
"Jadi ini maksudnya jangan mengotori kereta, tapi ini keterlaluan akun kan jadi harus kembali dan turun dari kuda ku untuk membereskan nya." Gumam Adam saat melihat kereta telah jauh meninggalkan nya dibelakang.
Adam menghela nafas berat saat Troy menendang si kusir terlalu jauh membuatnya harus turun dari kudanya untuk mengurusnya.
“Semangat!” ucap Nina menyemangati Adam kemudian segera mengecup kudanya agar bisa menyusul Troy di depan melanjutkan perjalanannya mengikuti kereta yang kini diambil alih oleh Troy.
“Ah! Hati-hati, pak tua itu tidak sendiri.” Teriak Nina lagi memberitahu Adam sebelum benar-benar pergi.
“Tu-tuan, tuan, tolong ampuni saya.” Si kusir yang tadi nya masih menahan sakit akibat terjatuh dari kereta cepat-cepat bangun dan langsung berlutut saat Adam berjalan ke arahnya kemudian memelas memohon ampun agar tidak dibunuh oleh Adam.
“Tu- tu- tuan tolong jangan bunuh saya, saya mohon!” Ucapan lagi masih berharap diberi ampun oleh Adam
Adam sama sekali tidak menanggapi si kusir yang masih memelas meminta untuk dilepaskan Adam sendiri malah semakin cepat mendekati si kusir karena ingin cepat-cepat mengurusnya dan segera menyusul rombongannya yang telah meninggalkannya sendiri di belakang.
“Tak!”
Saat Adam telah mengayunkan pedangnya dengan leher si kusir sebagai sasarannya tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arahnya kemudian dengan lincah ia memblok semua anak panah yang datang padanya dengan pedangnya untuk melindungi diri, membuatnya kesulitan untuk menyelesaikan urusannya dengan si kusir karena setiap kali ia mendekat anak panah selalu datang padanya.
“Ah! Mati kau, kau pikir aku takut padamu.” Umpat si kusir saat dilihatnya Adam kini berusaha agar tidak terkena anak panah.
“Sial! Pinggangku sakit sekali, laki-laki besar tadi sungguh tidak punya otak bagaimana bisa dia tidak kasihan pada orang tua sepertiku dan mendorongku sampai terjatuh dari kereta milik ku sendiri.” Omelnya sambil berusaha berdiri kembali kemudian menepuk-nepuk lututnya untuk membersihkan celananya dari kotoran yang menempel saat terjatuh tadi.
“Sekarang aku harus cepat-cepat menyusul para bedebah tadi dan mengambil kembali keretaku yang mereka curi si badan besar tak berotak... Awww!”
Si kusir menjerit kesakitan saat terkena tebasan pedang Adam tepat di paha kanannya membuatnya kembali terjatuh sambil menahan sakit hingga tidak lagi bisa mengoceh karena harus menahan rasa sakit di kakinya, darahnya bercucuran mulai membasahi celananya yang baru saja tadi ia bersihkan dari kotoran.
“Akh!” pekiknya.
“Kau kira kau tidak akan mati hari ini,” ucap Adam dan kembali mengayunkan pedangnya ingin menghabisi si kusir secepat mungkin karena sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan nya.
“Trak!”
Saat akan membunuh si kusir lagi-lagi sebuah panah mencegatnya membuat Adam mulai emosi karena pekerjaannya terus saja tertunda oleh orang lain.
“Keluar kalian semua! Aku mulai muak dengan permainan petak umpet kalian yang kekanak-kanakan!” seru Adam menantang orang-orang yang dari tadi terus menganggu pekerjaannya.
“Akh! Pekik si kusir menahan sakit saat Adam dengan sengaja menginjak kakinya yang terluka.
“Ke- keluar! Habisi bedebah ini, jangan beri ampun!” Teriak si kusir.
Tidak lama kemudian muncul beberapa orang laki-laki keluar dari balik semak-semak dan setiap orang memegang senjatanya masing-masing.
“Ah! Jadi kau.” Adam menunjuk seorang pria kurus yang memegang panah dan menggendong tas anak panah di punggungnya, “Kau tahu aku benar-benar tidak menyukaimu karena memperlambat pekerjaanku, akan aku bunuh kau pertama.” Ucap Adam geram, sementara orang yang dimaksud langsung bersembunyi di balik punggung kawannya yang memiliki fisik lebih kuat darinya.
“Pengecut!” cemoh Adam kemudian meludah.
“Akh! Kau meludahi ku sialan!” si kusir dengan emosi melap air ludah Adam yang mengenainya, “Akan kau suruh anak-anakku memotong-motong tubuhmu menjadi bagian-bagaian kecil!” ancamnya lagi dengan emosi yang meluap-luap.
“Oh! Jadi mereka semua anak-anakmu,” Adam mengangguk paham, “Baiklah kalau begitu akan aku buat pemakaman mu sekalian satu keluarga sekaligus.”
“Bunuh dia sekarang!” jerit si kusir memerintah, kemudian orang-orang yang tadi keluar dari balik semak-semak mulai menyerang Adam habis-habisan.
“Srak!” sebelum membalas serangan yang diberikan, Adam dengan cepat kembali menebas kaki kiri si kusir yang berusaha pergi, sengaja Adam membuat kedua kakinya tidak berfungsi sama sekali agar tidak bisa melarikan diri selama ia bertarung.
“Srek!”
“Srak!”
“Brak!”
Adam terus menangkis serangan yang ditujukan padanya kemudian membalas serangan dengan memberikan luka kecil pada lawannya tanpa berniat membunuhnya.
“Akh! Pak tua, kau bilang mangsa hari ini cukup bagus kenapa malah jadi seperti ini.” Ucap salah seorang bandit yang separuh badannya telah dipenuhi luka sayat yang diberikan Adam padanya.
“Sial! Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, berhenti berbicara padaku aku sedang kesakitan fokuskan saja untuk membunuh bedebah itu!”
“Kau pikir hanya kau yang terluka pak tua!” teriaknya yang kini ikut emosi, sesekali ia terpental ke belakang akibat tidak kuat menahan serangan yang diberikan Adam.
“Berhenti berbicara anak sial! Aku ini ayahmu, kenapa kau terus memanggilku dengan pak tua, menyesal aku membesarkan mu.”ucapnya kesal sambil menahan sakit di kedua kakinya yang masih mengeluarkan darah.
“Ah! Apa jangan-jangan kau ingin membiarkan kami semua mati, dan mengambil hadiah yang dijanjikan untuk mu sendiri dan tidak mau membaginya dengan kami!” ucapnya curiga pada pak tua yang dari tadi mengomel padanya dan tentu saja pembicaraannya dapat di dengar dengan rekan-rekannya yang lain bahkan oleh Adam.
Karena kecurigaannya membuat para bandit yang tadi sibuk menyerang dan ingin membunuh Adam tiba-tiba terhenti, tatapan mereka semua tertuju pada si kusir yang kini masih meringis menahan sakit di kedua kakinya.
“A-apa!” tanyanya gugup, “Kau pikir aku bodoh sampai membuat kedua kakiku seperti ini.” Ucapnya lagi.
“Kau bilang mereka hanya seorang pelancong yang kebetulan melewati desa, kenapa tiba-tiba dia jadi ahli menggunakan pedang dan bela diri, apa benar kau ingin membunuh kami.” Ucap yang lainnya yang juga curiga.
“Dan kenapa dari tadi aku tidak melihat perempuan berambut merah yang kau katakan kemarin, kau ingin menyimpannya sendiri dan membawanya untuk di tukarkan hadiah setelah kami semua di habisi oleh dia.”
“Hei! Hei! Kalian semua kenapa sih! Kau pikir aku juga mau seperti ini, aku tidak tahu kalau mereka punya seorang ahli pedang yang ikut dalam rombongan mereka!”
“Srek!”
“Srek!”
“Srek!”
Adam yang bosan mendengar pertengkaran mereka kembali menyerang dan langsung mengenai titik-titik vital di tubuh mereka semua hingga membuat para bandit tidak lagi bisa mengangkat pedang mereka sendiri karena menahan sakit bahkan bergerak pun susah.
“Jangan mengobrol saat sedang bertarung!” ucap Adam kemudian berhenti saat melihat salah satu anggota bandit yang sepertinya masih berada di bawah umur.
“Kau?!”
“Aaaa, tolong jangan bunuh saya tuan!”
Belum sempat Adam menyelesaikan kalimatnya anak yang di lihatnya itu langsung menjatuhkan kapak yang sedari tadi hanya di peluknya kemudian langsung berlutut memohon ampun agar tidak dibunuh.
“Berapa umurmu?” tanya adam.
“Sa-saya dua belas tahun tuan.” Jawabannya sambil terisak menahan tangisnya agar tidak pecah takut jika tiba-tiba Adam marah karena dirinya terlalu berisik dan langsung membunuhnya. “T-tuan jangan bunuh saya, saya bukan anaknya sungguh.” Ucapnya dengan takut – takut.
“Sa- saya sungguh bukan anaknya, ka-kami semua adalah anak yang dia adopsi dari panti asuhan kemudian dibesarkan olehnya dan di paksa menjadi bandit tuan, aku mohon.” Sambungnya lagi tetap berusaha memohon pada Adam agar tidak dibunuh.
“Uhm... kau beruntung ada aturan yang di buat oleh bos Ed bahwa semua bawahannya tidak boleh membunuh anak di bawa umur.” Ucapnya dingin, “Kau aku beri kesempatan untuk hidup dan memberikan pemakaman yang layak pada saudara-saudaramu yang akan menjadi mayat nantinya.” Sambungnya lagi kemudian meninggalkan anak laki-laki yang masih berlutut ketakutan.
“Tapi sebelum itu aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan, jika kalian mau bekerja sama denganku maka aku akan bermurah hati untuk membunuh kalian tanpa berlama-lama dalam rasa sakit.”
“Sialan! Untuk apa aku mau bekerja sama denganmu hah?!” Ucap salah satu bandit yang kini sulit untuk bergerak karena luka di bagian vitalnya.
Benar saja sayatan-sayatan yang dibuat Adam membuat mereka semua sulit untuk bergerak karena sayatan tersebut sengaja adam buat di dekat pembuluh darah mereka, jika mereka semua nekat bergerak pembuluh darah mereka bisa saja pecah dan mati perlahan karena kehabisan darah.
“Akh! Keparat kau!” pekiknya menahan rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya, begitu juga si kusir yang kini tergeletak lemah karena mulai kehabisan darah, bibirnya mulai memucat serta matanya memberat.
“Jadi yang ingin aku tanyakan adalah kenapa kalian menyebutkan perempuan berambut merah?” tanya adam tidak ia pedulikan orang-orang yang ada di depannya itu kini berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuh mereka bahkan sampai merenggang nyawa.
Adam menatap mereka semua satu persatu menunggu seseorang menjawab pertanyaannya namun pada akhirnya semua orang malah sengaja menutup mulut tidak ingin memberitahukan Adam.
“Ah! Kalian pikir aku bercanda ya.” gumam Adam tersenyum kemudian mengacak rambutnya sendiri menahan rasa kesalnya.
Seandainya ia tidak perlu menggali informasi sudah dari tadi Adam ingin membunuh mereka semua karena telah membuang-buang waktunya.
“Srak!”
“Akh!”
Satu tebasan yang diayunkan Adam akhirnya membunuh satu orang karena tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya.
“Sepertinya benar-benar akan ada pemakaman keluarga hari ini.” Ucap Adam kemudian kembali mendekati bandit lainnya untuk bertanya.
“Kau juga tidak mau memberitahuku ya?” tanya Adam pada salah satu bandit dan pedangnya telah lebih dahulu menempel di tenggorokan korban selanjutnya itu dan saat mendapati dia juga tidak mau menjawab dengan mulus tangannya sudah menggerakkan pedangnya dan langsung menghilangkan satu nyawa lagi.
“Kau!” tanya Adam lagi untu ke sekian kalinya.
“Ekk!” pekik yang ditanya ketakutan.
“Kau mau menjawab atau langsung mati?”
“A-akan, akan aku jawab!”
“Baiklah, aku akan memberikanmu sedikit kelonggaran nanti karena mau menjawab pertanyaan ku, jadi katakan kenapa kalian menyebut – nyebut perempuan berambut merah?” Adam menjadi sedikit lebih ramah tidak seperti sebelumnya kali ini ia tersenyum pada lawan bicara nya.
“A- ada pemberitahuan dari kota bahwa kerajaan mencari seorang perempuan dengan ciri-ciri berambut merah, bahkan hanya dengan memberi informasi mereka akan membayar mahal untuk membeli informasi yang akan diberikan.”
“Jadi begitu?”
“I-iya tuan, bahkan kami dengar dia adalah anak dari salah satu bangsawan tinggi di kerajaan, orang tuannya melakukan apapun hanya karena ingin menemukan anaknya yang hilang maka tentu saja jika semua orang ingin menemukannya karena ingin menukarnya dengan hadiah.” Jawabnya menjadi lebih bersemangat karena Adam kini terlihat ramah dibanding sebelumnya.
“Ah! Bangsawan yang dia maksud pastilah Duke Leonard Yarnell ayah Leathina. Jadi ini semua karena Duke Leonard, dia mengumumkan ke seluruh pelosok negeri bahwa siapapun yang menemukan putrinya atau mendapatkan informasi tentang putrinya yang hilang maka ia akan memberikan imbalan yang besar, aku cukup takjub bahwa pengumuman yang dikeluarkan oleh kediaman Yarnell setengah tahun yang lalu bisa sampai ke desa terpencil seperti ini, aku pikir tidak akan berpengaruh karena pengumuman itu sudah sangat lama di keluarkan aku tidak tahu ada orang yang masih gencar mencari Leathina. selain Duke Leonard dan Winter.” Batin Adam merasa ada yang aneh karena ternyata mereka semua tengah mencari Leathina seakan-akan Leathina baru saja menghilang kemarin.
“Hei! Apa kau tahu siapa yang membawa pengumuman itu masuk ke desa kalian?” Tanya Adam penasaran.
“Be-berapa bulan yang lalu di kota terdekat ada beberapa orang berjubah yang menempelkan pengumuman itu di alun-alun kota dan orang dari desa yang kebetulan ada di kota dan tidak sengaja melihat pengumumannya memberitahukan orang-orang di desa saat kembali dari kota.”
“Kau tahu siapa orang berjubah itu, apa dia dari golongan bangsawan atau orang biasa?”
“Katanya mereka tamu dari keluarga terkaya di kota dan aku dengar mereka datang dari .... akh!”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba sebuah anak panah melesat ke arahnya dan membunuhnya seketika.
“Hei! Hei!” Adam mencoba membangunkannya kembali berharap mendengarkan kalimatnya sampai akhir namun usahanya sia-sia bandit yang di tanyanya itu sudah benar-benar mati karena panah.
“Hei! Apa kalian tahu mereka berasal dari mana?” tanya Adam lagi mencoba mencari tahu lebih lanjut.
“Tak!”
“Tak!”
“Tak!”
“Sialan!” umpat Adam saat tiba-tiba beberapa anak panah kembali melesat dan membunuh semua bandit secara bersamaan termaksud si kusir yang memang telah kehabisan darah.
“Ah! Panahnya beracun.” Gumam Adam sambil memeriksa.
Dilihatnya tubuh bandit yang terkena anak panah membiru dan dari mulut mereka semua keluar busa putih.
“Berhenti disana!” teriak Adam saat tidak sengaja melihat pelakunya, dengan cepat Adam mengejar tapi sayangnya terhenti saat sebuah anak panah kembali melesat.
Anak panah itu bukan ditujukan untuknya melainkan menuju pada bandit dibawa umur yang tadi ia biarkan hidup.
“Tak!”
“Awas!”
Adam refleks langsung menariknya mengurungkan niatnya untuk mengejar ia juga harus secepatnya kembali menyusul rombongannya karena sudah terlalu lama mereka berpisah.
“Sial!” umpat Adam lagi merasa kesal karena tidak mendapatkan informasi yang berarti bahkan kehilangan orang yang berpotensi menjadi pengganggu untuk mereka nanti di masa depan.
“Hufft ...” Adam menghela nafas berat saat di tatapnya anak yang tadi tidak sengaja ia tolong karena tubuhnya otomatis bergerak sendiri untuk menyelamatkannya, “Sudah kuduga aku memang terlalu baik pada anak-anak, pantas saja bos Ed membuat aturan aneh seperti ini. Kalau aku membunuh anak-anak sudah pasti rasa bersalahnya akan menjadi sepuluh kali lipat dibandingkan membunuh orang-orang yang ditargetkan.” Gumamnya pelan menyanjung dirinya sendiri.
Adam berbicara pada dirinya sendiri sambil menutup satu-persatu mata mayat yang masih terbuka serta mulut mereka yang juga masih menganga.
“Hei kamu!” ucap Adam tiba-tiba dan mengagetkan anak yang masih berumur dua belas tahun yang berhasil selamat dari kematiannya.
“I-iya Tu-tuan.” Jawabnya tergagap karena takut.
“Kali ini kau selamat karena aturan yang di buat oleh bos tempatku bekerja, tapi di masa depan nanti jika kau melihatku di suatu tempat entah itu disengaja atau tidak kau sengaja maka lari lah secepat mungkin atau bersembunyi lah sebaik mungkin bahkan sampai semut pun tidak bisa melihatmu jangan sampai aku melihat wajahmu itu karena aku akan membunuhmu saat itu juga dan asal kau tahu ingatanku itu kuat jadi aku bisa langsung mengenalimu biarpun kau tumbuh nanti, paham?!”
“I-iya Tu-tuan!”
“Baiklah, kuburkan ayah angkatmu dan saudara – saudaramu itu dengan baik.” Adam melirik kumpulan mayat-mayat yang kini mulai kaku kemudian langsung melompat naik ke atas kuda miliknya dan memacunya pergi meninggalkan si anak sendirian bersama dengan kumpulan mayat-mayat keluarganya yang mulai kaku.
“Semoga beruntung nak!” ucap Adam sebelum benar-benar pergi.
Adam melesat cepat dengan kudanya kemudian menghilang dari pandangan si anak laki-laki yang kini masih berusaha menekan rasa takutnya.
“Haa ...” ia baru bisa bernafas dengan lega setelah Adam benar-benar telah pergi dan tidak terlihat lagi.
Lama ia termenung meratapi nasibnya dan memandangi mayat-mayat saudara-saudara angkatnya yang telah kaku dan setelah lama termenung diusapnya air matanya yang membasahi pipinya ia baru bisa menangis setelah sedikit lebih tenang kemudian cepat-cepat menggali lubang di dalam hutan dan dengan susah payah memindahkan satu-persatu mayat-mayat saudaranya kemudian menguburkannya disatu tempat yang sama.
“Beristirahatlah dengan tenang dan Maafkan aku!”
Ucapnya pelan dan sesekali terisak kemudian membungkuk ke arah tanah yang menggunung tempatnya menguburkan mayat-mayat saudaranya untuk memberikan penghormatan yang terakhir kalinya, kemudian segera pergi untuk mencari tempat yang aman takut jika pembunuh yang memanah saudaranya tadi atau Adam kembali lagi dan bertemu dengan mereka.
...***...