
“Aaa!”
Ucap Leathina yang akhirnya dapat bersuara kembali walaupun masi lemah tapi berhasil menarik perhatian semua orang dan membuat orang-orang terkejut setelah mendengar suara leathina.
“LEATHINA!!!”
Seru semua orang secara bersamaan, duke segera berlari kemudian berlutut di sisi tempat tidur kemudian menggengami tangan Leathina erat.
“Syukurlah, kau kembali.” Ucapnya kemudian mencium lembut punggung tangan leathina dengan suka cita menyambut leathina kembali.
Leathina menoleh dan dengan sisa kekuatannya ia mengusap lembut rambut ayahnya yang kini tertunduk di dampingnya.
“Kakak.” Seru nora kemudian berlari hendak melompat memeluk Leathina tapi dihentikan oleh Nicholas.
“Dia masih lemah, kau ingin membunuhnya?” ucap Nicholas kemudian menarik nya mundur kembali dengan menarik kerah baju Nora dari belakang.
Leathina menatap mata semua orang satu-persatu dan saat matanya bersitatap dengan Edward ia pun tersenyum sementara Edward hanya diam saja tidak bereaksi, hal yang sama pun Leathina lakukan saat matanya bersitatap dengan Winter dan dibalas senyum suka cita oleh Winter.
Leathina pun melihat kedua adiknya yang kini menatapnya sambil terisak menahan tangis dan berhasil membuat leathina mengembangkan senyumnya terutama saat ia melihan Nicholas yang sesekali mengusap matanya. Leathina juga melihat ibu tirinya yang kini sudah menagis sesenggukan bersama dengan Anne terharu melihat Leathina bisa membuka matanya.
“Ah, zeyden pun juga ada disini menungguku? Aku pikir dia membenciku.” Batin Leathina saat melihat zeyden bersama Andy yang berdiri paling belakang.
Leathina kembali tersenyum melihatnya untuk rasa terimakasihnya karena telah menghawatirkan nya walaupun sebenarnya keduanya tidak cukup akrab sampai harus menghawatirkan dirinya. “Eh? Kenapa dia terkejut melihat ku?” Batin Leathina karena setelah ia tersenyum melihat Zeyden, zeyden lalu membulatkan matanya seperti orang yang sedang terkejut karena sesuatu.
“Selamat datang kembali Leathina, putriku satu-satunya.” Ucap duke Leonard pelan.
Leathina membulatkan matanya dan saat duke menyelesaikan kalimatnya leathina merasakan tubuhnya seakan bukan miliknya sesaat. Matanya membulat karena terkejut merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
“Ini aneh, disaat duke menyelesaikan kalimatnya dadaku terasa terisi oleh sesuatu dan aku merasa sangat hangat sekarang.” Batinnya yang kebingungan dengan perasaannya sendiri.
"Ah, apa ini efek karena tertidur cukup lama?" hatinya Leathina kemudian mengusap pelan dadanya.
Leathina segera menutup matanya dengan lengannya, lama Leathina terdiam hingga membuat semua orang-orang kembali sangat khawatir pada Leathina pasalnya tubuhnya memanglah sangat lemah sekarang.
“Leathina ada apa?” tanya duke Leonard yang khawatir.
“Apa tubuhmu terasa sakit, sayang?” tanya duchess yang kini telah berada di samping duke leonard.
“Bagian mana yang sakit, aku akan memeriksanya untukmu!” tanya Aelfric antusias kemudian mencoba membuka selimut Leathina untuk memeriksa.
“Plak!”
Edward, memukul bagian belakang kepala Aelfric. “Apa yang coba kau lakukan?” tanyanya kemudian menarik mundur Aelfric dan mengambil tempatnya.
“Kau mengambil tempatku!” bentak Aelfric mencoba menarik Edward mundur untuk mengambil kembali tempatnya yang sekarang ditempat Edward.
“Kau menghalangi.” Ucap Zeyden kemudian menarik mundur Aelfric dan juga mengambil tempatnya seperti yang dilakukan Edward hingga sekarang Aelfric berada di tempat paling belakang.
“Leathina ada apa!” tanya duke Leonard panik saat melihat leathina mulai menangis.
“Kakak apa sangat sakit?” tanya nora dengan hati-hati kemudian menerobas orang-orang dan mendekati leathina kemudian dengan lembut menyentuh pipi Leathina.
“Leathina?”
“Plak!”
Panggil Edward pada Leathina kemudian mencoba menarik tengan Leathina yang kini menutupi matanya tapi tiba-tiba tangannya ditampar oleh Nora dan memberi edward tatapan marah karena tidak ingin kakaknya disentuh lagi olehnya.
Edward hanya tersenyum canggung mengingat kejadian beberapa saat yang lalu saat semua orang akan membunuhnya karena perbuatannya, Edwrad pun menarik tangannya kembali mengurungkan niatnya untuk memeriksa Leathina.
“Leathina ada apa? Ayah mohon, berbicaralah!” pinta duke leonard yang masih saja khawatir karena kini leathina malah menangis dan terisak dengan keras.
“Andy periksa Leathina sekarang!” Pinta duchess yang kini ikut panik.
Leathina segera menggeleng tidak ingin diperiksa membuat Andy yang tadi berjalan mendekat segera mundur kembali.
“Apa kau tidak ingin melihatku? Ah, maakan aku yang bertindak seperti ayah sungguhan sekarang. Kalau begitu aku harap kau lekas pulih putriku.” Ucap duke yang tiba-tiba mengingat bahwa Leathina tidak menyukainya kemudian segera berdiri ingin keluar dari ruangan leathina. Bagi duke melihat leathina tersadar kembali sudah membuatnya merasa sangat bersyukur jadi tidak masalah baginya jika sekarang Leathina membencinya.
“Leathina?” ucap Duke terkejut saat leathina menggenggam tangannya kembali dengan erat dan menggelengkan kepalanya dengan cepat menolak agar ayahnya tidak keluar.
“Ti- tidak bu- bukan begitu.” Jawab Leathina yang pada akhirnya meminta duke leonard untuk tetap tinggal.
“A- aku, aku, aku kira tidak akan ada orang yang menungguku membuka mataku kembali. Aku kira tidak ada orang yang peduli aku hidup atau tidak. Aku pikir lebih baik jika aku mati, aku... aku... aku ....” Leathina tidak lagi bisa meneruskan ucapannya dan berakhir menangis sesenggukan.
“Maafkan ayah, Leathina.” Ucap Duke Leoard kemudian segera memeluk Leathina.
“Aku takut ayah mengabaikan aku seperti dulu! Karena aku selalu terabaikan, jadi aku pikir ayah tidak menyukainya!!” ucap Leathina kemudian tangisannya kembali pecah setelah tenang beberapa saat karena duke memeluknya.
“Maafkan ayah sayang. Ayah memang telah mengabaikanmu, tapi tidak pernah sekalipun ayanh berfikir untuk meninggalkanmu dan membiarkanmu mati sebelum aku mati.” Ucap duke lembut menenangkan leathina dan mengusap lembut bahu Leathina mencoba untuk meredakan tangisannya yang kini telah membuatnya kesulitan bernafas.
Bukannya tenang Leathina malah tambah menangis air matanya kini bakan telah membasahi pakaian ayahnya.
“Ini pertama kalinya aku melihat Leathina menangis seperti anak kecil.” Gumam Zeyden pelan yang kini merasa prihatin melihat Leathina.
Winter dan Edward pun memikirkan hal yang sama dengan Zeyden mereka baru kali ini melihat sisi lain dari seorang Leathina yang terkenal tidak berperasaan dan arogan.
Setelah puas menangis leathina akhirnya tenang kembali dan duke leonard melepaskan pelukannya ingin melihat wajah putrinya tapi leathina malah menunduk karena malu telah bertingkah seperti anak-anak.
“Apa sekarang sudah tidak apa-apa?” tanya duke lembut pada Leathina.
Leathina mengangguk pelan menjawab pertanyaan ayahnya.
“Aku....”
Setelah berbicara beberapa kata Leathina merasakan tenggorokannya sangat sakit, dirasakan tenggorokannya terasa sangat kering dan membuat suaranya sulit untuk keluar.
Dengan terburu-buru Anne yang menyadarinya langsung membawakan Leathina air dan segera memberikannya pada duke untuk membantu leathina meminum air yang ia bawakan untuk leathina.
“Tunggu dulu!” teriak Nora dan Nicholas hampir bersamaan dan keduanya datang mendekati Leathna dengan membawa sebuah wadah dan segelas air. Entah sejak kapan mereka berdua meminta pelayan memberikannya benda yang ia bawa.
“Ada apa?” tanya ibunya keheranan dengan dua putranya.
“Kakak kumur-kumur dengan air ini terlebih dahulu, jangan diminum ya tapi hanya kumur-kumur saja!” Nora memerinta Leathin dan memaksanya hingga membuat Leathina tidak ada pilihan lain selain mengikuti perintah Nora.
“Dan buang disini.” Ucapya sambil menunjuk ke wadah yang dipegang oleh Nicholas.
Leathina dengan patuh berkumur dengan air yang diberikan oleh Nora dan kemudian membuang air ke dalam wadah yang dipegang Nicholas.
“Tunggu sebentar.” Ucap Nicholas kemudian memberikan wadah yang ia pegang ke pada seorang pelayan dan mengambil saputangannya dari saku bajunya.
“Diam sebentar!” ucapnya dan tiba-tiba menggosok bibir Leathina dengan sapu tangan miliiknya.
“Bakar ini.” Nicholas yang selesai menggosok bibir Leathina sampai memerah kemudian menyerahkan sapu tangannya pada pelayan dan memintanya untuk menyingkirkannya secepat mungkin.
“Untuk apa semua itu?” tanya Leathina setelah selesai meminum air yang diberikan ayahnya untuknya.
Nora memanyunkan mulutnya menatap Edward dengan intens, Edwar hanya tersenyum ia tahu kenapa nora sekarang membencinya.
“Tidak ada apa-apa, aku dan kakak Nicholas hanya membersihkan kakak dari sesuatu yang kotor.” Ucapnya kemudian memalingkan wajahnya kembali melihat Leathina dan menghela nafas panjang.
Leathina tersenyum canggung karena sebenarnya ia tahu kenapa Nora dan Nicholas melakukan hal aneh padanya, itu karena apa yang dilakukan edward tadi tapi Leathina memilih untuk berpura-pura tidak mengetaui apa-apa karena tidak ingin mengingat sesuatu yang memalukan sepeti itu.
“Groowwlll ....”
Tiba-tiba terdengar suara perut kelaparan membuat semua orang diam mendengarkan.
“Ah, maafkan aku. Sepertinya tubuhku lapar.” Ucap Leathina tersenyum canggung sambil menyembunyikan perutnya karena malu.
“Aku senang anda bisa membuka mata kembali nona Leathina dan melihat anda bisa tersenyum.” Ucap Zeyden yang berjalan mendekati Leathina.
Leathina hanya tersenyum menanggapi Zeyden.
“Kalau begitu saya akan kembali ke menara, masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan.” Ucap Zeyden kemudian membungkuk meraih tangan Leathina dan mencium punggung tangan leathina.
“Terimakasih zeyden.” Ucap Leathina.
Zeyden pun kembali membungkuk dan kini benar-benar pergi meninggalkan kediaman keluarga Yarnell.
“Ah, aku pun senang melihat nona sadar kembali. Kalau begitu saya juga pamit.” Ucap Andy membungkuk memberi hormat kemudian terburu-buru berlari mengejar Zeyden.
“Nora?” Leathina terkejut saat tiba-tiba Nora menarik tangannya.
“Kemarikan tangan kakak.” Ucapnya kemudian menggosok degan kasar punggung tangan leathina seperti menghapus sebuah kotoran dari sana.
“Apa yang kau lakukan nora?” tanya Leathina bingung.
“Tenang saja kakak Leathina, aku sedang membersihkan tangan kakak.”
Mendengar jawaban Nora membuat leathina hanya tersenyum.
“Senang melihatmu kembali Leathina.” Ucap Winter yang kini berjalan mendekati leathina.
“Aku harap tidak ada hal buruk lagi yang terjadi padamu. Kalau begitu aku juga akan pamit.” Winter melakukan hal yang sama seperi zeyden, mencium punggung tangan leathina kemudian membungkuk memberi hormat sebelum keluar dari ruangan leathina.
Kini gilian Edward setelah Winter keluar ia pun segera pamit untuk pulang ke kerajaan setelah lama absen dari kerajaan.
“Lain kali aku pasti akan melindungimu.” Bisiknya pada leathina.
“Aku akan kembali ke kerajaan, beristirahatlah Leathina.” Ucap edward dan mencium punggung tangan Leathina.
“Aku akan datang lagi untuk mengunjungimu.” Ucapnya sambil meletakkan telapak tangannnya di kepala Leathina.
“Cepat pergi.” Ucap Aelfric dengan ketus.
“Apa?” tanya Aelfric saat Edward kini menatapnya.
“Kau akan ikut denganku.” Ucap Edward datar dan menarik baju bagian belakang Aelfric.
“Tunggu, tunggu. Tunggu dulu! Kenapa aku harus ikut denganmu?!”
“Kau tamu kerajaan dan memiliki darah bangsawan para elf, tentu saja kau harus tinggal di kerajaan sebagai tamu kehormatan.”
“Tidak, aku tidak mau! Aku ingin tinggal disini bersama Farkas dan Damian!” Aelfric memberontak tapi Edward tidak menghiraukannya dan malah membawanya secara paksa.
“Lepaskan! Lepaskan! Lepaskan kataku!” teriak aelfric memberontak.
Leathina hanya tersenyum melihat kedunya yang masih belum berubah sedikitpun, edward selalu saja menganggu Aelfric dan tentu saja Aelfric akan memberontak karena tidak menyukai Edward.
“Baiklah, baikalah, aku akan ikut dengan patuh denganmu.” Ucap Aelfric yang berhenti memberontak hingga Edward pun melepaskannya.
“LEATHINA!!” Jerit Aelfric setelah dilepaskan oleh Edward dan berlari ke arah leathina kemudian berpegangang dengan erat pada Leathina.
“Biarkan aku tinggal disini bersama farkas dan damian! Aku tidak ingin pergi kesarang binatang buas sepertinya!” Aelfric memohon meminta leathina membiarkannya tinggal di tempatnya.
“Kau!” Ucap Edward ingin menarik Aelfric kembali tapi dihalangi oleh leathina.
“Biarkan Aelfric tinggal disini, dia tidak akan menimbulkan masalah.” Leathina berbicara untuk aelfric.
“Tidak bisa, ini menyangkut kerajaan. Kami bisa dikatakan merendahkannya jika aku tidak membawanya ke kerajaan.” Ucap aelfric mengingat ia harus kembali membawa aelfric demi urusan kenegaraan dan hubungan diplomatik.
“Siapa yang peduli! Pokonya aku ingin tinggal disini, hubungan kenegaraan atau apalah namanya itu kan tidak akan berpengaruh jika aku tinggal dirumah duke leoanrd.” Aelfric bersikeras untuk tinggal. “Kenapa kau sangat ingin aku ikut denganmu sih apa jangan-jangan kamu ....” Aelfric tidak meneruskan kalimatnya dan hanya menatap Edward dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan aneh.
“Aku tahu kau sedang berfikir kotor sekarang! Jika kau tinggal disini kau akan mengganggu leathina setiap saat dan menghambat pemulihannya, untuk mencegah itu maka aku harus mengasingkanmu kau itu pengganggu!”
“Leathina?” Aelfric menatap leathina bermaksud agar leathina membelanya agar bisa tinggal di mansion keluarga yarnell.
Leathina hanya tersenyum menanggapi Aelfric karena tidak ada yang bisa ia laukan untuk menolongnya dari Edward. Karena Leathina pun tidak bisa menghentikan Edward jika telah memutuskan sesuatu.
“Hais!” Edward menghela nafas berat kemudia mengangkat tangannya.
Aelfirc yang mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi padanya segera berdiri dan berjalan di belakang Edward, mengikutinya dengan patuh. Aelfric tidak suka jika Edward membuatnya tidak sadarkan diri dan membawanya dengan cara seperti itu karena sebelumnya ia trauma karena tau-tau setelah sadar sudah berada di tempat asing.
“Aku akan mengikuti pangeran dengan patuh, jadi jangan melakukan hal yang buruk padaku.” Ucap Aelfric dengan gaya bicara yang aneh.
“Tapi sebelum itu biarkan aku berpamitan dengan leathina.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Edwrad, Aelfric langsung kembali pada Leathina. “Leathina, aku akan kembali lagi untuk mengunjungimu nanti.” Ucapnya kemudian membungkuk hendak mencium punggung tangan Leathina.
“Kau lama!” Ucap Edward kemudian kembali menarik kerah baju Aelfric yang belum sempat menyelesaikan apa yang baru ingin ia lakukan.
“Kau tidak berperasaan, dasar iblis!” Gumam Aelfric pelan dan kemudian hanya pasrah diseret oleh Edward.
Leathina hanya tersenyum kemudian melambaikan tangannya melepas kepergian Aelfric dan Edwrad. Sebenarnya Leathina merasa kasihan dengan Aelfric tapi tidak ada yang biasa ia lakukan, ia belum bisa berdebat dengan keadaanya sekarang.
“Kakak kemarikan tanganmu lagi.”
“Diam sebentar, Leathina.”
“Huh, Nicholas? Nora? Apa yang kalian lakukan sekarang?” tanya Leathina saat Nora kembali meraih tangannya dan menggosok punggung tangan leathina lagi, sementara Nicholas mengusap rambutnya dimana tadi Edwrad menyentuhnya.
“Kenapa sekarang aku merasa semua orang sangat sensitif?” batin leathina yang merasakan suasana baru setelah ia membuka matanya.
...***...