I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 116



“Masuklah!”


“Permisi Nona Leathina.” Ucap Anne setelah membuka pintu kamar Leathina.


“Silahkan masuk Madam.”kemudian mempersilahkan Duchess Nice memasuki ruangan.


“Duchess Nice, Apa yang membawa anda datang ke ruangan ku?” Tanya Leathina kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berpindah pada kursi yang ada di tengah ruangannya.


“Sayang, ibumu ini ingin mengajakmu ke toko pakaian untuk membeli beberapa gaun baru untukmu, yang bisa kau pakai saat pesta nanti.” Duchess Nice memasuki ruangan dan mengambil tempat duduknya sendiri walau belum dipersilahkan oleh Leathina. Duchess Nice duduk dengan anggun tepat di depan Leathina.


“Uhg? Astaga aku benar-benar merasa aneh melihat duchess Nice bersikap lembut padaku jika mengingat perlakuannya saat pertama kali aku membuka mataku.”


“Umm, Duchess Nice. Maafkan aku, tapi bisakah anda bersikap seperti biasanya? aku merasa tidak nyaman.”


“Apa maksudmu? Bukankah wajar seorang ibu bersikap seperti ini.” Jawab Duchess Nice acuh tak acuh.


“Oh, baiklah. Aku akan bersikap seperti biasanya jika kau mau memanggilku ibu dan membiarkanku mendandanimu.” Ucap Duchess Nice setelah terdiam sejenak.


“Dan jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan.” Tanya Leathina dengan nada menantang.


“Tidak akan ada apa-apa yang akan aku lakukan sa.ya.ng.” Duchess Nice berbicara dan memperjelas kalimat terakhirnya.


“I.b.u m.u ini mungkin hanya akan sedikit merasa kecewa.” Sambung Duchess Nice lagi dan masih melakukan hal yan sama ia memperjelas pengucapan kata ibumu agar Leathina bisa mendengarnya dengan jelas.


“Astaga, ada apa dengan perempuan ini.” Leathina menatap Duchess Nice lekat-lekat dan dengan sengaja memasang ekspresi masam agar Duchess nice tahu bahwa ia tidak akan memanggilnya ibu sekeras apapun ia berusaha.


“Jadi s.a.y.a.n.g apa kau mau pergi menemani i.b.u m.u ini?” Tanya Duchess Nice lagi dan masih menekankan pada kalimat yang sama.


“Oh, aku menyerah. Telingaku geli dibuatnya.”


“Baiklah, aku akan pergi denganmu i.b.u k.u s.a.y.a.n.g tapi aku mohon bersikaplah seperti biasanya.” Jawab Leathina yang akhirnya menyerah dan berakhir memanggil Duchess Nice dengan sebutan ibu, Leathina juga meniru pengucapan Duchess Nice dengan memperjelas beberapa kata.


“Oh Astaga, aku sungguh bahagia mendengarnya. Baiklah aku akan menunggumu di bahwa dua pulu menit lagi.” Duchess Nice mengembangkan senyuman di wajahnya dan segera keluar meninggalkan Leathina di ruangannya.


“Hati-hati Madam.” Anne mengantar Duchess Nice sampai ambang pintu ruangan Leathina melepas kepergiannya setelah itu segera masuk kembali.


“Huff”


Leathina menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memijat meningkatnya setelah Duchess Nice meninggalkan ruangannya.


“Apa Nona ingin saya buatkan teh untuk mengurangi sakit kepala?” Tanya Anne ketika melihat Nonanya terlihat kelelahan.


“Anne?” Leathina kembali menegapkan punggungnya dan pandangannya menuju ke arah Anne yang sekarang berdiri di sampingnya.


“Ada apa Nona?”


“Anne setelah aku pingsan malam itu apa yang terjadi setelahnya?” Tanya Leathina pada pelayan nya itu.


“Setelah Nona pingsan, Nona dan aku hampir diseret masuk ke penjara bawah tanah oleh prajurit atas perintah Tuan Duke. Untungnya tuan muda Nora datang bersama dengan Duchess dan tuan muda Nicholas menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi malam itu.”


“Bagaimana dengan Janneth? Kemana dia sekarang?”


“Mengetahui kebenaranya membuat tuan duke Leonard sangat marah dan atas tuduhan tidak berdasar yang ia lakukan pada Nona yang hampir bembuat Nona Leathina dipenjara akhirnya perempuan itu dikurung di penjara bawah tanah selama dua tahun.”


“Apa Janneth menyebutkan nama lain saat akan di bawa ke penjara?”


“Kalau tidak salah Nona Janneth sempat menuduh Nona Yasmine saat, ia mengatakan bahwa karena Nona Yasmine lah yang memberitahu keberadaan Nona Leathina.”


“Yasmine? Seingat ku malam itu Yasmine tidak pernah melihatku jadi dari mana perempuan itu tahu di mana aku berada.”


“Apa yang dikatakan Yasmine?” Tanya Leathina yang dengan serius mendengarkan penjelasan dari Anne.


“Itu hanyalah tuduhan untuk menyalahakan orang lain, kata Nona Yasmine sebelum kejadian itu ia sempat bertemu dengan tuan muda Nora, Tuan muda Nora lah yang memberitahu keberadaan Nona Leathina pada Yasmine itulah kenapa dia bisa tau di mana nona berada.”


“Leathina cepatlah, ibu sudah menunggumu di bawah. Kenapa kau merepotkan sekali.” Tiba-tiba Nicholas telah berdiri di ambang pintu meminta Leathina agar segera bersiap.


“Jika tidak ingin repot kau seharusnya meminta pelayan saja untuk memanggilku, kenapa kau suka sekali datang ke ruangan ku.” Leathina berbicara sambil berjalan ke arah pintu kamarnya.


“Brak.”


Kemudian menutup pintu dengan kencang hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.


“Dia hampir membut mukaku gepeng.” Gumam Nicholas saat pintu yang ditutup Leathina hampir mengenai wajahnya karena ia berdiri hanya berjarak beberapa senti meter di depan pintu.


“Nona anda harus segera bersiap-siap.” Ucap  Anne yang dengan terburu-buru berjalan menuju lemari pakaian Leathia dan mengambil pakaian untuk digunakan Leathina dan membantunya berganti pakaian.


“Anne apakah ada sesuatu yang bisa aku gunakan agar wajahku tidak terlalu terlihat, aku tidak suka jika nantinya orang-orang membicarakanku.”


“Oh baik Nona tunggu sebentar.”


Setelah selesai berisap dan akan segera keluar Anne kembali berlari ke arah lemari dan mengambilkan Leathina sebuah topi untuk dikenakan Leathina.


Anne mengantar Leathina sampai kereta kuda yang kini sedang menunggunya di luar mansion.


“Hati-hati Nona, semoga perjalanan anda menyenangkan.” Ucap Anne sebelum Leathina masuk ke dalam kereta.


“Silahkan berangkat.” Teriak Anne memberitahu si kusir dan kemudian kereta kuda yang tadi dinaiki oleh Leathina perlahan menjauh meninggalkan mansion.


“Kakak Leathina.” Sambut Nora saat Leathina memasuki kereta kuda.


“Aku tidak tahu jika kalian berdua akan ikut bersama kami.” Leathina berbicara sambil melihat Nora yang duduk di samping Duchess Nice pada kursi di depannya sedangkan ia duduk berdampingan dengan Nicholas.


“Harus ada laki-laki yang mengawal kalian berdua bukan, aku hanya terpaksa untuk ikut.” Ucap Nicholas kemudian memalingkan wajahny ke arah jendela melihat ke luar.


“Ayahmu sebenarnya sangat ingin ikut bersama kita tapi sayangnya pekerjaanya terlalu banyak.” Duchess Nice berbicara memberitahu Leathina.


Selama hampir dua puluh menit perjalanan ke ibu kota hanya bunyi langkah kaki kuda yang terus berbunyi memencah kesunyian di antara mereka berempat. Tidak ada yang memulai percakapan dan hanya larut pada pikiran mereka masing-masing sampai kereta kuda yang mereka gunakan berhenti tepat di sebuah toko pakaian yang terlihat cukup mewah, terlihat etalase kacs yang memamerkan beberapa gaun mewah.


Toko yang sepertinya hanya dapat dimasuki oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau orang yang memiliki banyak uang. Terlihat beberapa wanita memasuki toko tersebut dan beberapa lagi keluar dengan diikuti oleh pelayannya yang membawa beberapa kotak yang berisi gaun yang telah mereka beli.


Mereka berempat segera turun saat kusir membukakan mereka pintu dan mempersilahkan untuk turun.


“Ahk!”


“Perhatikan langkahmu.” Ucap Nicholas pada Leathina ia menagkap Leathina yang hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri dan membantunya berdiri dengan baik kembali.


Salah satu gaun yang terpajang di etalase toko menarik perhatian Leathina dan tanpa sadar Leathina hampir terjatuh karena perhatiannya teralihkan.


Dilihatnya sebuah gaun berwarna berwarna biru langit dengan potongon kain panjang menjuntai kebawah yang sepertinya terbuat dari kain satin bagian atasnya terbuka dan akan memamerkan bahu jika dikenakan.


"Terlihat sederhana tapi sangat elegan." Gumam Leathina tanpa sadar.


“Oh Astaga, gaun yang cantik. Itu akan sangat cocok denganmu.” Duchess Nice penasaran ke mana mata Leathina tertuju dan ikut melihat ke arah yang sama dengan Leathina dan akhirnya melihat gaun yang sedari tadi di tatap oleh Leathina.


“Tidak juga, hanya saja gaun itu terlihat cantik dimataku.”


“Benarkah? Kalau begitu kamu memiliki pengelihatan yang sangat bagus. Ayo kita masuk dan membelinya untukmu.”


Duchess Nice mengenggam tangan Leathina dan menariknya masuk ke dalam. Seorang pelayan yang mengenali pelanggan istimewanya segera datang menyambut.


“Aku datang ingin membeli baju untuk ketiga anakku.” Jawab Duchess nice sambil melihat ke arah Nora, Nicholas dan Leathina yang berdiri hampir berjejeran.


“Oh Astaga anak-anak anda sungguh sangat tampan madam.” Ucap si pelayan saat melihat ke arah Nicholas dan Nora.


“Kau tidak melihat putriku? Aku juga datang bersama putriku.” Madam Duchess memberitahu si pelayan dan menunjuk ke arah Leathina yang juga berada bersama Nicholas dan Nora.


“Ah, Astaga maafkan aku Madam aku benar-benar tidak tahu bahwa anda ternyata memiliki anak per...” Ucapannya si pelayan terhenti saat melihat ke arah Leathina walau pelayan itu tidak bisa melihat wajah Leathina dengan jelas karena topi besar yang ia kenakan tapi dia masih bisa melihat rambut merah Leathina yang terurai.


“Maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud mengabaikan anda saya tidak tahu kalau anda sudah kembali.” Setelah menyadari siapa perempuan yang datang bersama Duchess Nice si pelayan cepat-sepat membungkuk meminta maaf karena telah mengabaikan Leathina. Walaupun ia belum pernah bertemu secara langsung tapi dia telah mendengar banyak rumor tentangnya membuat si pelayan ketakutan dan berkeringat dingin.


“Tidak apa-apa, lanjutkan peerjaanmu.” Ucap Leathina kemudian kembali melihat gaun-gaun yang terpajang di sekelilingnya.


“Sekarang tunjukkan di mana letak pakaian Wanita dan pria?” Tanya Duchess Nice pada si pelayan.


“Baiklah Madam, pakaian laki-laki ada di sebelah sini dan pakaian wanita ada di bagian sana.” si pelayan memperlihatkan dengan sopan dimana tempat pakaian wanita dan pria berada.


“Baiklah.” Ucap Duchess Nice mengerti. “Leathina aku akan melihat pakaian untuk adik-adikmu dulu setelah itu menemanimu memilih pakaian, kau berkelilinglah dan lihat siapa tahu ada gaun lain yang sangat kau inginkan.”


Leathina mengangguk paham dan mempersilahkan Madam Duchess pergi bersama Nora dan Nicholas untuk membeli pakaian terlebih dahulu.


“Umm Nona, maafkan aku jika lancang tapi jika di perbolehkan saya ingin mengantar anda berkeliling sebagai permintaan maaf dariku.” Tanya si pelayan pada Leathina takut-takut.


“Baiklah, tunjukkan jalannya.”


“Terimakasi Nona.”


Si pelayan dengan bersemangat mengantar Leathina berkeliling untuk melihat-lihat gaun yang ada di toko pakaian.


“Jadi apa ada gaun yang Nona inginkan?” Tanya si pelayan pada Leathina setelah mengajaknya berkeliling melihat semua gaun-gaun yang di pajang di toko.


“Aku ingin membeli gaun itu.” Leathina menunjuk gaun yang tadi ia lihat di etalase toko.


“Mata anda sunggu bagus Nona, itu adalah gaun mewah yang di rancang oleh bos kami sendiri dan hanya ada satu-satunya, kami tidak membuat banyak karena di buat hanya untuk dikenakan orang-orang tertentu, misalnya seperti anda Nona.” Si pelayan memberi penjelasan pada Leathina sambil berjalan ke arah etalase yang berbeda di bagian depan toko.


“Aku juga ingin beberapa gaun santai dan pakaian yang bisa aku gunakan dengan nyaman.” Leathina kembali memberitahu si pelayan.


“Baiklah Nona, saya paham. Saya akan menurunkan gaun ini dulu dari etalase sebelum seseorang mengambilnya.”


Si pelayan menurunkan gaun berwarna biru yang diinginkan Leathin dari etalasi dan akan segera membungkuskannya untuk Leathina.


“Hey gaun itu milikku!” Tiba-tiba seorang wanita muda yang baru saja memasuki toko berteriak menghentikan si pelayan.


“Maafkan saya Nona Grecia, tapi gaun ini telah di beli.” Si pelayan mencoba menjelaskan pada perempuan muda arogan yang datang menghampiri mereka.


“Aku telah melihatnya semenjak turun dari kereta dan aku menginginkannya.”


“Maafkan saya Nona, tapi tetap saja Gaun ini telah lebih dulu di beli orang lain.”


“Lancang sekali, kau lupa ya. Dari keluarga mana aku ini?” Bentak perempuan muda yang di panggil dengan nama Grecia oleh si pelayan.


“Memangnya dari keluarga mana dia berasal?” Tanya Leathina pada di pelayan.


“Nona muda ini berasal dari kediaman grand duke Alcott Amory. Maafkan ketidak nyamanan yang anda rasakan Nona, saya akan segera membungkuskan gaun ini untuk anda.” Si pelayan hendak berjalan pergi untuk membungkuskan gaun yang Leathina pilih tadi.


“Eh, berani-beraninya pelayan rendahan sepertimu mengabaikanku!” Grecia menarik rambut si pelayan hingga terjungkal ke belakang.


“Arogan sekali!” Gumam Leathina dan ternyata di dengar oleh Grecia.


Secara otomatis tubuh Leathina segere bergerak menolong si pelayan dan membantunya kembali berdiri.


“Kau tidak apa-apa? Apa ada yang rerluka?” Tanya Leathina pada si pelayan tanpa mempedulikan Grecia yang kini nanar menatapnya karena marah dengan sikap Leathina.


“Terimakasih banyak Nona, aku.. aku.. tidak apa-apa.” Jawab si pelayan ketakutan saat melihat Grecia.


“Apa katamu tadi?! Berani sekali perempuan sepertimu mengataiku!” Teriak Grecia dengan melayangkan tangannya ke wajah Leathina.


“Siapa yang berani-beraninya menyentuhku.” Teriak Grecia kesal saat tiba-tiba seseorang menangkap tangannya dan menghentikannya dari belakang.


“Ni.. Nicholas, apa yang kau lakukan disini.” Grecia tergagap ketika ia berbalik dan melihat Nicholas lah yang memegang tangannya.


“Apa yang kau lakukan Nona Grecia?” Tanya Nicholas dan melepaskan tangan Grecia dan segera menghampiri Leathina. “Kau tidak apa-apa?” Tanya Nicholas lagi sambil memeriksa Leathina.


“Lepaskan, aku tidak apa-apa.” Leathina mendorong tubuh Nicholas mejauh darinnya. “Kau mengenal perempuan arogan ini?” Tanya Leathina pada Nicholas.


“Dia anak ke dua grand duke Alcott dan tunanganku.”


“Kau sudah bertunagan? Sejak kapan? Dan kenapa harus perempuan sepertinya.” Mata Leathina membulat karena terkejut mendengar pernyataan Nicholas barusan.


“Kau lupa yah aku sudah bertunangan dengannya semenjak berumur limah belas tahun dan pertunangan ini bukan keinginanku.”


“Tunggu, tunggu dulu Nicholas siapa perempuan ini  kau selingkuh?” Grecia berteriak hingga menarik perhatian para pengunjung toko.


“Jaga ucapanmu Grecia! Dia kakakku Leathina.”


“Oh, Astaga! Maafkan saya Nona Leathina saya Grecia Amory tunangan Nicholas.” Grecia memperkenalkan dirinya dengan sopan setelah mengethui Leathina. “Sialan, kenapa perempuan ini bisa kembali, padahal sebentar lagi aku akan menyadi nyonya di keluarga Yarnell dan mengambil alih keluarga itu jika aku berhasil menikah dengan Nicholas. Aku harus segera memberitahu ayah mengenai ini.”


“Sekarang sudah tidak lagi.” Ucap Duchess Nice tiba-tiba  setelah melihat semua kejadian yang baru saja berlangsung.


“Leathina ayo kita pindah ke toko yang lain, disini tidak cocok denganmu. Aku akan meminta seseorang untuk mengurus pakaian yang telah kamu beli disini.”


“Duchess Nice, apa maksdunya itu?” Tanya Grecia tidak paham dengan perkataan duchess barusan.


“Aku akan segera mengirim surat resmi pembatalan pertunanganmu dengan anakku Nicholas, kau bahkan hampir menampar putriku bagaimana bisa aku menerima menantu yang tidak mengetahui sopan santun sepertimu.” Ucap Duchess Nice sarkas sambil membawa Leathina keluar diikuti oleh Nicholas dan Nora.


“Selamat tinggal Nona Grecia.” Ucap Nicholas sebelum meninggalkan Grecia dan segera menyusul ibunya.


“Tidak! Tunggu dulu! Duchess aku mohon, beri aku kesempatan sekali saja, tidak boleh begini! Nicholas kau tidak boleh membatalkan pertunanganmu denganku!” “Ayah bisa membununhku jika mengetahui hal ini dan rencananya pasti akan gagal karenaku.” Grecia beberapa kali berteriak mencoba menghentikan Duchess Nice tapi usahanya sia-sia Duchess Nice bahkan sama sekali tidak melihatnya lagi hingga membuat dirinya hanya menjadi tontonan orang-orang dan karena malu Grecia menutup wajahnya kemudian berlari keluar masuk kembali ke keretanya.


Sementara di dalam kereta milik keluarga Yarnell, Duchess Nice terus memeriksa wajah Leathina.


“Apa kau baik-baik saja Leathina? Apa dia menamparmu?” Tanya Duchess Nice sambil melihat wajah Leathina.


“Aku tidak apa-apa, sebelum perempuan itu menamparkau Nicholas sudah menghentikannya.” Leathina mencoba menjelaskan tapi tidak membuat Duchess berhenti.


“Astaga aku sangat khawatir tadi, seharunya aku menemani mu terlebih dahulu untuk memilih pakaian baru kedua anak ini.” Ucap Duchess sambil bersandar karena merasa lega tidak terjadi apa-apa pada Leathina..


“Tapi bukankah anda harusnya lebih mengkhawatirkan Nicholas, anda telah membatalkan pertunangannya begitu saja tanpa bertanya megenai pendapatnya terlebih dahulu padanya.” Tanya Leathina sambil melirik Nicholas yang hanya terdiam dan melihat ke arah luar jendela kereta. Leathina merasa bersalah karena membuat Nicholas membatalkan pertunangannya.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku.” Ucap Nicholas memberitahu Leathina.


“Iya kau tidak perlu mengkhawatinya Leathina, sebenarnya Nicholas sudah dari dulu meminta pertunangannya di batalkan dengan Grecia tapi karena beberapa alasan membuat keinginannya tidak bisa dikabulkan oleh ayahmu. Hubungan keluarga kita dan keluarga grand duke tidak bagus dan untuk memperbaiki hubungan kedua keluarga grand duke Alcott mengusulkan agar menikahkan anak dari kedua keluarga agar tetap memiliki hubungan baik.” Duchess Nice mencoba menjelaskan pada Leathina yang terlihat sangat merasa bersalah atas pembatal pertunangan Nicholas dan Grecia.


“Tapi tetap saja..” Gumam Leathina pelan.


“Jangan di pikirkan lagi, kita akan ke toko selanjutnya.” Duchess Nice berusaha mencairkan suasana yang sedikit menyesakkan karena kejadian tadi.


...***...