The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
314. Hari yang bersejarah.. Nona Xing..



***


Di sebuah jalanan besar yang mengarah ke istana, terlihat arak-arakan manusia mengawal beberapa kereta megah yang melaju ke arah sana. Jalanan seperti tempat yang ramai dan riuh dipadati aktivitas, di penuhi oleh kerumunan besar masyarakat setempat dan para pengusaha yang berduyun-duyun datang ke ibu kota kerajaan Tiankong.


"Wahh.. Meriah sekali!" Seru salah satu dari masyarakat setempat.


"Tentu saja, ini adalah hari bersejarah. Kerajaan Tiankong akan memilih seorang putri untuk menjadi seorang permaisuri."


"Dengar-dengar, Para putri yang terpilih adalah dari generasi muda yang berbakat dan cantik. Harusnya salah satu dari mereka akan di pilih oleh Yang Mulia Kaisar bukan?"


"Semoga saja."


Hari ini adalah hari bersejarah, yang pastinya akan tercatat dalam buku sejarah Kerajaan Tiankong. Tentunya rakyat kerajaan Tiankong bahagia akan hari ini. Dan yang pastinya mereka tidak ingin melewatkan hari bersejarah itu.


Para putri dari kerajaan tetangga dan putri bangsawan serta para menteri telah tiba di Istana. Ada sekitar sepuluh gadis yang terpilih menjadi calon permaisuri di kerajaan ini. Dan salah satunya adalah Putri Yimei, cucu kesayangan dan gadis satu-satunya yang ada di keluarga Huang. Tetua Huang Yi, salah satu menteri yang berstatus jendral sayap kiri di jajaran pengurus kerajaan Tiankong.


Sementara di dalam Istana yang megah, terlihat kesibukan yang luar biasa. Sejak kemarin, semua pekerja yang ada di istana bekerja siang dan malam, bahkan mereka tak mendapatkan waktu istirahat yang sesuai, hanya untuk acara hari ini.


Para pelayan dan pekerja lainnya bekerja sama membersihkan halaman dan ruangan yang akan di pakai. Menata dan mengganti tanaman yang layu dengan yang segar. Mengganti tirai yang kotor dengan yang bersih. Juga menyiapkan makanan dan minuman yang akan di sajikan dalam acara hari ini.


Dari dalam aula istana, sebuah Karpet Merah membentang di atas susunan paving blok yang tersusun rapi. Kain merah tebal menghiasi pilar-pilar bangunan Istana. Dan di dalam aula istana yang sangat luas, kain merah transparan tergantung di atas langit-langit dan membentang menyentuh lantai. Sementara di sisi yang lainnya, kain merah itu terikat di pilar-pilar bangunan aula.


Meja panjang yang lumayan besar tersusun rapi di atas lantai yang bersih. Tidak lupa, bantalan dudukkan juga tersusun di bawah meja. Sementara di atasnya terhidang berbagai kudapan manis dan segar. Semua ini di kerjakan oleh para pelayan dan pekerja di Istana yang saat ini masih sibuk menata rapih tempat itu. Semua itu khusus disiapkan untuk para kandidat calon permaisuri kerajaan Tiankong.


Seorang kasim yang bertugas di dalam aula istana terlihat begitu teliti mengarahkan para pekerja. Setelah memastikan semua makanan dan yang lainnya beres, Kasim itu keluar dari ruangan, berjalan menghampiri seorang pria yang jabatannya lebih tinggi darinya. Memberitahukan bahwa semua makanan dan minuman telah terhidang. Dan semua pelayan yang di tugaskan melayani para tamu telah hadir semuanya.


Pria itu mengangguk, lalu menyuruh kasim itu kembali ke tempatnya. Tidak berapa lama, para menteri dan pengurus pemerintahan lainnya tiba. Pengurus Istana yang bertugas menyambut para tamu pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam aula istana.


Para tamu yang hadir takjub dengan hiasan dan hidangan yang tersaji di sana. Acara yang di selenggarakan itu, tampak seperti pesta pernikahan, padahal acara hari ini adalah perkenalan para putri yang terpilih saja. Semua kehebohan yang terjadi di istana hari ini, tidak jauh dari campur tangan orang yang memiliki niat tersembunyi.


Para menteri dan pengurus Istana telah duduk di tempat yang tersedia. Percakapan di antara mereka pun mulai terdengar.


"Para putri yang terpilih telah tiba di istana. Aku penasaran, putri dari kerajaan mana yang akan di pilih oleh Yang Mulia?"


"Kira-kira, kandidat yang paling kuat dan cantik lah yang terpilih."


"Putri Yimei, dari Keluarga Huang. Sepertinya dia kandidat yang paling kuat."


"Ya, sepertinya dia yang akan terpilih."


"Siapa pun yang terpilih, ku harap dia yang terbaik untuk kerajaan ini."


"Ya.."


Semua kereta yang membawa para gadis cantik dan berbeda budaya itu telah berhenti di luar aula Istana, satu persatu para gadis yang sedari tadi duduk di dalam kereta keluar secara berurutan. Mereka berdiri tepat di samping kereta masing-masing dan di temani oleh pelayan serta pengawal mereka.


Seorang kasim datang menghampiri, kasim itu menyambut, dan mempersilahkan mereka untuk segera masuk ke dalam ruangan yang di sediakan untuk para putri di aula istana.


Para putri itu mulai melangkah dan menginjakkan kaki mereka untuk pertama kalinya di atas karpet merah. Berjalan dengan langkah yang anggun dan gemulai. Membuat orang yang menatap mereka terpesona dengan Menaiki anak tangga satu persatu dan berpegangan pada tangan pelayan mereka.


Para putri itu mengenakan pakaian mewah, rambut mereka di hiasi dengan perhiasan yang tentunya juga mewah, membuat penampilan mereka begitu sempurna. Contohnya seperti gadis yang memakai hanfu merah, dia terlihat begitu anggun dan berani dengan warna merah yang dia kenakan.


Pakaiannya beda dari yang lain, terlihat lebih sopan. Namun siapa yang tidak tahu bahwa pakaian itu adalah hanfu sederhana dengan kualitas nomor satu. Setara dengan pakaian pesta milik para putri yang lain.


Semua putri memasuki aula Istana dengan perasaan yang berbeda-beda. Ada yang senang, bangga, gugup, takut, sedih.


Senang karena bisa terpilih dan bisa menyombongkan diri. Bangga karena bisa merubah nasib dan memperkuat kedudukannya. Gugup karena baru pertama kali berhadapan dengan seorang kaisar. Takut tidak akan terpilih. Sedih bisa membanggakan orang tua. Ada pula perasaan yang bercampur menjadi satu. Namun, ada satu gadis yang tidak memiliki ekspresi. Dia begitu tenang dan acuh dengan keramaian di aula istana.


Kasim mempersilahkan mereka duduk di sisi bagian kiri yang tertutup kain merah transparan, tempat khusus untuk para putri yang akan memperkenalkan diri pada Kaisar Yuan Zhu-Ming.


Mengapa tempat duduk para putri harus di tutupi kain transparan?


Itu karena sebuah tradisi yang harus dilakukan ketika pemilihan seorang permaisuri. Sampai titik ini pun mereka harus melakukan banyak ujian. Mulai dari tata krama, beladiri, seni, budaya dan yang lainnya. Tidak sembarang gadis atau putri dapat terpilih. Terkecuali mereka dapat memenuhi ujian di atas tanpa cela sedikit pun.


Semua putri di bimbing oleh para pelayan ke tempat duduk. Duduk di belakang meja yang di penuhi dengan kudapan. Di atas meja telah disajikan buah-buahan dan kue-kue yang banyak disukai oleh para gadis. Ruangan yang biasanya kaku berubah menjadi ruangan yang dipenuhi nuansa buah-buahan yang lembut, seolah-olah berada di kebun buah dengan udara segar.


Setelah semua putri duduk di tempatnya masing-masing, ketua kasim pun mulai membuka acara hari ini. Mulai dari penyambutan untuk para petinggi kerajaan, dan para putri yang hadir. Setelah itu menyambut pemimpin agung mereka yang tidak lain adalah Yuan Zhu-Ming.


Keriuhan pun terjadi tatkala sosok yang di hormati muncul dengan aura sang pemimpin. Kaisar Yuan Zhu-Ming tiba di aula istananya. Dia berjalan dengan langkah yang mantap, di dampingi oleh orang-orang kepercayaannya. Kehadiran mereka mendapat apresiasi dari semua orang yang ada di dalam aula.


Mereka yang tadinya berada dalam posisi duduk langsung berdiri dan memberi hormat kepada pemimpin mereka. "Hormat pada Yang Mulia Kaisar."


Semua orang kembali pada posisi duduk setelah pemimpin mereka duduk di singgahsananya. Kaisar pun memulai pembicaraan dengan para pria yang ada di pemerintahannya.


"Tuan-tuan, sudah lama kita tidak berjumpa ya." Ujar Yuan Zhu-Ming dengan tatapan datar meski kata-katanya terkesan ramah, padahal hanya sekedar basa basi.


"Benar, Yang Mulia. Bagaimana kabar anda? Kami harap anda dalam keadaan sehat dan bahagia." Salah satu menteri menjawab dengan kepala tegak dan memberikan seulas senyuman di wajahnya.


"Tentu saja, aku sehat dan bahagia. Bukan kah kalian sibuk mencarikan aku seorang istri?" Jawab Yuan Zhu-Ming dengan seringainya menyindir jajaran menteri yang hadir di sana.


Para menteri itu, sedikit tertekan dengan sindiran yang di berikan Yuan Zhu-Ming. Mereka pun segera minta maaf. "Maaf atas kelangcangan kami Yang Mulia. Tapi posisi Permaisuri benar-benar harus segera di isi, jika tidak kerajaan akan goyah karena tidak memiliki penerus." Jawab Menteri Huang Yi yang pertama mengusulkan agar Yuan Zhu-Ming memilih satu putri untuk di jadikan permaisurinya.


"Betul, Yang Mulia. Kami harap Yang Mulia bersedia memilih satu Putri dari sepuluh putri yang telah kami seleksi dengan baik untuk menjadi permaisuri anda." Sambung menteri Chu.


"Baiklah, aku akan memilih satu gadis untuk menjadi permaisuri ku. Dan pernikahannya akan di langsungkan satu minggu setelah pemilihan ini." Jawab Yuan Zhu-Ming.


Orang-orang yang mendengar ucapannya teramat senang, terutama para putri yang berada di balik tirai tipis merah. Begitu pula dengan Putri Yimei, wajahnya semakin dia angkat tinggi. Seolah dirinya saja lah yang pantas menjadi permaisuri Kaisar Yuan.


Namun, baru saja mereka bahagia, Yuan Zhu-Ming melanjutkan ucapannya sambil menatap kedua menteri itu dengan tatapan yang dalam, dan berkata dengan nada yang dingin.


"Aku harap kalian tidak melupakan syarat dari pemilihan permaisuri ini." Sambungnya.


"Syarat?" Seru semua orang yang tidak mengetahui tentang perjanjian di balik penyetujuan Yuan Zhu-Ming menikah.


"Tentu saja kami tidak lupa Yang Mulia, benarkan?" Jawab Menteri Chu dengan meminta yang lain membenarkan ucapannya.


"Benar Yang Mulia.." Jawab mereka serentak.


Yuan Zhu-Ming tersenyum puas mendapat jawaban itu. Dia pun melambaikan tangan pada bawahannya agar segera memulai acaranya. Pesta perkenalan para putri pun di mulai.


Satu persatu putri yang terpilih di panggil sesuai urutan. Mereka di persilahkan memperkenalkan diri di hadapan Kaisar, dan juga mereka diharuskan menunjukkan bakat yang mereka punya.


Mulai dari Putri Xiao Qing, seorang putri dari kerajaan kecil yang masih berada di bawah ke pemimpinan Kerajaan Tiankong. Dia adalah putri pertama dari Raja Qing. Xiao Qing sangat dikagumi di kerajaannya, dia berumur enam belas tahun memiliki perawakan tinggi dengan kulit yang putih dan halus. Xiao Qing dinobatkan sebagai seorang Fighter tingkat satu sewaktu muda. Dia bahkan menerima penghargaan kesatria wanita di kerajaan kecilnya.


Yang kedua Putri Su Anqi, seorang Nona dari keluarga bangsawan. Dia juga memliki kecantikan yang sempurna, namun memiliki sikap yang angkuh dan suka semena-mena. Bakatnya adalah dia pengusaha, seorang gadis yang mengelola gudang arak kualitas tingkat surga.


Ketiga, keempat, sampai ke tujuh adalah para putri dari kerajaan tetangga yang berada di tingkat warrior menengah. Mereka memiliki bakat beladiri yang lumayan tinggi dan selalu ikut dalam pertemuan atau pertandingan yang diadakan di kerajaan Tiankong juga kerajaan lainnya.


Kedelapan, Putri Ning An, dia adalah seorang putri sekaligus tabib. Semasa hidupnya hanya disibukan dengan ilmu pengobatan pembedahan, dan dia juga telah mendapat gelar tabib bedah termuda. Memiliki sikap yang lemah lembut dan penyayang, mereka yang menjadi pasiennya teramat bahagia dapat di operasi olehnya.


Perkenalan para putri itu terus berlanjut, Yuan Zhu-Ming mengetuk-ngetuk kan jarinya di atas meja. Dia tampak bosan mendengarkan para putri memperkenalkan diri. Sampai saat ini tidak ada yang menarik perhatiannya. Sedari dia datang ke aula istana, dia terus mencari sosok yang semalam bercumbu dengannya.


Yuan Zhu-Ming merasa gelisah karena sisa dua putri yang belum memperkenalkan diri. Salah satunya seharusnya wanita yang menjadi pilihannya, tapi wanitanya belum menunjukkan batang hidungnya.


Pagi tadi, dia sengaja menghadang salah satu putri untuk tidak mengikuti pertemuan ini. Itu pun karena persetujuan dari kedua belah pihak. Dia adalah Putri Xing'an dari keluarga Xing yang berada di kota B. Gadis itu ingin terbebas dari kekangngan keluarganya. Dia lebih suka hidup bebas, berkelana dari kota satu ke kota lainnya. Mencari pengetahuan di belahan dunia lainnya. Maka dari itu, Bayangan Satu dan Daihe membebaskan dia dari tuntutan ini, bahkan gadis itu di beri hadiah oleh kaisar atas kejujurannya.


Namun yang membuat gelisah saat ini adalah gadis pengganti Putri Xing'an belum juga muncul!


Urutan perkenalan putri terus berlanjut, kini tinggal urutan kesembilan. Dia adalah Putri Yimei, seorang warrior yang berada di tingkat empat. Seorang petarung wanita dari kerajaan Tiankong, anak bungsu dan cucu kesayangan keluarga Huang. Jendral Huang Yi, yang menjabat sebagai menteri persenjataan. Putri Yimei, adalah gadis pemberani yang tak takut dengan kekalahan, namun takut dengan seekor tikus. Dia memiliki sifat yang bermuka dua.


Dan kandidat yang ke sepuluh adalah seorang Nona. Kasim memanggil kandidat nomor sepuluh, namun di dalam kertas daftar tidak tercantum namanya. Hanya tertulis..


"Kandidat Nomor sepuluh, Kerajaan Xing. Nona di persilahkan untuk maju ke depan dan memperkenalkan diri." Ucap kasim itu yang tak tahu menahu jika nona urutan ke sepuluh itu bukan dari kerajaan Xing, melainkan dari kota B yang masih termasuk kerajaan Tiankong.


Pandangan orang-orang yang ada di ruangan aula tertuju pada pintu masuk. Namun tidak ada siapa pun yang muncul di sana, padahal kesembilan putri telah selesai memperkenalkan diri.


"Nona dari kerajaan Xing, silahkan anda maju ke hadapan Yang Mulia.."


"Nona Xing.. Nona Xing.."


Beberapa kali kasim itu memanggil, tapi kandidat yang di panggil tidak menampakan wajahnya. Kegelisahan tampak jelas di wajah Yuan Zhu-Ming, dia pun memanggil Bayangan satu dengan bahasa isyarat. Dalam bahasa telepati nya, dia memerintahkan Bayangan Satu agar memeriksa keberadaan kandidat nomor sepuluh.


Bayangan Satu pun melaksanakan perintah dari tuannya, dia segera pergi dari tempat itu tanpa di ketahui oleh orang lain. Sementara Yuan Zhu-Ming di temani oleh sepupunya, orang yang menjadi kepercayaannya untuk menjaga kerajaan Tiankong ketika dia pergi.


Para menteri dan jajaran pemerintah kerajaan tak sabar, Menteri Chu dan Menteri Huang Yi mendesak kasim untuk melakukan sesi berikutnya karena kandidat nomor sepuluh tak kunjung tiba.


Kemana kah kandidat nomor sepuluh?


Siapakah dia?


**tbc