The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
215. Upacara pemakaman..



****


Jendral Ho yang sedari tadi memeluk Minghao, kini menatap kaget pada sosok gadis yang sedang berjalan ke arahnya. Dia melihat gadis muda yang selama ini dia rindukan, perasaan yang tadi di penuhi kesedihan, kini sedikit terobati karena kedatangan gadis itu.


Semua orang juga terkejut dengan kedatangan gadis itu, mereka sangat terpesona dengan kesan misterius yang di bawanya. Wajahnya yang di tutupi kain tipis tidak menutupi kecantikannya, melainkan lebih membuat orang penasaran dengan kecantikan tersembunyi itu.


Mereka sudah bisa menebak siapa gadis itu, siapa lagi kalau bukan Nona besar keluarga ini, Nona Jing Xia yu yang telah lama pergi dari kerajaan Xing. Itulah dia..


Xia yu berjalan dengan langkah pelan, dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Tidak pernah menduga jika orang yang menyayangi pemilik tubuh sebelumnya, meninggal ketika dia kembali. Dia melewati orang-orang yang menatapnya dengan tatapan kagum, tak memperdulikan mereka sama sekali.


Setibanya di hadapan tumpukkan kayu yang menopang tubuh renta itu, dia berdiri terdiam mematung dengan apa yang di lihat. Di hadapannya terbaring sosok wanita paruh baya yang matanya tertutup rapat-rapat. Kulit putih pucat yang memiliki kerutan di wajahnya dan bahkan di seluruh tubuhnya, tidak sedikitpun menutupi kecantikan dan keanggunan wanita tua itu.


Xia yu merasakan dadanya begitu sesak, dan kedua matanya mulai berkabut. Dia membuka Cadarnya, memperlihatkan wajah cantiknya kepada semua orang. Terdapat senyuman kesedihan dari bibirnya, tidak berapa lama dia mengulurkan tangannya untuk membelai wajah wanita itu, kemudian memanggil wanita itu dengan suara lirihnya.


"Nenek..." Ucapnya dengan kedua mata yang sudah berair, kemudian air mata itu terjun bebas dengan indahnya mengalir membasahi kedua pipinya.


Dia memeluk tubuh renta itu dengan kesedihan yang tidak ia mengerti. Ini pertama kalinya Xia yu menangisi kematian orang asing. Apa ini adalah perasaan sedih yang di rasakan oleh pemilik tubuh sebelumnya? Tapi bukan kah roh gadis itu sudah kembali ke alam baka? Atau mungkin ini semua karena perasaan bersalahnya yang tidak berbakti pada wanita tua itu.


Entahlah, kita lupakan semua pertanyaan itu. Karena saat ini yang sedang terjadi adalah, tangisan haru yang tiada hentinya keluar dari gadis itu, membuat semua orang merasakan kesedihan yang dia rasakan.


Jendral Ho beranjak dari tempatnya, dia berjalan mendekati gadis yang sedang luput dalam kesedihan, berusaha menenangkan anak perempuannya dengan kata-kata lembutnya. Begitu pun dengan Minghao, dia juga mendekati Xia yu dan memeluknya mencoba menenangkannya dengan pelukan keluarga. Setelah itu dia membawa Xia yu sedikit menjauh dari tumpukkan kayu itu, karena prosesi kremasi akan segera di mulai.


Yang melakukan prosesi kremasi untuk wanita tua itu adalah Jendral Ho dan Minghao, karena hanya merekalah keturunan laki-laki yang berasal dari wanita tua itu. Sementara Xia yu masih hanyut dalam kesedihannya, dia menyaksikan semua prosesi pemakaman itu. Ketika api kremasi berkobar, dengan tidak sengaja Xia yu melihat bayangan wanita tua itu sedang berdiri di dekat tumpukkan kayu, wanita tua itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Xia yu, seolah berpamitan dengannya.


Tidak jauh dari tempat Xia yu berdiri, disana ada anggota keluarga kerajaan Xing yang menghadiri pemakaman ibu kandung dari Jendral kerajaan Xing. Mereka adalah Raja Kangjian Xing, Raja Liu Xingsheng, Putri Kaili Xing dan Putri Shuwan Xing. Mereka adalah anak dari Kaisar kerajaan Xing.


Beberapa saat yang lalu, ketika kedatangan Xia yu. Mereka berempat sempat terkejut, tidak mengira jika gadis yang meninggalkan saudaranya itu akan kembali di saat salah satu keluarganya tiada. Sejak menyadari kedatangan Xia yu, Raja Liu tidak henti-hentinya menatap Xia yu. Dia seakan telah terobsesi oleh gadis itu, awalnya karena perasaan bersalah, lama kelamaan menjadi obsesi yang berperan sebagai cinta


Acara prosesi pemakaman telah usai, semua orang telah kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan anggota keluarga Jendral Ho dan keluarga kerajaan, beserta orang-orang yang bekerja di kediaman Jendral Ho.


Xia yu beranjak dari tempatnya berdiri, dia di temani oleh Fang yin yang sudah menyamar sebagai pria, dia memerintahkan Fang yin menyamar karena dia tidak mau orang-orang dari kerajaan ini tahu bahwa dirinya adalah tabib misterius yang membawa Fang yin sebagai pelayannya.


Sementara Minghao dan Dali telah di beritahu jika Fang yin tidak boleh kembali ke kerajaan Xing sebagai dirinya, itu akan membuat Xia yu dalam bahaya. Dan mereka berdua pun menyetujuinya.


Raja Liu Xingsheng mengejar kepergian Xia yu dan pria muda di sampingnya. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan untuk bisa bicara dengan gadis yang selama ini dia cari.


"Xia yu.. Xia yu.." Panggilnya dengan berlari kecil di belakang gadis itu.


Setibanya di hadapan Xia yu, Liu Xingsheng langsung berbasa-basi menanyakan kabarnya. "Xia yu, apa kabar?"


"Baik!" Jawab Xia yu acuh.


"Kamu pergi kemana? Kenapa tidak memberi kabar kepada keluargamu? Mereka sangat khawatir padamu! Karena tidak mengetahui keberadaan mu, mereka kebingungan memberitahu keadaan Nenekmu! Dan akhirnya kau pulang di saat Nenekmu telah tiada. Apa kamu tidak merasa bersalah?" Liu Xingsheng memberondong Xia yu dengan perkataan yang memojokkannya.


Bukan Xia yu namanya, jika dia tidak bisa menjawab perkataan Liu Xingsheng. Dengan tatapan dinginnya dia menatap pria itu dan melontarkan kata-kata yang tidak di duga oleh Liu Xingsheng.


"Siapa kamu? Apa kamu mengenal ku?" Tanya Xia yu dengan suara dinginnya.


Liu Xingsheng merengutkan alisnya, tidak memahami maksud pertanyaan Xia yu. Dia pun menjawab pertanyaan itu. "Aku Liu Xingsheng, mantan suami mu! Tentu saja aku mengenalmu."


"Tapi aku tidak mengenalmu! Aku rasa yang kamu kenal bukan aku, melainkan aku di masa lalu."


"Apa maksudmu? Kamu yang sekarang dan yang lalu bukan kah sama saja."


"CK.. Ternyata kamu tidak memahami perubahan ku sama sekali." Xia yu berdecak sebal. "Perkenalkan, nama ku Jing Xia yu. Siapa nama mu tadi?" Sambungnya dengan pura-pura tidak mendengar jawaban raja Liu saat memperkenalkan nama dan statusnya untuk Xia yu.


"Aku Liu Xingsheng, kenapa kamu bisa lupa dengan nama ku?"


Xia yu mendekati Raja Liu, dan membisikkan sesuatu padanya. "Itu karena gadis yang satu tahun lalu hidup menderita dalam kurungan mu, adalah Xia wei, bukan aku! Dan gadis yang bernama Xia wei telah tiada, setelah kamu menyiksanya dengan hukuman pukul papan."


Mendengar hal itu, Raja Liu langsung terdiam. Dia mengingat kembali peristiwa ketika dia menyaksikan pemberian hukuman pada Xia wei, saat itu mata dan hatinya tertutup. Bukannya kasihan ketika melihat Xia wei tak sadarkan diri setelah menerima sepuluh pukulan, tetapi raja Liu malah membiarkan pengawalnya melanjutkan hukuman pukul papan sampai dua puluh pukulan. Dan memerintahkan pengawalnya mengurung gadis itu di dalam ruangan yang gelap.


Xia yu kembali ke tempatnya dan melanjutkan kata-katanya. "Ingatlah, diantara Jing Xia yu dan Liu Xingsheng tidak pernah ada hubungan. Jadi aku mohon kepadamu, untuk tidak muncul di hadapan ku lagi. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu!"


Setelah mengatakan semua itu, Xia yu berbalik arah dan melanjutkan jalannya untuk kamar peristirahatannya, meninggalkan Raja Liu yang terdiam mematung. Perkataan Xia yu bagaikan penyakit yang di paksa untuk kambuh, membuat rasa bersalah dan penyesalan kembali bangkit, mengalahkan obsesi yang menyamar sebagai cinta.


Adik raja Liu datang menghampiri kakaknya, Putri Kaili menyadarkan kakaknya yang masih melamun karena mengingat kenangan lamanya. Setelah raja Liu sadar, Kaili mengajaknya kembali ke istana untuk memberitahukan prosesi pemakaman ibu kandung Jendral Ho telah usai.


Kaili dan dua saudara yang lainnya, mendengar semua percakapan antara Raja Liu dan Xia yu, terkecuali perkataan yang di bisikan oleh Xia yu. Mereka dapat memahami perubahan sikap Xia yu yang terlihat lebih susah untuk di dekati. Menurut mereka, perubahan Xia yu di sebabkan oleh penderitaan yang dia terima. Maka dari itu mereka hanya bisa menyadarkan saudaranya untuk tidak menaruh harapan lagi pada gadis itu.


**tbc