
***
"Kakak! Kakak..." Yuri meraung sedih melihat kakaknya sudah tak bernyawa. Dia ingin berlari ke depan menghampiri Zhen shao, namun ditahan oleh pria paruh baya itu dengan genggamannya yang erat, tidak membiarkan dirinya bergerak maju walau satu langkah pun.
"Tu-tuan.. Tuan muda.."
para pengawal juga terkejut dengan kejadian itu mereka menatap dengan penuh rasa tidak percaya. Tuan muda yang merupakan murid terbaik dari klan mereka, telah dibunuh oleh seorang gadis.
Jika tuan besar mengetahui anaknya terbunuh oleh gadis itu, kira-kira kemarahan luar biasa seperti apa yang akan beliau luapkan? pikir para pengawal.
"Bunuh, bunuh gadis itu! Balas kan dendam tuan muda!" pekik salah satu dari pengawal kelompok itu.
Sekitar lima belas orang menyerang Xia yu secara bersamaan, nafsu mereka seakan terbakar api amarah yang berkobar. Menghunuskan pedang tajam yang ada di masing-masing tangan mereka, menerjang dan menyayat tubuh gadis kecil yang telah membunuh tuannya. Hanya darah dan nyawa gadis itulah yang bisa meredakan kemarahan mereka, mayatnya akan di jadikan bukti kepada tuan besar (ayah dari Zhen shao) bahwa gadis itu yang telah membunuh anaknya.
'Brukh!'
Tiba-tiba Yuri terjatuh lemas di atas tanah, kedua matanya menatap sang kakak yang tak lagi bernyawa. Dia tidak percaya kalau orang yang sangat sehat beberapa saat yang lalu, sekarang terbaring tak bernyawa di hadapannya..
Yuri menggenggam erat kedua kaki pria paruh baya itu, ia menengadahkan wajahnya, lalu bertanya: "Paman ketiga, ini tidak benar kan? Kakakku yang sangat kuat tidak mungkin dibunuh oleh seorang gadis kan? Paman ketiga, katakan kalau ini hanya ilusi. ini tidak benar kan?" ucapnya dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya, dia tidak bisa menerima kenyataan itu.
Pada saat yang sama, pria paruh baya itu menatap kearah orang-orang yang sedang sibuk berkelahi. Dia tidak mendapat kesempatan untuk bersedih atau meratapi kematian keponakannya, Karena lebih dari sepuluh pengawal yang menyerang gadis itu, telah jatuh ke tanah satu-persatu. Jumlah mereka berkurang drastis, tapi dia tidak melihat satu luka pun di tubuh gadis itu.
"Cepat berdiri! Kita harus pergi sekarang juga!" pria paruh baya itu berteriak pada keponakannya, dia terpaksa membuat keputusan itu. Sudah tidak ada waktu lagi, jika ingin selamat, maka jalan satu-satunya hanya melarikan diri untuk bersembunyi. Masalah balas dendam bisa di lakukan mereka setelah kembali ke kerajaan.
"Tidak paman ketiga, aku ingin membalaskan dendam kakakku! Aku akan membunuhnya! harus membunuhnya!" Yuri merengek dan berteriak, berusaha lepas dari genggaman pamannya untuk menyerang Xia yu.
Namun pamannya tetap kekeh tidak membiarkan Yuri menyerang Xia yu. "Bangunlah! kamu tidak akan bisa membunuhnya!" sarkas pamannya, lalu berteriak keras pada Yuri.
"Cepat lari! Kalau tidak pergi sekarang, kita akan mati!" Dia menyeret keponakannya dan memaksanya untuk pergi, tanpa di sengaja dia melihat wajah yang sedang tersenyum, dengan sepasang mata tajam tanpa ampun mengarah padanya. Saat itu juga kulitnya merasakan sesuatu yang terasa merayap, sensasi ngeri yang di dapatkan dari kedua mata, yang di penuhi aura pembunuh. Huu, Sangat mengerikan..
Xia yu hanya memberikan satu lirikan saja padanya, namun lirikan itu membuat hati sang pria paruh baya menjadi goyah, dan membuat kedua kakinya lemas.
'Tatapan gadis itu, penuh dengan nafsu ingin membunuh, bahkan aku tidak menemukan tatapan itu dari kakak ku! Haish.. Aku tidak pernah setakut ini!' pria paruh baya itu bergidik ngeri, lalu bermonolog dalam hatinya, sembari menarik paksa keponakannya.
Siapa yang akan percaya! Seorang warrior tingkat tiga beladiri yang bermartabat, merasa ketakutan dan ingin kabur dari gadis kecil, yang bahkan tidak ia ketahui tingkat kultivasinya. Tapi itulah kenyataannya!
Kedua alis Xia yu merengut, saat ia melihat pria paruh baya dan gadis berjubah biru itu melarikan diri, dia merasa kebingungan. 'Ck.. Bukankah dia bilang kalau aku bukan tandingannya? Tapi kenapa, dia malah kabur? Huh..Pengecut! Merepotkan!' batin Xia yu bermonolog, tapi tangannya masih sibuk melawan sisa dari beberapa pengawal yang masih hidup.
Xia yu melawan mereka dengan belati kecilnya, dia tidak terlalu suka memakai pedang, karena dia terbiasa bertarung dengan jarak yang dekat. Hal itu sangat memudahkannya menyerang mereka, tapi permainan pedangnya juga tidak kalah hebat. Kini belati kecil itu terbang bagaikan bumerang yang bergerak kearah targetnya dan...
'Syatt!'
Belati itu menyayat leher pria yang terakhir, darah mengalir deras dari luka itu, lalu tubuh pria itu terjatuh kebelakang, tergeletak dengan posisi yang sangat menakutkan.
Mata Xia yu meneliti ke sekeliling tempat, melihat ke arah beberapa tubuh yang terbaring di atas tanah, kedua matanya masih datar tanpa ekspresi, tanpa sedikitpun rasa kasihan.
"Kalau kalian tidak membuat onar di wilayah ini, tentu aku tidak akan merenggut nyawa kalian! Anggap saja, kematian ini sebagai penebus dosa kalian semasa hidup." Itu semua adalah konsekuensi untuk orang yang berani memprovokasinya. karena itu, untuk orang yang ingin mengambil nyawanya, dia tidak akan menunjukkan sedikitpun belas kasihan kepada mereka.
Xia yu selalu hidup dalam prinsip. 'Aku tidak akan mengganggu, kalau kamu tidak menggangguku!' itulah prinsipnya.
"Cepat sekali mereka berdua kabur! Apa mereka sangat ketakutan melihat ku bermain dengan kalian?" Gumam Xia yu berbicara pada dirinya dan beberapa mayat itu, dia baru sadar jika dirinya telah membunuh sepertiga dari kelompok itu. "Haish.. Ternyata perbuatan ku cukup mengerikan juga ya?" Xia yu bergidik ngeri takut kepada dirinya sendiri.
"Hum.. Lumayan!" Xia yu mendapatkan satu busur ajaib lagi, dan satu kantong dimensi yang penuh dengan barang berharga, lalu dia berkata. "Aku akan menghadiahkan salah satu jarahan ku untuk Fang yin, dia pasti sangat senang!"
Xia yu berniat pergi dari tempat itu, namun terhenti, karena ia melihat cahaya menyilaukan keluar dari tubuh Zhen shao dan para pengawalnya. Cahaya dari tubuh Zhen shao berwarna oranye seperti 🔥 dan cahaya dari tubuh para pengawal berwarna putih polos.
Xia yu teringat akan ucapan Bai shizi, bahwa semua makhluk hidup yang memiliki aura mistis akan memiliki inti kekuatan. inti itu tertanam dalam meridian, dan akan keluar saat pemilik tubuh itu tiada. Xia yu pun mengambil semua cahaya itu, dan memasukannya kedalam ruang dimensi.
Setelah itu Xia yu melihat sekelilingnya, dan berteriak memanggil seseorang yang dia lihat saat bertarung dengan kelompok Zhen shao.
"Hey! Paman berjubah hitam! Keluarlah!"
"Paman, keluar lah?" pekik Xia yu dengan sopan.
'Kemana paman itu? bukan kah tadi dia ada di dekat sini?' batin Xia yu sedikit menggerutu, lalu dia memanggil pria misterius itu lagi.
"Paman! Dimana kah dirimu bersembunyi? Tenanglah aku tidak akan menyakiti mu. Paman, Keluarlah!" panggil Xia yu dengan bujukannya, tapi orang yang di panggil tidak menunjukkan batang hidungnya sedikitpun.
Sementara orang yang di panggil, terlihat kesal karena di sebut paman olehnya. 'Heh! Gadis kecil, berani sekali kamu menyebutku paman! Ternyata, kamu bukan hanya seorang pencuri dan penari saja ya?! Kamu juga seorang petarung yang handal, siapa dirimu sebenarnya?' batin Yuan Zhu-Ming takjub sekaligus kesal, ia takjub dengan kemampuan beladiri Xia yu, dan kesal dengan tingkat lakunya yang bar-bar.
'Tapi kenapa dia mengambil bunga Baibaihe? Apa dia akan menjualnya? Hah! sudah lah, lebih baik aku fokus untuk mencari cara untuk mendapatkan bunga Baibaihe dari gadis itu.' Yuan Zhu-Ming di buat bingung dengan identitas Xia yu.
Ya, Yuan Zhu-Ming belum mendapatkan informasi apapun, tentang jati diri gadis kecil yang menurutnya aneh, karena memiliki banyak profesi. Saat itu juga Yuan Zhu-Ming membuka topengnya, membiarkan kulit wajahnya bernafas meski sesaat.
Kembali lagi pada Xia yu. Dia terus melihat sekeliling, berjalan menjauh dari tempat pertarungan itu terjadi. Tidak jauh dari tempat itu, Xia yu menemukan beberapa bangkai hewan buas yang di bantai oleh Zhen shao. Kedua matanya berbinar, seolah mendapatkan benda berharga.
"Huwaahhh... Daging!"
"Xiao huang dan Hei tian pasti senang nih.." yang Xia yu pikirkan saat ini adalah teman-temannya yang sudah beberapa hari ini tidak makan daging dengan puas.
Xia yu pun tidak ambil pusing lagi, dia mengeluarkan pedang berukuran panjang dari ruang dimensinya, pedang yang selalu dia gunakan untung memotong tubuh hewan buruannya. Dengan segera Xia yu memotong seluruh kaki belakang hewan-hewan itu, dan memasukkannya ke dalam ruang dimensi.
"HAahh..! Teman-teman aku pulang!" ujarnya, dia sudah tidak sabar ingin merasakan daging panggang buatan Fang yin. Dia pun melesat pergi dari tempat itu, tidak lagi memperdulikan keberadaan Yuan Zhu-Ming.
****tbc
Alhamdulillah bisa up lagi..
Assalamualaikum semuanya.. 🙏
Untuk para reader tercinta, terimakasih sudah pantengin terus novel cuiss. Tidak terasa novel ini sudah tembus 200 episode, ini berkat support dari kalian..
Terimakasih atas dukungan dan sedekah kalian, semoga sedekah Like, vote dan rate kalian di ganti dengan rejeki yang lebih besar.
Maaf sebelumnya, author mau minta tolong sama semua reader. Jika kalian berkenan dan tidak keberatan, author mau minta bantu share novel ini ke temen-temen kalian, agar author lebih semangat dan termotivasi untuk crazy up..
Landed 🛬 Like, vote, rate dan share kalian.. Terimakasih 🙏😘😘😘😘**