I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 86



“Bagaimana apa kamu sudah terbiasa tinggal disini, Lea?”


“Adam! Sudah berapa kali aku memberitahumu jagan sembarangan memasuki kamar wanita.”


“Ahhaha, maafkan aku tapi pintu kamarmu tidak terkunci jadi aku pikir aku bisa masuk.”


“Mulai hari ini kamu tidak diperbolehkan masuk ke kamarku tanpa izin dariku.”


“Sayang sekali, padahal aku suka melihat wajah jelekmu saat baru bangun hahah.”


“Sialan! Takk! Keluar aku mau ganti baju.”


Leathina melempar wajah Adam dengan bantal kemudian mendorongnya keluar dari kamarnya secara paksa.


“Tunggu.. tunggu, Lea. Jangan kasar.”


“Aku bilang keluar!”


“Baiklah... baiklah. Aku akan keluar sendiri jadi jangan didorong.”


Leathina berhenti mendorong Adam dan menggiringnya menuju pintu keluar.


“Kau keterlaluan sekali Lea, mengusirku seperti ini.”


“Diam, keluar sekarang dan tunggu aku dibawah.”


“Eh, tunggu dulu.”


“Apa lagi sekarang, Adam?”


Saat Leathina akan menutup pintu kamarnya Adam segera menghalangi pintu dengan kakinya agar tidak tertutup.


“Aku bisa membantumu bukannya biasanya wanita bangsawan membutuhkan pelayan untuk berpakaian?”


“Dasar mesum!”


“Awww.”


“Braak.”


Mendengar perkataan Adam membuat Leathina sedikit jengkel walaupun dia tahu bahwa Adam hany bercanda. Ia menginjak kaki Adam yang menghalangi pintu dengan sekuat tenaga dan setelah Adam berteriak dan menarik kakinya yang kesakitan Leathina tersenyum puas karena berhasil membalas kekesalannya dan segera menutup pintu kamaranya membiarkan Adam yang masih menjerit kesakitan didepan pintu kamarnya.


“HAHAH! Ah puas sekali rasanya melihatnya menderita. Lagipula kenapa dia suka sekali menggangguku sih.” Leathina terlihat tidak menyesali perbuatanya dan malah tertawa  melihat ekspresi Adam menahan sakit saat ia menginjak kakinya.


“AKU BISA MENDENGARMU TERTAWA TAHU!”


“Upss, MAAFKAN AKU.”


Tiba–tiba terdengar suara teriakan adam dari luar kamarnya yang terdengar sangat kesal mendengar suara tawanya, cepat-cepat Leathina menutup mulutnya agar tawanya tidak terdengar lagi.


Beberapa menit kemudian Leathina telah selesai membasuh wajahnya dan berpakaian, rambut merahnya sengaja ia gulung dan tutupi dengan jubah agar tidak menarik perhatian orang-orang.


“Nah sekarang sudah selesai, walaupun sudah hampir sebulan aku berhasil lolos dari kejaran tapi kata Adam orang – orang dari kerajaan masih saja mencari ku. Kenapa mereka tidak menyerah saja sih.”


Leathina menghela nafas panjang kemudian cepat – cepat keluar dari kamarnya menuju lantai bawa seperti yang ia katakan tadi pada Adam bahwa dia akan menemuinya di sana.


“Nona Lea, selamat pagi.”


“Pagi Troy.”


“Selamat pagi Nina.”


Melihat Leathina menuruni anak tangga, orang – orang yang ada di lantai bawa segera menyapanya.


Setelah malam itu orang-orang yang ada di mansion ini menjadi baik kepadaku, aku juga bersyukur karena mereka menerimaku berada di tengah – tengah mereka karena jika mereka mau mereka pasti sudah melaporkan aku dan mendapat imbalan. Tapi tetap saja melihat wajah dan kegiatan mereka membuatku ketakutan.


Setelah menyelesaikan tugasnya para tentara bayangan kadang – kadang membawa pulang beberapa bagian tubuh dari orang yang ia bunuh seperti gigi, kuku, bola mata, lidah atau bagian yang lainnya hanya untuk dipamerkan pada para pembunuh lainnya.


Beberapa dari mereka juga memiliki kebiasaan aneh, seperti Troy orang yang menyapa Leathina tadi. Setelah ia membunuh dia akan mengambil beberapa rambut dari korbannya untuk di jadikan benang untuk menyulam saputangannya yang selalu ia bawa kemana – mana atau Nina yang setiap selesai mengerjakan tugasnya dia akan menangis sepanjang hari setelahnya kemudian keesokan harinya dia akan berubah menjadi normal kembali.


“Aku masih belum terbiasa dengan kebiasaan mereka”. Leathina bergidik ngeri mengigat kebiasaan – kebiasaan aneh para tentara bayangan.


...


Beberapa hari setelah Leathina memasuki mansion milik para tentara bayangan membuat orang – orang menjadi risih karena keberadaanya yang ambigu. Adam membiarkan Leathina tinggal di markas mereka, beberapa dari mereka berpendapat bahwa Leathina yang bukan merupakan anggota sangat berbahaya karena mengetahui letak markas mereka yang selama ini selalu disembunyikan, mereka takut bahwa Leathina akan membocorkan keberadaan mereka nantinya.


Saat itu Adam dan Leathina sedang sarapan bersama di lantai bawah yang dijadikan sebagai bar sekaligus tempat berkumpul para tentara bayangan kemudian beberapa orang yang tidak menyukai keberadaan Leathina datang untuk mengusir Leathina.


“Hei! Nona, mau sampai kapan kamu menjadi pengganggu disini?”


“Hey! Jaga ucpanmu!” Adam yang mendengar ucapan rekannya menjadi sedikit emosi karena perkataanya yang kasar terhadap Leathina.


“Adam, benar kataya perempuan itu mengganggu disini. Bukan tidak mungkinkan jika suatu saat jika dia akan melaporkan kita apalagi dia sudah melihat wajah kita dia harus segera disingkirkan.”


“Brak! Sudah berapa kali aku katakan pada kalian bahwa dia ini...”


Oh, tidak bisa bahaya jika terjadi perkelahian antara mereka karena aku. Terlebih lagi mereka bukan orang biasa tapi pembunuh, aku harus menghentikannya sebelum menjadi semakin parah.


“Huss, Adam. Biarkan saja mereka lagipula ucapan mereka tidak salah aku bukan bagian dari kalian dan malah tinggal ditempat kalian.”


Adam menjadi sangat marah dan memukul meja yang ada dihadapannya kemudian berdiri hendak menghampiri orang yang barusan bicara tapi Leathina segera menghalanginya dan menenangkannya karena takut akan ada perseteruan yang terjadi.


“Tapi, Lea. Mereka sudah keterlaluan.”


“Tidak apa – apa, Adam.”


“Maafkan aku tuan – tuan, aku sangat minta maaf. Aku janji aku tidak akan menyebarkan informasi tentang kalian ataupun keberadaan markas ini dan tenang saja sebentar lagi aku pasti akan langsung pergi dari sini setelah menemukan tempat yang baru.” Leathina berusaha menjelaskan dan menenangkan mereka agar tidak terjadi perkelahian.


“Kamu bisa saja berkhianat bukan? Terlebih perkataan wanita tidak bisa dipercaya apalagi dengan wanita sepertimu yang biasanya terlihat polos diluar tapi di dalamnya berbisa seperti ular, yah kalian tahukan apa maksudku.”


 “Itu tidak akan terjadi tuan jadi silahkan kembali ke meja kalian.” Leathina dengan terpaksa memasang wajah tersenyum agar mereka semua bisa kembali ketempat nya dan tidak mengganggunya lagi.


“Siapa yang tau kan, apa yang akan kamu lakukan setelah pergi dari sini.”


Ada apasih dengan orang ini? Mulutnya kasar sekali. Leathina menjadi ikut kesal setelah mendengar ucapannya tadi.


“Brakk! sudah ***...”


“CUKUP! Aku muak dengan kalian!”


Adam memukul meja dengan cukup keras sampai membuat orang – orang yang ada di ruangan itu terdiam saat Adam mencoba menghentikan mereka tiba – tiba Leathina sudah berteriak  lebih dulu memotong ucapan Adam.


“Kalian pikir aku aku ingin tinggal di tempat seperti ini, asal kalian tahu ya dari awal aku tidak ingin berada disini tapi  si Adam sialan ini yang memaksaku masuk ketempat ini!”


“Le.. Lea?” mendengar Leathina yang tiba – tiba saja mengumpat terlebih lagi menyebutnya sialan memuat Adam terkejut, ia tidak percaya bahwa Leathina juga bisa berkata kasar.


...***...