
Tidak ada lagi monster yang berani mendekati tempat persembunyian Leathina karena perkelahian tadi, kebanyakan monster lainnya memilih untuk menghindari masalah membuat Leathina menjadi sedikit lebih tenang dibuatnya karena tidak ada lagi makhluk mengerikan yang berlalu lalang di sekitar tempat persembunyiannya.
Dengan hati-hati Leathina turun dari atas pohon tempatnya bersembunyi kemudian sengaja membalurkan darah monster yang berceceran di pakaiannya untuk menyamarkan bau manusianya agar tidak mudah untuk ditemukan.
“Ini menjijikan dan bau tapi apa boleh buat nyawaku lebih penting.” Gumam Leathina setelah selesai membaluri darah monster di pakaiannya dan mendapati dirinya benar-benar berbau seperti monster sekarang.
Leathina menyadari bahwa tempatnya sekarang bukanlah persembunyian yang bagus serta tidak aman lagi bisa saja dua kelompok monster tadi datang kembali untuk mengambil mayat temannya yang telah meninggal ataupun mencari barang-barangnya yang tercecer akibat perkelahian yang mereka lakukan.
Cepat-cepat Leathina kembali melanjutkan perjalanannya dengan susah payah karena kesulitan untuk melihat di malam hari.
“Ini tempat istirahat yang cukup bagus.” Gumam Leathina saat tidak sengaja menemukan tumpukan batu besar dan memiliki banyak lubang.
Leathina yang masih berhati-hati kemudian mengambil ranting kayu yang cukup panjang kemudian memeriksa lubang-lubang tersebut satu-persatu sebelum memasukinya sebagai tempat beristirahat, Leathina takut jika ternyata ada mahkluk mengerikan yang ternyata sudah ada di dalam sana sebagai tempat tinggal
“Ini aman.” Gumam Leathina lagi setelah memeriksa dan tidak menemukan adanya tanda-tanda bahaya.
“Akh!”
Pekik Leathina saat memasukkan tangannya ke dalam lubang untuk memeriksa sekali lagi namun dikagetkan dengan segerombolan kelelawar yang tiba-tiba keluar dari lubang yang di periksanya.
Leathina yang kaget langsung terjatuh ke tanah tapi tidak langsung kembali berdiri karena ia membiarkan semua kelelawar pergi terlebih dahulu jika tidak maka dia bisa diserang oleh para kelelawar itu.
“Ah! Sial sekali.” Gumam Leathina pasrah karena tidak bisa lagi bergerak akibat kelelahan sepanjang hari berjalan tanpa arah.
“Aku tidur disini saja lah.” Batinnya saat merasakan punggungnya sedikit lebih hangat karena tertidur di atas dedaunan kering yang tebal kemudian dengan sengaja ia menimbu dirinya sendiri dengan dedaunan kering sengaja menyembunyikan dirinya sekaligus sebagai penghangat dari dinginnya malam di hutan.
Saking kelelahannya Leathina tidak lagi memikirkan keadaannya yang tidur berselimut dedaunan kering.
“Aku lapar, kedinginan, dan kelelahan, dasar naga gila menculik orang hanya karena bosan dengan kehidupannya.” Leathina terus menggerutu ditengah-tengah kantuknya dan matanya pun perlahan-lahan mulai tertutup.
“Ada yang mendekat.” Batin Leathina saat samar-sama mendengar suara jejak kaki yang sepertinya sedang berjalan ke arahnya tapi karena sangat kelelahan dan sudah setengah tertidur Leathina tidak lagi menghiraukannya.
“Belum mati ya?” samar-sama Leathina mendengar suara seorang laki-laki kemudian juga melihat bayangan orang yang sedang bediri melihatnya yang sedang tertidur di selimuti dengan dedaunan kering, semakin Leathina berusaha menajamkan penglihatan ya untuk mencari tahu semakin kabur yang ia lihat kemudian menjadi benar-benar tidak sadarkan diri.
“Hei! Bangun!” pinta sang naga dengan wujud manusianya saat melihat Leathina sama sekali tidak bergerak.
“Kau terluka?” Tanyanya lagi tapi tidak ada balasan.
Dengan terpaksa ia menarik tubuh Leathina keluar dari tumpukan dedaunan kemudian melihat banyak darah monser yang menempel di pakaian Leathina.
“Pantas saja aku tadi kesulitan mencarimu ternyata kau sengaja menyamarkan baumu dengan bau monster, janga-jangan yang membuat para monster tadi bertarung antar kelompok karena kamu.” Gumamnya sambil menggendong Leathina dan membawanya kembali ke kediamannya.
“Kau siapa?” Ucap Leathina saat berhasil mengumpulkan sedikit kesadarannya.
“Menurutmu siapa?”
Saat Leathina baru akan menjawab kesadarannya kembali hilang kemudian tertidur pulas di dalam gendongan sang naga.
“Kau sungguh merepotkan.” Gumamnya sambil mempercepat dirinya agar segera sampai di mansionnya.
...
“Akh! Tidak!” Teriak Leathina kemudian langsung terduduk.
Leathina menjadi kebingungan saat mendapati dirinya kembali berada di dalam ruangan yang telah ia tempati selama tujuh hari terakhir dan berhasil membuatnya panik.
Cepat-cepat Leathina melompat turun dan berlari keluar kembali berusaha untuk melarikan diri sebelum seseorang mengurungnya lagi.
“Sial, kenapa aku kembali kesini.” Gerutu Leathina kesal mendapati dirinya kembali berada di kediaman naga gila yang menculiknya.
“Kau sudah bangun!” terdengar suara laki-laki yang menyapa Leathina membuat Leathina kembali terkejut untuk kesekian kalinya.
“Ka-kau kenapa kau membawaku kembali.” Tanya Leathina curiga.
“Kau sekarat semalam jadi aku membawamu ke sini karena aku kasihan.”
“Aku tidak sekrat aku kelelahan.”
“Oh! Benarkah sepertinya aku yang sudah salah paham.”
“Te-teriakasih telah membawaku kesini tapi hari ini aku benar-benar harus kembali.”
“Baiklah silahkan.”
“Kalau begitu bawa aku ke tempat kau menemukanku, aku sudah menempuh perjalana jauh dan aku tidak mau mengulanginya lagi jadi untuk sekarang bawa saja aku ke tempat kau menemukanku semalam aku bisa menemukan jalan pulangku sendiri.”
“Kenapa harus aku? Bukankah kau sendiri yang mau kembali.”
“Itu karena kau yang... ah! Sudalah kalau begitu biar saya yang akan pergi sekarang, tidak perlu mengganggu ku lagi.” Ucap Leathina kesal kemudian segera berjalan keluar.
“Kau tidak mau makan dulu? Sepertinya dari kemarin kau belum makan sama sekali.”
“Aku tidak lapar.” Jawab Leathina dingin.
“Sayang sekali padahal para pelayan telah menyiapkan banyak makanan, kau tidak mencium aromanya.” Gumamnya pelan sengaja memanas-manasi Leathina.
“Makan saja sendiri.” Balas Leathina.
“Duh karena dia menyembukan tentang makanan secara otomatis otakku dan perutku yang lapar jadi terpancing dan langsung bisa mencium banyaknya aroma makanan di udara.” Batin Leathina kesal tapi cepat-cepat ia tepis karena tidak ingin malu di depan musuhnya karena makanan, walaupun sebenarnya yang dikatakan sang naga benar bahwa sekarang perutnya sedang kelaparan karena belum memakan apa-apa semenjak kemarin karena terlalu terbawa emosi.
Saat Leathina baru saja beberapa langkah pergi meninggalkan ruangannya tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan memenuhi isi ruangan dari perutnya sendiri membuatnya menjadi malu setengah mati dan langsung mempercepat langkah kakinya pergi.
“Makan saja dulu sebelum pergi.” Ucap sang naga sekali lagi menawarkan. “Kau tidak akan bisa kembali hidup-hidup jika pergi dengan tubuh kelaparan.” Sambungnya lagi masih menawarkan makanan pada Leathina.
Leathina terdiam sejenak tekadnya yang tadi sudah ia bangun setebal mungkin menjadi terkikis sedikit demi sedikit karena perkataan sang naga terlebih bahwa ia memanglah lapar karena tidak makan semenjak kemarin.
“Ba-baiklah aku hanya akan makan sebentar lalu langsung pergi.” Ucap Leathina terbata-bata karena menahan malu.
Dengan langkah lambat ia mengikuti langkah kaki sang naga dari belakang menuju ruangan makan dan benar saja di sana sudah tersedia berbagai makanan yang memenuhi meja makan membuat perutnya semakin bergemuruh karena kelaparan.
“Makanlah.” Ucap sang naga mempersilahkan setelah Leathina duduk.
“Te-terimakasih makanannya.” Ucapnya malu-malu kemudian menyuapi dirinya sendiri.
Leathina memakan makanan yang dihidangkan untuknya sedikit demi sedikit karena masih merasa malu kemudian lama-lama makannya semakin lahap karena perutnya yang lapar melupakan harga dirinya di depan naga gila yang sudah menculiknya itu.
“Terimakasih atas makanannya, saya pamit pergi.” Ucap Leathina sopan setelah meneyelesaikan makannya kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Kau betulan mau kembali?”
“Iya tentu saja, untuk apa aku tinggal disini bukankah kau bilang aku ini merepotkan berisik dan gila.”
“Bukan itu maksuku, tapi berbahaya jika kau nekat kembali melewati hutan itu bukan.”
“Aku punya caraku sendiri dan aku pasti bisa kembali jadi tidak usah menghkawatirkanku.” Ucap Leathina yakin kemudian kembali beranjak.
“Aku akan mengantarmu.” Ucap sang naga tiba-tiba membuat Leathina terdiam karena terkejut.
“Bisa kau ulangi lagi apa yang tadi kau ucapkan?” Pinta Leathina berusaha meyakinkan dirinya.
“Aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu.” Jawabnya lagi memperjelas.
“Benarkah?!” Leathina langsung tersenyum bahagia kemudian cepat-cepat menariknya agar segera diantar pulang. “Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo cepat antar aku pulang.” Ucapnya bersemangat.
“Tapi dengan sebuah syarat.”
Seketika Leathina langsung terdiam setelah mendengar adanya syarat sebagai imbalan untuk diantar pulang.
“Aku akan mengantarmu pulang karena aku yang membawamu kesini secara paksa tapi kau harus menyembuhkan luka ku dulu karena kamu lah yang melukaiku.” Ucapnya sambil menunjuk ke matanya yang masih terluka.
“Lupakan aku bisa pulang sendiri.” Ucap Leathina yang kembali bersikap dingin.
“Naga gila ini pasti punya maksud tersembunyi dengan syarat yang ia ajukan, pokonya aku tidak boleh dibodohi lagi olehnya.” Batin Leathina curiga dengan tindak tanduk sang naga yang tiba-tiba berubah baik dan sukarela ingin mengantarnya kembali ke tempat asalnya.
“Ini buruk.” Batin Leathina yang mulai ragu-ragu, tekadnya yang tadi sudah kokoh menjadi rapuh setelah mendengar perkataan sang naga terlebih ia juga sudah melihat secara langsung keadaan hutan yang akan ia tempuh sangatlah mengerikan jika pergi tanpa persiapan perbekalan dan persenjataan itu sama saja seperti bunuh diri.
“Bagaiaman? Ini bukan kesepakatan yang buruk kau bisa pulang dengan selamat dan aku bisa sembuh.”
“Ba-baiklah, aku akan langsung menyembukanmu dan kau harus langsung mengantaku pulang setelah kau sembuh.”
“Baiklah pasti akan aku tepati sebelum itu perkenalkan namaku Almo.” Ucap sang naga memberitahukan Leathina namanya.
“Namaku Leathina, aku juga sudah berkenalan dengan beberapa pelayanmu saat kau tidur seperti orang mati di depan mansion, Tuan naga Almo.”
“Benarkah? Kau cepat akrab ternyata padahal mereka membenci manusia karena punya trauma terhadap manusia, kau tahu manusia sering menyiksa manusia setengah hewan seperti mereka bahkan memperdagangkan mereka.”
“Ah, be-benarkah.” Ucap Leathina gugup merasa bersalah mewakili rasnya sebagi manusia.
“Tidak apa-apa karena sepertinya mereka menyukaimu dan panggil aku Almo.”
“Ba-baiklah Tuan Almo.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi Leathina langsung menyembuhkan luka yang ada di tubuh sang naga namun sayangnya menyembuhkan makhluk legenda seperti naga ternyata memerlukan energi tiga kali lebih banyak dari pada menyembuhkan manusia biasa membuat Leathina terpaksa harus tinggal lebih lama dan rutin melakukan pengobatan.
“Waktunya pengobatan.” Ucap Leathina saat memasuki ruangan Almo.
“Wah! Kau tidak pernah terlambat ya.” ucapnya sumringah saat melihat Leathina masuk ke ruangannya dengan wajah malas.
“Tentu saja semakin cepat aku menyembuhkanmu semakin cepat juga aku bisa pulang sudah berbulan-bulan aku terjebak disini karena kau tidak kunjung sembuh-sembuh.”
“Itu kan salahmu yang tidak bisa menyembuhkanmu.”
“Aku tidak bisa menyembuhkanmu karena aku harus mengeluarkan banyak energi tahu.”
“Sebenarnya untuk apa kau kembali bukankah tidak banyak orang yang menyukaimu di tempat tinggalmu kan.”
“Dari mana kau tahu?”
“Aku bisa tahu semua hal selama aku masih hidup dan bagaimana caranya aku tahu itu rahasia.”
Leathina mulai melakukan pengobatan sambil mengobrol dengan Almo, sudah lebih dari tiga bulan lamanya Leathina terjebak di kediaman sang naga karena proses pemulihannya yang lama.
“Lukamu sudah hampir sembuh, ini hanya tersisa goresan saja tidak bisakah kau mengantarku pulang sekarang aku sudah terlalu lama tinggal disini.”
“Bukannya aku tidak mau mengantarmu pulang tapi ini demi keselamatannmu.”
“Kenapa? Memangnya ada apa denganku?”
“Perempuan yang membangunkanku waktu itu menceritakan kisahnya padaku dan setelah melihatmu aku jadi tahu ada sedikit alur yang tidak berjalan pada tempatnya jiwamu bukan dari dunia ini bukan?”
Leathina langsung terdiam keringat dingin mulai membasahi wajahnya setelah mendengar perkataan Almo barusan.
“Memangnya apa yang salah denganku? Aku juga hanya berusaha untuk tetap hidup.”
“Kapan aku menyalahkan mu? Hanya saja sebaiknya untuk sementara menjauhlah dari sana bukankah banyak kejadian aneh yang terjadi di luar kendali setelah kau selamat.”
“Dari mana kau tahu?!” Tanya Leathina yang terkejut karena Almo mengetahui banyak rahasianya.
“Kau tahu setiap daerah mempunyai penjaganya masing-masing begitu juga dengan dimensi yang di tempati juga punya pelindungnya masing-masing mukin aku masuk dalam golongan itu makannya aku bisa tahu.”
“Kau terdengar begitu hebat tapi kau tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri dan menjebakku disini.” Celoteh Leathina kesal.
“Aku kan juga makhluk yang diciptakan untuk tinggal disini sama sepertimu jadi tentu saja aku punya sedikit kekurangan.”
“Kalau bergitu pulangkan aku sekarang.”
“Kau sebegitu inginnya kembali ya?”
“Tentu saja! Keluargaku pasti sudah sangat khawatir denganku.”
“Kau benar-benar keras kepala ya, apa kau tidak memikirkan apa yang barusan aku katakan.”
“Aku tahu tapi tetap saja itu bukan salahku dan terjadi diluar kendaliku.”
“Maka dari itu sebelum takdir tragismu berakhir menjauhlah untuk sementara berdiam diri lah di suatu tempat, aku tahu itu bukan salahmu tapi penyebabnya adalah kamu. Karena kau mengubah takdir maka akan berimbas dengan yang lainnya, kejadian terakhir bahkan hampir memakan banyak korban.”
“Itu kan karena kamu tiba-tiba mengamuk disana.” Gumam Leathina pelan tapi gumamannya masih bisa di dengar oleh Almo.
“Itu karena aku harus menepati janji yang aku buat dengan perempuan itu. Tapi yang lebih penting cobalah berfikir lebih dalam lagi.”
“Aku tahu ini semua terjadi karena keberadaanku, tapi dia bilang aku boleh hidup sesukaku dan aku juga ingin hidup sesuai kemauanku hidup bebas tanpa harus dikekang koleh takdir kematian yang bahkan tidak jelas apa penyebabnya itu.” Ekspresi Leathina berubah murung memikirkan apa yang harus ia lakukan agar tidak lagi menimbulkan masalah.
“Kenapa kau tidak mencoba bersabar selama beberapa tahun pergilah kesuatu tempat dan kembali setelah takdirmu terlewatkan.”
“Sebenarnya aku sudah memikirkan itu sejak lama hanya saja aku belum menemukan wkatu yang tepat dan saat itu kau tiba-tiba datang menculiku dan merusak rencanaku.”
“Ah! Soal itu maafkan aku, jadi kau tetap ingin kembali?”
“Aku tidak akan kembali tapi sebagai gantinya bawa aku ke desa terdekat setidaknya aku harus mengirimkan kabar pada keluargaku agar mereka tidak perlu khawatir.” Ucap Leathina setelah memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.
“Jadi kau akan tinggal lebih lama disini?”
“Tentu saja tidak.” Jawab Leathina tanpa berfikir.
“Kenapa? Memangnya kau mau kemana? Bukankah disini kau juga merasa senang?”
“Tentu saja aku merasa nyaman tinggal disini tapi sejak awal aku memang berencana melakukan perjalananku sendiri.”
“Baiklah aku menghargai keputusanmu besok aku akan mengantamu ke desa terdekat.”
Setelah obrolan panjang Leathina dan sang naga Almo, Leathina memutuskan untuk tetap pergi sementara Almo menepati janjinya untuk mengantarkan Leathina ke desa terdekat.
“Kau seharusnya membawa lebih banyak uang dan emas lagi, aku masih punya banyak di gua ku yang lama.” Ucap Almo saat sampai di desa terdekat dengan Leathina.
“Ini sudah lebih dari cukup terimakasih Almo.”
"Aku akan menjadi sasaran empuk para perampok jika membawa banyak barang berharga." Batin Leathina kemudian melirik tasnya yang menggembung karena barang-barang yang dimasukkan Almo dan para pelayannya.
“Selanjutnya apa yang akan kau lakukan? Dan kau akan pergi kemana?”
“Pertama aku akan mengirim pesan ke keluargaku agar mereka tidak khawatir tentang keberadaan ku kemudian aku akan mulai melakukan petualanganku sendiri, baiklah sampai disini saja kau mengantarku Almo sekarang kembalilah.”
“Aku bisa ikut denganmu jika kau mau.”
“Jangan, siapa yang akan menjaga semua orang yang ada di mansion jika kau pergi terlalu lama kau tahu mereka semua pasti akan sedih jika kau tinggalkan.”
“Kalau begitu ambil ini, jika kau dalam keadaan darurat langsung kau pecahkan aku akan langsung datang padamu.” Ucap Almo sambil menyerahkan liontin berwarna merah pada Leathina.
“Apa ini?” tanya Leathina kemudian langsung mengenakan kalung dengan liontin merah yang diberikan Almo padanya gara Almo tidak kecewa.
“Warna merah yang ada di dalam liontin itu adalah darahku katika kau pecahkan aku bisa langsung sampai di tempatmu dimanapun kau berada.”
“Wah! Benarkah terimaksih Almo.”
“Bukan masalah, aku kan hebat.”
“Iya-iya tentu saja kau hebat sekali lagi terimakasih dan sampai jumpa Almo.”
“Hati-hati dalam perjalanannmu Leathina.”
Setelah perpisahan singkat yang mereka berdua lakukan Almo pun kembali ke tempat tinggalnya semetara Leathina langsung menuliskan surat untuk memberikan kabar tentang dirinya pada keluarganya di kerajaan.
Leathina tidak memberitahukan dimana sebenanya ia berada ia hanya menuliskan bahwa tidak perlu mengkahwatirkannya dan memberitahukan bahwa dirinya baik-baik saja kemudian langsung meninggalkan desa menuju ke desa selanjutnya untuk memulai perjalanannya, dengan perbekalan uang dan emas yang diberikan Almo padanya membuat Leathina tidak perlu repot-repot untuk bekerja.
...***...