I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 155



Aelfric mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian melihat ke sekelilingnya dan seluruh yang ia lihat kini hanya berwarna hitam keseluruhannya tidak ada cahaya atau pun penerangan yang dapat ia gunakan sebagai penunjuk jalan.


“Aku benar-benar berhasil masuk?” gumam aelfric kemudian mengamati sekelilingnya “Ini benar-benar gelap, aku bahkan hampir tidak dapat melihat apa-apa disini. Kenapa gelap sekali sih.” Ucapnya kemudian berjalan ke depan dengan meraba-raba di sekitarnya takut jika tersandung sesuatu dan terjatuh tapi ia tidak dapat menemukan pegangan atau pun sesuatu yang menghalangi jalannya.


“Aku meninggalkan tubuhku untuk yang pertama kali, apa mereka akan merawat tubuhku juga ya,” Aelfric mengkhawatirkan tubuhnya di dunia nyata, kemudian pikirannya melayang kembali khawatir jika orang-orang hanya membiarkannya tergeletak begitu saja di lantai.


Aelfric terus berjalan ke sembarang arah tidak ia pedulikan lagi sesuatu yang mungkin akan menghalanginya ia pun akhirnya mulai terbiasa berjalan di kegelapan.


Beberapa saat kemudian dari kejauhan terlihat sebuah pintu yang terpampang tidak jauh di depan Aelfric.


“Apa ini pintu masuk pertama ke dalam Leathina?” tanyanya saat sampai di depan pintu kemudian mengamatinya dengan sangat teliti tapi yang ia lihat hanya lah pintu biasa seperti pintu-pintu pada umumnya.


“Apa aku boleh masuk.” Tanyanya lagi sambil memegang gagang pintu dan membukanya perlahan, Aelfric mengintip di balik pintu kemudian matanya terbelalak saat melihat isi dari balik pintu tersebut.


“Apa ini bagian dari ingatan leathina?” ucapnya kemudian mantap melangkahkan kakinya ke dalam kemudian menutup kembali pintu yang ia masuki dengan hati-hati.


“Ini ingatan Leathina!” seru aelfric saat melihat leathina kecil duduk sendiri di taman tanpa seseorang yang mengawalnya.


“Astaga siapa yang membiarkan anak kecil berkeliaran di taman tanpa pengawasan, bagaimana jika dia terjatuh atau terkena benda tajam disini.” Aelfric menghampiri leathina kecil berusaha berbicara dan menyentuhnya karena gemas melihat nya.


“Eh? Tidak bisa aku sentuh!” ucapnya tidak percaya saat ia mencoba untuk mencubit pipi leathina kecil tapi yang ia cubit hanya udara dan yang ia lihat ternyata hanyalah sebuah bayangan saja.


“Hei! Hei! Adik kecil, apa kau bisa mendengar ku?” teriaknya karena ingin berbicara dengan leathina kecil tapi tidak ada respon, leathina kecil tidak dapat melihatnya atau pun mendengarkan apa yang ia ucapkan. Hanya Aelfric yang bisa melihat dan mendengar apa yang ia bicarakan.


“Woah, leathina yang itu mungkin berumur sekitar delapan atau sepulu tahun.” Aelfric melihat ingatan yang lain yang tiba-tiba muncul di beberapa tempat secara bersamaan dan tertarik untuk melihat pertumbuhan leathina dari umur ke umur.


Aelfric tertarik melihat leathina yang berumur kurang lebih delapan atau sepulu tahuan dan dengan semangat menonton Leathina.


“Aku tidak percaya bisa menyaksikan ini semua dalam waktu singkat, aku pasti bisa membuat semua orang iri jika aku kembali dan menceritakan ini semua pada mereka.”


“Hei! Apa yang kalian lakukan pada nya?!” teriak Aelfric saat melihat adegan di mana leathina kecil sedang berjalan sendiri di koridor dan beberapa pelayan dengan sengaja menabraknya hingga membuat leathina terpental ke belakang.


“Tidak-tidak hentikan, apa kalian gila.” Teriaknya lagi mencoba menghentikan salah satu pelayan wanita yang dengan sengaja menuangkan teh panas yang ia bawa ke tangan leathina yang tadi terjatuh.


Aelfric semakin kesal karena ia tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolong leathina, ia bahkan beberapa kali telah menggunakan tubuhnya untuk menghalangi air panas tersebut menyentuh kulit leathina tapi sayangnya air tersebut malah menembus tubuhnya.


“Hais! Pelayan sialan, akan aku ingat wajahmu dan mencari mu saat aku kembali dan membalas semua perlakuan buruk mu pada leathina.” Ucapnya yang semakin emosi melihat pelayan-pelayan yang bekerja di kediaman keluarga yarnell. “Kenapa duke memperkerjakan orang-orang tidak berguna seperti mereka sih.” Ucapnya dengan ketus.


“Nona Leathina! Kenapa anda berlarian di koridor. Berbahaya, anda jadi terjatuh kan.” Ucap si pelayan yang kemudian menyalahkan leathina.


“Hei! Hei! Leathina tidak berlari dia tadi berjalan kalian  yang menabrak leathina dengan sengaja.” Teriak aelfric dan mengacak-acak rambutnya karena menahan rasa kesal nya pada pelayan-pelayan yang menabrak leathina dengan sengaja.


“Astaga! aku tidak bisa melihat hal seperi ini jika aku hanya diam dan tidak melakukan apa-apa untuk menolong leathina padahal aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku benar-benar akan mengingat wajah kalian, aku telah menandainya!” ucapnya sambil meninju-ninju para pelayan tapi usahanya sia-sia karena tinjunya terus menembus dan pada kenyataanya ia hanya meninju udara kosong di depannya.


Leathina nanar menatap mereka kemudian segera berdiri kembali tidak ia pedulikan punggung tangan kirinya yang kini telah melepuh, dengan langkah pasti leathina berjalan ke arah para pelayan yang sedang menindas nya.


“No-nona i-ini berbahaya, jangan mendekat lagi.” Ucap si pelayan ketakutan saat leathina terus berjalan ke arahnya dengan tatapan yang menakutkan mereka pun berjalan mundur mencoba menjauhi Leathina tapi Leathina masih berjalan ke arah mereka.


“No-nona?” ucap si pelayan terbata-bata karena takut dengan leathina.


“Arggh!” jerit mereka bersamaan.


Leathina berjalan mendekati mereka kemudian saat jarak mereka sudah sangat dekat leathina merebut teko yang berisi teh panas yang tadi di bawa pelayan kemudian menyiramkan teh panas yang ada di dalam teko ke arah para pelayan tadi.


“Argh! Wajahku!!” jerit salah satu pelayan yang wajahnya tersiram air panas saat leathina melemparkan teko yang berisi teh panas ke arah mereka.


“Oh, astaga.” ucap leathina menirukan ucapan si pelayan tadi. “Teh nya pasti tidak sengaja tertumpah saat kalian dengan sengaja menabrak ku tadi, lain kali kalian harus berhati-hati dan perhatikan perilaku kalian. Anjing mungkin bisa menggigit tangan tuannya saat memberikan makan pada anjingnya, tapi sang tuan bisa membunuh atau membuang anjingnya kapan pun ia mau.” Leathina menyeringai membuat pelayan yang menahan sakit hanya terdiam tidak berani menjawab setelah itu Leathina pergi meninggalkan mereka.


“Woah, sudah aku duga penyelamatku tidak mungkin mudah dibuli oleh orang lain,” ucap Aelfric takjub melihat apa yang dilakukan leathina sebagai pembalasan atas yang mereka lakukan padanya.


“Dasar anak setengah bangsawan sialan, dia jahat sekali pantas saja dia tidak dianggap oleh ayah kandungnya sendiri,” gumam si pelayan setelah leathina pergi.


“Hei! Hei! Kalian ini benar-benar.” Ucap aelfric tidak percaya mendengar ucapan si pelayan yang menghina leathina, tapi tidak terlalu ambil pusing Aelfric lebih penasaran mengetahui tentang leathina.


Aelfric melihat leathina berjalan ke arah taman dan setelah tidak ada orang lagi yang berada disekitarnya leathina mulai berlari dengan kencang masuk ke dalam taman menuju sebuah kolam kecil yang ada di sana.


“Sakit, sakit, sakit, ini benar-benar sakit sekali!” Tidak henti-hentinya leathina bergumam kemudian segera mencelupkan tangannya yang terkena air panas ke dalam kolam untuk mengurangi rasa sakitnya.


“Hanya orang-orang bodoh dan tidak berperasaan yang membiarkan seorang anak kecil dengan luka seperti itu sendirian tanpa pengobatan.” Ucap Aelfric yang merasa sedih melihat leathina yang sepertinya sangat ingin menangis tapi tidak bisa mengeluarkan air matanya sendiri bahkan dengan luka seperti itu, emosi leathina telah tertahan jadi jika ia ingin menangis pun ia tidak akan bisa.


“Apa sekarang aku menangis? Dasar lemah.” gumam aelfric, kemudian segera mengusap ujung matanya dengan bahunya.


“Eh, siapa itu?” tanya aelfric yang kebingungan saat tiba-tiba melihat gambaran ingatan lain yang muncul.


Di dalam gambaran ingatan tersebut aelfric melihat gambar aneh dan seorang anak kecil berambut hitam pekat yang tengah berada di dalam gendongan ayahnya serta seorang perempuan yang berjalan di samping mereka berdua, mereka tampak sangat bahagia.


“Ini ingatan siapa?”


...***...