
***
Pukul tiga dini hari, Xia yu membangunkan ketiga pria yang tinggal bersamanya. Setelah berhasil membangunkan, dia meminta mereka mengikuti arahannya untuk keluar dari kota B. Xia yu tidak menjelaskan apapun kepada mereka, semua pertanyaan akan dia jawab ketika mereka berhasil keluar dair kota itu, dia juga akan memperkenalkan mereka setelah keadaan tidak lagi membahayakan.
Pukul lima pagi mereka telah berhasil meninggalkan kota B dan kota kecil lainnya, dan pukul enam paginya mereka telah sampai di ibu kota kerajaan Bei, tempat tinggal Li zyan dan ayahnya.
Kedatangan mereka yang tiba-tiba, tentu saja membuat orang-orang yang ada di kediaman itu terkejut, Xia yu tidak terlalu memperdulikan keterkejutan mereka, dia malah sibuk membantu Li zyan turun dari kuda yang dia beli saat berada di kota B.
'Deg!'
Perasaan iri menyelimuti hati Minghao, dia sangat iri melihat kedekatan kakak kandungnya dengan orang asing itu. Dia tidak pernah menduga jika dirinya yang selaku adik kandung, bisa merasa iri kepada orang asing.
Minghao ingin sekali menyuarakan perasaan iri-nya, namun dia urungkan, karena dia tidak ingin merenggangkan kembali hubungan dirinya dengan kakak kandungnya yang sudah lumayan membaik, meski tidak sehangat perlakuannya pada Li zyan.
Dari kejauhan terlihat Gadis muda dan pria paruh baya, berlari dengan sangat cepat ke ruangan yang di tempati oleh mereka. Wajah kedua orang itu di penuhi rasa kekhawatiran yang luar biasa, kecemasan di dada mereka tak kunjung lenyap, meskipun mereka telah mendapatkan surat dari Xia yu dan Li zyan, seminggu yang lalu.
Kedua orang itu tidak lain adalah Fang yin dan tuan Li wei, mereka berdua sudah mendengar Xia yu dan Li zyan telah kembali. Saat itu juga perasaan mereka kembali campur aduk, dengan tergesa-gesa mereka pergi menemui kedua orang yang selalu membuat mereka khawatir.
Setibanya mereka berdua di ruangan itu, tuan Li wei berlari menghampiri anaknya dan memeluk tubuhnya yang terasa dingin, mungkin karena perjalanan mereka yang melawan dinginnya udara tadi malam.
"Kalian dari mana saja? kenapa kalian pergi tanpa memberitahu ayah? Apa kalian tidak tahu, kalau ayah sangat mencemaskan kalian!" Tuan Li wei memberondong mereka berdua dengan pertanyaan yang penuh kecemasan, belum menyadari kondisi tangan Li zyan yang terbalut kain putih yang ujung kain itu di kaitkan di lehernya.
Li zyan tersenyum menanggapi kecemasan ayahnya, dia pun menjawab ayahnya dengan suara yang lembut, mencoba menenangkan kecemasannya.
"Kami baik-baik saja ayah." Ujarnya sembari menggenggam tangan ayahnya dengan tangan kirinya. Dari situlah Tuan Li wei sadar jika Li zyan terluka.
"Apa yang terjadi pada tanganmu? Kenapa kamu bisa terluka?" Tanya tuan Li wei kembali risau. Tapi bukan jawaban dari mulut Li zyan yang dia dapatkan, melainkan suara lembut lainnya yang berada di belakang Li zyan, seseorang di belakangnya tidak lain adalah Xia yu.
Kini dia sedang berlutut di belakang Li zyan, semua orang yang ada di sana tersentak kaget melihat hal itu, Xia yu berlutut dengan wajah yang menunduk, terlihat begitu mengiba, dengan seraya dia meminta pengampunan pada tuan Li wei.
"Tangan Kak Li zyan terluka dan lumpuh, itu karena dia berusaha menyelamatkan ku dari terkaman serigala. Semua kesialan ini di sebabkan oleh ku, aku siap menerima hukuman apapun! Kalau perlu, aku akan melukai tangan ku sendiri hingga lumpuh sebagai hukuman dan permohonan maaf ku telah membuatnya terluka." Xia yu berkata dengan suara yang dingin tanpa ada rasa takut, yang ada hanya rasa bersalah.
Ucapan Xia yu membuat semua orang ada di sana kembali terenyuh. Hanya karena perasaan bersalah, Gadis itu rela menghukum dirinya sendiri demi mendapatkan maaf dari orang tua yang anaknya terluka, karena telah menyelamatkannya.
Tuan Li wei segera meraih tubuh Xia yu dan memeluknya, dia tidak tahan melihat dan mendengar permohonan anak angkatnya. Bahkan karena saking terenyuh-nya, dia meneteskan air mata dan langsung memberondong Xia yu dengan kata-katanya.
"Apa yang kamu bicarakan Yu'er? Kamu tidak boleh bicara seperti itu, melukai dirimu sendiri demi mendapatkan kata maaf, itu bukan tindakan yang benar! Kakak mu menghadang serigala yang kamu sebut, itu semua karena dia sangat menyayangi mu, dia tidak ingin kamu terluka! Apa kamu faham?" Sarkas tuan Li wei memarahi Xia yu. Namun semua perkataannya tidak menunjukkan jika dia marah akan apa yang sudah terjadi pada anaknya, melainkan pada pola pikiran Xia yu.
"Benar Yu'er, aku memilih terluka karena aku menyayangimu! Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai mu, entah itu manusia atau hewan sekalipun." Sambung Li zyan membuat suasana menjadi semakin haru.
'Yu'er? Apa itu adalah panggilan kesayangan mereka terhadap kakak? Apa mereka berdua adalah ayah dan anak yang telah mengangkat kak Xia sebagai putri mereka.' Batin Minghao, dia terkejut dengan perlakuan kedua orang itu terhadap kakaknya, dia dapat mengerti makna dari semua percakapan mereka yang mengandung kasih sayang.
'Sepertinya mereka berdua adalah keluarga yang telah mengangkat nona Xia yu menjadi anak.' Batin Dali, dia ingat kalau dua saudara Jiang pernah mengatakan, jika Xia yu telah diangkat anak oleh ketua keluarga dari Klan Li, dan nama kedua pria itu bermarga Li.
"Terimakasih Ayah, Kakak!" Jawab Xia yu membalas pelukan mereka, terjawab sudah rasa penasaran Minghao dan Dali.
"Ayah, Kakak.. Perkenalkan, mereka berdua adalah kerabat ku dari kerajaan Xing." Xia yu mengawali perkenalan dengan, dia meraih tangan Minghao dan menariknya kehadapan mereka berdua, lalu dia melanjutkan kalimatnya. "Pria muda di sampingku ini adalah adikku, Minghao. Dan pria di sampingnya adalah Dali, pengawal pribadinya"
Mendengar sambungan kalimat itu, Minghao sangat bahagia, dia senang karena Xia yu mengakuinya sebagai adik, meskipun hubungan mereka seperti orang asing, dan hanya dia seorang yang memiliki perasaan merindu secara sepihak. Artinya hanya Minghao yang merindukan Xia yu, sementara Xia yu hanya bersikap acuh, karena dia berpikir jika dirinya tidak memiliki hubungan dengan keluarga Jendral Ho.
Sementara Tuan Li wei dan Li zyan begitu terkejut mendengar sambungan Xia yu, mereka tidak menduga jika salah satu pria tampan yang di bawa Xia yu adalah keluarganya. Tapi tuan Li wei dan Li zyan tetap menyambut hangat mereka, kemudian mempersilahkan mereka berdua beristirahat dan membersihkan diri di paviliun yang di sediakan untuk para tamu.
Kita beralih pada pria yang tengah asyik menatap gadis pujaannya, siapa lagi kalau bukan Dali. Sedari kedatangan Tuan Li wei dan Fang yin, tatapan mata Dali tidak pernah lepas dari gadis itu, dia tidak bosan melihat Fang yin, tidak menduga jika pujaan hatinya tinggal bersama Xia yu. Dali sangat terpesona dengan paras Fang yin yang menurutnya terlihat lebih dewasa, ceria, dan yang lebih pentingnya adalah dia terlihat lebih cantik.
****
Di hari berikutnya, Xia yu meminta izin kepada ayah angkatnya untuk kembali ke kerajaan Xing. Dan tuan Li wei memberikan izinnya, karena dia sadar bahwa dia hanya ayah angkat, dan dia tidak memiliki hak penuh untuk bisa melarangnya.
Xia yu kembali bersama Fang yin, Minghao dan Dali. Mereka berempat pergi dengan menunggangi kuda yang masing-masing mereka miliki. Li zyan di larang untuk ikut, karena jahitan lukanya masih rentan.
Xia yu tidak menggunakan tudung kepala atau setelan tabibnya, dia tidak ingin mengundang bahaya yang kemungkinan akan timbul jika dia melakukan keduanya, jadi dia memilih menutup wajah cantiknya dengan kain tipis atau cadar, yang warna kainnya senada dengan pakaiannya hanfu-nya.
Tiba di area perbatasan, mereka berempat bertemu dengan rombongan orang yang mengawal kereta megah, di belakang kereta itu terdapat dua kendi besar dengan kain merah sebagai alas penutup kendi itu, layaknya kendi abu kremasi. Rombongan orang itu membawa bendera merah yang bertuliskan sebuah marga dari klan besar, sepertinya orang yang ada di dalam kereta adalah salah satu dari keluarga Klan itu.
'OTORITAS PERGURUAN KLAN YU..'
Begitulah isi tulisan yang ada di kedua bendera itu. Xia yu melirik ke arah jendela kereta dan menangkap sosok gadis yang menyinggungnya. Dia hanya menatap acuh pada gadis itu, tidak melakukan apapun. Sekarang bukan saatnya dia berurusan dengannya, dia lebih memilih melanjutkan perjalanannya untuk pergi ke Kerajaan Xing, menunjukkan baktinya kepada nenek dari pemilik tubuhnya, dan setelah memastikan semuanya baik-baik saja, dia akan kembali ke kerajaan Bei untuk merawat kakaknya.
Dia bahkan telah memiliki rencana untuk pergi ke Kerajaan Tiankong, Kerajaan yang terkenal dengan berbagai perguruan tingkat dewa, dan Pasar Gelapnya yang memiliki banyak jenis tanaman herbal tingkat langka yang banyak sekali khasiatnya.
Xia yu membutuhkan tanaman-tanaman langka itu untuk menyembuhkan tangan Li zyan yang lumpuh karena saraf tangannya terputus akibat gigitan serigala, dan dia juga sangat penasaran dengan Kerajaan Tiankong, yang menurut semua orang adalah Kerajaan terbesar, termashur dan tersegalanya.
Perjalanan ke Kerajaan Xing membutuhkan waktu yang lumayan lama, mereka harus melewati kerajaan Xifang, bukit, lembah, hutan dan sungai. Setelah berhasil melewati itu semua, mereka akan tiba di kerjaan Xing pada hari ketiga, itu pun jika mereka tidak banyak berhenti dalam perjalanan.
***
KERAJAAN XING..
Sebuah nama yang menunjukan wilayah tertulis di batu bersar, menandakan jika rombongan Xia yu telah berhasil kembali ke kerajaan Xing. Kini mereka mulai memasuki kerajaan Xing, dan segera pergi ke ibukota, tempat tinggal keluarga besar Jendral Ho.
Xia yu dan yang lainnya mampir ke sebuah penginapan, mereka hanya mampir untuk membersihkan diri dan mengisi perut, setelah itu melanjutkan kembali perjalanan mereka ke ibukota kerajaan Xing.
Dalam perjalanan ke kediaman Jendral Ho, mereka menemukan bendera putih di sepanjang jalan. Hati Minghao berdesir, dia memiliki firasat buruk ketika melihat deretan bendera putih dan kereta kerajaan Xing yang terparkir di halaman kediamannya, Minghao semakin cepat melajukan kudanya dan memasuki kediaman Jendral Ho.
Benar saja, deretan bendera putih itu berasal dari kediamannya, dan orang-orang yang tinggal di sana tengah berkumpul di halaman utama, mereka semua mengenakan pakaian serba putih, dan berlutut di hadapan sebuah jasad yang terbaring di tumpukan kayu.
Minghao segera turun dari kudanya dan berlari ke hadapan orang-orang yang ada di sana, saat itu juga dunianya terasa runtuh, dia bersimpuh di hadapan tumpukan kayu yang menampung jasad itu. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya yang dengan cepat menyadari kepulangan anaknya, semua yang terjadi di sana membuat seseorang yang berdiri di depan pintu terdiam mematung.
**tbc