I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 126



“Bagaimana biasa, bagaimana bisa, bagaimana bisa Ini terjadi!” Yasmine meringkuk di sudut kamarnya mencubit-cubit punggung tangan kirinya hingga kini punggunggung tangannya hampir berdarah, “Apa seseorang menerorku? Yah seseorang pasti menerorku!” Yasmine akhirnya menenangkan dirinya kembali dan kembali berdiri dan duduk di sebuah kursi “Apa perempuan itu yang melakukan ini? Tapi kenapa Pangeran kedua yang mengetahui nama pembunuh yang aku sewa untuk membunuhnya, apa mereka punya hubungan spesial? Sepertinya aku harus melihat Leathina secara langsung!”


"Tapi kenapa pangeran kedua menanyakan nya padaku, apa dia tau sesuatu? Tidak walaupun dia tau sesuatu dia tidak akan memiliki bukti untuk menuduhku, Roland telah mati dan tentu saja orang yang telah mati tidak akan bisa bersaksi. aku sungguh bersyukur Roland mati sekarang."


Tok tok tok


“Permisi Nona.” Seorang pelayan dengan rambut berwarna ungu mengetuk pintu dan kemudian memasuki ke dalam ruangan Yasmine.


“Sudah aku bilang jangan ganggu aku!” teriak Yasmine geram dan melemparkan sebuah gelas ke arah pelayannya yang baru saja masuk ke ruangannya.


“Brak”


Si pelayan berhasil menghindari gelas yang Yasmine lemparkan ke arahnya tapi pecahan kaca nya yang berserakan saat mengenai dinding di sampingnya menggores sedikit wajahnya membuat goresan sepanjang 2 cm yang kini dialiri darah segar.


“Ma-maafkan aku No-nona Yasmine?” ucapnya takut-takut dan tidak berani melihat ke depan di mana Yasmine berada.


"A-Ada tamu yang datang dan ingin bertemu dengan anda Nona Yasmine."


"Siapa?"


“Di-dia adalah Tuan Grand duke Alcott, grand Duke sekarang sedang menunggu anda.”


“Alcott? Si tua bangka itu kenapa datang menemui ku lagi!” Yasmine merapikan sedikit pakaiannya yang kusut dan juga merapikan rambutnya yang agak berantakan menyisirnya dengan jari-jarinya untuk memperbaiki kembali rambutnya kemudian segera keluar dari kamarnya menemui grand duke alcott yang menunggunya di ruangan tunggu tamu.


Si pelayan menunggu Yasmine keluar terlebih dahulu kemudian setelah itu menyusulnya keluar dan menutup pintu ruangan dari luar. Ia segera berlari ke dapur mencari kotak penyimpanan herbal yang biasa di gunakan para pelayan untuk mengobati luka-luka kecil yang mereka dapat saat bekerja.


“Liza!” Teriak seorang wanita yang juga mengenakan seragam yang sama, ia melempar ke sembarang arah ember kayu yang sedang di pegangnya dan dengan terburu-buru ia menghampiri Liza karena melihat wajahnya terluka.


“E-emely.” Jawabnya sungkan karena tidak enak adiknya melihat dirinya terluka lagi untuk yang kesekian kalinya.


“Kenapa bisa terluka? Apa yang terjadi? Ini akan meninggalkan bekas luka di wajahmu, sekarang katakan apa perempuan itu yang melakukannya lagi?” Tanya Emely geram sambil terus memperhatikan luka di pipi kakaknya yang kini mulai mengering.


“A-aku terjatuh.”


“Pembohong!” Emely mengambil salep herbal kemudian menarik kakakknya keluar dan pergi ke kamar mereka.


"Luka terjatuh tidak akan seperti itu, itu luka karena benda tajam. Sekarang kau dilempari apa? vas bunga atau gas? jangan-jangan keduanya." Emely terus mengomeli kakaknya di sepanjang perjalanannya menuju kamar tidur mereka berdua.


“Aku, aku benar tidak apa-apa emely.” Ucap Liza yang dengan terpaksa mengikuti adiknya Emely.


“Brak”


“Clek”


Emeley menutup pintu kamarnya kasar segera menguncinya setelah mereka masuk dan mendudukkan kakaknya Liza di tepian tempat tidur.


“Diam!” Emely menekan bahu Liza yang hendak berdiri memintanya agar tidak banyak bergerak untuk mempermudah mengobati lukanya.


“Aku baik-baik saja Emely.” Ucap Liza lagi menenangkan adiknya saat melihat mata adiknya itu kini telah berkaca-kaca saat melihat luka yang ada di wajahnya.


“Su-sudah selesai, lukamu sudah selesai aku olesi dengan obat seperti kataku tadi luka di wajahmu itu mungkin akan meninggalkan bekas luka.” Ucap Emely kemudian dengan terburu-buru membelakangi kakaknya karena air matanya hampir terjatuh dan segera melap matanya kasar.


“Aku merasa sudah tidak apa-apa Emeley, kau tidak perlu sekhawatir itu kau kan sudah terbiasa melihat yang seperti ini.”


Terbiasa?! Terbiasa katamu?!” Emely segera berbalik karena terpukul mendengar ucapan kakaknya yang menganggap kekerasan adalah kebiasaan.


“Apa kita memang harus terus terbiasa menderita disini? Bagaimana kakak bisa tahan tinggal di rumah nereka seperti ini dengan semua penyiksaan yang kakak derita. Apa sebenarnya yang membuat kakak sangat takut untuk meninggalkan perempuan itu dan terus menempel di sisinya sementara yang dia lakukan hanya memukul dan menyiksa, aku heran kenapa semua pelayan yang ada di tempat ini masih bertahan untuk bekerja disini.”


“Emely!” bentak liza pada emely, “Jaga ucapanmu, walau bagaimanapun dia adalah mastermu kamu bekerja untuknya jadi kau harus menghormatinya.” Bentak Liza pada Emely agar adiknya itu segera menutup mulutnya Liza takut jika seseorang akan mendengar ucapan Emely dan mendapatkan hukum atas ucapannya.


“Apa harus begini caranya memperlakukan manusia! Ini! Ini! Dan ini! harus dengan siksaan yang pedih seperti ini!!!” Emely menunjuk luka yang ada di pipi kakaknya, kemudian menarik gaunnya ke atas hingga memperlihatkan kakinya dan menunjuk pada luka cambuk yang masih membekas di betisnya sendiri dan terakhir menaik gaunnya lagi naik ke atas sampai perutnya terlihat dan memperlihatkan simbol perbudakan di perutnya luka bakar dengan tanda silang yang sengaja di bentuk di setiap orang yang melayani Yasmine sebagai tanda kepemilikan.


Mulut Liza terkunci tidak membantah pendapat adiknya lagi, ia merasa sedih bukan karena luka yang ia dapatkan tapi karena melihat semua luka yang ada di tubuh adiknya.  Dari kaki sampai pinggang Emely terlihat banyak luka lebam dan goresa karena hukuman yang adiknya terima saat diam-diam keluar dari mansion dan di ketahui oleh kepala pelayan.


“Itu karena mereka mengancamku dengan dirimu jika aku berbuat sesuatu yang salah. Bukan hanya aku yang akan Nona Yasmine siksa dia bahkan bisa membunuh kita berdua kapanpun dia mau jadi aku mohon tetaplah diam dan patuhi saja perintahnya agar kita berdua bisa bertahan hidup” Ucap Liza lirih menjawab perkataan emely.


“Kakak” Panggil Emely kemudian berjongkok di depan liza yang terlihat sangat terpukul dengan kenyataan. “Kenapa kita tidak kabur saja dari sini? Tidak, ayo pergi dari sini sekarang juga.” Ucap Emely tiba-tiba dengan mata berbinar-binar mengutarakan rencananya.


“Kau gila! Kau akan lari kemana? Mereka akan langsung menemukanmu dan menghukummu dan parahnya mereka bisa membunuhmu seperti alat, bukankah sudah aku katakan dia bisa membunuh kita berdua kapan pun dia mau!” Liza tidak setuju karena rencana Emely dapat membahayakan mereka berdua.


“Aku punya tujuan, kita berdua bisa pergi kesana. Ada seseorang yang bersedia menerima ku dia mungkin bisa menerima kakak juga seseorang yang dapat disebut majikan yang layak. Dia bahkan lebih baik dari pada semua orang baik yang pernah kau temui di kehidupanmu ini.” Jawan Emely antusias memberitahukan kakakknya.


“Emely, apa jangan-jangan saat keluar dari mansion kam..” Ucap Liza terputus dan menatap adiknya dalam-dalam.


“Iya, aku melarikan diri waktu itu dan mencari sendiri master untuk aku layani. Aku sudah tidak tahan lagi hidup disini.”


“Tapi kenapa kau kembali? Seharusnya kau tidak perlu kembali jika menemukan orang baik, kenapa kau kembali!” Liza mencengkeram kedua bahu Emely tidak percaya dia kembali ke neraka setelah menemukan tempat yang aman untuk tinggal, alasannya tetap tinggal hanya karena takut adiknya akan di siksa atau dibunuh.


Mata emely terbelakak tiidak percaya bahwa kakanya berada di pihaknya, baru kali ini kakaknya memarahinya karena kembali ke kediaman Baron, biasanya Liza hanya memerintahkannya untuk terus patuh dan tidak membuat masalah tapi kali ini kakaknya mendukungya.


“I-itu, itu karenmu kakak. Aku kembali karena takut meninggalkanmu sendiri, a-ku ingin kau ikut bersamaku ke tempat yang lebih baik.”


“Seharusnya kau tidak usah kembali karena aku, aku akan selalu bahagia jika hidupmu baik-baik saja.” Gumam Liza lirih saat mendengar adiknya kembali mengalami hidup sulit hanya karena dirinya.


Tok tok tok


“Liza, apa kau ada di dalam?” teriak seorang pelayan dari luar kamar membuat Emely dan Liza sama-sama melihat ke arah pintu yang masih terkunci.


“Iya aku disini, kenapa?” Tanya Liza saat tau seorang pelayan datang untuk mencarinya.


“Kau diminta Nona Yasmine mengantarkan teh untuk tuan grand duke Alcott, mereka sekarang ada di ruangan nona Yasmine.”


“Baiklah, aku akan segera ke sana.” Jawab Liza dan segera beranjak dari tepian tempat tidur hendak keluar untuk segera mengantarkan teh ke ruangan Yasmine.


“Kakak” panggil Emely dan menarik tangan Liza.


“Ada apa?” Tanya Liza pada Emely yang memanggilnya.


“Biarka aku yang pergi.”


“Apa kau tidak dengar Nona Yasmine memintaku itu berarti hanya aku yang boleh masuk ke dalam kamarnya sekarang.”


“Tapi kau terluka, jadi biarkan aku yang menggantikanmu kali ini.”


“Nona tidak suka jika pelayan lain masuk ke dalam kamarnya jika ada tamu yang berkunjung, dia akan menghukum mu.”


“Itu tidak akan terjadi, karena aku adalah adikkmu.” Emely berusaya membujuk kakaknya.


“Baiklah, baiklah, tapi kamu harus hati-hati hanya kerjakan apa yang harusnya kamu lakukan dan jangan diam lama-lama di dalam langsung keluar jika telah selesai mengantarkan teh.” Liza memperingati adiknya sebelum pergi menggantikannya.


“Baik aku paham.”


Emely dengan semangat segera keluar dan pergi ke dapur mengambil teko berisi teh dan beberapa gelas menyusunnya di atas nampan dan dengan hati-hati mengantarkannya menuju ruangan milik Yasmine.


“Apa barangnya sudah datang?” Terdengar suara Yasmine bertanya pada grand duke Alcott.


“Barangnya sudah datang, barang kali ini cukup berharga banyak benda-benda langkah dan termaksud satu barang paling berharga di antara mereka yang berhasil di selundupkan dan masuk ke kerajaan dengan aman.”


“Kau terlihat sangat senang grand duke.”


“Tentu saja yang satu ini sangat berharga dan akan di tawar dengan harga tinggi di pelelangan, kita akan memiliki banyak keuntungan.”


“Pak” seorang pelayan tiba-tiba menepuk pelan punggung Emeley yang berdiri di depan ruangan Yasmine.


“Tehnya akan dingin jika kau hanya berdiri di depan sana, apa kau takut masuk ke dalam? kemana kakakmu?” tanyaya melihat Emely yang terlihat kebingungan.


“Ah, tidak apa-apa aku akan segera masuk.”


Tok tok tok


Emely mengetuk pintu kamar terlebih dahulu untuk memberitahukan bahwa seorang pelayan akan masuk setelah itu barulah Emely masuk dengan membawa nampan berisi teh dan gelas di tangannya.


Yasmine menatap Emely dengan tatapan tidak suka, dalam tatapannya ia seperti sedang menyelidiki Emely yang masuk ke dalam ruangannya.


“Mana Liza? Kenapa bukan dia yang membawakan teh nya padahal aku memintanya secara langsung.” Tanya Yasmine tiba-tiba merasa kesal karena pelayan tidak mematuhi perintahnya.


“I-itu, itu Liza sedang di panggil oleh madam, Nona.” Emely beralasan karena Yasmine tidak akan berani menentang jika dihadapkan oleh ibunya sendiri.


“Baiklah, kau boleh pergi sekarang.”


Emely merasa lega ketika Yasmine membiarkannya keluar dengan selamat. Ia segera membungkuk untuk memberi hormat kemudian segera keluar dan menutup pintu dari luar.


Dengan terburu-buru ia kembali ke kamarnya dan ia tidak lagi melihat kakaknya di kamar Emely kemudian segera menuliskan sebuah surat dan meminta seseorang secara diam-diam mengirimkannya pada Leathina.


Tok tok tok


“Permisi Nona.” Anne mengetuk pintu ruangan Leathina setelah itu barulah ia masuk ke dalam.


“Ada apa Anne?” Tanya Leathina yang sekarang duduk di kursi yang ada di dekat jendela dengan memegang sebuah buku di tangannya.


Anne berjalan mendekati Leathina kemudian berbisik untuk memberitahu Leathina agar tidak terdengar oleh Nicholas dan Nora yang juga sedang berada di kamar Leathina.


“Nona ada surat yang datang dari kediaman Baron.” Bisiknya sepelan mungkin sembil melirik ke arah Nicholas dan Nora yang terlihat ikut memasang telinganya lebar-lebar dari kejauhan ingin ikut mendengar apa yag Anne beritahukan pada Leathina.


“Baiklah aku mengerti.” Jawab Leathina sambil mengambil surat yang di serahkan oleh Anne dan segera memasukkanya ke dalam laci meja miliknya.


“Ada apa kakak Leathina?” Tanya Nora sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Leathina karena penasaran.


“Tidak ada apa-apa.”Jawab Leathina sambil tersenyum menanggapi rasa penasaran Nora.


“Apa seseorang mengirimkan surat dan melamarmu?” Tanya Nicholas blak-blakan tanpa memfilter kata-katanya dan membuat Leathina sedikit terkejut karena pertanyaan nya yang tiba-tiba itu.


“Iya, seseorang seperinya sangat menginginkanku saat ini.” Jawab Leathina lagi dan kali ini senyumannya lebih lebar terlintas di benaknya untuk menjahili Nicholas dan Nora.


“APA!” Teriak Nicholas dan Nora hampir bersamaan.


“Ma-maksudku dari keluarga mana dia? Apa dia lebih tampan dariku dan ayah? Kapan kau bertemu dengannya? Pokonya kau tidak bisa menikah jika aku dan ayah tidak menyukainya?” Nicholas mencoba menengkan dirinya kembali setelah terkejut mendengar Leathina tiba-tiba mengatakan ada seseorang ynag menginginkannya kemudian kembali bertanya karena penasaran sementara Nora juga mendukung Nicholas dan terus mengangguk membenarkan apapun yang keluar dari mulut Nicholas.


“Bagimana ya, tapi sepertinya yang menginginkan aku bukan hanya satu atau dua orang tapi ada banyak.” Leathina membuka laci mejanya dan dengan sengaja mengeluarkan tumpukan surat menunjukkanya kepada Nicholas dan Nora setelah itu segera memasukkan kembali surat-suratnya dan mengunci laci mejanya.


“Permisi, Mohon maaf Nona dan Tuan muda.” Seorang pelayan dengan sopan masuk ke ruanga Leathina dan membungkuk untuk memberi hormat pada Leathina, dan Nora serta Nicholas yang berdiri berdekatan.


“Ada apa?” Tanya Leathina pada si pelayan.


“Maaf Nona, Tuan Duke meminta saya untuk memberitahu anda agar segera datang ke ruangannya.”


“Baiklah, aku akan segera datang ke ruangannya.”


“Terimakasih Nona, kalau begitu saya permisi.” Si pelayan membungkuk kembali untuk memberi hormat setelah itu ia segera keluar dari ruangan Leathina.


“Nah, Tuan-tuan kau dengar sendirikan. Ayah memanggilku.”


“Untuk apa?” Tanya Nora penasaran.


Leathina tersenyum matanya terlihat merencanakan sesuatu, “Umm.. mungkin untuk menentukan siapa yang berhak memiliki aku, siapa yang tahu kan.” Leathina mengankat bahunya kemudian tersenyuam puas ketika berhasil membuat emosi Nora dan Nicholas naik turun dibuatnya.


“Tidak bisa! Kau belum boleh menikah sebelum akau menang melawanmu di pertarungan.” Nicholas meradang karena ucapan Leathina tidak terima jika Leathina akan segera keluar dari keluarga mereka setelah Leathina menikah nanti.


“Kalian tidak ingin aku menikah?” Tanya Leathia melihat ekspresi Nora dan Nicholas menjadi gelap, “Sayang sekali, aku mungkin akan membuat harem di dalam rumah tanggaku kalian tahukan aku sangat lah populer aku takut akan ada seseorang yang akan menculiku.” Sambung Leathina kemudian berjalan keluar hendak pergi ke ruangan Duke Leonard.


“Oh, sebaiknya kau juga harus segera keluar dari ruanganku.” Ucap Leathina sebelum pergi.


“Silahkan Tuan muda.” Anne dengan sopan meminta Nicholas dan Nora keluar dari ruangan Leathina kemudian menutup pintu kamar Leathina kembali setelah Nicholas dan Nora pergi.


“Astaga apa candaanku terlalu berlebihan untuk mereka berdua? Tapi aku suka melihat ekspresi mereka berdua yang terlihat sangat terkejut mengetahui aku diinginkan seseorang aku tidak bisa menahan untuk terus menjahili mereka berdua, lagi pula yang orang-orang yang aku maksud menginginkanku adalah mereka yang menginginkan kematianku. ” Batin Leathina sambil mengingat kembali ekspresi terkejut Nicholas dan Nora.


“Silahkan masuk Nona.” Seorang penjaga tiba-tiba membuyarkan lamunan Leathina yang memang sedang menunggu untuk di persilahkan masuk ke dalam ruangan Duke Leonard.


“Baiklah, terimakasih.” Ucap Leathina singkat kemudian segera makuk ke ruangan Duke Leonard dan si penjaga membungkuk untuk memberi hormat saat Leathina melewatinya kemudian segera menutup pintu kembali dari luar dan kembali berjaga.


...***...