
“Sudah tiga hari aku terus berkeliaran di rumah judi itu tapi sampai sekarang Yasmine belum juga memperlihatkan batang hidungnya.”
"Huff"
“Nona Leathina, apa ada yang menganggu pikiran anda?” Tanya Anne pada Leathina kemudian memberikan secangkir teh pada Leathina.
“Anne persiapkan kereta untukku hari ini aku akan keluar, aku akan pergi ke panti asuhan yang baru di buat dan masih belum memiliki nama sebelum itu kita akan singgah untuk membeli beberapa mainan dan permen di kota.”
“Maksud Nona adalah rumah bekas milik Tuan Tesro yang seluruh keluarganya ditangkap dan rumahnya dijadikan rumah tinggal bagi anak-anak terlantar?”
“Iya kita akan mengunjungi mereka hari ini.”
“Baik Nona Leathina akan segera saya persiapkan kereta untuk anda.”
“Kau juga bersiap, kau akan ikut bersamaku.”
“Baik Nona Leathina.”
Tidak beberapa lama kemudian kereta telah disiapkan oleh Anne ia memberitahu pada kusir yang akan mengantar mereka kemana tujuan mereka berdua akan pergi.
“Nona mainan seperti apa yang akan Nona beli?” Tanya Anne pada Leathina yang sibuk memperhatikan semua mainan satu-persatu.
“Pilih apapun tapi jangan memilih benda yang dapat membahayakan anak-anak.” Jawab Leathina dan masih sibuk mengamati mainan-mainan yang ada di toko.
“Wah yang satu ini akan aku berikan pada Agam. Oh, sebaiknya aku membeli satu lagi untuk aku berikan pada Nora walaupun mungkin dia tidak akan menyukai mainan seperti ini.” Gumam Leathina sambil melihat dua boneka beruang berwarna coklat yang berada di rak boneka.
“Anne bungkuskan yang satu ini untuk Nora.” Leathina memberikan satu boneka yang dipilihnya untuk Nora agar Anne membungkuskannya secara terpisah.
“Apa ada lagi yang anda inginkan Nona Leathina?”
“Oh, ini, ini, ini, dan ini bungkus semua ini untuk anak-anak di panti asuhan.” Ucap Leathina yang hampir menunjuk semua isi rak yang memamerkan mainan untuk anak-anak dan membuat Anne sedikit kewalahan.
Setelah membeli mainan dan permen mereka berdua melanjutkan kembali perjalanan menuju panti asuhan tempat anak-anak yang pernah Leathina selamatkan bersama para anggota tentara bayangan.
“Huh? Bukankah itu kereta Yasmine?” gumam Leathina saat tidak sengaja melihat sebuah kereta melewatinya.
Leathina dan Anne kemudian segera naik ke atas kereta kuda setelah kereta kuda milik Yasmine melewati mereka.
“Mau kemana dia, sepertinya sangat terburu-buru.” Gumam Leathina sambil terus memperhatikan kereta kuda dari jendela yang kini jauh di depan mereka.
“Sepertinya Nona Yasmine akan pergi ke istana menemui Ratu, Nona.”
“Kau tahu dari mana?”
“Sebenarnya ada gosip yang menyebar di seluruh kerajaan bahwa Nona Yasmine akan menjadi putri mahkota setelah Nona membatalkan pertunangan anda dengan Pangeran, beberapa hari ini Nona Yasmine selalu datang ke istana menghabiskan waktu bersama Ratu.”
“Jadi begitu.” Gumam Leathina pelan dan kemudian terdiam.
“Tujuan Yasmine yang sebenarnya menjadi putri mahkota? Setelah kabar tentang aku kembali ke kerajaan Yasmine merasa posisinya akan terancam karena keberadaan ku dan sekarang dia mengincar ratu untuk mendukungnya dan mengamankan posisinya, gadis pintar.”
“Nona?” Panggil Anne saat melihat Leathina terdiam dan terlihat murung. “Dasar bodoh, Nona Leathina sedih pasti karena aku yang mengingatkannya kembali pada mantan tunangannya.” Anne beberapa kali memukul pelan kepalanya karena merasa bersalah telah mengungkit kembali mengenai putra mahkota.
“Kenapa kau memukul kepalamu sendiri Anne?”
Leathina melihat Anne beberapa kali memukul kepalanya dan menghentikan Anne dangan menangkap tangan Anne.
“Nona maafkan aku, aku tidak bermaksud..”
“Anne aku tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba meminta maaf, tapi apapun yang kamu pikirkan sekarang tidaklah benar.”
“Baik Nona, saya paham.”
“Lihatlah kita hampir sampai.” Leathina mengalihkan perhatiannya dan memperlihatkan Anne sebuah mansion yang kini ditempati rumah tinggal bagi anak-anak terlantar.
“Woaah, Lihatlah ada kereta mewah yang datang.” Teriak salah seorang anak yang kebetulan melihat sebuah kereta memasuki area mansion dan memberitahu teman-temannya.
“Woah, benar.”
“Kira-kira siapa yang datang ya?”
Mereka semua kini saling menumpuk di jendela berebut ingin mengintip kereta yang semakin mendekati tempat tinggal mereka.
“Kita sudah sampai Nona.” Kata si kusir setelah membukakan pintu kereta dan membantu Leathina turun.
Saat melihat siapa yang datang serentak anak-anak berlarian keluar menyambut Leathina.
“Oh, Astaga.” Gumam Leathina gemas ketika dia disambut dengn baik untuk yang kedua kalinya.
Tampak si kecil Agam terseok-seok berjalan menghamirinya berusaha secepat mungkin ingin menjadi yang pertama untuk menyambut kedatangan Leathina sayangnya kaki-kaki pendekanya tidak bisa meyeimbangi langkah teman-temannya yang lebih besar darinya hingga membuatnya tetap tertinggal pada barisa paling belakang.
Seorang anak perempuan juga dengan malu-malu terus mengintip di balik jendela, ia adalah anak yang telah Leathina obati sebelumya. Terlihat roman wajahnya tidak lagi sayu tapi masih tetap pemalu.
“Anak-anak bawa ini semua ke dalam.” Leathina memberi perintah saat si kusir menurunkan semua barang yang telah ia beli sebelumnya di kota.
“Woah.. ada permen!”
“Ada mainan juga.”
Walaupun Leathina telah meminta mereka untuk membawanya ke dalam tidak ada anak yang berani menyentuh barang-barang yang Leathina bawa. Bagi mereka barang-barang itu cukup mewah jika hanya untuk diberikan pada mereka secara cuma-cuma.
“Kalian tidak menginginkannya?” Tanya Leathina kebingungan karena anak-anak malah menjaga jarak dengan mainan yang ia bawa.
“Kami sudah cukup senang melihatnya dari jauh Nona.”
“Iya, itu sangat mewah untuk kami.”
“Jadi kalian tidak mau ya? Kalau begitu Anne buang lah ini semua percuma aku membawanya kesini.”
“Baik Nona.” Anne dengan patuh mengikuti perintah Leathina dan mulai memunguti mainan satu-persatu.
“EH JANGAN DIBUANG!” Para anak-anak serentak menghalangi Anne tidak tega mainan mahal yang Leathia bawa dibuang begitu saja.
“Karena tidak ada yang ingin memainkkanya makannya aku membuangnya.” Jawab Leathina tampak tidak peduli.
“Kami.. Kami sebenarnya mau hanya saja kami tidak enak selalu mengambil barang milik Nona Leathina.”
“Oh, Kau anak yang waktu itu juga selalu menjawab pertanyaanku siapa namamu?”
“Saya.. saya Abel Nona Lea, Kata madam Gisella ia mengatakan bahwa setelah pengurus panti saya yang bertanggung jawab jika tidak ada orang dewasa lagi untuk mengurus mereka karena saya yang paling tua.”
“Berapa umurmu?”
“Sekarang tiga belas tahun.”
“Kerja bagus Abel.” Leathina mengusap kepala Abel. “ Baiklah untuk sekarang pililah salah satu mainan dan beberapa permen yang kalian inginkan.” Leathina mempersilahkan semua anak-anak untuk memilih mainan dan permen yang ia bawa.
“Dan karena kalian mengatakan merasa tidak enak menerima hadiah dariku maka sudah aku putuskan kalian harus membayarnya nanti.”
“Bayar aku dengan kesuksesanmu saat kalian dewasa nanti dan datang menemuiku jika sudah merasa sukses, tentu saja sukses tidak dihitung dari seberapa kaya yang kalian dapat. Mau kalian bekerja sebagai pelayan, petani, prajurit, atau bahkan pengusaha selama kalian merasa senang maka itulah kesuksesan terbesarmu. Nah bagaimana apa kalian mampu membayarnya?”
“Kami akan berusaha Nona Lea.” Sorak semua anak-anak serentak dan kembali bersemangat setelah itu berlarian dan berhambur untuk memankan mainan yang mereka dapatkan dan bahkan ada yang memamerkannya pada satu sama lain membuat Leathina tersenyum melihat mereka semua bahagia.
“Astaga aku mendapat kata-kata bijak tadi dari mana, aku saja sampai sekarang masih bertanya apa aku bahagia atau tidak.”
Saat akan memasuki mansion Leathina menyadari bahwa anak perempuan yang ia obati sebelumnya masih belum memilih mainannya dan mengambil permen ia masih berdiri di balik jendela sambil mengintip keluar.
Leathina langsung mengambil mainan yang tersisa secara acak dan beberpa permen kemudian membawanya ke tempat si anak perempuan berada. Leathina masih mengingat letak kamarnya dan dengan hati-hati mengetuk dan mimta izin untuk masuk.
“Tok.. tok.. tok..”
“Boleh saya masuk?” Leathina meminta izin untuk masuk.
Tidak beberapa lama kemudian pintu di depan Leathina terbuka dan muncul seorang anak perempuan di baliknya yang telah membukakan Leathina pintu dari dalam.
“Se.. se.. selamat datang Nona Leathina.” Sambut si anak perempuan ragu-ragu.
“Oh, Hai! Bagaimana kabarmu sekarang?” Leathina langsung menyapanya dan menyodorkan mainan yang tadi ia ambil secara acak.
“Kau tidak menyukainya?” Tanya Leathina saat anak perempuan yang berdiri di depanya itu memengang pemberiannya tanpa berekasi.
Ia hanya menatap boneka dengan karakter anak perempuan dengan pinta besar besar yang melingkar di lehernya serta topi mungil yang terpasang di kepalanya menutupi rambut si boneka yang diberikan Leathina untuknya.
“Ah, kau pasti tidak menyukainya ya, kalau begitu akan aku ganti dengan mainan yang lai...”
“Aku menyukainya.” Si anak perempuan tiba-tiba berbicara dan membuat Leathina terkejut kemudian tersenyum karena ternyata ia menyukai mainan pemberiannya.
“Selamat datang Nona Leathina, silahkan masuk.” Sambutnya sambil mempersilahkan Leathina masuk ke dalam ruangannya.
Si anak perempuan mengambil tempat duduk di tempat tidurnya sementara leathina duduk pada sebuah tempat tidur yang berada tepat di sampingnya.
“Kau tahu siapa aku?”
“Saya tahu bahwa anda adalah Nona Letahina, wanita yang sering dibicarakan semua orang.”
“Oh ternyata begitu. Kau pasti mendengar banyak tentangku.” Jawab Leathina dengan cangggung karena semua rumor tentang dirinya hanyalah rumor buruk.
“Siapa namamu?” Tanya Leathina.
“Perkenalkan nama saya Emely Rolat.”
“Emely pertanyaanku mungkin akan membuatmu merasa tidak nyaman, tapi kamu harus menjawabnya. Aku tahu kamu memilike tuan yang kamu layanin dan jika mereka mengetahui kamu melarikan diri dari mereka maka kamu pasti akan mendapat masalah yang lebih besar. Jadi keluarga mana tempatmu bekerja?” Tanya Leathina dengan serius.
“Saya bekerja di keluarga Baron nona dan saya melarikan diri karena saya tidak tahan lagi berada di sana.”
“Sepertinya aku pernah melihat anak ini tapi dimana? Rambut berwarna ungu, aku mengigatnya karena warna rambutnya yang mencolok dan bekerja di keluarga baron kalau tidak salah....”
“Ah, kau mirip pelayan pribadi Yasmine yang aku lihat.” Seru Leathina seakan mengingat sesuatu yang penting.
“Siapa ya namanya? Aku ingat Yasmine pernah memanggil namanya.” Leathina kembali mencoba mengigatnya.
“Liza, namanya Liza Nona dan saya adalah adiknya. Saya sering mendengar mereka beberapa kali menyebut nama anda Nona jadi saya mengenal anda.”
“Oh, jadi begitu. Baiklah aku akan membantumu kebali tanpa..”
“Nona Leathina, tolong jangan bawa saya kembali ke sana Nona. Biarkan aku ikut Nona Leathina, tidak dibayar juga tidak apa-apa yang penting diberi makan dan tempat tinggal, aku baik dalam mencuci, dan mengepel.” Emely tiba-tiba berlutut di depan Leathina memohon padanya agar tidak dibawa kembali.
“Kau yakin dengan yang baru saja kau ucapkan.” Tanya Leathina serius.
“Saya yakin Nona, selama saya tidak tinggal di sana itu sudah cukup untuk saya.”
“Emely, berapa umur mu sekarang? Aku tidak bisa mempekerjakan anak di bawa umur sepertimu.”
“Saya sekarang berumur lima belas tahun Nona, saya sudah cukup dewasa.”
“Aku pikir umurnya sekitar sembilan atau sepuluh tahun karena badannya mungil.”
“Sejujurnya aku tidak bisa mempekerjakanmu Emely karena kamu sudah bekerja di keluarga Baron kecuali mereka memecatmu.”
“Tidak Nona, mereka tidak akan memecat pelayanya mereka lebih memilih melenyapkan pelayan yang memberontak secara diam-diam karena takut keburukan mereka terbongkar.”
“Oh, aku paham sekarang kenapa anak ini lebih memilih kabur.”
“Tetap saja walaupun kau memohon seperti itu aku tidak bisa mempekerjakanmu Emely, tapi jika kamu ingin berada di pihakku aku tidak akan menolak. Jika kau mau aku ingin kau membantuku.”
“Aku siap membantu Nona apa pun itu.”
“Baiklah, aku ingin kau kembali ke sana dan menjadi mata-mata untukku.”
“Eh? Maksud Nona aku akan melaporkan semua rencana dan gerak-gerik Nona Yasmine pada Nona Leathina.”
“Yup, betul.”
“Tapi, tapi Nona kakakku adalah pelayan pribadi Nona Yasmine dan dia tidak mungkin membiarkanku untuk melakukan itu.”
“Lakukan secara diam-diam jangan beritahu siapapun, aku tahu kau juga ingin membebaskan kakakkmu bukan. Jika waktunya tiba maka aku akan membongkar kebusukan Yasmine dan membebaskanmu bersama kakakmu.”
“Nona anda selama ini tahu keburukan Nona Yasmine?” Tanya Emely pada Leathina dan dibalas dengan anggukan.
“Oh, Asaga akhirnya ada yang mempercayaiku. Selama ini aku terus mencoba memberitahu orang-orang bahwa Nona Yasmine tidak sebaik yang mereka pikirkan dan sering menyiksa pelayan tapi tidak ada yang percaya padaku.”
“Aku akan membantumu, tapi aku tidak bisa menjamin keselamatanu. Jadi sekali lagi aku bertanya padamu Emely, apa kamu bersedia berada dipihakku dan mengungkapkan kebenaran denganmu?” Tanya Leathina tegas pada Emely.
“Saya bersedia Nona Leathina, saya akan mengikuti semua perintah Nona Leathina.” Jawab Emely tidak kalah tegasnya dan menetapkan hatinya untuk setia pada Leathina.
“Bagus, jadi sekarang ceritakan padaku semua yang kau ketahui mengenai Yasmine?”
“Sebelumnya maafkan aku Nona mungkin perkataanku akan sedikit tidak bagus untuk di dengar tapi memang betul ini yang terjadi.”
“Baiklah katakan Emely.”
“Jadi Nona Yasmine selama ini selalu iri dengan semua yang Nona Leathina miliki, dia sangat membenci Nona Leathina karena bisa memiliki segalanya uang, posisi, kecantikan, bahkan para pria menyukai Nona Leathina. Jadi karena ingin menjatuhkan Nona Leathina Nona Yasmine akan melakukan segalanya, dia bahkan menggunakan dua wajah selau berpura-pura baik di depan semua orang tapi kelakuan sebenarnya tidak seperti itu dia sering menyiksa para pelayan hanya karena kesal dan beberapa kali melempari kakakku dengan vas atau gelas hanya karena hal-hal sepeleh.” Emely berbicara sambil mengepalkan tinjunya seakan-akan apa yang ia ceritakan ia lihat di depannya sekarang. Dendamnya semakin membesar saat mengigat bagaimana Yasmine memperlakukan kakakknya.
“Jadi begitu.”
“Tidak hanya itu saja Nona, aku pernah tidak sengaja mendengar percakapan antara Nona Yasmin dan kakakku. Tapi aku tidak mengetahui kebenaranya bisa saja saya salah.”
“Katakan.”
“Nona Yasmine pernah merencanakan sebuah pembunuhan dan memberikan kakakku sebuah racun dan beberpa kali mereka berdua menyebutkan nama Nona Leathina. Dan keesokan harinya beredar berita bahwa Nona Leathina jatuh sakit karena racun.”
“Ah, jadi begitu. Sekarang sudah sangat jelas. Baiklah Emely terimakasih untuk informasinya.”
...***...