
Carolin memperkenalkan dirinya pada Leathina kemudian melanjutkan memohon ampunan untuk dirinya sendiri di hadapan Leathina agar Leathina tidak menghukumnya atau memecatnya dari pekerjaannya.
“Carolin! Kalau kamu tidak mau diam akan aku gigit telingamu sampai putus.” Leathina merasa gendang telinganya mulai terasa sakit mendengar suara perempuan yang ada di depannya itu yang masih memohon ampunan padanya sehingga terpaksa Leathina mendiamkan Carolin dengan cara mengancamnya.
“Heekmpp.” Carolin segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena takut telinganya digigit sampai putus oleh majikannya itu.
“Diam jangan ribut kalau tidak bukan hanya telingamu yang akan hilang mulutmu juga akan aku buat tidak bisa bersuara lagi, paham?” Leathina kembali memperingati Carolin yang sepertinya akan kembali berulah lagi karena akan menurunkan tangannya.
Carolin yang mendengar peringatan dari Leathina segera kembali menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil mengangguk dengan kencang.
Setelah Leathina membuat Carolin diam dan tidak bersuara lagi Leathina kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Leathina mengamati pergelangan kaki milik Carolin tapi di pergelangan kakinya tidak terlihat memar atau pembengkakan Leathina kemudian memeriksa kaki carolin yang satunya lagi dan hasilnya sama Leathina tidak menemukan memar atau pembengkakan pada pergelangan kakinya.
Aneh terus kenapa tadi gadis ini berjalan dengan pincang, apa mungkin dia memang berjalan seperti itu. Baiklah kalau begitu aku akan mencari orang lain saja nanti, aku jadi merasa tidak enak padanya karena telah mengancamnya tapi kalau aku lihat – lihat dia sedikit lucu.
“Aww.”
Carolin meringis kesakitan saat Leathina meletakkan kembali kaki Carolin yang tadi diangkatnya sedikit untuk dia periksa.
“Ada apa?”
Leathina terkejut melihat Carolin meringis kesakitan sambil memegang betisnya kemudian menanyai gadis tersebut tapi Carolin tidak menjawab pertanyaan dari Leathina dan hanya menunduk saja karena tidak berani menatap langsung mata Leathina yang kini sejajar dengan matanya.
“Hey.. hey.. untuk sekarang kamu boleh mengabaikan peraturan yang ada, kamu boleh menatap mataku dan katakan padaku bagian mana yang sakit.
Aduh aku lupa bahwa di sini menganut sistem kasta jadi seorang pelayan tidak boleh lebih tinggi dari majikannya, seorang bangsawan harus selalu lebih tinggi derajatnya dan tidak boleh sejajar dengan pelayannya. Jadi karena itu tadi dia langsung berlutut dibawahku.
Walaupun Carolin diberi izin untuk menatap Leathina dalam keadaan sejajar sepert itu Carolin tetap menundukkan pandangannya karena takut dilihat oleh pelayan yang lain dan dilaporkan pada kepala pelayan yang akan selalu siap untuk memberi hukuman.
Karena melihat Carolin yang tetap tidak mau berbicara mengenai lukanya akhirnya Leathina menarik kembali kaki Carolin dan memeriksanya. Karena tidak ada yang aneh dengan bagian pergelangan dan telapak kakinya akhirnya Leathina menyibak sedikit pakaian Carolin yang menutupi betisnya.
“Siapa yang melakukan ini padamu?”
Saat membuka sedikit gaun Carolin yang menutupi betisnya Leathina melihat banyak bekas luka bilur berwarna merah pada kedua betisnya. Betis Carolin memar dan sedikit robek bekas dipukuli rotan.
“Itu.. itu.. luka karena dihukum nona, itu sudah biasa.”
Sebenarnya kesalahan apa yang diperbuat oleh gadis ini sehingga mendapat hukuman dan luka separah ini. Baiklah kalau begitu aku juga tidak boleh terlalu mencampuri urusan orang lain dan gadis ini tampakya baik – baik saja, aku hanya perlu mengobatinya saja tanpa melibatkan diri dengan masalahnya.
Saat Carolin hendak berdiri kembali Leathina menahannya karena ingin mengobati kakinya yang sedang terluka.
Leathina membuka gaun yang menutupi kedua betis Carolin kemudian memejamkan matanya sebentar untuk memfokuskan pikirannya setelah pikirannya sudah fokus Leathina kemudian membuka kembali matanya dan meletakkan telapak tanganya di atas luka milik Carolin kemudian perlahan – lahan terlihat aura hijau menyelimuti luka yang ada di betis Carolin aura hijau yang dikeluarkan oleh Leathina kemudian perlahan – lahan menyembuhkan luka yang ada di betis Carolin, setelah Leathina berhasil menyembuhkan luka Carolin Lethina segera menurunkan kembali gaun Carolin yang tadi dia angkat.
“Bagaimana sudah tidak sakit?”
“Nona.. itu.. itu.. sih.. sihir penyembuh!”
“Nona Leathina bisa mengumppp...”
Carolin yang melihat kemampuan Leathina menjadi sangat terkejut dan hampir berteriak histeris karena mengetahui hal itu Leathina dengan cepat segera menutup mulut Carolin untuk membungkamnya.
Apa aku melakukan kesalahan karena memperlihatkan kemampuanku pada seorang pelayan. Aduh bodoh sekali aku tapi aku kasihan melihatnya masih harus bekerja dengan luka seserius itu.
“Bukannya tadi sudah aku katakan jika aku akan memotong telingamu dan membuatmu tidak bisa bicara lagi jika bersuara, aku peringatkan lagi jika kamu memberitahukan orang lain tentang kemampuanku aku akan mencungkil kedua matamu, paham?”
Carolin yang mendengar peringatan dari Leathina segera mengangguk dengan cepat sementara Leathina melihat Carolin sudah paham segera melepaskan tangannya yang tadi ia gunakan untuk membungkam mulut Carolin.
Setelah menyembuhkan luka di kaki Carolin, Leathina segera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Carolin yang masih terdiam duduk di tempatnya, Leathina pergi tanpa mempedulikan Carolin yang masih terus menatapnya.
“Wah hebat sekali, ini pertama kalinya aku melihat sihir secara langsung bahkan aku disembuhkan dengan sihir milik wanita terhormat seperti Nona Leathina. Bukankah hanya keluarga kerajaan dan orang – orang dari golongan tertentu saja yang bisa mendapatkan pengobatan dengan sihir, Ini sebuah kehormatan untukku akan aku ingat sampai aku mati.” Carolin berbicara sambil menatap dengan takjub lukanya yang telah di sembukan oleh Leathina.
“Astaga aku lupa berterimah kasih pada nona Leathina, aduh dasar Carolin.”
“TERIMAKASIH NONA! TERIMAKASIH NONA! TERIMAKASIH NONA LEATHINA!”
Saat Carolin telah melihat Leathina pergi meninggalkannya ia segera berdiri dan berterik mengucapkan terimakasi sambil membungkuk beberapa kali ke arah perginya Leathina, Leathina yang mendengar ucapan Carolin malah mempercepat langkah kakinya untuk meninggalkan gadis tersebut berusaha agar tidak menarik perhatian.
Syukurlah, aku bisa menggunakan sihir ini pada orang lain. Tapi aku tidak merasa sangat kelelahan saat menggunakannya seperti pada saat aku pertama kali mencobanya. Jadi begini rasanya menjadi ahlinya dalam suatu bidang aku dengan mudahnya dapat menguasainya. Astaga ini benar – benar hebat, Apa aku harus mencobanya lagi pada orang lain sepertinya aku mempunyai banyak tenaga sekarang.
Leathina tersenyum bangga pada dirinya sendiri karena terlah berhasil menggunakan sihir penyembuh dengan mudah. Karena merasa sudah menjadi ahlinya dalam menggunakan sihir penyembuh Leathina kembali berjalan mengelilingi mansion Duke Yarnell kembali untuk mencari orang yang terluka.
Saat menemukan orang yang terlihat sedang terluka Leathina segera mendatanginya dan menyembuhkan orang tersebut setelah berhasil Leathina sembuhkan Leathina kemudian mengancam orang – orang yang telah ia sembuhkan agar tidak memberitahukan orang lain dan memerintahkan orang tersebut untuk merahasiakan mengenai kemampuannya yang bisa menggunakan sihir penyembuh, seperti yang dia lakukan pada saat mengancam Carolin tadi saat ia menyembuhkan gadis itu.
......***......