I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 170



“Huff... tidak ada kemajuan dalam penyelidikan yang aku lakukan.” Gumam Leathina kemudian menghembuskan nafas panjang dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidurnya.


“Aku beberapa hari telah terus mencari informasi mengenai orang-orang yang aku curiga berperan penting dalam tuduhan pemberontakan ini, tapi tidak ada informasi yang terlalu penting yang ku dapat. Aku malah mendapat informasi dari beberapa bangsawan yang melakukan perselingkuhan dengan bangsawan lainnya atau dengan pelayannya sendiri. Apa informasi rendahan seperti ini bisa aku gunakan ya?” gumam Leathina.


“Apa aku harus menyamar jadi wanita nya hingga bisa mengorek informasi dari mereka, aku dengar mereka sering datang ke rumah malam” Gumam Leathina kemudian menutup matanya mencoba menenangkan pikirannya.


“Kau ingin menjadi wanitanya siapa?”


Seseorang tiba-tiba saja muncul di ruangan Leathina.


“Woah!”


“Kau mengejutkanku?” jerit Leathina kemudian langsung terperanjat karena terkejut seseorang tiba-tiba saja muncul di dalam ruangannya tanpa ia sadari.


“Awch!”


“Leathina! Kau tidak apa-apa?”


Karena sangat terkejut Leathina malah reflek mundur menjauh hingga tidak ia sadari tidak ada lagi tempat di belakangnya dan jatuh dari tempat tidur.


“Aku kesakitan, ini semua karena kamu Zeyden. Kenapa kamu tiba-tiba muncul di ruangan orang lain secara mendadak seperti ini?!” Seru Leathina geram karena dikejutkan oleh Zeyden.


“Ah, maafkan aku. Rencananya aku ingin sampai di depan ruangan mu tapi ternyata prediksiku salah dan sihir teleportasiku malah sampai di sini.” Jawab Zeyden sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kau tidak ingin menolongku?” ucap Leathina ketus dan masih berbaring di lantai.


Leathina mengangkat tangannya agar Zeyden menariknya dan membantunya bangun.


“AH, iya, iya, maafkan aku.” Ucap Zeyden dan dengan panik segera menarik tangan Leathina dan membantunya berdiri.


“Ekh!”


Zeyden terperanjat kaget saat ia telah menarik Leathina dan membantunya berdiri, tapi Leathina malah menariknya kembali hingga mempersempit jarak di antara keduanya.


“Le- leathina?” ucap Zeyden gugup.


“Kau!” Ucap Leathina mengintimidasi Zeyden.


“I- iya?”


“Sekali lagi kau masuk sembarangan seperti ini aku akan membuat mu keluar tanpa kaki!” Ancam Leathina kemudian langsung mengencangkan tarikannya dan kemudian setelah zeyden berada di dalam jangkauannya Leathina langsung menarik kerah bajunya dan menarik Zeyden turun hingga Zeyden pun kesulitan bernafas.


“Le- leathina, kau tidak berniat benar-benar ingin membunuhku kan?” tanya Zeyden dengan senyuman canggung karena Leathina yang menatapnya dengan tatapan dongkol.


“Apa maksudmu, aku tentu saja tidak berani untuk membunuhmu, mungkin aku hanya akan menghukum mu.” Jawab Leathina.


“Bisakah kau melepaskan ku terlebih dahulu dan berbicara Leathina?”


“Kau!” ucap Leathina lagi kemudian memicingkan matanya menatap Zeyden dengan serius.


“I-iya apa lagi Leathina, ini betul-betul murni hanya kesalahan teknis.”


“Kau pasti memikirkan ku hingga berakhir berteleportasi di dalam ruangan ku karena sangat ingin melihatku kan?!”


“Kau terlalu percaya diri aku bilang ini hanya kesalahan, semua orang wajar melakukan kesalahan bukan?”


“Ah, sudahlah. Dasar mesum!” Ucap Leathina kemudian menghela nafas panjang dan akhirnya melepaskan Zeyden dari cengkramannya.


“Hei! Aku bilang ini hanyalah kesalahan!” bantah Zeyden tidak setuju dengan pernyataan Leathina.


“Iya, iya, tuan penyihir. Aku paham in adalah kesalahanmu. Jadi jangan teriak lagi, kau bisa membuat gendang telingaku pecah tahu.”


“Nah, betul kau akhirnya paham, ini hanya sebuah kesalahan.”


“Apa yang membuatmu datang kemari Zeyden?”


“Itu aku datang untuk menjenguk mu, aku mendengar kabar bahwa beberapa hari yang lalu Yasmine datang dan menyerangmu. Apa kau baik-baik saja?”


“Iya aku baik-baik saja, tidak perlu terlalu mencemaskan ku cemaskan saja dirimu sendiri karena jika duke atau Nicholas melihatmu yang tiba-tiba berada di ruangan ku seperti ini mungkin mereka akan langsung memburumu.”


“Ini betul-betul tidak aku sengaja!”


“Iya aku tahu, jadi untuk mencegahnya kau dilarang untuk memikirkan aku.”


“Aku bilang aku tidak memikirkan mu, ini betul-betul kesalahan!”


“Kalau begitu keluarlah atau kembali sekarang jika ini benar-benar hanyalah sebuah kesalahan kau menganggu waktu istirahatku.” Ucap Leathina kemudian duduk kembali di pinggiran tempat tidurnya.


“Leathina kau terluka, kenapa duke tidak memanggil Andy untuk menyembuhkan mu?” tanya Zeyden ketika melihat kaki Leathina diperban.


“Ini bukan luka yang serius dibiarkan pun akan sembuh sendiri.”


“Tapi Leathina aku tidak tahu apakah ini akan menyinggung mu atau tidak tapi aku benar-benar penasaran dan ingin mengetahuinya.”


“Apa itu?” tanya Leathina.


“Bukankah, kamu mempunyai kemampuan sihir penyembuh? Waktu itu walaupun terasa samar aku melihatmu menggunakannya untuk menyembuhkan adik dari mantan pelayan pribadimu yang terluka.”


“Ah, itu! Kau ternyata benar merasakannya, aku tidak terkejut tapi hanya saja aku tidak suka berurusan denganmu.” Gumam Leathina sambil mengingat kembali dimana Zeyden merasakan sihir yang ia gunakan.


“Aku minta tolong padamu Zeyden tolong rahasiakan hal ini, aku tidak ingin banyak orang yang mengetahuinya.”


“Kenapa? Bukankah hal ini bagus untukmu?”


“Aku hanya tidak suka menarik perhatian. Lagi pula jika banyak orang yang mengetahuinya dan hal ini sampai di telinga raja Daylend aku mungkin akan berakhir menjadi dokter pribadinya atau dia akan menyimpan ku sendiri untuk menggunakan kemampuanku hanya untuk kerajaan yang lebih parah dia mungkin akan langsung menikahkan ku dengan Yardley karena ingin aku menjaga anaknya yang ceroboh itu. Pokonya kau tidak boleh memberitahu orang lain tentang kemampuanku ini, lagi pula ini juga bukan hal yang terlalu langka masih ada beberapa orang yang mempunyai kemampuan yang sama bukan.”


“Ucapanmu yang terakhir memang masuk akal, tapi kenapa kau bisa seyakin itu jika raja akan menaruh perhatian lebih padamu?”


“Tentu saja karena dia menyukaiku, dia bahkan menawarkan aku menjadi putrinya haha.” Jawab Leathina yang diselingi dengan candaan membuat Zeyden hanya bisa tersenyum melihatnya.


“Leathina apa sekarang kau benar-benar tidak lagi tertarik pada pangeran Yardley? Maksudku bukankah dulu kau sangat tergila- gila padanya?”


“Hais! Kenapa kau tiba-tiba mengajukan pertanyaan mengesalkan seperti itu Zeyden?”


“Aku hanya penasaran, mengingat kabar tentangmu yang pasti akan selalu menjadi topik utama pembicaraan di seluruh kerajaan terutama kabar yang mengatakan bahwa kau sangat tergila-gila dengan pangeran Yardley.”


“Duh, kenapa orang ini tiba-tiba mengungkit hal memalukan seperti itu sih. Jika itu aku, aku pasti tidak akan melakukannya.” Batin Leathina.


“Apa maksudmu? Ummm.. yah memang dulu aku menyukainya tapi setelah segala usaha yang aku lakukan untuk membuatnya menyukaiku hanya dibalas dengan perlakuan yang tidak pantas aku menyerah, bisa dibilang aku sekarang mengetahui dimana tempat seharusnya aku berada jadi aku menyerah.” Jawab Leathina dengan gugup karena malu membayangkan masa lalunya yang menyedihkan telah menjalani cinta sepihak.


“Ah, jadi begitu. Syukurlah.” Ucap Zeyden kemudian tersenyum puas mendengar jawaban dari Leathina.


“Eh, apa maksudmu bersyukur seperti itu?” tanya Leathina menyelidik karena curiga pada Zeyden.


“Leathina!” panggil Zeyden.


“Apa? Apa lagi sekarang? Kau dari tadi terus memanggilku, berhenti menganggu ku dan kapan kau keluar dari sini?”


“Lihatlah, aku terluka.” Ucap Zeyden sambil menunjukkan luka gores karena tadi Leathina menarik kerah bajunya dengan cukup keras hingga menggores kulitnya.


“Jadi?” Tanya Leathina.


“EH? Kenapa harus aku?”


“Karena kau yang melukaiku jadi harus kau yang bertanggung jawab!”


“Kau kan punya Andy, jadi pulang saja dan suruh Andy mengobati mu.”


“Tidak, sihir Andy terlalu lemah akan sulit baginya untuk mengobati lukaku, cepat obati aku.” Zeyden memaksa Leathina untuk mengobatinya.


“Hei! Kanapa kau semakin menyebalkan sih?! Lukamu itu hanya luka goresan, itu bahkan belum bisa di sebut luka untukku.”


“Brak!”


“Leathina! Aku mendengar suara orang lain dari ruanganmu!”


Tiba-tiba pintu ruangan Leathina didobrak oleh Nicholas dan Nora yang kebetulan datang berkunjung untuk melihat kondisi Leathina.


“Apa ini?” ucap Nicholas yang terkejut melihat seorang pria yang berada dalam ruangan Leathina.


“Nicholas, Nora kau datang?” sapa Leathina yang canggung bisa ia bayangkan apa yag akan terjadi selanjutnya.


“Kau! Kanapa kau menarik kakakku seperti itu?! Tanya Nicholas dingin.


“Ah, kau salah paham. Ini hanya... aku hanya membantu Leathina berdiri, kau lihat kakinya masih terluka.” Zeyden langsung melepaskan Leathina dan memperbaiki pakaian Leathina yang tadi ia tarik.


“Kenapa tidak ada penjaga yang melaporkan kehadiranmu dan tidak ada yang melihat tuan Zeyden datang?” tanya Nora sambil menatap Zeyden dengan curiga.


“Astaga, aku lupa ada pertemuan penting di istana yang harus aku hadiri, kalau aku terlambat aku bisa kena masalah. Aku pamit dulu, sampai jumpa Leathina dan untuk kalian berdua sampaikan salamku untuk duke.” Ucap Zeyden kemudian langsung menghilang.


“Hei! Mau kemana kau!” teriak Nicholas mencoba menghentikan Zeyden tapi sayangnya Zeyden telah lebih dulu menghilang.


“Dia menggunakan kesempatan dalam kesempitan, sialan!” umpat Nicholas dan langsung datang menghampiri Leathina.


“Apa kau tidak apa-apa Leathina?” tanyanya kemudian memeriksa Leathina dengan memutarnya hampir tiga kali untuk memeriksa apakah Zeyden melakukan sesuatu yang aneh pada Leathina.


“Aku baik-baik saja Nicholas.” Jawab Leathina. “Tapi apakah kau akan terus membuatku berputar-putar seperti ini? Ini membuatku agak sedikit pusing.”


“Ah, untunglah tidak ada yang terjadi padamu.” Gumam Nicholas tidak terlalu memperdulikan komentar Leathina.


“Kakak apakah kau benar-benar tidak apa-apa? Apa oang itu melakukan sesuatu padamu?” tanya Nora khawatir.


“Aku baik-baik saja Nora.”


“Kenapa orang itu bisa berada di dalam ruanganmu Leathina?” Tanya Nicholas kemudian kembali memeriksa seluruh isi ruangan Leathina takut jika zeyden meletakkan sesuatu yang berbahaya.


“Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba saja muncul di dalam ruanganmu.” Jawab Leathina kebingungan.


“Tapi, apa yang membawa kalian berdua datang kemari?”


“Kami hanya ingin berkunjung, saat aku berjalan ke sini kakak Nicholas juga ternyata akan ke sini untuk menemui Kakak Leathina jadi kami datang bersamaan.”


“Jadi seperti itu.”


“Leathina aku dengar beberapa hari yang lalu ayah menemukan sesuatu yang aneh di dalam ruanganmu, apa kau tidak ada masalah?”


“Tentu saja tidak ada, soal itu aku juga tidak tahu karena aku tertidur dengan pulas malam itu hingga tidak bisa merasakan apa-apa.”


“Apa kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu Leathina?” tanya Nicholas menyelidik.


“Menyembunyikan sesuatu? Maksudmu seperti apa Nicholas?”


“Misalnya ada  seseorang yang mencoba menyerangmu tapi kau menyembunyiknnya dan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya karena takut merepotkan orang lain.” Jawab Nicholas yang masih mencurigai Leathina.


“Tidak ada yang seperti itu, kalian berdua terlalu mengkhawatirkan aku. Aku benar-benar sudah tidak apa-apa sekarang, aku sudah terbiasa bergerak bahkan aku pun sudah bisa bertarung kembali.”


“Kau latihan lagi?!” seru Nicholas yang terkejut dengan perkataan Leathina.


Leathina mengangguk kemudian tersenyum mengiyakan pertanyaan dari Nicholas.


“Ayah kan sudah mengatakan jangan melakukan aktivitas yang berat seperti berlatih!”


“Tapi jika tidak laithan aku mungkin tidak akan bisa sembuh dengan cepat.”


“Tapi tetap saja, kau masih lemah.”


“Jangan terlalu kekanakan Nicholas, kau yang paling tahu lebih dari siapapun bahwa aku bukan orang yang lemah dan mudah sakit kan.”


“Iya, tapi ...”


“Duh... kenapa kau tambah lucu begini jika mengkhawatirkan seseorang, aku jadi bingung ingin menanggapinya seperti apa mengingat dulu kau sangat membenciku jadi aneh rasanya jika kau terlalu memperhatikanku seperti ini Nicholas.” Ucap Leathina dibarengi dengan candaan.


Nicholas terhentak saat mendengar kalimat Leathina, walaupun ia tahu bahwa Leathina tidak memiliki maksud apa-apa dan hanya bercanda tapi pada kenyataannya memang benar bahwa dulu Nicholas tidak menyukai Leathina dan sangat membencinya.


“Ma- maafkan aku.” Ucap Nicholas pelan sambil tertunduk karena tidak berani melihat wajah Leathina.


“Hei! Hei! Aku hanya bercanda Nicholas, kau terlalu sensitif.” Ucap Leathina sambil menepuk pelan bahu Nicholas untuk menyemangatinya.


“Tapi pada kenyataanya aku dulu memang tidak memperlakukan mu dengan baik, aku bahkan beberapa kali berkata kasar dan melukaimu Leathina.”


“Dulu aku sangat menyukai Leathina, tapi seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa Leathina bagaikan makhluk tak terlihat di mansion yang besar ini dia seolah-olah transparan itu karena para pelayan seringkali mengabaikannya dan semua orang membencinya ayah pun tidak terlalu memberinya perhatian dan karena semua yang aku lihat itu aku pun menjadi terpengaruh dan ikut membenci Leathina. Padahal aku tidak tahu apa alasanku membencinya aku hanya mengikuti semua orang.” Batin Nicholas mencoba mengingat kembali apa alasannya hingga membenci Leathina.


Nicholas semakin terpuruk saat mengingat masa lalunya dengan Leathina, ia semakin sedih saat menyadari bahwa sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk membenci Leathina hanya keran Leathina memiliki ibu yang berbeda.


“Maafkan aku Leathina.” Gumam Nicholas pelan tapi masih bisa di dengar dengan baik oleh Leathina.


“Apa yang membuatmu menjadi melow seperti ini Nicholas? Kau membuatku merinding, apa kau betul-betul Nicholas yang aku kenal atau apa ka sedang sakit? Katakan aku akan langsung memberitahukan pelayan untuk mengobati mu.” Ucap Leathina kemudian menyentuh dahi Nicholas untuk memeriksa keadaan Nicholas.


“Aku tidak sakit! Jangan memperlakukanku seperti anak kecil!” teriak Nicholas yang malu karena Leathina membalasnya dengan candaan padahal ia sudah mencurahkan isi hatinya barusan.


“Kamu tidak seharunya bereaksi seperti ini? Semua orang akan langsung memeluk adiknya atau bahkan memberi sepatah kata kalimat penyemangat, tapi reaksi mu benar-benar aneh dan apa-apaan istilahmu itu, memangnya apa artinya me.. mel.”


“Melow kakak Nicholas.” Nora membenarkan kalimat Nicholas.


“Nah itu, kau hanya membuatku malu saja padahal tadi aku bersungguh-sungguh meminta maaf padamu.”


"Bukankah seorang kakak akan selalu bisa memaklumi adiknya? Ucap Leathina dan membuat Nicholas tertegun beberapa saat karena mendengar kalimat yang dikatakan Leathina.


"Kenapa ekspresi mu seperti orang bodoh Nicholas? Apa kau benar-benar Nicholas?" Ucap Leathina lagi dibarengi dengan candaan karena ingin mengubah suasana yang tiba-tiba menjadi muram.


"Kenapa kau selalu bercanda sih!" Seru Nicholas marah karena Leathina tidak pernah serius. "Kau dulu sangat dingin tersenyum saja tidak pernah kenapa sekarang jadi aneh seperti ini!" Nicholas marah karena malu Leathina terus mempermainkannya.


“Nah, ini baru Nicholas yang aku kenal.” Ucap Leathina yang merasa lega ketika Nicholas malah memarahinya dan meneriakinya seperti sebelumnya.


“Kau membuatku merinding jika mengucapkan kata-kata lembut untukku.” Ucap Leathina dengan nada candaan membuat Nicholas semakin dongkol melihatnya kerena Leathina tidak menganggapnya serius.


“Aku takut jika semua orang menjadi baik padaku dan tiba-tiba dalam sekejap mata langsung membenciku seperti sebelumnya, itu membuatku seribu kali menjadi ketakutan dibandingkan harus bertarung. Akan lebih baik jika orang-orang masih menganggapku tidak penting seperti dulu, setidaknya tidak akan terlalu sakit jika nanti tiba-tiba mereka berbalik meyerang ku dan kembali membenciku. Aku pun tidak akan merasa bersalah jika harus membalas nantinya." Batin Leathina saat melihat semua orang kini telah berubah dan berbanding terbalik dengan bagaimana dulu mereka memperlakukan Leathina.


...***...