
Adam mengantar Leathina, Edward, dan Troy menuju penginapan namun saat akan masuk ke dalam Edward memisahkan diri mengatakan bahwa ia punya urusan yang harus diselesaikan dan meminta Leathina dan yang lainnya masuk terlebih dahulu.
“Kamarnya ada di ruangan nomor dua dan tiga lantai kedua. Jika anda kembali mohon datang ke sana atau minta pemilik penginapan yang berjaga untuk mengantarkan anda ke sana nantinya.” Ucap Adam memberitahu Edward agar nantinya tidak kesulitan mencari kamar mereka nantinya.
“Akan aku ingat.” Jawab Edward, “Leathina jaga dirimu.” Ucapnya sebelum pergi.
“Kalian tahu dia akan pergi kemana?” tanya Leathina pada Adam dan Troy.
Adam dan Troy kemudian saling pandang kemudian kembali melihat ke arah Leathina dan menggelengkan kepalanya tanda mereka juga tidak tahu kemana Ed pergi.
“Baiklah, saya akan mengantar nona Leathina ke ruangan terlebih dahulu untuk menyimpan barang bawaan anda dan menemani Nona untuk mencari herbal pengubah warna rambut.” Ucap Adam kemudian segera memasuki penginapan diikuti oleh Troy dan Leathina di belakangnya.
“Saya akan menunggu anda dibawah Nona Leathina.”
Setelah Adam mengantar Leathina di kamar yang telah mereka pesan sebelumnya Adam langsung turun ke bawah sementara Troy langsung masuk ke ruangan yang lainnya untuk beristirahat setelah seharian menjadi kusir.
Setelah beberapa saat menunggu Adam melihat Leathina dengan sedikit berlari turun dari tangga dan menghampirinya.
“Tidak lelah kan?” tanya Adam saat Leathina baru sampai.
Leathina mengangguk kemudian langsung bersiap mengikuti Adam keluar.
“Ayo Nona Leathina.” Ajak Adam sopan mempersilahkan Leathina berjalan lebih dulu.
“Ah, Adam kamu bisa memanggilku seperti saat pertama kita bertemu. Aku lebih nyaman dengan itu.” Ucap Leathina ketika berjalan-jalan di jalan kota mencari herbal bersama Adam.
“Ah! Aku dulu tidak sopan karena belum mengetahui identitas Nona Leathina degan baik, ditambah tahu kalau anda ternyata orang yang disukai tuan Ed membuatku semakin tidak mungkin melakukan hal itu lagi nona.” Jawab Adam sambil bercanda. “Dan lagi lidahku bisa dipotong jika bos tahu.” Gumamnya pelan.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Leathina karena ucapan Adam tidak dapat ia dengar dengan baik karena berada di keramaian.
“Disana ada toko herbal, mungkin yang kita cari ada disana.” Seru Adam sambil menarik Leathina menuju toko yang ia maksud sengaja karena tidak ingin Leathina mengintrogasi dirinya nantinya.
Leathina menurut karena tahu Adam tidak ingin membicarakannya padanya, ia sengaja mengabaikan dan berpura-pura untuk tidak peduli lagi dengan kalimat yang Adam ucapkan barusan.
“Brak!” sakin bersemangatnya Adam membawa Leathina ke toko herbal untuk mengubah warna rambutnya secepat mungkin agar bisa bebas bergerak tanpa perlu menutup diri membuatnya menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh.
“Ah! apa anda tidak apa-apa Nona?” tanya seorang pria yang segera menghampiri Leathina yang ikut terjatuh karena terseret berat tubuh Adam yang masih memegang tangannya saat Adam terjatuh.
“Apa tidak apa-apa?!” Tanya Adam yang dengan sigap langsung berdiri setelah terjatuh kemudian menghalangi laki-laki yang ingin menolong Leathina dan memperbaiki jubah Leathina kembali untungnya penutup kepala Leathina tidak terbuka, Adam dengan sengaja menepis tangan laki-laki yang berniat menolong Leathina yang masih mengulurkan tangannya pada Leathina kemudian langsung membantu Leathina berdiri kembali dan membawanya pergi.
“Terimakasih tuan dia baik-baik saja sekarang.” Ucap Adam dingin kemudian kembali melanjutkan perjalanannya dengan menempatkan Leathina berjalan tepat di depannya.
Leathina yang terkejut dengan apa yang sedang berlangsung hanya bisa terdiam namun secara tidak sengaja mata mereka bertemu.
“Untuk sekarang masih sangat berbahaya melakukan kontak dengan orang asing Nona." Bisiknya pada Leathina kemudian meminta Leathina berhenti memandanginya.
Leathina mengangguk paham kemudian segera melihat lurus ke depan mengabaikan laki-laki yang tadi akan menolongnya, tapi karena merasa masih diperhatikan Leathina kembali menoleh untuk memeriksa dan benar saja laki-laki yang tadi ingin menolongnya masih memandanginya dari kejauhan bahkan tersenyum sembari melambaikan tangannya saat Leathina kembali melihatnya.
“Nona?!” panggil Adam kembali memperingati Leathina.
“Adam sepertinya dia mengenaliku?” bisiknya pada Adam, adam yang mendengarnya mengangguk paham kemudian keduanya dengan tergesa-gesa menuju toko yang dicarinya dan segera masuk ke dalam setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikuti mereka berdua.
“Apa anda tidak apa-apa Nona Leathina?” tanya Adam panik, barulah ia memperlihatkan kepanikan dan keresahannya setelah memasuki toko dan tidak dilihat oleh siapapun.
“Ah! aku tergores sedikit.” Ucap Leathina sambil menunjukkan tangannya yang terluka kemudian menutupnya dengan tangannya yang satunya lagi. “Tapi sekarang sudah tidak apa-apa.” Ucapnya kembali menunjukkan tangannya yang tadi terluka sekarang sudah sembuh sepenuhnya.
“Akh! Bagaimana bisa anda tertawa disaat terluka seperti ini, walaupun anda punya kemampuan sihir penyembuh tapi tetap saja akan merasakan sakit saat terluka bukan?” Adam mengusap kasar wajahnya melihat Leathina yang tadinya sempat terluka karena dirinya kemudian merogoh sakunya mengeluarkan sapu tangan miliknya dan membersihkan telapak tangan Leathina yang kotor dengan debu dan beberapa bercak darah dari luka nya yang sudah sembuh.
“Terimakasih sudah menghawatirkan aku Adam, kamu selalu baik sejak pertama kali kita bertemu.” Ucap Leathina membuat Adam ikut terharu.
“Aku tahu Nona selalu diperlakukan buruk, tapi ana tidak boleh jatuh hati padaku hanya karena aku bersikap baik pada Nona Leathina.” Ucap Adam sambil berpura-pura terharu sengaja menggoda Leathina.
“Hahahah, tadinya aku sedikit terharu ketika melihat perlakuanmu padaku tapi melihatmu sekarang membuatku ingin memukulmu Adam.” Seru Leathina bersamaan dengan tawanya.
Adam yang melihat Leathina tertawa pun ikut tertawa karena merasa senang melihat Leathina seperti yang dikenalnya dulu saat pertama bertemu.
“Tapi, Adam sepertinya orang tadi mengenalku?” ucap Leathina tiba-tiba membuat Adam langsung mengatupkan mulutnya karena khawatir.
“Bagaimana bisa di kota kecil seperti ini ada yang mengenal anda, apa anda yakin?” tanya Adam sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa situasi.
Leathina mengangguk meyakinkan, “Iya benar sepertinya pria tadi benar-benar mengenalku dia bahkan melambaikan tanan dan tersenyum saat tidak sengaja aku melihat kembali ke belakang.”
“Kalau begitu kita harus segera melakukan sesuatu.” Ucap Adam, “ Tunggu disini, jangan berbicara pada siapapun dan jangan pergi kemanapun.” Setelah memberitahu Leathina Adam langsung berjalan menghampiri pemilik toko yang berada lebih jauh di dalam ruangan.
Terlihat Adam berbicara sejenak dengan si pemilik toko kemudian setelah itu si pemilik toko langsung memberikan sesuatu pada Adam setelah Adam membayar dan langsung kembali menuju ke tempat Leathina yang ia tinggal di pojokan toko.
“Nona kemari.” Ucap Adam menarik Leathina memasuki sebuah ruangan yang ada di dalam toko. “Aku meminta izin untuk dipinjamkan ruangan dan menunjukkan ruangan ini, sekarang minumlah ini dan rambut anda akan segera berubah” Adam menyerahkan sebuah botol kecil yang isinya terdapat ramuan berwarna hitam pekat.
“Apa ini tidak apa-apa?” tanya Leathina sedikit ragu-ragu karena melihat cairan yang ada di botol terlihat seperti racun daripada sebuah ramuan.
Adam mengangguk, “Iya tidak apa-apa, ramuan ini aman.” Ucap Adam antusias kemudian membukakan penutup botol untuk Leathina.
Walaupun masih ragu Leathina tetap meminum ramuan yang Adam belikan untuknya karena tidak tega melihat Adam begitu bersemangat karena ingin melihat bagaimana ramuan yang dibelinya bekerja untuk mengubah warna rambut.
“Ukh! Ini benar-benar pahit.” Gumam Leathina stelah menelan seluruh ramuan dalam sekali tegukan. “Bagaimana apa sudah berubah?” tanya Leathina penasaran.
Adam yang juga sedang serius memperhatikan rambut Leathina menggeleng karena belum melihat adanya perubahan, “Belum, masih belum mungkin sebentar lagi.” Ucapnya tampa melepas pandangannya dari rambut Leathina. “Ah! sekarang sudah mulai berubah.” Serunya bersemangat ketika melihat rambut Leathina perlahan berubah.
“Benarkah?’ seru Leathina tidak kalah bersemangatnya.
Rambut Leathina perlahan-lahan berubah warna setelah meminum ramuan hingga seluruh rambut merah mencolok miliknya kini benar-benar hilang sepenuhnya karena berubah warna.
“Warna apa?” taya Leathina penasaran.
“Warna cokelat.” Jawabnya antusias.
“Benar-benar berubah?” tanya Leathina lagi sambil memeriksanya sendiri dengan menguraikan rambutnya dan melihat ujung rambut miliknya.
Dilihatnya seluruh rambutnya benar-benar berubah menjadi warna cokelat.
“Lebih cantik yang dulu karena warnanya untuk tapi yang ini juga cantik seakan melihat sisi lain dari seorang Leathina.” Jawabnya kemudian membantu Leathina melepaskan jubahnya, “Obatnya akan bekerja selama tiga hari setelah itu warna rambutnya akan kembai seperti semula.”
“Ah!Adam sebaiknya jubahnya masih aku pakai samapi kita keluar dari toko ini.” Leathina kembali memakai jubahnya dengan benar kemudian menutup kembali rambutnya dengan tudungnya.
“Eh! Kenapa?” tanya Adam bingung karena berharap Leathina bisa secepatnya bisa bebas tanpa perlu menutup diri lagi.
“Ini hanya untuk mencegah saja, karena tentu saja mereka akan langsung curiga dan tahu aku yang menggunakan ramuan yang tadi kamu beli.”
“Baiklah, aku mengerti sekarang kalau begitu sekarang kita harus segera kembali ke penginapan, anda pasti sudah sagat lelah setelah seharian di perjalanan.”
“Oh! Kita mungkin perlu membeli ramuannya lebih banyak lagi.”
“Tenang saja sudah aku beli lebih banyak dari yang anda kira.” Ucap Adam tersenyum sembari menunjukan sebuah kantung yang di dalamnya terdapat banyak botol ramuan yang serupa dengan ang tadi ia konsumsi.
“Terimakasih Adam, kamu sepertinya sangat mempersiapkan diri untuk menjagaku kali ini.”
“Tentu saja harus aku lakukan.” Ucapnya sembari berjalan keluar dari toko herbal dan berjalan kembali ke penginapan.
Dalam perjalanan mereka kembali ke penginapan mereka berdua menggunakan sedikit waktunya untuk berjalan-jalan sebentar sembari mengelilingi kota untuk melihat-lihat suasana.
“Hati-hati, Tuan!” Seru Adam marah ketika sekali lagi seseorang yang sepertinya dengan sengaja berjalan serampangan dan ingin menabrak Leathina.
Dengan gesit Adam menghalaunya kemudian mendorongnya mundur.
“Ah! maafkan teman saya tuan, sepertinya dia mabuk berat kami baru saja minum di bar tadi dan dia berakhir seperti ini.” Seseorang lagi datang menghampiri orang yang ingin menabrak Leathina mengatakan bahwa yang tadi adalah temanya kemudian langsung meminta maaf dan membawa pergi temannya yang kini pingsan setelah di dorong oleh Adam.
“Sepetinya tabrakan kita yang pertama dan yang kedua disengaja.” Ucap Leathina kemudian segera menarik Adam pergi ke keramaian agar sulit untuk di ikuti.
“Benar, tapi apa itu mungkin mereka mengetahui keberadaan anda Nona Leathina?’ Tanya Adam yang ini berjalan lebih cepat dari Leathina dan menuntunnya kembali ke penginapan.
“Mereka belum yakin itulah kenapa mereka mencoba memeriksa dengan cara menabrak karena ingin menyingkap tudung jubah yang menutupi rambutku agar tidak dicurigai.”
“benar juga sebaiknya sekarang kita harus segera kembali ke penginapan.” Ucap Adam kemudian dibalas anggukan oleh Leathina.
“Bruk!” tiba-tiba saja seorang anak kecil melintas di depan Adam dan Leathina hingga tabrakan antara dua arah tidak bisa dihindari.
“Hati-hati!” bisik Adam waspada.
Namun ketika hendak meniggalkan anak perempuan yang sepertinya masih berumur lima tahun itu tiba-tiba tangisannya pecah kemudian dengan cepat menarik perhatian banyak orang. Membuat Leathina dan adam terpaksa harus menenangkannya terlebih dahulu.
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Adam kemudian membantu si anak berdiri kembali dan menepuk-nepuk pundaknya untuk meredakan tangisannya.
‘Astaga dia terluka.” Leathina melihat luka di kedua lutut si anak dan reflek mengulurkan tangannya karena tidak tega melihat si anak menahan sakit.
“Jangan!” cegat Adam yang tahu bahwa Leathina akan menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan luka. “Tidak boleh, lukanya tidak parah dan bisa sembuh dengan sendirinya!” ucap Adam tegas ketika Leathina menatapnya kemudian merobek ujung gaun Leathina dan menggunakannya sebagai penutup luka. “Ini saja sudah cukup.” Ucapnya lagi. “Maafkan aku gaunnya saya robek, sepertinya ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kita, jika kita melakukan seperti kebanyakan orang ketika melihat orang terluka maka kecurigaannya bisa teralihkan.” Bisik Adam pada Leathina kemudian Leathina mengangguk paham dan mengurungkan niatnya untuk menggunakan kemampuannya.
“Nak, diaman orang tuamu?” tanya Leathina pada si anak tapi si anak tidak menjawab ia malah terlihat akan kembali menangis.
“Kita ke pinggir dulu, disini terlalu banyak orang.” Adam langsung menggendong anak kecil yang bertabrakan dengannya ke tempat yang lebih sepi dan tidak banyak orang.
“Nak, kamu tahu dimana orang tuamu?” tanya Adam lagi kemudian si anak langsung mengangguk. “Nah, sekarang kembalilah dan pastikan untuk meminta mereka merawat lukamu.”
Si anak menggeleng kuat, “Kenapa?” tanya Leathina.
“Tempatnya terlalu jauh dan kaki ku sakit, bisakah paman mengantarku?” ucapnya meminta Adam untuk mengantarnya pulang.
“Ah! maafkan paman tapi paman benar-benar tidak bisa mengantarmu pulang nak.” Ucap Adam menolak.
“Baiklah, nak. Paman ini akan mengantarmu pulang.”
Leathina tiba-tiba menyetujui permintaanya membuat Adam yang tidak setuju hanya bisa menatap Leathina karena tidak bisa mengatakan apa yang ingin ia katakan di depan anak kecil yang sekarang sudah membuka tangannya ingin digendong olehnya untuk diantar pulang.
“Anda pasti tahu ini adalah sebuah jebakan, bukan?” bisik Adam memberitahu Leathina.
“Ak tahu.” Jawab Leathina singkat sambil membersihkan wajah si anak dengan lembut.
“Jadi kenapa?” tanya Adam tidak paham kenapa Leathina malah dengan sengaja mengikuti jebakan yang dibuat untuk mereka melalui anak kecil tersebut.
“Malah semakin aneh jika kita meninggalkan anak yang terluka ini sendirian disini, jadi ikuti saja alurnya dan lawan jika mereka memang berbahaya.” Jawab Leathina dengan berbisik membuat Adam mau tidak mau harus menurutinya.
“Kamu akan mengantarnya kan?” tanya Leathina pada Adam di depan si anak kecil tadi.
Adam mengangguk, “Baiklah akan paman antar.” Ucapnya sambil berjongkok dan menggendongnya.
“Aku akan menunggu disini, kembalilah secepat yang kamu bisa.” Ucap Leathina sembari memberi isyarat pada Adam yang menatapnya dengan tatapan tanda tanya. “Kamu tidak ikut denganku mengantar anak ini pulang?” Tanya Adam.
“Tidak, aku akan menunggu disini saja.”
“Baiklah kalau begitu tunggu aku disini dan jangan kemana-mana!”
Leathina mengangguk paham kemudian melambaikan tangannya meminta Adam untuk segera pergi.
“Dimana rumahmu nak?” tanya Adam sembari berjalan pergi meninggalkan Leathina untuk mengantar si anak kembali pada orang tuannya.
“Disana paman.” jawabnya singkat dan pandangannya hanya fokus ke depan tanpa memberitahukan alamatnya dengan jelas.
“Sampai disini saja paman, terimakasih.” Baru beberapa meter Adam mengantarnya si anak tiba-tiba melompat turun dari gendongannya kemudian menghilang ditengah-tengah keramaian.
“Sialan, aku sudah tahu ini!” umpatnya kemudian segera berlari kembali ke tempat Leathina berada dan disana ternyata sudah tidak ada siapa-siapa Leathina tidak lagi ada di sana.
...
“Hummpf!”
Leathina melihat Adam yang kini berjalan pergi meninggalkannya untuk mengantar si anak kembali ke orang tuannya. Namun belum lama Adam pergi tiba-tiba dua orang menyekapnya dan menutup mulutnya agar tidak berteriak ataupun memberontak.
...***...