I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 252



Namun pada keesokan harinya Leathina kembali mendapati adiknya Nora lebih lesu dari kemarin, kemudian beberapa hari kemudian adiknya mulai jarang bersekolah saat ditanya apakah ada masalah yang Nora katakan hanyalah bahwa dirinya sedang kelelahan dan butuh istirahat saja kemudian selanjutnya mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada masalah dengannya dia benar-benar hanyalah kelelahan.


‘Ada apa sebenarnya dengan anak ini, pasti telah terjadi sesuatu pada anak ini di akademi, hari ini saat dia pulang nanti pokoknya harus aku interogasi dia sampai dia mau jujur dan mengatakan yang sebenarnya.’


Leathina sudah bertekad namun kenyataan tak sesuai dengan harapannya saat Nora pulang Nora lagi-lagi melakukan hal yang sama seperti kemarin ia malah langsung mengunci diri di kamarnya dan tidak ingin bertemu dengan siapapun dengan alasan ingin beristirahat.


“Ada apa kakak Lea?” Tanya Nicholas yang melihat Leathina terus melamun.


“Nicholas apa kau tidak melihat sesuatu yang aneh pada Nora?”


“Maksud kakak sering mengunci diri dan jarang bermain lagi?” Tanya Nicholas dengan santai.


“Iya, bukankah dia menjadi aneh. Seingat Ku dia adalah anak yang paling ceria yang aku tahu.”


“Apa maksud kakak ? diam memang seperti itu dari dulu dia hanya bersikap kekanakan dan ceria jika berada di sekitar kakak Leathina.”


“Benarkah?!” tanya Leathina bingung.


‘Apa aku salah menilai anak itu?’


“Kalau kakak tidak percaya tanyakan saja pada orang lain selain aku, maka jawabannya pasti sama. Nora itu punya obsesi pada kakak dan dia hanya bersikap kekanakan jika ada kakak saja.”


“Baiklah kalau masalah itu, tapi belakangan ini Nora juga tidak ingin melihatku dan selalu mengunci diri di kamarnya bahkan jika aku datang ke kamarnya pun dia tidak mau keluar sama sekali.”


“Umm, mungkin dia sedang pusing masalah akademiknya. Kakak sendiri tahu kan di akademik banyak anak dari keluarga lain yang juga punya bakat dan kedudukan di sana penuh dengan persaingan makannya kadang-kadang ada anak yang bisa tiba-tiba berubah atau dia memasuki masa pubernya jadi kakak Lea tidak usah terlalu memikirkannya.”


“Baiklah kalau begitu.”


Leathina kembali ke kamarnya walaupun Nicholas berkata seperti itu tapi Leathina tetap merasa khawatir Leathina tahu bahwa Nora hanya bersikap kekanakan jika bersama dengan dirinya untuk mencari perhatian tapi seingat Leathina dulu nora tidak sampai mengurung diri seperti itu dan belakangan ini Nora bahkan tidak ingin lagi bertemu dengan Leathina.


‘Apakah aku yang terlalu berlebihan memikirkannya? Atau Nicholas benar Nora sedang memasuki masa pubernya jadi dia tidak suka lagi bermanja-manja dan haus akan perhatian orang dewasa, biarlah itu bagus dia jadi cepat beradaptasi menjadi dewasa.’


“Nona Leathina sedang memikirkan apa?” Tanya Anne juga heran melihat belakangan ini Leathina sering melamun.


“Ah! Anne kapan kau masuk?”


“Saya baru saja datang Nona Lea.”


“Benarkah.”


“Iya saya datang untuk mengganti seprai sebelum Nona Leathina tidur.”


“Ah! Baiklah terimakasih Anne.”


Leathina melompat turun dari tempat tidurnya dan berpindah ke sofanya.


“Tapi Anne menurutmu apa belakangan ini Nora terlihat bertingkah aneh?” Tanya Leathina ingin tahu pendapat Anne tentang adiknya Nora.


“Selama Nona Leathina tidak ada dia juga lebih banyak berdiam diri di kamar dan jarang keluar untuk bermain bersama teman-temannya, Kenapa tiba-tiba membahas tuan muda Nora?”


“tidak, aku hanya penasaran saja tapi bukannya Nora ananya selalu ceria ya?”


“Umm, bagaimana ya saya bilangnya sebenarnya Nora itu hanya bersikap seperti itu di sekitar Nona Leathina saja dari dulu dia anaknya memang pendiam.”


Leathina tidak bertanya lagi ia sibuk berfikir bagaimana Nora bisa seperti itu.


“Nah sprei nya sudah saya ganti, Nona tidurlah dan jika membutuhkan sesuatu panggil saya saja saya akan segera datang, jangan tidur terlalu lama ya kalau begitu saya keluar dulu.”


“Ah! Iya terimakasih banyak Anne.”


Anne membungkuk dengan sopan lalu segera keluar dari kamar Leathina.


Leathina melepas gaunnya dan mengganti dengan piyama yang sudah disiapkan Anne sebelum kelua tadi, kemudian bersiap untuk tidur.


“Besok aku akan mencoba menemui Nora lagi.” Gumam Leathina lalu terlelap tidur.


...


“Wah anak buangan!”


“Hahaha.”


Terlihat sekumpulan anak menertawakan salah satu temannya yang sedang duduk sendiri.


Terlihat anak yang diganggu itu hanya diam saja tidak peduli dengan ejekan anak-anak yang lain, anak itu hanya fokus pada mainan yang dipegangnya.


“Hei kau bisu ya!”


Plak


Saat anak-anak lain ingin merebut mainan yang sedang dimainkannya tiba-tiba datang seorang perempuan dengan pedang kayunya memukul satu-satu pantat anak-anak yang menganggu tadi.


“Hei! Siapa nama orang tua kalian? Kalia dari keluarga mana! Besok akan aku buat kalian tidak bisa lagi datang ke kerajaan.” tanya perempuan itu mengancam.


“Wah ada perempuan gila!” teriak semua anak-anak sambil menangis lalu berlarian mencari orang tuannya masing-masing.


“Hei kau kenapa tidak melawan?! Kenapa tidak kau pukul atau lempari mereka satu-satu, kau ini bodoh atau kenapa sih diganggu kok ga melawan dasar aneh!”


“Kakak.” Panggil anak itu yang akhirnya bersuara.


“Siapa kakakmu?!” Bentak perempuan tadi, “Menjijikkan! Sekali lagi kau memanggilku kakak ku potong lidahmu.” Tuturnya sarkas lalu pergi sambil mengomel.


“Apa kau pecundang, percuma ayahmu seorang Duke kalau kau lahir menjadi bodoh, sialan!”



“Wah!”


Leathina terbangun kaget.


“Perempuan gila mana yang menempati adiknya setelah diundang.” Tuturnya berusaha menstabilkan nafasnya.


“Apa barusan aku bermimpi masa lalu Leathina lagi? Dan jangan-jangan anak yang dikucilkan itu adalah Nora.”


Tak!


Tak!


“Apa! Apa, siapa itu?!” Leathina kembali dikejutkan saat terdengar jendela kamarnya diketuk seseorang.


“Tolong bukakan pintunya ini aku Edward, Leathina.” Bisik seseorang dari balik jendela.


“Edward?!”


Leathina langsung melompat turun dari kasur dan segera membuka jendela untuk Edward yang sekarang bergelantungan di luar.


“Untuk apa kau tengah malam datang kesini Edward.” Bisik Leathina panik. “Bagaimana jika para penjaga melihatmu?!”


“Tenang saja tidak ada yang melihatku datang kok!”


“Memang belum, tapi nanti bagaimana kalau ketahuan ayahku.”


“Tidak akan, a ku hanya mampir sebentar ada  yang ingin aku katakan.”


Tok


Tok


Tok


Tiba-tiba pintu kamar Leathina diketuk seseorang.


“Nona apa terjadi sesuatu?” tanya seorang penjaga.


“Hei! Apa yang kau lakukan, kau akan membangunkan Nona Leathina jika mengetuk pintunya sekeras itu.” Penjaga yang lain menegur rekannya.


“Tidak hanya saya aku mendengar suara pekikan dari dalam.”


“Itu pasti hanya halusinasi mu saja, lihat tidak ada jawaban dari Nona Leathina dia pasti masih tertidur ayo lanjutkan berpatroli jangan ganggu lagi.”


Kemudian keadaan menjadi hening kembali.


“Lihat Kan, aku tidak akan ketahuan.” Ucap Edward yang bangga dengan kemampuannya.


...***...