The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
326. Perangkap..



***


Kaisar Yuan Zhu-Ming menarik diri dari atas tubuh Xia yu, saat Xia yu merasa ciuman panas mereka sudah tak terkendali. Karena takut kebablasan tangan segera Xia yu menepuk pelan dada Yuan Zhu-Ming, dia menghentikan lelakinya yang takut berbuat lebih jauh.


Yuan Zhu-Ming menghela nafas, sebenarnya dirinya juga merasa kehabisan nafas dan seolah tenaganya juga ikut tersedot dalam penyatuan kedua bibir itu.


Tarikan nafas terdengar begitu nyaring dalam keheningan malam, mereka berdua saling menenangkan diri. Setelah merasa tenang, Yuan Zhu-Ming kembali menatap Xia yu dengan intens. Tangannya terulur menyentuh pipi kanan Xia yu yang terlihat merona. Dia yakin jika gadis didepannya ini merasa terkejut dan juga terangsang.


"Aku akan menunggumu.. Aku akan menunggu hingga kamu menerimaku lebih dulu. Setelah ujian ini selesai, akan aku pastikan kamu selalu berada di sisiku." Lirihnya dengan hati yang tulus.


Xia yu menengadahkan wajahnya menatap lurus pada lingkaran hitam yang ada didalam mata Yuan Zhu-Ming. Dia tahu ucapan lelaki itu benar-benar tulus, dia juga merasakan hatinya yang selama ini dingin kembali menghangat setelah mendengar kata-katanya.


"Aku sangat menginginkanmu." Ucap Yuan Zhu-Ming kembali.


"Sekarang Yang Mulia, hanya perlu memikirkan cara menghentikan pemilihan ini. Aku sudah terlalu lelah dalam permainan mereka!" Jawab Xia yu, dia sebenarnya sangat malas jika berhubungan dengan konflik kerajaan. Tapi mau bagaimana lagi jika hanya ini jalan satu-satunya dia bersatu dengan Yuan Zhu-Ming.


"Sabarlah, dua hari lagi permainan ini usai." Ucap Yuan Zhu-Ming membelai surai hitam Xia yu.


"Tolong jangan terlalu lama." Pinta Xia yu dengan refleks menyandarkan kepalanya pada dada bidang Yuan Zhu-Ming. Entah mengapa berada dekat dengan lelaki itu Xia yu merasa tenang.


Yuan Zhu-Ming memeluk tubuh Xia yu, memberikan ketenangan dan kehangatan dari sikapnya yang selama ini acuh pada manusia berjenis kelamin perempuan. Dia bahkan mengecup lembut pucuk kepala Xia yu dengan khusu.


"Baiklah, sekarang lebih baik kamu kembali ke tempatmu." Titah Yuan Zhu-Ming seraya melepaskan pelukannya yang sebenarnya dia tidak rela.


Xia yu menghela nafas, dia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Kemudian menjawab dengan patuh sambil beranjak dari hadapan Yuan Zhu-Ming, "Kalau begitu, aku permisi.."


Selepas kepergian Xia yu, Yuan Zhu-Ming membuang nafasnya dengan gusar. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas pembaringan dan pikirannya menerawang jauh entah kemana.


Sementara diluar, Fang yin menghampiri Xia yu yang baru saja keluar dari tenda Kaisar. Dia melihat ekspresi wajah Xia yu yang terlihat tidak seperti biasanya. Tuannya itu seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu yang tidak dia ketahui.


Karena rasa penasaran yang susah sekali hilang dari sifatnya, dalam perjalanan kembali ke kamp peristirahatan Fang yin pun bertanya. "Apa yang Anda khawatirkan, Nona?"


Xia yu menghentikan langkahnya, dia menatap gelapnya langit malam seolah sedang berbicara dengan sang penguasa.


"Aku mulai merasa takut." Lirihnya.


"Wanita sekuat Anda, apa yang perlu ditakutkan, Nona?" Tanya Fang yin.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari Fang yin, Xia yu malah menarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara kasar. Dia melakukan itu berulang kali setelahnya berjalan kembali menuju tempat peristirahatan.


Didalam tenda klan Yi yang didirikan untuk kedua cucu laki-laki dari Tetua Huang Yi. Putri Yimei baru saja masuk. Di sana dia menemukan kedua kakak lelakinya tengah menyusun rencana untuk hari esok.


"Adik! Selarut ini, ada masalah apa datang kemari?" Tanya kakak kedua Putri Yimei.


"Sekarang gadis kepar*t itu ada di tenda Kaisar. Jauh-jauh datang kemari dan membiarkan ku jadi bahan gosip?" Lirih Putri Yimei dengan raut wajah sedih sekaligus marah.


"Tenang saja, Gadis yang membuat mu patah hati akan berakhir malam ini juga." Ucap Kakak pertamanya menenangkan.


"Apa persiapan untuk menghabisi Gadis kepar*t itu sudah beres?" Tanya Putri Yimei seketika bersemangat kembali. Dia terlihat begitu antusias ketika mengetahui rencana kedua kakaknya.


"Bukan hanya Gadis kepar*t itu." Jawab Kakak Pertamanya seraya tersenyum smirk.


"Apa maksudnya?" Tanya Putri Yimei meminta penjelasan. "Mungkinkah.."


"Benar. Semua peserta yang tersisa akan sama-sama mati, Kaisar Yuan juga akan ikut bersama ketiga gadis itu." Jelas Kakaknya dengan seringai iblis.


Mendengar penjelasan seperti itu, tentu saja membuat Putri Yimei yang menaruh hati pada Kaisar terkejut. "Aku tak pernah memintamu kakak mencelakai Yang Mulia..."


"Ini perintah dari Kakek!" Seng Yi memotong ucapan Putri Yimei, "Kaisar dan semua orang yang ikut dalam perburuan ini, harus mati!"


Putri Yimei semakin terkejut, dia terlihat shock kedua matanya terbuka lebar dan mulutnya ternganga. Dia benar-benar tidak tahu akan rencana hari ini.


...


Ditengah malam, beberapa puluhan prajurit yang mengenakan pakaian seragam prajurit kerajaan Tiankong terlihat sedang bekerja. Ada yang menggali tanah, ada yang mengangkat bambu dan ada yang memotong ujung bambu hingga runcing.


Dari kejauhan, tiga pengawal bayangan sedang memperhatikan orang-orang yang sepertinya sedang membuat jebakan. Mereka adalah Bayangan Satu, Daihe dan satu pengawal bayangan lainnya yaitu Mu yue.


"Mereka menggunakan segala cara demi memenangkan perburuan." Ucap Daihe menafsirkan perbuatan yang sedang mereka kerjakan.


"Apa masalahnya?" Tanya Mu Yue, "Bukankah hanya berburu? Mengapa sampai harus membuat banyak jebakan?"


"Sepertinya mereka ingin menangkap mangsa besar." Jawab Bayangan Satu menyahut, mereka berbicara dalam bahasa telepati.


Semua pengawal bayangan Yuan Zhu-Ming memiliki kemampuan yang unggul dari para pendekar biasa. Untuk bahasa telepati adalah pelajaran dasar yang harus dikuasai oleh seorang pengawal bayangan. Itu karena mereka adalah penjaga yang tak terlihat, dan untuk berkomunikasi hanya cara itu yang aman agar keberadaan mereka tidak diketahui.


"Kubur yang benar, jangan sampai ada yang terlihat!" Teriak komandan prajurit yang mengawasi kinerja para prajurit.


"Baik." Jawab bawahan komandan prajurit, mereka telah membuat sepuluh jebakan yang tersebar di semua sisi hutan.


Komandan melihat semua jebakan dengan teliti, kemudian memberi perintah pada bawahannya untuk mengetes jebakan itu bekerja dengan baik atau tidak.


"Mulai!"


Seorang pria berseragam ketua prajurit melangkah maju. Pria itu memegang sebuah tameng panah dan kakinya dengan sengaja menyentuh tali yang membentang di atas tanah. Dalam sekejap sebuah jaring besar turun menimpa tubuh pria itu, dan dari arah depan lima panah melesat kearahnya dengan kekuatan penuh.


'Slap!'


'Slap!'


'Slap!'


Tiga panah menancap tepat pada tameng yang menjadi pertahanan pria itu. Komandan prajurit bertepuk tangan lalu menghampiri pria itu. Dia menyentuh ujung panah yang tidak tertancap dengan pedangnya. Kemudian dia berbicara pada anak buahnya.


"Mata panahnya sudah dioles racun kan?"


"Tentu saja. Sekali tertembak panah, pasti mati."


"Bagus, stelah ini suruh mereka berkemas." Jawab Komandan prajurit itu menyeringai puas. Tidak lupa dia memerintahkan mereka untuk berbenah.


"Semuanya, cepat bereskan dan kembali." Perintah bawahannya pada semua prajurit.


Dari tempat persembunyian para pengawal bayangan, Bayangan Satu berbisik. "Begitu mereka pergi, kita rusak perangkapnya."


"Hampir pagi, bagaimana membereskan perangkap sebanyak itu?" Tanya Mu yue merasa putus asa, mereka bertiga harus merusak jebakan dalam kurun waktu yang singkat.


"Meski begitu, kita tak bisa membiarkan begitu saja kecurangan mereka." Jawab Daihe.


"Rusak kan saja sebanyak-banyaknya. Semoga sebelum terbit matahari kita bisa menyelesaikannya." Ucap Bayangan Satu.


"Dasar brengs*k! Cuma untuk dapat buruan besar, mereka sampai sebegitu nya. Sebenarnya ada berapa perangkap?" Kesal Mu yue. Dia merasa geram dengan orang-orang itu.


"Semuanya ada empat puluh perangkap." Jawaban itu bukan berasal dari para pengawal bayangan, melainkan dari Komandan Prajurit yang sedang melapor pada atasannya yang tidak lain dan bukan adalah Cucu pertama dari Klan Yi.


"Terlebih ini daerah perburuan Yang Mulia, dipusatkan pada tanda ini," Jelasnya seraya menunjuk satu daerah yang menjadi wilayah perburuan untuk Kaisar dan Xia yu.


"Di situ akan menjadi pusara bagi mereka." Lirih Putri Yimei, sepertinya dia sudah tenang.


"Kita sudah menempatkan orang yang bisa dipercaya untuk penyergapan di sana." Tanya Seng Yi pada Komandan prajurit.


"Sudah, Jendral." Jawab komandan itu.


Tatapan Seng Yi kini beralih pada adik perempuannya, "Besok Kamu jangan pergi berburu." Titahnya pada Putri Yimei.


"Apa maksud Kakak?" Tanya Putri Yimei, "Aku harus menyaksikan kematian Gadis kepar*t itu dengan kedua mataku."


"Terserah padamu.." Jawab Seng yi, dia tahu seberapa keras kepala nya adik bungsunya itu.


**tbc