
Edward telah mempersiapkan semua keperluannya untuk pergi ke hutan timur bersama dengan Aelfric dan duke Leonard mereka berjanji bertemu dengan yang lainnya setelah melewati gerbang perbatasan kerajaan, agar kepergian mereka tetap dirahasiakan dan tidak mengundang banyak perhatian orang-orang terlebih pada kedudukan Duke Leonard yang akan mengalami kekosongan untuk sementara dan hanya digantikan oleh anaknya Nicholas dan Winter yang membantunya.
“Apa kita tidak perlu untuk melihat Leathina dulu sebelum pergi?” Tanya Aelfric pada Edward yang merasa sedikit kecewa karena tidak melakukan perpisahan dengan Leathina sebelum kembali ke kampung halamannya.
“Tidak perlu, akan memakan waktu lama untuk memisahkan mu dengan Leathina nanti jika kau melihatnya sebelum berangkat.” Jawab Edward sambil memacu santai kudanya dalam perjalanan mereka berdua ke perbatasan kerajaan.
“Hum, bilang saja kau yang tidak akan bisa menahan perasaanmu nanti jika melihat Leathina sebelum pergi.” Gumam Aelfric ketika Edward tidak ingin memenuhi keinginannya untuk pergi melihat Leathina sebelum pergi ke hutan timur, “Kau tidak ingin pergi melihatnya karena takut tidak bisa menahan perasaanmu dan tidak bisa meninggalkannya dengan keadaannya yang sekarang, dasar naif!” Aelfric sengaja menjaga jarak dengan Edward dan mulai terus mengoceh karena merasa kesal dengan orang yang ada di depannya itu.
“Hek!” pekik Aelfric ketika kudanya bertubrukan dengan kuda Edward yang tiba-tiba berhenti di depannya.
Cepat-cepat Aelfric menutup mulutnya rapat-rapat dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha untuk menghindari tatapan mata Edward yang terus melihat ke arahnya dengan dingin, “Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa!” ucapnya nyolot saat Edward masih terus melihatnya.
“Kau terlihat frustasi bro!” gumam Aelfric pelan agar Edward tidak bisa mendengar apa yang tadi ia ucapkan dan dengan menggunakan nada bicara yang santai kemudian menghentikan laju kudanya tepat di belakang Edward karena Edward juga kini menghentikan laju kudanya.
“Apa?!” Tanya Aelfric lagi ketika ia merasa risih karena Edward terus melihatnya.”Aku tahu kau sekarang sedih, jadi aku menahan diri untuk tidak terlibat pertengkaran denganmu jadi berhenti menatapku seperti itu dan cepat jalan!” seru Aelfric acuh tak acuh kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain karena tidak ingin melihat Wajah Edward.
“Jalan di depan! Dasar besar mulut, simpan kata-katamu itu ketika kau kembali ke hutan timur. Akan aku pastikan kau mendapat hukuman yang berat!” ucap Edward memerintah kemudian menendang kuda yang ditunggangi oleh Aelfric agar segera berjalan di depannya.
“Kau ...” Perkataan Aelfric terputus karena terkejut saat kudanya tiba-tiba melaju lebih cepat dan berjalan di depan hingga membuatnya hampir terjatuh karena tidak berpegangan saat Edward menendang kudanya.
Setelah berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh dan berhasil menstabilkan laju kudanya Aelfric terus mendengus kesal dan melirik Edward yang kini berjalan disampingnya, tapi kali ini Aelfric tidak berani lagi mengecoh takut jika membuat Edward marah, mulutnya ia kunci rapat-rapat hanya ekspresi wajahnya saja yang tidak bisa Aelfric kontrol.
“Aku tahu sebagian bangsa elf dianugerahkan kemampuan melihat kedalam jiwa manusia tapi itu hanya untuk elf dengan status yang tinggi, aku tidak percaya anak nakal ini menjadi salah satu ras elf yang memilikinya itu berarti dia bukan dari ras elf golongan rendah bisa jadi ia memiliki darah kerajaan. Menyebalkan sekali anak sepertinya mempunyai kemampuan langka seperti itu!” Batin Edward saat melihat Aelfric dari belakang dan sengaja membiarkan Aelfric berjalan mendahuluinya karena tidak ingin Aelfric terus menerus mengamatinya dengan kemampuannya itu.
Setelah perjalanan yang penuh perseteruan diantara keduanya akhirnya Edward dan Aelfric sampai di perbatasan gerbang timur kerajaan, mereka berdua segera melewati gerbang dan berhenti agak jauh di depan gerbang untuk menunggu kedatangan Duke Leonard. Tidak dilakukan pemeriksaan jika ingin keluar kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.
“Kita akan menunggu Duke Leonard disini, jangan membuat masalah dan menunggu lah dengan tenang!” Edward memberitahu Aelfric sementara Aelfric membalasnya dengan dengusan kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya serta membuang pandangannya ke arah lain karena tidak ingin melihat ke arah Edward.
Mereka berdua kemudian menunggu Duke Leonard dalam kediaman, tidak ada yang memulai percakapan dan mereka bahkan hanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
...
“Ayah akan pergi sekarang?” tanya Nora pada ayahnya saat melihatnya masuk ke dalam ruangan Leathina.
“Kembalilah ke kamarmu Nora, kau juga butuh istirahat Anne akan menjaganya nya untukmu. Kakak mu Leathina pasti juga tidak akan suka melihatmu terus melewatkan jam maka mu dan jatuh sakit.” Ucap Duke Leonard saat melihat putra bungsunya itu masih berada di ruangan Leathina selama beberapa hari berturut-turut selalu menemani Leathina.
Nora tidak pernah meninggalkan Leathina sendiri semenjak jatuh dalam kondisi tidak sadarkan diri, setiap hari ia terus berada di sisi kakaknya Leathina yang masih tidak sadarkan diri. Dia hanya pergi sebentar jika memang harus pergi meninggalkan Leathina tapi secepat mungkin akan kembali lagi untuk menjaga Leathina.
Nora menggeleng lemah tangan mungilnya memegang tangan lemah Leathina dengan erat, berharap keajaiban muncul dan kakaknya bisa membuka matanya kembali dan tersenyum padanya seperti sebelumnya.
“Aku senang menjaganya Ayah karena akulah satu-satunya yang punya waktu untuk menjaganya, ayah akan segera pergi, kakak Nicholas juga sibuk menggantikan pekerjaan ayah bersama winter sementara ibu juga sama sibuknya dengan yang lainnya.”
“Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu jika tida mau kakakmu Leathina memarahi mu karena melewatkan jam maka mu.” Ucap Duke Leonard kembali meminta Nora untuk beristirahat.
“Aku akan lebih senang jika kakak Leathina bangun dan memarahiku karena aku melewatkan jam makan seperti yang ayah ucapkan.” Jawab Nora Lirih kemudian memandangi wajah kakaknya yang terlihat seperti orang yang sedang tertidur di banding orang yang sakit.
Duke Leonard kemudian berjalan mendekati Leathina dan duduk di sisi tempat tidur, ikut memandangi wajah Leathina.
“Cepat lah kembali, Leathina.” Gumam Duke Leonard kemudian mengusap lembut wajah putrinya itu.
“Aku akan segera pergi, jaga kakakmu untukku.” Duke Leonard beranjak dari sisi tempat tidur Leathina.
“Hati-hati ayah, kembalilah dengan selamat.” Ucap Nora melepas kepergian ayahnya.
Duke Leonard juga mengusap lembut rambut Nora sebelum pergi ke hutan timur.
“Paman!”
“Ayah!"
Seru Winter dan Nicholas hampir bersamaan saat memasuki Ruangan Leathina.
“Sudah ingin pergi?” tanya Nicholas pada ayahnya.
“Aku harus segera pergi, ingat jangan meninggalkan tanggung jawab mu selama aku tidak ada.” Duke Leonard memperingati putranya.
“Aku akan mengantarmu sampai di depan paman.” Ucap Winter kemudian melirik Leathina yang keadaanya masih terlihat sama seperti sebelumnya, hanya berbaring dan tidak membuka matanya. “Dia terlihat seperti orang yang tertidur dengan pulas, seandainya dia memang hanya tertidur dan bisa kembali terbangun kembali. Itu pasti akan lebih baik.” batin Winter saat melihat keadaan Leathina yang tidak memiliki kemajuan.
“Aku juga!” ucap Nicholas dan Nora yang hampir bersamaan karena ingin mengantar kepergian Duke Leonard.
“Kakak aku akan mengantar ayah sebentar, hanya sebentar.” Nora berbisik ke telinga Leathina walaupun tidak ada balasan tapi Nora senang melakukannya. Setelah berbisik Nora kemudian segera mengantar kepergian ayahnya bersama yang lainnya.
“Selamat jalan ayah, kembalilah dengan selamat.” Ucap Nora dan Nicholas hampir bersamaan.
“Hati-hati dalam perjalanan anda paman.” Ucap Winter yang juga melepas kepergian Duke Leonard.
Duke Leonard segera mengenakan tudung jubahnya yang hampir menutupi separuh wajahnya kemudian melompat naik ke atas kudanya dan segera pergi meninggalkan kediamannya menuju hutan timur.
“Aku akan kembali ke ruangan Leathina sebentar.” Nicholas memberitahu Winter.
“Baiklah, kalau begitu aku akan langsung pergi ke ruangan kerja ayahmu.” Jawab Winter kemudian langsung meninggalkan Nicholas dan Nora yang masih berdiri di luar.
“Nora, kembalilah ke ruangan mu dan beristirahatlah.”
“Tapi aku juga ingin kembali ke ruangan kakak Leathina.” Jawab Nora tidak setuju.
“Kau harus menjaga kesehatanmu juga, kau masih kecil. Kau tidak mau kan jika tubuhmu lebih pendek dari Leathina saat kau dewasa nanti, bagaimana caranya kau menjaga Leathina jika kau saja tidak bisa merawat dirimu sendiri.”
“Aku akan mengunjunginya dan aku juga akan meminta Anne bahkan ibu untuk merawatnya dengan baik.” Nicholas berusaha menenangkan Nora yang terlihat sedih.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku sekarang.” Nora akhirnya pasrah dan menuruti perkataan Nicholas kemudian dengan terpaksa segera kembali ke ruangannya sendiri.
Nicholas yang hanya tinggal sendiri kemudian segera bergegas berjalan kembali menuju ruangan Leathina.
“T-tuan muda!” seru Anne saat tidak sengaja berpapasan dengan Nicolas saat akan keluar dari ruangan Leathina.
“Pergilah selesaikan pekerjaanmu, aku yang akan menjaganya sebentar sampai pekerjaanmu selesai.” Ucap Nicholas memberitahu Anne.
“Terimakasih tuan, kalau begitu saya akan segera kembali.” Jawab Anne kemudian melangkah keluar dan menutup pintu ruangan Leathina kembali dari luar setelah Nicholas masuk ke dalam.
Saat memasuki ruangan Leathina dilihatnya Leathina yang masih berbaring di tempat tidurnya, matanya tidak ia alihkan selain terus memperhatikan Leathina dan akhirnya mengambil tempat duduk pada kursi yang ada di sisi tempat tidur Leathina.
“Apa badanmu tidak sakit terus-menerus berbaring seperi orang mati seperti itu?” tanya Nicholas pada Leathina setelah duduk di sisi tempat tidurnya.
“Kau selalu saja berbuat ulah, tidak bisakah kau diam dan tenang saja seperti para wanita bangsawan lainnya. Kenapa kau selalu melakukan segala sesuatunya sendiri, setidaknya mintalah batuan ayah atau aku jika kau punya masalah.” Ucap Nicholas kemudian mengambil tangan Leathina yang terkulai lemas dan menggenggamnya dengan kuat.
“Akh! Ini menyebalkan hanya melihatmu menutup mata seperti ini.” Nicholas menghembuskan nafas panjang kemudian membenamkan wajahnya di sisi tempat tidur Leathina dan tangannya masih dengan erat menggenggam tangan dingin Leathina. “Aku janji akan menjadi adik yang baik asalkan kau membuka matamu. Aku akan membiarkanmu memanggilku dengan Nico lagi jadi aku mohon bangunlah.” Gumam Nicholas lirih dan di setiap ucapannya dipenuhi oleh harapannya yang menginginkan Leathina membuka matanya kembali.
Samar-samar Nicholas mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati ruangan Leathina, ia kemudian segera duduk dengan tegap kembali. “Maafkan aku, sepertinya aku akan kesulitan untuk datang mengunjungimu lagi selama ayah pergi aku yang akan mengantikan posisinya untuk sementara jadi aku pasti akan sangat sibuk.” Ucap Nicholas sambil mempermainkan rambut panjang Leathina.
“Trak”
Suara pintu ruangan Leathina berderit saat Anne membukanya dari luar.
“Maafkan saya tuan muda, saya terlalu lama membuat anda menunggu.” Ucap Anne kemudian membungkuk pada Nicholas untuk meminta maaf atas keterlambatannya.
“Tidak apa-apa, jaga dia dengan baik.” balas Nicholas kemudian beranjak dari tempatnya duduk dan segera berjalan keluar dari ruangan Leathina menuju ruangan kerja ayahnya menyusul Winter yang terlah pergi lebih dulu.
“Kau akhirnya datang, Nicholas.” Ucap Winter saat melihat Nicholas memasuki ruangan dan duduk di kursi kerja ayahnya.
“Kau mau kemana?” Tanya Nicholas pada Winter ketika melihat Winter menutup dokumen yang ia baca dan beranjak dari tempat duduknya.
“Aku akan pergi memimpin prajurit untuk mecari kriminal Yasmine yang memasuki hutan hitam” Jawab Winter memberitahu Nicholas.
“Bukankah kau hanya perlu mengirimkan prajurit saja ke sana untuk mencarinya, kenapa kau harus pergi secara pribadi memimpin para prajurit?”
“Hutan hitam bukan hutan biasa, disana berbahaya jadi untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi aku akan pergi dan memimpin pencarian ini secara langsung.”
“Baiklah, “segera kembali ke sini setelah urusanmu selesai.”
Winter hanya mengangguk mengiyakan perkataan Nicholas dan segera keluar setelahnya. Ia berjalan menyusuri koridor dan tidak langsung pergi melainkan ia pergi ke ruangan Leathina.
“Tuan Winter!” Seru Anne saat melihat Winter dari celah pintu dan tidak sengaja melihatnya sedang berdiri di ambang pintu.
“Aku hanya ingin melihat keadaanya sebentar sebelum pergi.” Ucap Winter dengan ramah saat Anne membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan Leathina.
“Silahkan Tuan Winter,” Anne mempersilahkan Winter untuk masuk dan ia sendiri segera keluar untuk memberikan sedikit waktu untuk Winter.
Setelah Anne meninggalkannya Winter segera mengambil tempat duduk di sisi tempat tidur Leathina, dan ditatapnya wajah Leathina kembali setelah itu meraih tangan Leathina dan menggenggamnya erat, “Maafkan aku Leathina.” Gumamnya lirih dan tangannya masih menggenggam tangan Leathina yang masih terasa dingin.
Setelah beberapa saat akhirnya Winter melepaskan genggamannya dan memperbaiki Selimut Leathina, “Sudah waktunya, aku harus segera pergi. Cepatlah kembali Leathina.” Gumam Winter pelan kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan Leathina.
“Jaga dia baik-baik.” Winter memberitahu Anne saat dilihatnya Anne ternyata berdiri di luar ruangan Leathina karena tidak ingin mengganggunya.
“Baik Tuan.” Jawab Anne sopan. Winter kemudian segera pergi meninggalkan kediaman Yarnell dan memimpin para prajurit memasuki hutan hitam untuk mencari Yasmine.
Setelah Winter pergi sekarang gantian Anne yang segera memasuki ruangan milik Leathina, dilihatnya Nona nya itu masih tidak menunjukkan kemajuan bahkan hembusan nafasnya saja sangat lemah. Saking khawatirnya bahwa Leathina akan benar-benar meninggalkannya Anne setiap saat selalu memeriksa nafas dan nadi Leathina.
“Nona Leathina, cepatlah sadar. Semua orang sedang menunggu anda untuk kembali.” Ucap Anne lirih.
...
Dari kejauhan Edward melihat seorang pria dengan jubah hitam melaju kearahnya dengan kecepatan penuh dan saat sudah sangat dekat ia kemudian memperlambat laju kudanya kemudian benar-benar singgah di hadapannya.
“Ini aku.” Ucap Duke Leonard sambil mengangkat sedikit penutup kepalanya untuk memberitahu Edward.
“Aku tahu!” jawab Aelfric ketus, karena bosan menunggu terlalu lama.
“Sebaiknya kita berangkat sekarang, Duke.” Edward mengangguk pelan menyambut kedatangan Duke Leonard.
“Tunggu dulu.” Duke Leonard menghentikan Edward yang akan segera melanjutkan perjalanan, “Masih ada seseorang lagi yang akan ikut.” Ucapnya memberitahu Edward membuat Edward mengurungkan niatnya.
“Siapa yang akan ikut dengan kita?” tanya Aelfric penasaran.
“Bagaimana keadaanya, Duke?” tanya Edward mengabaikan pertanyaan Aelfric.
“Masih sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan.” Jawab Duke Leonard yang terdengar sedih, "Oh, dan yang akan ikut dengan kita kau pasti akan tahu jika orangnya telah datang.” Sambung Duke Leonard lagi menjawab pertanyaan Aelfric ketika dilihatnya memasang wajah kesal dan menatap Edward dengan tatapan marah.
Edward tidak terlalu mempermasalahkan tingkah Aelfric yang selalu bersikap tidak menyukainya. Edward malah fokus menunggu orang yang akan ikut bersama mereka.
...***...