
***
Tak ada tempat untuk melarikan diri, tak ada dahan untuk turun. Mundur dengan senyuman,
Gadis itu tidak pernah menyerah, hanya melupakan masa mudanya..
Gadis itu tidak pernah takut akan kesepian.
Namun, dia juga bisa meneteskan air mata penyesalan, karena hatinya masih membara ke kejauhan..
Masa lalu yang menyedihkan layaknya sebuah belati yang menyayat hatinya masih teringat jelas dan meninggalkan jejak. Bagaikan seekor burung kecil yang telah di patahkan sayapnya, memutuskan impian burung kecil itu untuk terbang melintasi langit biru..
Namun siapa yang mengira, meskipun sayapnya telah patah. Gadis kecil itu kembali bangkit dan terbang mengikuti cahaya yang menyilaukan di depan matanya..
"Aku akan melupakan mu, ingatan masa laluku yang telah membentuk sikap keras kepalaku. Bersama cahaya yang membara di malam yang gelap, aku akan mengembalikannya dengan Balada panjang..
Sungai kehidupan ada di bawah kakiku. Tidak sekalipun aku menyesali kegilaan yang sedang aku lakukan.. Tunggu pembalasan dendam ku wahai para iblis dunia!"
...****...
**Satu bulan setelah kejadian di kerajaan Tiankong.
...Kerajaan Xing.....
"HIYAAA!"
Suara keras seorang manusia di kedalaman hutan. Orang itu menunggangi seekor kuda jantang yang berlalri dengan begitu cepat. Bahkan kuda itu beberapa kali mengeluarkan suara khasnya. Mengaung dengan keras dalam kesunyian hutan.
Sementara dari arah belakang, terdengar derap langkah kaki besi yang begitu banyak sedang mengejar satu kuda jantan yang ditunggangi oleh sosok rupawan didepan mereka. Lebih tepatnya sedang di buru oleh mereka.
Dia adalah seorang gadis yang berpakaian layaknya seorang pria. Gadis itu menunggangi kudanya menerobos masuk ke dalam hutan, melewati barisan pohon-pohon yang menjulang tinggi ke atas langit. Melarikan diri dari kerajaan para tentara atau prajurit yang sedang mengejarnya.
Langkah kaki kudanya berhenti tepat di depan jurang yang amat sangat dalam. Sementara dari arah belakang, para tentara yang mengejarnya telah berhasil menyusulnya. Mereka adalah para prajurit yang berkhianat kepada kerajaan itu. Melihat gadis yang mereka kejar tidak dapat melarikan diri lagi, para prajurit itu langsung mengepungnya.
Gadis itu terlihat kebingungan, dia mengalihkan pandanganya. Melihat situasi dan mencari jalan untuk melarikan diri. Tatapannya mengunci sebuah jembatan yang terbuat dari kayu yang menggantung di kedua tepi jurang.
Seketika tatapan gadis itu beralih ke arah jurang. Dengan lirikan matanya dia melihat betapa dalam dasar jurang itu. Di dalam dasar jurang itu terdapat aliran air yang begitu deras, dapat dipastikan bahwa itu adalah aliran sungai yang deras dan dalam.
'Jika aku berhasil melewati jembatan itu, aku bisa selamat dan kembali ke kerajaan ku. Tapi jika jembatan itu roboh, aku pasti akan terjatuh ke dalam jurang. Tapi, aku yakin aku pasti selamat juga.' Lirih gadis itu dalam hatinya.
Salah satu prajurit yang berkhianat itu memerintahkan kudanya untuk berjalan mendekati gadis yang tengah berpikir. Prajurit itu berbicara dengan suara yang terkesan merendahkan.
"Shuwan Xing, anda tidak bisa lari lagi, menyerah saja!"
Shuwan Xing, gadis itu adalah Shuwan Xing, anak ke sebelas dari Kaisar Jiazen, Kerajaan Xing. Kota Xing an, atau ibu kota kerajaan Xing, kota kelahiran Xia yu.
"Ikut kami kembali ke Xing an, dan akui dosa-dosa mu!"
Gadis itu melirik tajam pria yang baru saja berbicara padanya. Bukannya menurut, Shuwan Xing justru menarik dan menggenggam kuat tali kekang kudanya. Saat itu juga, dia menarik tali kekang kudanya memerintahkan kuda itu agar pergi ke arah jembatan tua.
"Hiyaa!"
Kuda jantan itu bergerak dengan cepat, berlari ke arah jembatan dan melompat dengan gagahnya. Akan tetapi, ketika kakinya berhasil berpijak pada pijakan kayu itu, tiba-tiba..
"Brakk!"
Shuwan Xing bersama kuda jantannya terjatuh kedalam jurang. Niat Shuwan Xing yang kembali ingin melarikan diri telah terbaca oleh salah satu prajurit. Dengan cepat prajurit itu mengangkat busurnya dan melepaskan sebuah anak panah ke arah Shuwan XIng.
'WUSHH!'
Panah itu berhasil mengenai tubuh Shuwan Xing.
"Akhh!"
Shuwan Xing merasakan besi itu menancap di bahu bagian kirinya. Sakit, itu yang dia rasakan.
'BYURR!'
Dia terjatuh ke dalam jurang, tubuhnya terombang-ambing oleh derasnya aliran sugai. Dia bahkan sempat tenggelam beberapa kali dan terbatuk-batuk ketika air sungai masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Sebelum akhirnya dia tenggelam.
Sementara, para prajurit yang berada di atas tebing telah menginggalkan tempat kejadian. Mereka berpikir, Shuwan Xing telah tenggelam dan kemungkinan tidak akan selamat. Akan tetapi mereka salah.
Setelah beberapa saat, Shuwan Xing kembali muncul ke dalam permukaan air. Tubuhnya masih terombang-ambing, namun tekat untuk menyelamatkan dirinya begitu kuat. Tangnnyay terulur mencari sesuatu yang bisa dia jadikan pegangan. Hingga saat dia berhasil menemukan sebongkah kayu besar, dia segera menaruh setengah tubuhnya di atas bongkahan kayu. Setelah itu dia tidak sadarkan diri, aliran sungai membawa tubuhnya menjauh dari kota kelahirannya...
...
...🦅🦅🦅...
'WUSHH!'
Seekor burung raja wali hitam terbang di atas keramaian kota. Dari atas langit, bisa terlihta orang-orang sedang berjalan dan saling berinteraksi. Berbagai kios pedagang berjajar menjajakan dagangan mereka kepada orang-orang yang berlalu lalang. Sementara burung raja wali itu masih terbang dengan anggunnya di atas langit.
Di dalam sebuah bangunan, lebih tepatnya sebuah penginapan yang menyatu dengan restorant. Seorang pria dengan wajah di atas rata-rata sedang berdiri di tepian teras atau balkon yang terbuat dari kayu. Pria itu memperhatikan burung raja wali yang terbangnya kian merendah.
Seketika raut wajah pria itu berubah. Kedua alisnya merengut membuat keningnya mengkerut. Tatapannya berubah tajam, sejenak dia mengalihkan pandangannya pada seorang pria dewasa yang berada di belakannya.
"Xing an memang kota yang hidup. Jauh lebih menyenangkan di sini darapada padang rumput kami." Ucap pria yang berada di belakang pria tampan itu. Dia adalah seorang pengawal, namun tetap lelaki yang polos.
"Apa yang kamu lihat belum tentu benar. Kemakmuran untuk saat ini mungkin tidak akan bertahan lama." Jawab pria tampan itu sambil memandang lurus ke depan.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, pria itu membalikan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam kamar kemudian keluar. Langkahnya di ikuti oleh pengawalnya. Mereka berjalan keluar dari penginapana.
Setibanya di luar, mereka melihat beberapa orang yang menatap mereka berdua dengan penuh selidik. Pria tampan itu melirik ke arah kanan dan kiri. Ada beberapa pedagang yang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan yang mengunci.
Suara kuda terdengar begitu nyaring, membuat suasana di sana terasa mencekam. pria itu kembali berjalan, namun setiap langkahnya selalu di perhatikan oleh para pedagang. Sementara pengawalnya menghampiri salah satu pedagang manisan. Tangannya terulur mengambil satu turuk manisan gula.
"Berapa harganya?" Tanya pria polos itu pada si pedagang. Bukannya menjawab nominal harga manisannya, pedagang itu malah memberikan jawaban yang berbeda.
"Tuan, ini jam tiga sore." Jawab si Pedagang.
Seolah mengerti jawaban pedagang itu, si pengawal langsung merogoh sakunya dan mengambil beberapa keping perunggu. Dia lalu menyerahkan kepingan itu pada si pedagang dengan tangan berada di atas. Lalu si pedagang juga mengulurkan tangannya, anehnya pedagang itu menyematkan secarik kertas di tangannya, dan memberikannya kepada si pengawal dengan cara bertukar.
"Hiyaa.. {Ayolah!}"
Suara seorang prajurit memeimpin beberapa kuda dan prajurit lain di belakannya.
Pria dewasa yang sedang asyik berjalan sambil memakan manisan gula itu tidak menyadari datangnya rombongan prajurit berkuda.
"Minggir!" Teriak pemimpin prajurit itu sambil mengibaskan pecut kuda yang di pegangnya.
"Hiyaa.. Keluar dari jalan!" Pemimpin itu kembali berteriak karena dia masih melihat ada orang yang berjalan di tengah jalan.
Tiba-tiba, sosok pria tampan itu muncul dan menarik temannya yang sedang asyik memakan manisan gula sambil berjalan, tidak memperhatikan suasana di sana.
"Kemari.." Ucap pria tampan itu sambil menarik tangan kanan temannya.
"Akhh.. Hah?!" Pekik pria yang terlihat polos itu terkejut.
"Hii.."
Para prajurit itu seketika menarik tali kekang kudanya dengan cepat. Guna untuk menghentikan langkah kuda mereka. Pemimpin prajurit mengalihkan pandangannya pada dua pemuda yang berada di jalan mereka. Saat itu juga dia berbicara dengan nada yang tinggi.
"Apakah kau buta?"
Merasa tidak sedang dengan perlakuan pra prajurit itu. Pria polos itu dengan tenangnya menatap pemimpin prajurit dan menjawab pertanyaannya.
"Ini yang kalian lakukan? Membully rakyat?" Kedua pria itu menatap para prajurit yang masih dengan angkuhnya duduk di atas kuda dengan setelan pakaian perang yang lengkap.
"Beraninya kamu," Ucap pemimpin kerajaan sambil menatap kedua pemuda di hadapannya. Kemudian, dia melanjutkan ucapannya dengan tatapan merendahkan.
"Apakah kau sedang mencari kematian?"
"Jangan menimbulkan masalah. Ayo pergi.." Ucap pria tampan itu pada temannya, lalu berlalu pergi dari hadapan para prajurit.
Langkanya di ikuti oleh pria polos. Namun, sepertinya pemimpin prajurit tidak bisa membiarkan mereka berdua lepas begitu saja. Pemimpin perajurit itu mengeluarkan sebuah cambuk yang menggantung di tali pinggang nya. Kemudian mengarahkan cambuk it pada kedua pemuda yang telah berani menjawab ucapannya.
"WUSHH."
"Awas!"
Ucap pria tampan itu pada temannya sambil mendorongnya agar tidak terkenan cambukan. Tanpa prajurit itu duga, tali cambuk yang dia arahkan pada kedua pemuda itu tidak mengenai sasaran. Malah, salah satu dari pemuda itu menangkap cambuknya dengan kaki. Tidak sampai di situ, pria tampan itu menarik cambuknya dengan kuat. Membuat pemimpin prajurit yang tak siap menahan malah terjatuh.
'Brukh!'
Pemimpin perajurit itu terkapar di atas tanah dengan tangan yang masih menggenggam pegangan cambuknya. Seketika dia mengangkat keapalanya dan menatap pria di hadapannya yang telah berani memperlakukannya seperti itu di hadapan rakyat yang sedang berada di alun-alun.
Semua orang tampak terkejut, mereka tidak mengira akan ada orang yang berani melakukna hal itu pada prajurit itu.
Raut wajah kekesalan terlihat jelas dari seluruh prajurit, mereka murka karena melihat salah satu dari mereka di perlakukan dengan tidak hormat. Para prajurit lainnya serentak bergerak untuk menyerang pria tampan itu.
"HAAA!"
Namun, sebelum hal itu terjadi. Serangan para prajurit itu terhenti dengan kedatangan kuda gagah yang di tunggangi oleh seorang pemuda yang mengenakan jubah merah dari arah kerumunan.
Kuda yang di tunggangi pemuda itu terbang melompati tubuh pemimpin prajurit, kemudian berhenti tepat di depan para prajurit yang akan menyerang kedua pria dewasa tadi.
Semua orang tampak terkejut dengan kedatangan pemuda berjubah merah itu. Sementara tatapan pemuda itu mengarah pada pemimpin prajurit.
"Begitukah perilaku penjaga di Istana Putra Mahkota?" Suara yang begitu acuh itu berasal dari pemuda berjubah merah. Dia bertanya pada pemimpin prajurit.
Pemimpin prajurit itu segera bangkit dari atas tanah, dia berdiri menghadap pemuda berjubah merah yang masih duduk di atas punggung kuda berwarna hitam. Kedua makhluk hidup yang berbeda jenis itu terlihat gagah namun anggun.
"Saya penjaga di sana." Jawab pemimpin prajurit itu dengan angkuhnya.
Akan tetapi, keangkuhannya tiba-tiba hilang ketika melihat siapa orang yang sedang berada di hadapannya. Dia tiba-tiba berlutut dengan mengulurkan kedua tangannya ke depan. Memberikan sikap hormat pada pemuda berjubah merah. Perilakunya di ikuti seluruh prajurit yang berada di kelompoknya. Mereka berlutut memberi hormat pada pemuda berjubah merah.
"Tu-tuan, saya.. Saya tidak tahu apa-apa. Tolong, Tuan, kaishanilah saya." Lirih prajurit itu dengan penuh penyesalan dan terdapat ketakutan dari nada bicaranya.
Pemuda berjubah merah itu menatap acuh pada prajurit, Kemudian dia berkata.
"Enyahlah.."
Pemimpin prajurit itu langsung mengangguk dan menjawab perintah pemuda berjubah merah.
"Baik, Tuan."
Setelah itu, para prajurit mengundurkan diri dan berlalu pergi dari keramaian di sana, meninggalkan orang-orang yang terlihat kebingungan dengan sikap meraka. Begitu pula dengan kedua pemuda yang tampak terkejut dengan sikap tunduk para prajurit.
Sepeninggal mereka, Pemuda berjubah merah itu mengalihkan pandangannya pada kedua pemuda yang bersangkutan dengan para prajurit itu. Dia bertanya dengan wajah dinginnya.
"Apakah Anda baik-baik saja?" Tanya pemuda itu, namun tidak mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya.
"Anda memiliki keberanian. Aku tidak percaya akan ada yang berani menghadapi anak buah Putra Mahkota. Tapi mengingat bahwa dia menimbulkan masalah lebih dulu, aku akan melepaskanmu. Lain kali, kamu tidak akan seberuntung itu." Jelas pemuda berjubah merah, Setelah itu dia berlalu pergi ke arah yang sama dengan pergi nya para prajurit itu.
"Pergilah!" Titahnya pada kedua pemuda itu. Entah mengapa, tatapannya pada mereka berdua tampak ada permusuhan tapi juga kerinduan.
Kuda yang di tunggangi pemuda berjubah merah itu membelah kerumunan orang-orang. meninggalkan kedua pria dewasa yang tampak tertarik dengan jati diri pemuda itu.
"Jika bukan karena anak laki-laki itu, saya pasti akan menendang pantat mereka dengan keras." Ocehan pria polos yang masih geram dengan tingkah prajurit-prajurit itu.
"Jangan lupa, kenapa kita datang ke XIng an. Jangan merusak kapal untuk setengah lautan yang telah kita lewati." Jawab pria tampan itu pada pengawalnya.
"Baik, Tuan."
Melihat tatapan Tuannya yang tajam, pria polos itu tidak lagi mengoceh. Mereka berdua memandang lurus kearah mana pemuda berjubah itu pergi. Dalam hati mereka bertanya.
"Siapa pemuda berjubah merah itu?"
**tbc