I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 98



“Srek”


“Teng”


“Srek”


Suara dentingan pedang yang saling beradu bergeming di dalam bangunan itu serta suara tebasan yang menyisakan percikan darah dan menempel dimana-mana membuat si kusir yang tadi ikut mamasuki gedung itu  hanya bisa meringkuk dengan tubuh gemetaran sambil menutup mata dan telinganya karena ketakutan.


“Sial, sapu tangan kesukaanku.” Tesro memungut sapu tangan miliknya yang tidak sengaja ia jatuhkan tanpa mempedulikan suara dentingan pedang dan suara jeritan karena terkena tebasan ia mengibaskan saputangannya untuk menghilangkan debu yang menempel.


“Baiklah kerja bagus kalian, bereskan mayat mereka bertiga buat seperti mereka tidak pernah sampai di sini.”


“Kamu akan sangat sibuk untuk membersihkan mayat-mayat ini Tuan Tesro.”


“Hekk” Tesro terpekik dan terjungkal ke belakang ketika melihat orang-orangnya telah terbaring dengan darah di sekujur tubuh mereka.


“Ba.. bagaimana bisa orang-orang ku dalam waktu sekejap itu ka.. kalian..”


Ucapan Tesro terhenti ketika Adam menodongkan pedangnya yang masih berlumuran darah tepat di tenggorokannya.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami Tuan khawatirkan saja dirimu sendiri.”


“Ampuni saya Tuan, ini.. ini hanya salah paham..


“Brakk.”


Tesro beringsut mundur tapi tercegat oleh dinding dan mulai memohon ampunan atas nyawanya tapi tiba-tiba saja Ed’ melemparkan pedangnya dan tertancap tepat di samping kepala Tesro membuat Tesro tidak berani bernafas apalagi bergerak.


“Nyawamu sekarang tidak lebih berharga dari seekor lalat, jadi berbicara ketika aku izinkan dan tutup mulutmu jika tidak ingin pedangku menancap di salah satu bola matamu.” Ed’ berbicara sambil berjalan mendekati Tesro dan mencabut pedangnya kembali.


“Kau apakan anak-anak ini?” Tanya Adam mengintrogasi sementara Ed’ sibuk membersihkan pedangnya dengan sapu tangan milik Tesro yang tadi ia jatuhkan.


“Jawab!” ucap Ed’ singkat dan membuat Tesro kembali menggigil karena ketakutan.


“A..aku menjualnya Tuan, aku mengambil anak-anak yang tinggal dijalanan kemudian diam-diam mengambilnya sebagai budak ku dan menjualnya!”


“Baiklah kejahatan mu sudah cukup sampai disini, beristirahatlah.” Ucap Adam sambil mengayunkan pedangnya ingin menebas tenggorakan Tesro.


“Tunggu dulu tuan, aku mohon ampuni aku. Aku akan menghentikan usahaku ini jadi aku mohon jangan bunuh aku.” Tesro terus memohon pada Adam tapi Adam masih tetap mengayunkan pedangnya.


“Arghhh!!” Teriakan Tesro menggema di ruangan tanpa jendela itu saat pedang milik Adam merobek salah satu lengannya.


“Aku mohon ampuni aku tuan! Tunggu.. tunggu! Kalian tidak bisa melakukan hal semacam ini padaku kau tahu pamanku.. pamanku orang terkenal di kota ini dia memiliki banyak koneksi kau akan tamat jika membunuhku dia tidak akan tinggal diam.” Tesro semakin panik ketika Adam kembali mengangkat pedangnya Tesro sudah hampir kehilangan akal karena ketakutan hingga ia kembali mengancam Adam.


“Maafkan aku tapi sayangnya aku tidak suka memberi ampun dan jika pamanmu tidak akan tinggal diam karena kematianmu maka kami hanya harus membunuhnya lagi.” Ucap Adam sambil kembali mengayunkan pedangnya dan kali ini targetnya adalah leher tesro.


“Tunggu!” Teriak Leathina menghentikan gerakan Adam selanjutnya.


“Ada apa Nona Lea? Bukankah seharusnya orang ini di hukum.” Reflek Adam menghentikan gerakannya dan dengan kebingungan bertanya pada Leathina.


“Bukankah terlalu baik untuknya mati dengan mudah seperti itu.” Leathina berjalan sambil menyimpan pedangnya kembali ke dalam sarungnya.


“Apa kamu merencanakan sesuatu, Lea?” Tanya Ed’ pada Leathina.


“Jadi maksudmu kau akan melaporkannya ke pengadilan tinggi kerajaan.”


“Iya aku ingin melakukan itu.”


“Baiklah, ide itu tidak terlalu buruk. Dia akan dimasukkan penjara seumur hidup beserta seluruh keluarganya dan pamannya itu kekayaanya akan di sita dan rumahnya akan dijadikan rumah tinggal bagi anak-anak yang telah mereka culik.” Ed’ tersenyum puas dengan rencananya sendiri sambil menatap Tesro sinis.


“Tunggu dulu kau tidak bisa melakukan itu, aku.. keluargaku.. tidak.. tidak.. sebaiknya bunuh aku sekarang jangan menganggu keluargaku tidak bunuh saja aku seka.... hummppp!” Tesro tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar ia lebih memilih mati dari pada dipenjara seumur hidup bersama dengan seluruh keluarganya.


“Apa itu bisa terjadi?” tanya Leathina ragu-ragu.


“Bisa, tentu saja bisa kejahatannya bahkan bukan hanya sekedar menculik dan memperdagangkan manusia tapi masih banyak lagi.”  Adam menjawab pertanyaan Leathina sambil mengikat Tesro dan menyumbat mulutnya agar tidak bisa berbicara lagi.


“Bagaimana dengan kusir ini, bos?” Tanya Adam pada Ed’ sambil menarik kerah baju si kusir sementara si kusir hanya pasrah diperlakukan seperti itu karena tidak berani melawan taku jika Adam juga menebas lengannya seperti yang ia lakukan pada Tesro.


“Orang ini yang akan membawa sampah ini ke pengadilan tinggi dengan membawa semua bukti, hingga kita tidak perlu terlibat.” Jawab Ed’ atas pertanyaan Adam tadi.


“Baiklah, jadi pak kusir kau mendengarnya kan tetap di sini dan jaga si sampah ini, jika ingin nyawamu melayang coba saja kalau kau berani menolongnya maka bukan hanya nyawamu saja yang melayang tapi juga seluruh keluargamu akan aku buru.”


Si kusir hanya bisa mengangguk mengiyakan takut membantah dan hanya mengikuti semua perintah Adam.


“Ayo pergi kita terlalu membunag-buang wakti disini, selebihnya biar Fiona yang mengurusnya. Adam berbicara sambil melangkah keluar dari ruangan itu diikuti oleh Adam dan Leathina dibelakangnya.


Uhg.. kepalaku sedikit pusing. Jika kami langsung pulang ke markas maka aku pasti akan pingsan di jalanan, aku terlalu banyak mengeluarkan energi.  Leathina berjalan mengikuti Adam dan Ed’ sambil memukul-mukup pelan kepalanya mencoba menyegarkan kembali kepalanya karena terlalu banyak mengeluarkan energi saat menyembuhkan anak-anak di tambah perjalanan mereka serta pertarungan yang barusan ia lakukan membuatnya sedikit merasa pusing dan oleng.


“Aku bahkan belum makan seharian.” Gumam Leathina pelan sambil menghembuskan nafas panjang.


“Ada apa Lea, apa kamu masih belum puas dengan yang akan bos Ed’ lakukan pada si sampah tadi?” Bisik Adam saat tidak sengaja mendengar Leathina menghembuskan nafas panjang.


“Um.. Adam apa kita tidak akan singgah untuk makan, kau tahu kita belum makan seharian.” Balas Leathina dengan ikut berbisik pada Adam.


“Kau lapar Lea?” Tanya adam lagi pada Leathina.


“Groowwl....!!”


Belum sempat Leathina menjawab terdengar suara bunyi perut keroncongan yang terdengar sangat jelas dari arah perut Leathina.


Leathina hanya mengangguk pelan sambil menutupi perutnnya dan berusaha menahan malunya karena suara perutnya sendiri, sekilas ia melirik ke arah Ed’ untuk memastikan apakah dia juga mendengar suara perutnya atau tidak tapi Ed’ hanya terus berjalan ke arah kudanya berada tanpa mempedulikan mereka berdua.


“Tenang saja, aku pasti akan membawamu ke kedai makanan.” Ucap Adam sambil berbisik dan di balas anggukan  oleh Leathina.


...***...


Hay guys!! Maafin author nih soalnya baru up ceritanya soalnya ada kesibukan lain hehehe.


Tapi author benar-benar berterimakasih pada kalian yang masih bersedia membaca tulisan yang masih jauh dari kata sempurna ini.


Terimakasih atas dukungan kalian tetap like, komentar, hadiah, dan vote jika bersedia.


Stay safety yah.


Love you all 💙💙