The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
121. Perjalanan ke arah barat..



Semua orang di kerajaan xing kebingungan dengan menghilang nya xia yu bersama ke dua teman nya yang menghilang secara tiba-tiba dalam satu malam. Berbeda dengan xia yu yang baru saja bangun dari tidur nya di sebuah gua kecil di lereng bukit yang berjarak beberapa kilo meter dari kerajaan xing. xia yu melepaskan tudung dan topeng nya. xia yu memasuk kan dua barang itu ke dalam ruang dimensi nya.


mereka bredua berpenampilan berbeda dengan mengganti pakaian nya seperti warga biasa dan sedikit mengotori wajah mulus mereka dengan tanah sebelum mereka berdua berpenampilan berbeda dari yang sebelum nya. xai yu dan fang yin mulai berjalan ke arah sebuah desa yang lumayan padat dengan orang-orang yang tengah melakukan kegiatan barter.


xia yu dan fang yin berbaur dengan keramaian itu. xia yu merasa senang dia bisa melihat sistem barter yang di lakukan orang-orang zaman dulu. dia bertanya pada sahabat nya yang terlihat biasa saja melihat semua orang itu. "fang yin.. apa nama desa ini.? kenapa semua orang di sini melakukan barter.?" tanya xia yu.


"desa ini adalah desa penengah karena terletak di perbatasan antara kerajaan xing dan kerajaan xifang (barat). mereka selalu melakukan barter dari hasil bumi, air, dan udara ada juga hasil dari pengrajin yang akan menjual barang mereka dengan barteran hasil bumi atau koin perak emas dan barang berharga lain nya." jelas fang yin.


"hm... jadi jika kita melewati desa ini kita bisa sampai di kerajaan xifang.?" tanya xia yu.


"benar.." jawab fang yin.


"baik lah.. kita bisa memulai perjalanan ke arah barat untuk perjalanan pertama kita." ujar xia yu.


"baik nona saya akan ikut kemana pun nona pergi." jawab fang yin mengangguk kan kepala nya bersemangat menempuh perjalan pertama nya keluar dari kerajaan xing. 'ah.. aku senang sekali sekarang aku bisa dunia luar.' batin fang yin yang terlihat sangat gembira.


"hm... kau masih saja memanggil ku nona." ujar xia yu kesal karena fang yin masih memanggil nya nona.


"maaf nona aku sudah terbiasa. aku tidak bisa mengubah panggilan mu." jawab fang yin dengan lirih nya.


"terserah lah.." ujar xia yu dia berbalik melihat kerumunan itu lagi. xia yu berpikir sejenak memperhatikan tubuh fang yin dari atas ke bawah dan sebalik nya. dia pun berkata. "lebih baik kita berbelanja pakaian terlebih dulu untuk memenuhi perubahan penampilan kita agar tidak ada yang mengenali kita." ujar nya.


"saya dengar di desa barter ini ada toko yang terkenal dengan pakaian-pakaian nya yang berbeda dengan kerajaan xing." jawab fang yin antusias saat mendengar kata berbelanja. dia lupa jika sesaat yang lalu dia bersedih. memang ya mau di zaman dulu atau modern tetap sifat perempuan pada kata belanja tidak ada beda nya.


"benar kah.. ah.. jika seperti itu sebaik nya kita pergi sekarang karena perut ku juga sudah minta di isi.." ujar xia yu kini sama bersemangat nya dengan xia yu.


mereka pun bergegas pergi dari tempat nya berdiri dengan langkah pasti mereka melewati beberapa orang yang bertransaksi dengan cara barter. xia yu terhenti di sebuah kedai makanan yang terihat ramai dengan para pengunjung. karena xia yu dan fang yin belum sarapan mereka pun berhenti dan masuk ke dalam kedai itu.


mereka berdua memesan satu porsi mie yang di lihat nya tengah di nikmati oleh semua pengunjung di sana. tidak berapa lama seorang pelayan berjalan ke arah xia yu dan menyerahkan dua mangkuk pedas yang di bumbui dengan bubuk cabai merah dan kuah nya yang bening dengan kaldu dari daging sapi sebagai rasa gurih mie itu. semua pengunjung di sana terlihat sangat menyukai mie pedas itu bahkan bibir mereka sampai memerah karena rasa panas dari bumbu cabai itu.


"benar nona.. mie ini lumayan enak meskipun kalah enak dengan buatan nona." jawab fang yin.


"benar kah.?" tanya xia yu masih melahap mie itu.


"benar nona.. mie buatan nona lah yang paling lezat.. menurut ku tidak ada yang bisa mengalah kan mie buatan mu.!" jawab fang yin.


"ha..ha..ha.. kau bisa saja.." ujar xia yu dia merasa kan kehangatan keluarga jika bersama fang yin. entah lah xia yu merasa jika fang yin mirip sekali dengan teman kecil nya linlin yang meninggal dunia pada umur 10thn karena penyakit nya bawaan nya.


mereka berdua tidak tahu jika semua orang yang berada di sana menatap sinis pada mereka karena menganggap mie yang menurut semua orang di sana adalah yang terenak. "dasar orang miskin.. kalian berada di sini hanya untuk menjelek kan kedai paman han saja rupa nya." ujar salah satu wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat xia yu. dia merasa jijik dengan pakaian xia yu yang terlihat biasa dengan cemong tanah yang mengotori wajah nya.


"iya benar sedari tadi mereka menjelek kan mie buatan paman han. kata nya tidak enak tapi tetap memakan nya." sambung pengunjung lain nya mencibir xia yu dan fang yin.


"seperti nya kalian hanya ingin makan gratis.? Baik lah aku akan membayar mie kalian dengan syarat kalian harus pergi dari sini. Karena membuat kami tak berselera dengan penampilan buruk kalian." ujar pemuda lumayan tampan dari semua pengunjung.


"aku tidak mengatakan jika mie ini tidak enak.. tapi aku berkata jika mie ini enak namun tak seenak buatan nona ku..! Dan kami tidak ingin makan gratis kami memiliki uang untuk membayar satu mangkuk mie ini." tukas fang yin menjawab cibiran orang orang di sana.


'haish... fang yin..' desah xia yu dalam hati nya merutuki kecerobohan fang yin tang tidak bisa menjaga volume suara nya saat bicara di depan umum.


tidak berapa lama sosok paman han yang menjadi koki di kedai itu keluar dari pintu dapur dan menghampiri para pelanggan nya yang kisruh. "Ada apa ini..? Kenapa kalian berisik sekali..?" ujar nya.


"Gadis itu berkata jika mie buatan paman tidak lebih enak dari buatan nona nya.!" jawab salah satu orang yang merasa kan tidak senang pada xia yu.


'Membosan kan.. Huftt..' desah xia yu jengah dengan perdebatan yang di sebab kan oleh semangkuk mie.


***tbc