The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
323. Kerajaan iblis..



***


Tahap ketiga kembali dimenangkan oleh Xia yu, besok giliran tahap keempat. Dalam ujian terakhir dari awal telah ditetapkan oleh Nyonya ye. Sebuah perlombaan memburu akan dilakukan oleh para peserta, barang siapa yang mendapat buruan terbanyak akan menjadi pemenangnya dan semua nilai dari ujian sebelumnya akan di hitung hari itu juga.


Dan pada tahap terakhir Kaisar Yuan akan ikut serta. Binatang yang menjadi hasil buruannya bisa di berikan pada salah satu peserta yang menurutnya kelak akan menjadi pendampingnya. Binatang tersebut akan menambah nilai tambahan dalam hitungan terakhir. Tidak lupa juga, Kaisar akan memberikan serangkaian bunga Phoenix darinya sebagai lambang terpilihnya permaisuri.


Setelah mengumumkan ujian untuk selanjutnya, para peserta yang tersisa di persilahkan kembali ke paviliun peristirahatan. Sementara pihak istana mulai mempersiapkan peralatan, bahan makanan serta kebutuhan lainnya untuk perjalanan perburuan yang akan dilakukan besok pagi.


Pada tengah malam hari di dalam sebuah halaman paviliun, seorang gadis yang tidak bisa tidur malam itu menyelinap keluar seorang diri setelah memastikan semua orang di sekitarnya terlelap. Xia yu merasa bosan dan berniat mencari udara segar untuk merilekskan pikiran dan perasaan resah nya.


Dalam setiap langkahnya dia memikirkan orang-orang yang menjadi suadaranya di kehidupan ini. Orang-orang yang berada di kerajaan Xing Ayah, adik, sepupu serta Kelima Saudara Jiang yang entah bagaimana kabar mereka saat ini? Ada setitik rasa rindu yang tersemat di hatinya ketika teringat pada mereka.


Akhirnya dalam kekalutan itu, Xia yu bertekad akan mendatangi dan memboyong mereka untuk hidup bersamanya setelah pemilihan permaisuri ini selesai. Entah dia akan berhasil atau tidak menikah dengan pemimpin kerajaan ini, dia tetap harus menjalankan tugas yang di berikan padanya dari Kakek Li dan pemilik tubuh sebelumnya.


Mengingat tentang pemilihan permaisuri, Xia yu teringat sosok pria yang telah menjadi suaminya beberapa hari yang lalu. Senyuman manis pun tersungging di bibirnya saat mengingat Kaisar Yuan. Seketika dia pun mempertanyakan keberadaan lelaki itu pada hatinya.


Tidak terasa karena memikirkan Kaisar Yuan, Xia yu berteleportasi dari halaman Paviliun peristirahatan ke Paviliun Naga. Dia sedikit tersentak saat menyadari hal itu, namun karena telah terlanjur menginjakkan kakinya dia pun menetap.


Xia yu berjalan dengan hati-hati, tanpa sadar bersembunyi dibalik batu besar saat melihat sosok manusia tengah berada di sebuah ruangan. Dia menahan nafasnya mengamati orang yang sedang terduduk di paviliun itu dalam posisi teratai. Orang itu tetap duduk lama di sana dan sama sekali tidak bergerak seperti tak menyadari kedatangannya.


'Apakah pria itu sudah mati? Ataukah sedang bermeditasi?' Tanya Xia yu menautkan kedua alisnya berpikir keras.


Waktu terus berjalan, Xia yu menunggu untuk beberapa saat. Setelah memastikan tidak ada pergerakan dari sana, dia pun dengan hati-hati berjalan menuju Paviliun tersebut. Dengan cara mengendap-endap membuatnya semakin dekat sampai akhirnya bisa melihat sosok di dalam paviliun itu dengan jelas. Xia yu tertegun untuk sesaat dari tempatnya berdiri.


"Paman.." Lirihnya dengan suaranya yang hampir tak terdengar.


Namun sepertinya bisikannya yang tak sengaja itu masuk dalam indra pendengaran Kaisar Yuan.


".....?" Hening tidak terjadi reaksi apapun.


Rasa penasaran yang menggelitik membuat kakinya kembali melangkah dan mengitari orang itu dengan tatapannya yang tidak terputus. Tingkah Xia yu saat ini bagaikan singa betina sedang menarik perhatian singa jantan yang sedang tertidur.


Dari jarak yang sangat dekat, Xia yu mengamati lekuk wajah prianya dengan teliti. Namun dia kehilangan kata-kata untuk melukiskan keindahan yang tersaji didepan matanya.


Seluruh bagian dari tubuh Kaisar Yuan begitu memikat hati, membuat semua yang melihat ingin langsung menyembahnya bagaikan seorang dewa. Pahatan wajah yang terlihat begitu sempurna karena hampir setiap pahatannya tidak memiliki kecacatan. Sehingga tidak seorang pun berani melakukan hal yang dapat menyinggung pria itu.


Terkecuali.... Xia yu.


Xia yu belum pernah melihat wajah pria yang setampan dan sesempurna Kaisar Yuan Zhu-Ming. Ternyata ketampanan idolanya ketika di kehidupan modern kalah dengan pria yang sedang duduk dalam posisi teratai. Posisi gerak tubuh yang seindah bulan dan seanggun bunga teratai dikala sedang melakukan meditasi.


Xia yu tidak dapat menahan diri, dia ingin menyentuh wajah itu lagi. Tangannya pun terulur dan mulai merasakan permukaan kulit wajah yang begitu halus. Wajah seorang pria biasanya di dominasi dengan permukaan yang keras dan pori-pori yang banyak pada masa kerajaan. Namun menurutnya, wajah yang sedang dia pegang saat ini adalah hal langka yang patut dimuseumkan.


Di saat sedang asyik mengamati wajah Kaisar, dari arah luar ruangan terdengar pergerakan. Karena tingkat kewaspadaan yang begitu kuat, Xia yu segera menarik diri dari hadapan Kaisar dan secepat mungkin bersembunyi didalam ruangan itu. dibalik sketsel ruangan yang terbuat dari kayu tebal.


Xia yu seperti gadis remaja yang baru saja ketahuan mencuri barang pribadi seseorang. Dia mengintip pujaan hatinya dari lubang sketsel. Padahal status pria itu telah menjadi suaminya sejak tiga hari yang lalu.


'Argh, siapa sih yang datang? Mengganggu kesenanganku saja, tidak tahu apa aku sedang menikmati ketampanan suamiku?' Xia yu menggerutu dalam hatinya sambil menatap sosok bayangan hitam yang baru saja muncul secara tiba-tiba dari arah pintu depan.


Bayangan satu yang baru saja tiba di dalam paviliun Naga tidak menyadari keberadaan Xia yu. Dia bahkan melewatinya begitu saja ketika akan menghadap Kaisar Yuan yang masih setia dalam posisinya.


"Tuan, ..." Ucap Bayangan Satu, namun ucapannya harus terhenti sebelum dia memulainya.


Kaisar Yuan Zhu-Ming membuka kedua matanya dan menatap tajam pada Bayangan Satu. Seolah memberi peringatan untuk jangan berbicara.


Dengan gerakan yang anggun, Kaisar Yuan bangkit dari posisi teratai nya dan berdiri. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, namun sepertinya apa yang tengah dia cari tidak ada dimana-mana.


'Kemana dia?' Lirihnya dalam hati mencari keberadaan Xia yu yang ternyata telah kembali ke Paviliun peristirahatan dengan cara berteleportasi.


"Yang Mulia, apa yang sedang Anda cari?" Tanya Bayangan Satu tanpa rasa bersalah. Seketika Yuab Zhu-Ming berdecak kesal, dia melirik tajam bawahannya.


"Tidak ada.." Jawabnya dengan ketus membuat Bayangan Satu semakin bingung.


'Apa yang terjadi pada Tuan ku?' Batinnya.


'Cih.. Mengapa mereka berdua selalu datang di saat aku sedang berduaan?' Batin Yuan Zhu-Ming.


Dia merasa kesal karena Bayangan Satu dan Serigala abu-abu selalu tidak tahu situasi apa yang sedang terjadi pada Tuannya. Padahal sebentar lagi dia akan menerkam singa betinanya, namun karena kedatangan pengawalnya singa betinanya terlanjur kabur.


***Kerajaan iblis..


Pada malam dan waktu yang sama, di sebuah tempat makan yang berada di wilayah kerajaan iblis, beberapa orang dari kerajaan Xing tengah berkumpul dalam satu meja. Mereka adalah Raja Liu Xing Sheng, mantan suami dari Xia wei nuan atau yang sekarang di kenal sebagai Jing Xia Yu.


Beberapa orang yang bersama dengannya terkejut, tak terkecuali Raja Liu. Dia juga sama terkejutnya dengan yang lain, namun sedetik kemudian Raja Liu dapat mengembalikan ekspresi wajahnya.


"Kau bisa mengatasinya?" Tanya Raja Liu.


"Kemampuan bermain pedang saya tidak lebih buruk dari preman-preman disana." Jawab pengawal Qiu dengan sedikit berkelakar.


"Kau sama sekali tidak boleh meremehkan mereka. Satu kesalahan saja bisa membuatmu terbunuh." Raja Liu memperingati.


"Hidup saya milik Anda, Baginda." Dengan tenang Qiu menyerahkan hidup matinya pada Raja Liu, orang yang berjasa pada dirinya saat dia terpuruk.


Beberapa bulan yang lalu, Raja Liu mendapat kabar tentang keberadaan Tabib Misterius yang berada di kerajaan iblis. Raja Liu segera meminta ijin pada ayahnya untuk mencarinya disana. Awalnya sang ayah tidak mengijinkan, akan tetapi mengingat hanya Tabib misterius yang bisa menyembuhkan penyakit putra mahkota, maka dari itu dia mengijinkan meski hati berat melepasnya.


Dibeberapa pos kerajaan iblis, beberapa kelompok prajurit sedang berlatih. Di perkirakan ada ratusan orang yang menjadi prajurit dalam setiap daerah. Mereka berlatih siang dan malam, seperti sedang menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan di masa depan.


Raja Liu dan beberapa anak buahnya berhenti di arena bertarung setelah selesai makan dan menyusun rencana. Arena bertarung adalah sebuah tempat untuk membuktikan kemampuan seseorang dalam berkelahi. Jika berhasil dan menarik minat orang-orang yang menjadi komandan di salah satu pos penjagaan, maka akan di rekrut secara langsung untuk menjadi prajurit. Bahkan jika kemampuan orang itu tinggi bisa saja dia langsung menjadi ketua dalam sebuah kelompok.


Di dalam sebuah kedai restoran berlantai dua, terdapat dua orang laki-laki yang berpenampilan seperti komandan pasukan khusus. Mereka sedang memperhatikan pertarungan yang sedang berlangsung di atas arena.


Salah satu dari petarung ambruk dengan tak berdaya. Orang yang memenangkan pertarungan langsung menantang para penonton yang berada di bawah, seolah-olah dirinya dapat menghadapi lawan selanjutnya yang berani masuk ke dalam arena bertarung.


"Siapa lagi? Majulah?" Ujarnya seraya mengarahkan pedangnya pada para penonton, menyombongkan diri dengan bangga.


"Dia sangat hebat. Aku penasaran apa ada yang bisa menandinginya."


Tepat setelah kata-katanya terdengar, seseorang dari barisan penonton muncul secara misterius. Dia adalah Qiu, yang berjalan dengan langkah tegap menghampiri petarung yang baru saja menang. Sesampainya di hadapan petarung itu dia berkata.


"Bertarunglah denganku."


"Dari mana kau? Siapa kau?" pertanyaan itu terlontar dari mulut komandan pasukan khusus.


Mendengar itu Qiu membalikkan tubuhnya menghadap dua orang yang berada di atas loteng. Kemudian dia menjawab dengan tenang. "Saya hanya lewat saat mencium bau darah dan ingin minum-minum."


"Baiklah, kalau begitu bertarunglah."


Pertarungan pun di mulai. Qiu memimpin dia mengalahkan petarung tadi dalam beberapa menit saja. Mungkin karena dia adalah seorang pengawal pribadi, maka menghadapi seorang preman jalanan hanya seperti berkelahi dengan anak kecil.


"Tampaknya kita sudah menemukan orang yang sesuai." Ujar komandan itu pada temannya dan dibenarkan oleh yang lainnya.


"Siapa nama mu?" Dia bertanya pada Qiu.


"Saya Han Qiu dari kota Xing." Jawab Qiu seraya menghadap komandan pasukan khusus itu.


"Kemari lah, malam ini sangat dingin. Aku akan memberimu arak hangat." Koman menyuruhnya masuk ke dalam bangunan restoran.


Qiu hanya mengangguk paham, dia langsung berjalan masuk ke dalam restoran tanpa menoleh ke arah manapun.


Dari barisan penonton beberapa orang memakai penutup kepala dari bahan rotan yang berbentuk kerucut.


"Gampang sekali." Ujar pelayan Raja Liu.


"Tentu saja, kemampuan pengawal kerajaan pasti hebat." Jawab pengawal sing, dia juga pengawal pribadi Raja Liu.


Setibanya di dalam restoran, Qiu menghampiri komandan pasukan khusus dan duduk mengulurkan tangannya untuk menerima sebuah cawan yang diberikan oleh komandan. Dia duduk di tumpuan kakinya dengan tenang. Lalu sebuah arak di tuang secara halus oleh seorang pria yang duduk bersebelahan dengan komandan pasukan khusus.


"Apakah dia, Boksa?" Tanya Raja Liu dalam penyamaran nya.


"Benar, dia punya wajah yang gelap berbeda dengan yang lain." Jawab pengawal sing.


"Lalu, siapa yang duduk di sampingnya?" Raja Liu kembali bertanya, dia lebih antusias pada sosok pendiam yang duduk bersebelahan dengan komandan pasukan khusus.


"Dia tidak seperti salah satu anak buahnya, pasti bukan orang biasa." Jawab pengawal sing.


Raja Liu juga mencurigai pria itu, kemungkinan besar dia adalah kaki tangan langsung dari Raja iblis atau antek-antek nya.


****tbc


Sorry Hiatusnya kelamaan**, skedulnya padat merayap akhir semester banyak keluar..


Baru lanjut malam ini, semoga besok bisa up juga dan gak ada kerjaan ya beb..