
Duke menatap kepergian mereka tanpa berkedip, dilihatnya para bangsawan bear-benar ingin menjatuhkan keluarganya bahkan kesatria yang awalnya dilatih olehnya kemudian ditugaskan di kerajaan pun berani menyalahi perintahnya.
“Winter, Nicholas!” Ucap duke setelah semua orang telah benar-benar pergi dari kediamannya.
“Iya paman.”
“Iya ayah?”
Jawab Nicholas dan Winter.
“Cari tahu dan catat nama-nama semua bangsawan yang mengajukan laporan tudingan pemberontakan pada keluarga Yarnell dan semua orang yang bekerja sama dengan mereka, selidiki dan laporkan padaku!”
“Baik,” Ucap Nicholas dan Winter bersamaan.
Winter pun meminta para prajurit untuk membersihkan percikan darah dengan menyiramnya dengan air atau menutupinya dengan tanah agar tidak tercium bau amis.
“Tu- tuan!” Seru Anne dari kejauhan dengan berlari ke arah mereka bertiga yang baru akan masuk kembali ke dalam mansion.
“Tuan!” serunya lagi setelah hanya memiliki jarak beberapa meter saja.
“Ada apa Anne?” tanya Winter meminta Anne untuk tidak berlari sembarangan di depan duke leonard seperti itu.
“Maafkan saya tuan, ta- tapi no- nona, nona leathina.” ucapnya segera membungkuk.
“Ada apa Anne? katakan dengan benar!” ucap Nicholas yang tidak sabaran.
“Nona sepertinya sebentar lagi akan sadar.”
“Benarkah!” seru Nicholas dan Winter hampir bersamaan karena terkejut mendengar kabar dari Anne.
“Benar tuan, tangannya bebera ....”
Belum sempat Anne menyelesaikan ucapannya duke leonard malah berlari lebih dulu masuk ke dalam, melihat hal itu Winter dan Nicholas pun ikut berlari masuk untuk kembali ke dalam ruangan Leathina.
“Apa nona baik-baik saja?” Tanya seorang prajurit yang tiba-tiba datang mendekati Anne setelah Duke leonard, Winter dan Nicholas pergi.
“Saya masih belum tahu tuan, kalau begitu saya permisi.” Jawab Anne membungkuk kemudian segera masuk menyusul duke leonard dan yang lainnya.
“Duke!” Seru Edward ketika melihat Duke leonard, Winter dan Nicholas rusuh masuk ke dalam ruangan Leathina.
Duke Leonard tidak menghiraukan Edward yang memanggilnya, kedu amatanya otomatis mengarah ke tempat tidur dan segera berjalan ke sana.
“Leathina?” ucapnya pelan mengenggam tangan leathina.
Masih tidak ada respon, bahkan leathina masih menutup rapat matanya. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa leathina akan terbangun.
Semua orang terdiam termaksud duke leonard yang kini menunduk lesu tapi tangannya masih kuat menggengam jemari dingin leathina.
“Ayah!” jerit Nora mengejutkan semua orang, termaksud duke leonard yang langsung mendongak melihat putra bungsunya itu.
“Ada apa Nora?” tanya ibunya mencoba menenagkannya kembali.
“Ibu, aku tadi melihat bulu mata kakak Leathina bergetar. Mungkin sebentar lagi akan bangun!” serunya bersemangat kemudian melompat naik ke atas kasur dan berlutu di samping leathina menunggunya benar-benar tebangun.
Mendengar perkataan Nora membuat semua orang dipenuhi harapan was-was menunggu leathina terbangun, sebab tadi beberapa kali jari-jari leathina bergerak tapi tidak ada yang terjadi setelahnya membuat mereka semua semakin jatuh dalam harapan dan sekarang pun tidak ada yang terjadi seperti sebelumnya.
Saat Nora melompat naik, seluruh tempat tidur pun ikut tergoyang karena mendapat gucangan membuat Leathina yang berbaring di atasnya pun sedikit bergoyang.
“Kau lihat, sekarang seluruh badannya pun bisa bergerak jika kau mengguncang tempat tidurnya. Jadi berhentilah mengejutkan semua orang.” Ucap Aelfric memberitahukan pada Nora karena merasa kesal telah berharap saat mendengar perkataan Nora tadi.
“Tapi aku benar-benar melihatnya bergerak tadi.” Nora mengelak, tidak terima dianggap berbohong oleh Aelfric.
“Nora, kemari sayang. Ibu tau perasaanmu, ibu juga berharap kakakmu bisa segera membuka matanya.” Duchess Nice kembali menarik Nora bersamanya agar percakapan mereka tidak berlanjut menjadi sebuah pertengkaran.
Duke kembali lesu matanya kosong memandang ke depan kemudian menunduk tepat di samping telinga leathian dan tangannya masih setia mengenggam jemari Leathina.
“Bangunlah Leathina, ayah menunggumu sayang.” bisiknya penuh dengan harapan kemudian menutup wajahnya dengan tangan yang satunya.
...
“Mungin Aelfric telah benar-benar menghilang sekarang.” Gumam Leathina kemudian berjalan meninggalkan pintu ia kembali menuju gambrana-gambaran ingatan yang tadi dilihatnya.
Leathina berjalan mengitari seluruh gambaran-gambaran ingatan masa kecilnya sebagai Isabella, dilihatnya wajah ayah dan ibunya yang lama tidak ia lihat.
“Sepertinya aku benar-benar merindukan kedua orang menyebalkan ini.” Gumamnya kemudian mengusap pelan pipinya yang basah.
“Oh, ini ingatan saat aku membaca novel yang aku masuki ini.” Serunya kemudian dengan semangat mencari tahu.
“Ini benar-benar kacau, alur ceritanya benar-benar berubah karena jalan yang aku pilih, Yasmine yang seharusnya menjadi pusat perhatian orang-orang malah menjadi musuh dan aku yang seharunya terasingkan malah menjadi pusat perhatian tempat kami tertukar tapi andaikan Yasmine tidak berubah jadi jahat mungkin kita berdua bisa hidup berdampingan lagi pula aku tidak berminat mengambil tempatnya aku sudah terlanjur memiliki segalanya. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi setelah semuanya berubah, baik untukku ataupun yang lainnya.” Ucap Leathina kemudian menghela nafas panjang berharap semuanya akan baik-baik saja.
“Tapi aku yakin Yasmine belum mati dan pasti akan datang kembai dan membalas dendam padaku, sepertinya aku harus bersiap-siap untuk menenangkan pertarungan yang akan terjadi setelah membuka mata.” Ucap Leathina lagi kemudian kembali menghembuskan nafas panjang.
“Leathina?!” serunya ketika melihat gambaran ingatan leathina yang belum pernah ia ingat sebelumnya.
“Aku harus melihat semua ingatan leathina, aku tidak mau merasa sakit luar biasa hanya untuk memdapat ingatannya yang terpotong-potong.”
“Aku tidak tahu jika Leathina telah bermain pedang dari umur belia tanpa diketahui oleh orang-orang tapi sayangnya separuh skillnya sekarang mungkin akan menjadi sia-sia karena aku yang menempati tubuhnya. Aku merasa buruk untuknya hasil usahanya berujung sia-sia.”
“Huh? Kenapa Leathina mengendap-endap keluar seperti itu?” tanyanya ketika melihat potongan beberapa ingatan yang sama tapi kemudian menyadari bahwa itu bukan ingatan yang sama melainkan kegiatan yang dilakukan Leathina secara berulang dan teratur.
Leathina terus menerus keluar secara sembunyi-sembunyi kemudian berkeliaran di jalan-jalan kota bahkan di daerah kumuh. Sesekali dilihatnya Leathina mengikuti beberapa orang secara diam-diam bahkan sampai melakukan penyamaran.
“Untuk apa gadis ini setiap malam berkeliaran seperti itu di kota? Wah, lihatlah salah satu keahliannya itu ia melakukannya secara berulang tapi tidak ada yang menyadari bahwa ia menghilang.” Ucapnya terkagum melihat leathina.
Setelah Leathina kembali pun leathina tidak langsung tertidur tapi kembali duduk semalaman menuliskan banyak daftar nama-nama yang sepertinya berisi nama dari orang-orang yang melakukan kejahatan kecil bahkan sampai kejahatan yang besar.
“Wah! Hebat sekali, apa dia berencana membantu ayahnya dan kerajaan untuk menyingkirkan para penjahat bertangan bersih? Tapi untuk apa Leathina repot-repot mengumpulkan informasi sebanyak itu jika pada akhirnya ayahnya dan yang lainnya masih membencinya.”
“Hais, lihatlah para pelayan ini. Aku penasaran apa sekarang mereka masih bekerja di manison setelah berbuat sekeji itu pada Leathina saat masih kecil."
“Ini ingatan Leathina saat pertama kali bertemu dengan Yasmine.”
Leathina tidak berniat menolong Yasmine dan memilih untuk tetap pada tujuannya yang berniat menuju toko penjual perlengkapan dan ia pun hanya melewati mereka tapi Yasmine tiba-tiba berlari ke arah Leathina memohon untuk diselamatkan.
“Mohon selamatkan saya tuan.” Pinta Yamine yang salah mengenali Leathina sebagai seorang laki-laki karena Leathina mengenakan celana.
“Tuan kecil, sebaiknaya anda tidak usah ikut campur jika tidak ingin pulang dengan babak belur.”
“Aku tidak berniat pulang dengan babak belur, aku yakin kalian bahkan tidak akan bisa mendaratkan satu pukulan di wajahku.”
“Kurang ajar!” seru para preman dan mulai menyerang leathina.
Benar saja tidak ada yang bisa menyetuh Leathina, bahkan pertarungan satu banding tiga orang itu hanya diselesaikan leathian kurang dari lima menit saja.
“Brengsek.” Umpatnya kesal tapi cepat-cepat lari terbiri-birit saat leathina mendekati mereka.
Setelah para preman pergi Leathina pun ikut pergi tidak Leathina pedulikan Yasmine yang masih meringkuk ketakutan dan memilih untuk segera pergi.
“Tu- tunggu!” triak Yasmine menghentikan Leathina.
Leathina menoleh kemudian hanya mentapa Yasmine tanpa eksprsi, “Tidak usah berterimakasi.” Ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Yasmine menuju toko perlengkapan.
“Tuan tunggu dulu.” Seru Yasmine saat Leathina keluar dari toko perlengkapan.
Leathina masih sama, ia masih tidak mempedulikan keberadaan Yasmine dan memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya.
“Tuan Tunggu dulu!” berhenti sebentar!” teriak Yasmine dan menarik jubah Leathina membuat leathina terpaksa berhenti karena semua mata tertuju pada mereka berdua.
“Ada apa?” tanya Leathina datar.
“Ka- kau, kau perempuan!” Ucap Yasmine yang sangat terkejut saaj mendengar suara Leathina dengan jelas dan melihat wajahnya yang cantik.
“Tentu saja aku perempuan jadi jangan berharap untuk menyukaiku karena telah menyelamatkanmu seperti di buku dongeng, aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang tapi jangan merasa kecewa anggap saja aku tidak sengaja lewat dan menolongmu.”
“Kalau begitu jadilah temanku!”
“Kau gila?!” Ucap Leathina setelah mendengar perkataan Yasmine barusan. “Aku tidak berteman dengan sembarang orang jadi enyalah dari pandanganku.” Leathina pun pergi meniggalkan Yasmine.
“Hati-hati dijalan, ingat sekarang kita telah resmi berteman yah. Aku akan menunggumu disini besok, aku tahu kau sering berkeliaran disini di waktu yang sama!” teriak Yasmine yang dengan semangat melambaikan tangannya ke arah Leathina tapi Leathina bahkan tidak menoleh sedikit pun untuk meresponya.
“Gadis aneh.” Gumam Leathina setelah berjalan pergi.
Keesokan harinya Leathina kembali keluar ke kota menuju toko perlengkapan yang sama seperti yang ia kunjungi kemarin untuk mengambil barang pesanannya di toko itu.
Namun saat keluar dari toko Leathian mendapat Yasmine ternyata telah menunggunya di luar toko dan mengikutinya di sepanjang jalan.
“Namaku Yasmine, namamu siapa? Kata ayahku kita belum resmi berteman jika belum mengetahui nama masing-masing jadi siapa namau?” ucap Yasmine dengan semagatningin berkenalan dengan Leathina.
“Lea.” Jawab Leathina singkat dan kembali fokus pada jalannya.
“Yes! Sekarang kita resmi berteman.” Ucap Yasmine kegirangan setelah mereka berdua saling bertukar nama, dan setelah itu Yasmine terus-menerus menempel pada Leathina setiap kali Leathina datang ke kota.
Leathina tidak menolak keberadaan Yasmine atau pun menerimanya ia hanya membiarkan gadis itu berkeliaran disekitarnya hingga keduanya merasa nyaman satu sama lain dan saling membutuhkan.
Hingga mereka berdua pun beranjak dewasa, karena Yasmine sering mengikuti kemana perginya Leathina seakan-akan ia adalah bayangan Leathina membuatnya dikenal banyak orang dan mulai menjalin relasi dengan yang lainnya, bahkan dengan Nicholas dan pangeran Yardley yang sering bertemu dengan leathina karena perintah dari ayah Yardley membuat ketiganya sering bertemu satu sama lain.
Pangeran Yardley tidak terlalu menyukai Leathina karena sikanya yang dingin dan tidak dapat menunjukkan ekspresinya tidak ada kesempatan bagi pangeran Yardely untuk lebih unggul dari Leathina karena semua yang dilakukan leathina pastilah sempurna, berbeda dengan Yasmine yang setiap saat harus mendapat pertolongan dan dilindungi karena sifatnya yang lembut.
“Leathina kau harus mendengar berita baik ini, pokoknya kau akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya bahkan ibuku pun belum aku beritahu.” Ucap Yasmine bersemangat saat bertemu dengan Leathina.
“Aku juga sama, aku akan memberitahukanmu sesuatu yang mungkin akan mengejutkanmu Yasmine.” Ucap Leathina.
“Benarkah? Kalau begitu aku akan memberitahumu terlebih dahulu, dengar baik-baik dan jangan terkejut yah.”
Leathina tidak merespon dan hanya menatap Yasmine menunggunya memberitahu padanya apa yang akan ia beritahukan.
“Aku menyukai seseorang dan orang yang aku sukai ternyata juga menyukaiku dia menyatakan perasaannya kemarin padaku, kau tahu siapa? Tentu saja kau tahu dia adalah Pangeran Yardley.” Yasmine terlalu antusia memberitahukan pada Leathina.
Alis Leathine berkerut menanggapi berita yang dikatakan oleh Yasmine kemudian menghela nafas panjang.
“Aduh. Itulah kenapa orang-orang tidak menyukaimu Leathina, disaat mendengar kabar gembira seperti ini kau seharunya tersenyum dan membeikan selamat pada sahabatmu ini.” Ucap Yasmine kemudian menepuk pelan punggung Leathina. “Nah sekarang giliranmu, apa kabar yang menurutmu akan membuat ku terkejut leathina?” tanya Yamine tidak sabar menunggu leathina memberitahukan padanya mengenai hal yang sepertinya terdengar sangat penting.
“Aku meminta raja untuk menjodohkanku.” Ucap Leathina memberitahu Yasmine.
“Wah, benarkah? Hebat sekali ternyata menjadi putri seorang duke dapat meminta apapun bahkan jodoh sekalipun jadi siapa yang kau suka sampai memintanya langsung dengan raja.” Tanya Yasmine dibarengi dengan suara cekikikan karena tidak menyangka Leathina yang dingin seperti es ternyata juga bisa menyukai seseorang.
“Dengan orang yang sama dengan yang kau sukai.” Jawab Leathina tenang.
“Ah, jangan bercanda maksudmu dengan Yardley?”
“Apa aku pernah bercanda?”
“LEATHINA!” Jerit Yasmine mendengar ucapan Leathina yang benar-benar tidak menyisipkan perasaan disetiap ucapannya.
“Tapi aku juga menyukainya.” Ucapnya lirih dan mulai menagis, “Aku sahabatmu tidak bisakah kau menyerah,” pintanya sambil sesenggukan menahan isak tangisnya.
“Kenapa harus aku yang mundur? Sejak awal pertemuanku dengan Pangeran Yardley memang dijadwalkan oleh raja untuk mengatur perjodohan diantara kami berdua.”
“Ta- tapi bukankah kita bersahabat?”
“Tentu saja kita bersahabat maka dari itu mundurlah Yasmine, kau menjadi orang ketiga diantara kami.”
“Pangeran Yadrley tidak menyukaimu, dia menyukaiku pangeran bahkan telah menyatakan perasaanya padaku.”
“Aku tahu, tapi bagi kami para bangsawan rasa cinta atau tidak cinta bukanlah sebuah permasalahan melainkan yang terpenting adalah kecocokan dan saling menguntungkan. Lagi pula kalian berdua tidak akan cocok dan tidak saling menguntungkan, jika kau ingin menjadi putri mahkota dan menjadi pasangan seoran pangeran maka kau harus memenuhi beberapa syarat dan tentu saja dari garis besar kau sudah terelimiasi Yasmine kau tidak cocok dengannya serta statusmu yang tidak menguntungkan bagi pangeran jadi menyerahlah.”
“Tega sekali kau, hatimu benar-benar telah membatu Leathina.” Ucap Yasmine kemudian segera pergi meninggalkan Leathina dangan rasa sakit yang ia tampung di hatinya.
...***...