereka yang datang dengan suka rela, tentu saja karena bayaran mereka juga baik makanya mereka datang dengan senang hati walaupun ada beberapa penyihir genius yang diminta secara khusus untuk bekerja di kerajaan namun mereka juga dapat menolak atau pensiun tapi tentu saja dengan sebuah kesepakatan. Bukan begitu Tuan Zeyden?” dengan sengaja Raja Daylen menjelaskan untuk mengingatkan kembali orang-orang yang menuduh Duke Leonard sengaja menyembunyikan kemampuan putrinya.
“Iya benar yang mulia, kalau boleh bisakah saya sedikit menambahkan?” terlihat jelas bahwa Zeyden pasti akan menyinggung Tuan Alger, namun agar melindungi dirinya sendiri untuk tidak diserang kembali Zeyden dengan sengaja mengambil kesempatan saat Raja Daylen menyebut namanya.
“Silahkan.” Ucap Raja Daylen mempersilahkan.
“Saya berfikir bahwa Tuan Duke Leonard bukannya menyembunyikan kemampuan yang dimiliki putrinya untuk disimpan sendiri melainkan melindungi putrinya dari keinginan orang-orang serakah yang tidak tau diri ini.” Ucap Zeyden dengan sengaja menekan intonasinya di kalimat terakhir. “Ah, maafkan saya yang mulia saya mengucapkan kata-kata tidak pantas di hadapan anda.” Dengan cepat Zeyden bersikap bahwa ia tidak sengaja mengatakan kalimat terakhirnya.
“Tidak masalah, lanjutkan.” Raja Daylen kembali mempersilahkan.
Raja Daylen bukannya tidak tahu dengan maksud dari perkataan Zeyden yang ingin menyinggung para petinggi bangsawan namun ia dengan sengaja memintanya untuk melanjutkan kalimatnya berpura-pura tidak tahu tujuan Zeyden yang sebenarnya.
“Baik yang mulia, menurut saya juga tidak pantas bagi bangsawan seperti putri seorang Duke untuk mendaftarkan diri bekerja di kerajaan sebagai penyihir, Karena para penyihir yang mendaftar bekerja untuk kerajaan adalah mereka yang menginginkan gaji yang bagus dan juga ingin menaikkan status jadi jika Nona Leathina bekerja di kerajaan sebagai penyihir itu berarti akan menjatuhkan derajatnya sebagai bangsawan terlebih Nona Leathina adalah lulusan kesatria dari akademi kerajaan dan telah mendapatkan gelar Dame setelah menyelamatkan kerajaan dan orang-orang kehormatan seperti ini tentu tidak sebanding dengan bekerja di bawah kekuasaan menara sihir, kecuali jika Nona Leathina menginginkan posisi penyihir agung tapi tentu saja itu tidak mungkin karena saya masih menjabat.” Ucap Zeyden panjang lebar namun diakhir kalimat ia malah dengan sengaja menyombongkan dirinya sendiri.
“Saya rasa itu masuk akal tuan Zayden.” Ucap Raja Daylen setelah Zeyden menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi yang mulia, tetap saha kemampuan hebat seperti itu harus mengabdi untuk kerajaan demi keuntungan bersama.” Tuan Alger tetap bersikukuh.
“Keuntungan?” Ulang raja Dayeln dingin, intonasi suaranya juga berubah menjadi sarkas dan tatapannya tajam melihat kearah Tuan Alger.
“Apa maksudmu aku sebagai raja yang memimpin sekarang adalah raja yang tidak berguna dan tidak membawa keuntungan bagi kerajaan? bagaimana bisa hanya seorang gadis yang bisa membawa keuntungan untuk kerajaan yang besar ini. Apakah kau tidak tahu bahwa pengguna sihir penyembuh di kerajaan bukan hanya putri duke, walaupun pengguna sihir penyembuh tergolong langkah bukan berarti tidak ada yang hebat. Berguna bagi kerajaan hah?” Raja Daylen kembali menatap para petinggi bangsawan.
“Kalian pikir aku tidak tahu bahwa kalian memonopoli apapun yang dapat menjadi keuntungan bagi kerajaan, bahkan pengguna sihir penyembuh ini hanya dapat diakses oleh bangsawan seperti kalian itu berarti kemampuan putri Duke ini bernilai karena akan menguntungkan kalian bukan? kembali muda dan berumur panjang? Omong kosong macam apa itu, tua dan kematian adalah takdir yang tidak bisa kalian ubah kecuali kalian adalah dewa!”
Tuan Alger tertegun melihat raut wajah Raja Daylen yang berubah, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Ia tau dengan jelas bahwa dirinya sekarang berada dalam masalah karena telah menyinggung Raja dari kerajaan mereka.
“Pertemuan kali ini cukup sampai disini! aku harap kalian merenungkan keributan yang kalian buat hari ini terutama anda Tuan Alger.” Raja Daylen mengakhiri pertemuan dan segera keluar diikuti beberapa ajudannya.
Semua orang serentak berdiri dan membungkuk sampai raja Daylen keluar dari ruangan pertemuan.
“Huh! Sungguh tidak tahu diri.” Ucap Zeyden dengan suara yang tidak dikecilkan seolah-olah sedang bergumam namun sebenarnya sedang menyindir.
Beberapa bangsawan yang mendengarnya termaksud Tuan Alger menatapnya tajam namun Zeyden tidak ambil pusing ia dengan tenang segera meniggalkan ruangan pertemuan setelah setelah raja Daylen keluar begitu pula dengan Winter.
“Hei Winter!” Panggil Zeyden mengejar Winter yang sudah berjalan lebih dulu meniggalkan ruangan. “Sejak pulang dari perbatasan kau tetap dining, aku pikir menetap di ibukota akan melelehkan mu tapi ternyata salah.”
“Aku tidak tahu bahwa kau ternyata sangat memperhatikanku Tuan Zeyden, penyihir agung dari menara sihir.” Balas Winter kemudian bergumam dengan suara kecil. “Aku penasaran bagaimana orang seperti ini bisa jadi penyihir agung.”
“Tentu saja karena aku jenius hhh.” Zeyden dengan senang hati membanggakan dirinya walaupun sebenarnya ia tahu bahwa perkataan Winter barusan adalah untuk mengejeknya. “Oh! Aku tentu saja memperhatikan kawan lamaku.” Sambungnya sambil merangkul Winter.
Winter mendengus kesal dengan cepat menepis tangan Winter yang merangkul pundaknya. “Sejak kapan aku menjadi temanmu? singkirkan tanganmu dari pundakku.”
“Haiss! Kau benar-benar dingin Winter.”
Winter kembali mengabaikan Zeyden dan malah mempercepat langkahnya karena sebentar lagi ia akan sampai di gerbang luar dan ingin cepat-cepat pulang tidak ingin berlama-lama dengan Zeyden.
“Padahal aku hanya ingin mengobrol saja, ah! Apa kau tahu ada rumor bahwa ada seseorang yang pernah melihat Leathina.” Ucap Zeyden dengan gaya bicaranya yang santai lain halnya dengan Winter.
Mendengar perkataan Zeyden membuat Winter yang tadi terburu-buru langsung berhenti dan mematung beberapa saat , walaupun Zeyden cerewet dan menjengkelkan ia tetaplah penyihir agung dan ada alasan kenapa ia mampu membanggakan dirinya Zeyden juga bukan tipe orang yang mempercayai rumor dengan mudah.
‘Jika Zeyden mengungkitnya itu berarti dia telah memeriksa rumor itu, mendengarnya mengungkitnya ada kemungkinan bahwa rumor yang dikatakannya memiliki sedikit harapan bahwa yang orang itu lihat adalah benar Leathina.’
Winter berhenti berjalan kemudian berbalik namun saat berbalik Zeyden telah menjentikkan jarinya untuk menggunakan sihir teleportasi, dan perlahan-laham mulai menghilang.
“Ah! Aku rasa kau tidak akan tertarik jadi aku pergi saja, sampai nanti Winter.” Ucap Zeyden sebelum benar-benar menghilang dengan senyum mengejeknya membuat Winter berlari mengejarnya namun sayangnya yang ia dapat hanyalah udara kosong.
“Dasar penyihir gila!” Umpat Winter.
“Ah! Aku benar-benar sial hari ini.”
Winter melihat beberapa petinggi bangsawan kerajaan termaksud Tuan Alger baru keluar dari ruang pertemuan dan mata mereka tidak sengaja bersitatap, tampak bahwa Tuan Alger mempercepat langkahnya dan hendak menghampiri Winter, Winter merasa tidak nyaman dan tidak menyukai berbicara dengan mereka senatural mungkin Winter tersenyum sopan kemudian membungkuk memberi hormat setelah itu dengan terburu-buru Winter berbalik dan berjalan menuju gerbang utama dan langsung menaiki kereta kudanya yang sudah tersedia di depan gerbang, tidak ia hiraukan beberapa suara yang hendak menahannya.
“Maaf Tuan, ada beberapa orang yang sepertinya ingin berbicara dengan anda.” Ucap sang kusir saat melihat beberapa orang tengah terburu-buru dan sepertinya mengejar Winter.
“Jangan pedulikan, jalan!” Ucap Winter memberi perintah, mau tidak mau si kusir harus patuh dan mengabaikan orang-orang yang memberikan isyarat padanya untuk tidak memecut kudanya dan merekapun akhirnya menyerah saat kereta yang digunakan Winter benar-benar telah pergi keluar dari istana menuju jalan utama.
“Hah! Kumpulan orang-orang brengsek itu!” Gumam Winter kesal sambil melihat keluar jendela.
“Apa Penyihir gila itu benar-benar merasakan keberadaan Leathina?”
Setelah Leathina menghilang Winter punya kebiasaan melihat ke jalan-jalan dan memperhatikan orang-orang berharap ia tidak sengaja berpapasan dengan Leathina atau mendapat petunjuk yang menunjukkan keberadaan Leathina sekarang.
“Huh! Orang itu!”
Winter tidak sengaja melihat seorang wanita dengan jubah berjalan di pinggir jalan utama, bentuk dan tingginya sama persisi dengan Leathina secepat mungkin Winter memperjelas pengelihatannya seiring kereta yang berjalan membuat pandangannya semakin menjauh dan perempuan yang dilihatnya tadi ternyata berjalan dengan seorang pria yang perawakannya tidak mungkin berhubungan baik dengan Leathina, Winter menghela nafas menutup gorden jendela dan kemudian duduk kembali dengan tenang di dalam kereta.
“Sepertinya aku sangat terobsesi untuk menemukan Leathina secepat yang bisa, hingga semua orang yang kutemui dengan jubah aku pasti akan teringat Leathina karena dulu saat menghilang dia juga berkeliaran dengan jubah di jalan.”
Winter lagi-lagi menghela nafas berat kemudian mengusap kasar wajahnya dan bersandar.
“Leathina, sebenarnya dimana kamu sekarang.” Gumamnya pasrah dan memilih untuk menutup matanya menuggu sampai ke tujuannya.
“Tuan, Sudah sampai!” Ucap sang kusir memberitahu Winter karena sudah lewat dari beberapa menit sejak sampai Winter belum juga turun.
Lagi-lagi Winter menghela nafa berat kemudian barulah iya turun dari kereta dan memasuki kediaman Duke Leonard Yarnell, dengan langkah panjang ia menuju ruangan kerja Duke Leonard untuk melaporkan hasil pertemuan hari ini dan beberapa insiden yang menyangkut tentang Leathina saat dipertemuan tadi.
“Jadi seperti itu ya?” Gumam Duke Leonard setelah mendengar laporan dari Winter.
“Aku tidak kaget lagi jika banyak orang yang menaruh perhatian pada putriku, tapi aku baru dengar ada peraturan seperti itu di kerajaan tentang perekrutan penyihir, walaupun tidak ada hukum tertulis bahwa pengguna sihir penyembuh harus bekerja untuk kerajaan tapi sudah menjadi kewajiban bahwa pengguna sihir penyembuh ini pasti akan diminta untuk bekerja di kerajaan karena yang bisa menggunakannya sangat jarang.”
“Sepertinya Raja sedang melindungi Nona Leathina, paman.”
“Ah! Kalau itu aku tahu, orang itu pasti akan melindungi Leathina semampunya dia bahkan meminta Leathina untuk dijadikan putri angkatnya, dari dulu dia menyukai putriku, jika Lea kembali aku akan memintanya untuk menjaga jarak dengan anakku.”
Mendengar gumaman Duke Leonard mata Winter membulat berharap bahwa sekarang Duke menemukan petunjuk tentang keberadaan Leathina. “Apa Paman sudah menemukan petunjuk dimana keberadaan Leathina sekarang?” Tanya Winter dengan penuh harap.
Duke tertegun mendengar pertanyaan Winter yang tiba-tiba, Duke Leonard juga tidak menyangka bahwa kalimat terakhirnya di dengan oleh Winter.
“Ah! Itu,” Duke kembali terdiam kemudian melamun.”
“Paman, ada apa?” Tanya Winter dengan hati-hati.
“Aku juga berharap menemukan Leathina secepat mungkin.” Gumam Duke leonard dengan sedih.
Melihat ekspresi Duke Leonard yang tidak begitu baik membuat Winter merasa bersalah karena mengungkit tentang Leathina yang sudah hampir tiga tahun menghilang.
“Maafkan aku paman.” Ucapan Winter.
“Tidak apa-apa, tapi bukankah hari ini kamu punya jadwal mengajari Nora menggunakan pedang.”
“Ah! Iya aku hampir melewatkannya, kalau begitu aku pamit paman dan setelahnya mungkin aku akan langsung pulang.” Ucap Winter sopan setelah Duke mengangguk mempersilahkan barulah Winter keluar dengan langkah panjang menuju lapangan pelatihan dilihatnya Nora dari kejauhan sedang berlatih sendiri sambil menuggu kedatangan Winter.
Dua tahun terakhir Nora telah bekerja keras mempelajari semua pelajaran dan berpedang, membuat tubuhnya menjadi berisi dan tinggi badannya bertambah dengan cepat.
“Kau berlatih dengan sangat baik Nora.”
Nora yang terlalu fokus melakukan latihan mandiri kaget saat tiba-tiba seseorang berada di sampingnya dan langsung menyerangnya, Winter segera melompat mundur untuk menghindari serangan dadakan dari Nora.
“Ah! Kakak Winter! Seru Nora terkejut dan langsung menghentikan serangannya.
“Jangan panggil aku seperti itu ketika kita berada di sesi latihan.” Ucap Winter datar.
“Maafkan saya.” Jawab Nora sesegera mungkin.
“Ayunkan kembali pedangmu, lakukan dengan benar. Perbaiki posisi kuda-kudamu.”
“Baik.”
Nora dengan patuh mengikuti semua perkataan Winter.
‘Diluar lapangan dia ramah tapi kalau sudah masuk sesi latihan dan memegang pedang dia berubah jadi sangat kejam, kalau saja dia tidak hebat sudah pasti aku akan mem...’
“Fokus! Jangan memikirkan hal-hal yang tidak berguna!” Ucap Winter kembali mengagetkan Nora.
“Akh! Baik!”
‘Apa dia dukun! kenapa bisa tau aku memikirkan hal lain.' batin Nora, kemudian kembali fokus mengayunkan pedangnya.
“Kamu mengikuti latihan dengan baik, kemampuanmu juga meningkat dengan cepat.” Puji Winter pada Nora setelah selesai Latihan, keduanya kini duduk di pinggir lapangan untuk beristirahat.
“Terimakasih.” Jawab Nora sopan.
“Apa belum ada kabar tentang keberadaan kakakku?” Tanya Nora.
Winter tidak langsung menjawab tapi berdiri beranjak untuk pergi.
“Aku juga berharap untuk mendapat kabar tentang keberadaanya.” Ucap Winter kemudian meniggalkan lapangan meninggalkan Nora sendiri.
“Ada apa dengannya? Apa suasana hatinya sedang buruk, biasanya ia tidak sedingin ini.”
“Aku sebaiknya rajin berlatih, semoga saja kakak Leathina cepat pulang dan terkesan dengan kemampuan berpedangku.”
“Tuan Muda, setelah latihan anda sebaiknya segera membersihkan diri.” Seorang pelayan mengingatkan Nora yang telah terlalu lama duduk sendiri di tepi lapangan pelatihan.
Nora diam saja tidak menjawab dan hanya beranjak dari tempatnya tanpa suara berjalan kembali ke ruangannya.
…
“Ada apa?” Tanya Troy saat Leathina tiba-tiba mematung.
Leathina tidak menjawab ia dan menoleh ke belakang merasa melihat seseorang yang dikenalnya, tapi sebelum ia menemukan orang yang dicari Troy sudah terlanjur menariknya dan kembali berjalan.
“Ada apa, apa ada masalah? Apa ada yang ingin Nona makan? Atau ada bahan yang kurang” Tanya Troy kembali.
Leathina menggeleng cepat, “Tidak semuanya sudah terbeli dan tidak ada yang kurang, hanya saja bukannya kereta yang barusan melewati kita adalah kereta yang sering digunakan utusan dari keluargaku?” Tanya Leathina mengingat-ingat kembali simbol-simbol yang pernah dia lihat terukir di kereta yang digunakan keluarganya.
“Umm, mungkin seseorang yang diutus dari kediaman Yarnell, semenjak Nona Lea menghilang Duke hanya fokus melakukan pencarian dan jarang menghadiri pertemuan, Duke hanya hadir jiga benar-benar penting, selebihnya di sering mengutus orang lain mewakilinya.” Troy menjelaskannya panjang lebar.
“Matahari sudah hampir terbenam, sebaiknya kita segera kembali kalau tidak Bos Ed pasti akan khawatir dan aku bisa dihukum.” Troy memelas agar Leathina mau mengikutinya dan bisa kembali secepat mungkin sebelum Ed sendiri yang keluar menjemput mereka.
“Baiklah, ayo kita pulang! Sepertinya sudah saatnya aku kembali.” Leathina dengan patuh mengikuti Troy, mereka berdua segera pulang. Leathina sudah bisa menebak, bahwa sekarangpun Edward pasti sudah menunggunya kembali dengan cemas.
...***...