
“Jawab atau kau akan berakhir mengenaskan!” ancam Leathina serius.
“Wah! Wah! Ganas sekali nona!” Balasnya sambil mengangkat kedua tangannya yang menunjukkan sikap tidak ingin bertarung melawan Leathina.
Leathina memicingkan matanya samar-samar terlihat siluet pria tinggi bertopi yang diam-diam mengikutinya tadi sejak di kota.
“Kenapa kau mengikuti ku sampai disini? Kau ada perlu apa?!” Tanya Leathina yang tetap waspada dan saat melihat lawannya lengah Leathina langsung melompat ke arahnya dan menodongkan pisau tepat ke urat leher orang yang mengikutinya itu.
“Jawab atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”
“Tenang Leathina ini aku.”
Leathina yang merasa akrab dengan suaranya lalu membuka topi dan baru sadar bahwa orang itu adalah edward yang sedang menyamar bahkan warna rambut dan matanya pun dia ubah.
“Kita harus segera masuk ke sana sebelum anak-anak tertidur jika kau ingin berkunjung.”
Leathina melepaskan kekangan nya lalu mengembalikan topi milik Edward dan menyembunyikan kembali belatinya.
“Bagaimana bisa kau tahu aku akan kesini, aku sudah sangat yakin saat di kota tadi kau sudah kehilangan jejakku.”
“Jangan terlalu meremehkan ku ya, kau lupa aku ini siapa?” balas Edward dengan nada sombongnya.
“Iya, iya, tuan Ed’ yang terhebat se-kerajaan.” Ucap Leathina dengan memutar matanya bermaksud menyindir tapi bukannya tersindir Edward malah besar kepala.
Mereka berdua lalu sama-sama mengetuk pintu sementara Leathina terlihat gugup karena sudah lama tidak berkunjung, beberapa kali Leathina datang tapi hanya sampai di luar saja memperhatikan anak-anak dari jauh tapi kali ini Leathina sudah terlanjur membeli banyak barang untuk anak-anak yang pernah diselamatkannya dulu.
“Siapa!” Seru seorang wanita dari dalam.
“Siapa di luar?!” tanyanya lagi sambil membuka pintu.
“H-hallo Madam, lama tidak berjumpa.” Sapa Leathina malu-malu pada orang yang membukakan mereka pintu.
Orang yang membukakan pintu ternyata adalah Madam Gisella.
“Astaga! Ya Tuhan!” jeritnya begitu terkejut saat melihat siapa yang datang. “Kami banyak mendengar berita mengerikan tentang Nona Leathina, aku tidak pernah membayangkan anda akan datang mengunjungi kami, syukurlah anda selamat.” Ucapnya sambil memeluk Leathina dengan penuh rasa syukur.
“Tu-tunggu sebentar, maafkan kelancangan saya.” Mengingat perbedaan status mereka Madam Gisella lalu melepas pelukannya dan langsung membungkuk menyambut Leathina dan Edward.
“Nona Leathina silahkan masuk, saya akan memanggil anak-anak.”
“Ah! Madam Gisella, jika mereka sudah tidur tidak perlu membangunkan mereka.”
“Tidak Nona Leathina, anak-anak akan jauh lebih senang jika mereka melihat anda secara langsung mereka semua sangat merindukan anda.” Madam Gisella lalu pergi ke dalam sementara Leathina gugup menunggu karena sebenarnya Leathina tidak terlalu pandai berinteraksi dangan anak-anak.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dari dalam suara anak-anak yang berlarian menuju satu arah.
“NONA BANGSAWAN!” Teriak Toni dan Messy kakak beradik yang pernah diselamatkan Leathina di masa lalu kemudian mereka menyerbu Leathina dan memeluknya dengan senang.
“Hallo sapa seorang anak dengan sopan.” Leathina mencoba mengingatnya rasanya ia sangat akrab.
“Nona, dia itu Agam adik yang paling bungsu saat nona masih sering berkunjung.”
Leathina berfikir keras lalu terlintas ingatan masa lalu seorang anak empat tahun yang selalu digendongnya dulu.
“Astaga Agam rupanya.” Leathina mengusap kepalanya lembut, “Aku tidak ingat sebab Agam banyak berubah, sudah tumbuh besar rupanya.” Agam tersipu malu-malu di depan Leathina.
Leathina melihat beberapa anak-anak yang belum pernah ia lihat sebelumnya sedang berdiri agak jauh dibelakang takut mendekat karena mendengar yang datang adalah seorang bangsawan lalau beberapa pengasuh juga ada di sana menemani anak-anak mereka terlihat kebingungan karena anak-anak yang lainnya malah tanpa ragu bercanda dengan seorang bangsawan.
“Setelah Nona Leathina menghilang entah darimana Tuan Duke Leonard mengetahui panti asuhan ini dibawa lindungan Nona Leathina, Tuan Duke lalu memberi banyak sumbangan setiap bulannya dan semenjak itu panti asuhan ini jadi terkenal ada juga rumornya bahwa ini menjadi panti asuhan elit karena disponsori langsung oleh tuan Duke dan Nona Leathina makanya banyak pengasuh-pengasuh baru berdatangan ingin bekerja disini dan banyak juga anak-anak yang dibawa kesini.”
“Benarkah, aku ikut senang mendengarnya.”
“Ah! Tunggu sebentar.” Leathina meminta Edward meletakkan karung yang dibawanya lalu memberikannya pada Toni untuk dibagikan pada anak-anak yang lain karena Toni merupakan anak paling tua dibanding anak-anak yang lainnya.
“Wah! Hadiah! Terimakasih banyak Nona!” seru Toni bersemangat lalu tiba-tiba berbalik ke adik-adiknya dan berkata, “Jadi apa yang harus kalian katakan.” Ucapnya dengan wajah serius.
“TERIMAKASIH BANYAK NONA PERI!!!” Seru anak-anak serempak, mendengar namanya kembali diubah membuat Leathina malu di hadapan Madam Gisella dan para pengasuh lainnya.
“Kau terlihat sangat bahagia Leathina.” Bisik Edward.
“Kau diam lah, jangan suka menggangguku.” Edward hanya terkekeh pelan.
Setelah puas bermain akhirnya Leathina pamit pulang karena anak-anak juga perlu tidur dan Leathina juga takut jika pulang terlalu larut orang-orang di mansion mengetahui bahwa dirinya keluar diam-diam bisa Leathina bayangkan bagaimana repot nya diomeli semua orang terutama pelayannya Anne dan adik-adiknya.
“Haa! Syukurlah tidak ada yang tahu kalau aku keluar diam-diam.” Leathina bernafas lega saat tidak ada orang yang mencarinya selama ia pergi, kemudian segera ia lepas jubahnya dan berganti pakaian.
“Kakak Leathina dari mana!”
“Wuaa!!” Leathina kaget saat tiba-tiba seseorang bangun dari kasurnya.
“Astaga! Nora, apa yang kau lakukan di kamar kakak selarut ini?!” Tanya Leathina setengah emosi karena kaget.
Mendengar Leathina marah Nora lalu turun dari kasur lalu meminta maaf dengan patuh. “Maafkan aku kakak, saya hanya ingin menyapa kakak Lea sebelum tidur dan datang kesini tapi kakak sudah tidak ada saya takut orang akan curiga makanya saya tidur disini untuk menggantikan kakak leathina sampai kakak pulang. Tapi kakak dari mana?”
“Jadi seperti itu, maafkan kakak karena berteriak tapi kakak tidak sedang memarahi mu tadi kakak hanya terkejut.”
“Saya tahu kakak tidak marah, tapi kakak belum menjawab pertanyaanku.”
Leathina tidak langsung menjawab pertanyaan Nora ia hanya melihat adiknya itu karena merasa aneh.
“Aku janji tidak akan memberitahu siapapun.”
“Nora, kakak bukannya tidak ingin memberitahumu, tapi kenapa kamu seharian murung apa ada sesuatu yang terjadi di akademi?” Tanya Leathina.
Leathina semakin curiga bahwa pasti terjadi sesuatu sebab sekilas pupil mata Nora melebar karena kaget saat ia menyebutkan akademi namun langsung berubah, Nora malah langsung tersenyum dan memeluk Leathina.
“Apa maksud kakak Leathina, tidak ada masalah di akademi.”
‘Duh anak ini! Jika kau bilang tidak ada masalah dengan ekspresi aneh seperti itu maka itu berarti ada masalah.’
“Kakak dari keluar mengunjungi anak-anak panti, tidak melakukan yang aneh-aneh.”
“Wah! Curang, kenapa Nora tidak diajak. Lain kali ajak Nora juga ya.”
“Iya-iya, tapi untuk sekarang kau kembalilah ke kamarmu kau butuh istirahat jangan begadang.”
“Iya kakak, sekarang saya akan ke kamar.”
Leathina menatap punggung Nora yang berjalan keluar dengan malas tapi Leathina hanya memperhatikan karena tidak tahu apa yang sedang terjadi pada adiknya itu.
...***...