
Dalam kotak kayu yang tidak seberapa besarnya itu terlihat beberapa anak-anak yang tangan dan kakinya diikat agar tidak bisa bergerak serta mulutnya dibekap agar tidak bisa bersuara membuat Leathina sangat prihatin melihatnya.
“Messy!”
Toni melompat memasuki kotak kayu menghampiri seorang anak perempuan berambut pendek yang juga berada ditengah-tengah anak-anak lainnya, tangan dan kakinya di ikat serta mulutnya dibekap membuat nya tidak bisa membalas teriakan kakaknya yang memanggil namanya hanya matanya yang terus mengeluarkan bulir-bulir bening tanpa suara.
“Oh, Astaga apa-apaan ini.” Leathina juga ikut masuk ke dalam kotak kayu kemudian dengan hati-hati menurunkan anak-anak yang ada di dalamnya dibantu oleh Adam dan Troy.
“Apa yang seharusnya kita lakukan Adam apa kita harus bertindak sendiri atau melaporkannya pada Tuan Ed’ kita tidak boleh ceroboh terlebih lagi jika menyangkut orang-orang kaya yang memiliki koneksi dimana-mana organisasi kita akan terungkap, terlalu berbahaya.” Troy berbicara sambil ikut membantu Leathina menurunkan anak-anak dari kotak kayu.
“Aku akan memberitahu bos Ed’ tunggulah disini dan bantu Lea.”
Adam berjalan agak menjauh dari kotak kaya kemudian meniup peluit tidak lama setelah itu muncullah burung gagak hitam yang entah dari mana asalnya ketika burung itu mengepakkan sayapnya terlihat asap-asap hitam yang juga bertebaran disekitarnya.
Adam memberitahukan beberapa pesan pada burung gagak itu setelah itu terbang ke angkasa berputar-putar dan kemudian segera pergi mengantarkan pesan yang dikirimkan oleh Adam.
Sementara Leathina dan Troy dibantu dengan Toni sibuk membuka tali-tali yang mengikat anak-anak.
“Bagaimana?” Tanya Troy pada Adam saat melihatnya berjalan mendekat ke arah mereka.
“Sudah aku kirimkan, sebentar lagi pasti akan diterima.” Adam menjawab pertanyaan Troy sambil ikut membantu mereka membuka tali yang mengikat semua anak-anak yang diculik.
Ada sekitar sepuluh anak yang akan di bawah ke kota untuk diperdagangkan, enam orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan dan salah satunya adalah Messy adik Toni yang juga akan dikirimkan ke kota.
“Bagaimana?” Tanya Adam pada Leathina yang sibuk memeriksa semua anak-anak satu persatu.
“Banyak luka ditubuh mereka, sepertinya habis dicambuk beberapa lagi sangat kurus karena kekurangan nutrisi.”
“Jadi mau kita apakan anak-anak ini?” Troy kini ikut berdiri didekat Leathina sambil memperhatikan anak-anak tadi.
“Aku tidak bisa merawat mereka semua.” Kata Leathina singkat.
“Tapi pertama aku harus mengobati luka-luka yang ada ditubuh anak-anak ini terlebih dahulu kemudian mengirimnya ke panti asuhan.” Lanjut Leathina sambil duduk di sebuah batu dan memanggil anak-anak satu persatu hendak ia obati.
“Kau serius? Mengirimnya ke pantiasuhan tidak menjamin bahwa hidupnya akan baik-baik saja di sana.” Adam berbicara sambil menyilang kan kedua tangannya di dadanya dan ikut memperhatikan kesibukan Leathina.
Sementara para anak-anak yang telah diselamatkan tidak ada yang berani mendekat ketika Leathina memanggilnya, mereka malah mundur menjauh karena masih ketakutan, melihat itu cepat-cepat Toni menuntun adiknya Messy mendekati Leathina agar diobati menunjukkan pada anak-anak yang lain bahwa leathina adalah orang baik.
“Oh, terimakasih Toni.” Ucap Leathina tersenyum sambil mulai mengobati luka yang ada ditubuh Messy dengan sihir penyembuh miliknya.
“Yah, benar katamu Adam bahwa anak-anak ini tidak bisa aku jamin hidupnya jika aku masukkan ke panti asuhan tapi setidaknya aku tidak menutup mata atau telingaku saat mendengar mereka meminta tolong.”
Leathina menjawab perkataan Adam sambil terus mengobati anak – anak, mereka kini sudah tidak takut lagi dengan Leathina dan malah mengerumuninya. Sementara Adam yang mendengar perkataan Leathina hanya tersenyum masam sambil terus mengamati Leathina yang mengobati anak-anak.
“Koak” pekik seekor burung gagak sambil terbang berkeliling di atas kepala Adam.
“Oh, balasannya sudah sampai.” Ucap Adam sambil membunyikan peluit setelah itu barulah burung gagap itu mendarat di tangan Adam.
“Wah, pintar sekali.” Ucap leathina kagum setelah melihat gagak itu hinggap di lengan Adam.
Kemudian muncul asap hitam dari aura burung gagak itu yang mengatakan bahwa tunggulah dan jangan bertindak gegabah.”
“Ini bukan burung gagak biasa, dia burung gagak iblis sangat pintar dan dapat digunakan sebagai pengantar informasi atau sebaliknya asal kau melatihnya, kami melatihnya dengan suara peluit salah satu kehebatannya di manapun burung ini berada jika kau membunyikan peluit ini dia pasti akan menemukan mu." Troy menjelaskan panjang lebar pada Leathina yang masih terkagum-kagum.
“Kita harus menunggu dulu sampai mereka datang.” Ucap adam singkat.
“Wah, sebelumnya teman kalian juga menggunakan korek api sebagai penghubung. Kalian terlalu pintar sebagai seorang penjahat” Celetuk Leathina kemudian kembali fokus mengobati anak-anak.
“Kau tinggal dimana Lea? Sampai tidak mengetahui alat sihir atau hewan seperti ini.” Adam kembali berbicara setelah mendengar celetukan Leathina.
...
“Koak.” Lengkingan suara burung gagak terdengar oleh si pemilik markas tentara bayangan.
“Ada pesan darurat Tuan.” Ucap Fiona sambil meniupkan peluit kemudian menangkap burung gagak itu dan setelah itu keluar asap hitam yang membentuk tulisan informasi yang tadi dikirimkan oleh Adam.
“Dari siapa?” tanya Ed’ beranjak dari tempat duduknya yang juga ikut melihat tulisan yang kini perlahan-lahan memudar di udara.
“Dari Adam.” Jawab Fiona singkat.
“Oh sepertinya mereka bersama nona Leathina dan Troy, aku akan mengirim beberapa orang untuk membantunya mengurus masalah itu.” Fiona berbicara sambil berjalan keluar.
“Tidak.” Ed’ menghentikan Fiona yang baru saja akan keluar dari ruangannya.
“Kenapa? Apa ada yang salah tuan?”
“Tidak biar aku yang akan pergi dan mengurusnya.”
“Kalau begitu aku juga akan ikut. Ucap Fiona sambil melangkah keluar.
“Tidak, kau tidak usah ikut. Biar aku saja.” Ucap Ed’ kemudian segera beranjak dari tempatnya menuju tempat Adam dan Leathina berada.
Mendengar ucapan Ed’ membuat Fiona mengurungkan niatnya untuk ikut ia hanya membungkuk ketika Ed’ berlalu di depannya.
“Hati-hati Tuan Ed’.” Ucap Fiona melepas kepergian Ed’.
...
“Seseorang datang.” Ucap Troy ketika mendengar suara derapan kuda yang dipacu dengan cukup cepat berjalan ke arahnya.
“Oh, itu Ed’ kenapa dia datang?” Leathina melihat seorang laki-laki dengan jubah hitam membalut tubuhnya dan sepotong kain yang juga menutupi separuh wajahnya hingga hanya matanya saja yang terlihat.
“Tuan Ed’!” Ucap adam dan Troy hampir bersamaan karena terkejut melihat tuannya yang langsung turun tangan membantu mereka.
“Jelaskan situasinya.” Setelah sampai Ed’ mengamati apa yang terjadi di tempat itu kemudian meminta penjelasan atas kekacauan yang telah terjadi, ia berbicara sambil melompat turun dari atas kudanya dan berjalan mendekati Leathina yang masih duduk di bebatuan dan baru saja selesai mengobati anak-anak satu persatu.
“Tuan Ed!” sambut Leathina saat melihat Ed’ berjalan mendekatinya yang diikuti oleh Adam dan Troy dibelakangnya sambil menjelaskan situasi yang telah terjadi.
...***...