I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 50



“Kamu tampan, tapi tetap saja masih bodoh seperti saat di akademi dulu.” Setelah memberi komentar Leathina beranjak pergi meninggalkan Zeyden yang tertegun mendengar ucapan Leathina untuknya.


“Apa? Kenapa aku bodoh? Aku lulusan terbaik di akademi dalam jurusan sihir.” Zeyden berteriak memberitahu Leathina


“Apa kamu pikir aku bodoh dan tidak tahu bahwa kamu tidak bisa menggunakan sihir penyembuh, dengan kata lain aku tidak membutuhkanmu.”


“Iya benar aku tidak bisa menggunakan sihir penyembuh tapi aku bisa melihat rangkaian sihir dalam dirimu aku bisa membantu memperbaikinya bersama dengan Andy.”


Mendengar ucapan Zeyden Leathina menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Zeyden, sementara Zeyden segera beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju arah Leathina.


“Aku melihat ada aura sihir di dalam dirimu dan beberapa aura yang belum pernah aku lihat di jiwamu, warnamu berubah Leathina.”


“Omong kosong.” Setelah mendengarkan ucapan Zeyden, Leathina kembali meninggalkannya tapi Zeyden tetap saja mengikutinya dan mengocehkan hal – hal aneh.


Dalam ingatan Leathina yang dulu perasaan  Zeyden tidak banyak omong seperti ini, kenapa sekarang sudah seperti anak ayam yang tidak mau diam. Dia sudah sangat berubah padahal kemarin saat bertemu kesannya cuek.


“Salam Nona Leathina.”  Saat Leathina berusaha menghindari Zeyden, ia tidak sengaja berpapasan dengan Winter di koridor.


“Oh Winter, senang melihatmu di sini.”


Syukurlah dia mungkin bisa mengusir Zeyden agar tidak mengangguku lagi.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Zeyden?” Perhatian Winter kemudian tertuju pada Zeyden yang berdiri di samping Leathina.


“Winter bisakah kamu mengurusnya, maksudku dia mengikutiku dari tadi.”  Leathina berjalan mendekati Winter dan berbisik meminta pertolongan pada Winter.


“Ah iya maafkan aku mewakili temanku ini Nona Leathina, memang jika dia tertarik dengan sesuatu dia akan terus menjadi pengganggu.”


“Hey.. siapa yang kamu sebut pengganggu Winter dan sejak kapan kalian akrab?”


“Ah, kalau begitu aku permisi dulu.” Saat melihat Zeyden dan Winter berbicara Leathina segera mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri dari mereka berdua.


“Nona Leathina, tunggu aku.”


“Eh.. mau kemana? Kamu belum menjawab pertanyaanku.”


Zeyden melihat Leathina berjalan meninggalkan mereka berdua ia kemudian segera mengabaikan Winter dan mengikuti Leathina tapi pada saat ia akan pergi Winter menarik kerah pakaiannya dari belakang dan menghentikan langkahnya.


“Kenapa kamu ke sini? Aku pikir kamu tidak akan pernah menginjakkan kakimu di kediaman keluarga Yarnell.”


“Aku ditugaskan untuk memantau kesehatannya oleh Duke Yarnell.”


“Apa dia sedang sakit?”


“Tidak, dia terlihat baik – baik saja.”


“Jadi untuk apa kamu datang kalau begitu?”


“Aku hanya penasaran, apa kamu tidak melihat perubahan pada Leathina, akhir – akhir ini dia bertingkah aneh.”


“Benarkah, aku tidak menemukan hal – hal aneh padanya.”


“Itu karena kamu terlalu lama bertugas di perbatasan jadi kamu tidak tahu bagaimana sifat Leathina yang sebenarnya, aku jadi takut akan ada ombak setelah lautnya tenang.”


“Maksudmu?” Winter bingung mendengar ucapan dari Zeyden.


“Iya maksudku akan ada kekacauan setelah ketenangan, asal kamu tahu selama ini dia selalu berulah dan menarik perhatian orang – orang dan secara tiba – tiba dia berubah, aku bahkan mendengarkannya mengucapkan terimakasih dan tersenyum padaku tidakkah itu menakutkan dan mencurigakan. Mungkin saja dia sedang merencanakan sesuatu seperti menggulingkan ayahnya sendiri atau hal jahat semacam itu.”


"Jangan menuduh tanpa bukti. Kamu sama saja menghinanya jika berkata seperti itu.”


“Sebagai orang yang bertugas menjaga ketenangan kerajaan kau harus berhati – hati padanya Winter.”


“Terimakasih sudah memperingatkan aku tapi urus saja masalahmu sendiri, Zeyden. Perketat keamanan saat perayaan aku dengar akan ada beberapa pemberontak yang mungkin berbuat onar saat perayaan nanti.”


“Baik, akan aku ingat."


"Ada apa lagi? kenapa kamu menatapku seperti itu, Winter?"


"Kamu tidak tertarik pada Nona Leathina kan?" Winter menatap Zeyden dengan serius kemudian menunggu jawaban dari Zeyden.


"Baguslah jika kamu tidak tertarik."


Setelah percakapan mereka berdua selesai, Winter dan Zeyden kemudian berpisah karena kesibukan masing - masing.


Sementara itu Leathina berjalan meninggalkan Winter dan Zeyden menuju kamarnya dan saat dia sampai dan memasuki ruangan miliknya Leathina melihat Anne tengah sibuk menggantungkan gaun – gaun dan menjejerkannya di kamarnya, hampir seluruh ruangan di tempati oleh gaun tersebut.


“Apa ini, Anne?”


“Nona Leathina sudah selesai latihan, tunggu sebentar aku akan mengabilkan handuk dan air untuk Nona membasuh wajah.”


Anne segar keluar dan mengabilkan air minum serta beskom berisi air untuk digunakan Leathina membersihkan diri.


“Wah kamarku sekarang sudah seperti toko pakaian saja.” Leathina bergumam sambil melihat – lihat seluruh pakaian yang telah digantung dan disusun rapi oleh Anne.


“Tok.. tok.. tok.”


Saat Leathina sibuk mengamati pakaian – pakaian yang ada di kamarnya itu tiba – tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


“Masuk Anne.”


“Tok.. tok.. tok.”


Leathina mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu kamarnya tapi ia malah terus mengetuk dan tidak masuk.


“Apa aku harus membukakanmu pintu? Biasaya kamu langsung masuk saja dikamarku Anne.”


Leathina menggerutu dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu kamarnya.


“Nicholas?”


“Aku.. aku minta maaf karen menamparmu kemarin dan ini hadiah untukmu.”


“Eh?”


Saat membuka pintu Leathina melihat Nicholas dengan malu – malu berdiri di depan pintu kamarnya dan berbicara dengan cepat setelah itu menyodorkan bingkisan hadia pada Leathina dan segera beranjak pergi meninggalkan Leathina, Leathina yang tidak diberi kesempatan untuk berbicara hanya bisa terdiam.


“Ada apa sih dengan anak itu, kenapa sifatnya selalu berubah – ubah aku jadi sedikit takut degannya.”


Leathina masuk kembali ke kamarnya setelah Nicholas pergi dan meletakkan hadiah yang diberikan Nicholas untuknya di atas meja.


Tidak lama setelah kejadian itu Anne kembali dengan beberapa pelayan yang membantunya membawa beskom berisi air untuk membasuh muka dan air minum untuk Leathina serta beberapa makanan ringan, Leathina segera meminum air yang diberikan Anne untuknya setelah itu membasuh wajahnya dan mengganti pakaiannya yang kotor akibat digunakan latihan tadi. Setelah membantu Leathina, Anne segera melanjutkan kembali pekejaanya yang tertunda tadi.


“Apa yang sedag kamu lakukan dengan semua gaun – gaun itu, Anne?” Leathina berdiri di belakang Anne dan ikut memperhatikan Anne yangs sedang memilah – milah baju.


“Ini aku sedang memilihkan Nona gaun untuk digunakaan saat perayaan nanti, semua gaun yang ada di sini merupakan rekomendasi terbaik dari toko Ny. Rissa.” Anne dengan semangat memberitahu Leathina apa yang sedang ia kerjakan sekarang.


“Semua gaun ini?” Leatina tertegun  melihat gaun – gaun yang berjejer di kamarnya itu ternyata adalah gaun yang dibeli Anne kemarin.


“Iya semua gaun yang ada di sini.”


“Kenapa tidak sekalian kamu beli tokonya saja Anne jika harus membeli gaun sebanyak ini.”


“Haruskah aku memberitahu Tuan Duke untuk membelinya?” Mata Anne berbinar – binar saat membayangkan Leathina bisa memiliki toko pakaiannya sendiri.


“Tidak, aku hanya bercanda tidak bisakah kamu membedakan mana ucapan serius dan tidak. Berapa uang yang kamu habiskan untuk membeli gaun – gaun ini Anne?”


“Ah ternyata Nona Leathina hanya bercanda. Mungkin sekitar lima ribu keping emas.”


“Lima ribu keping dan emas?”


“Iya, apa ini terlalu sedikit?”


“Pulangkan!


......***......