The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
316.



***


Beberapa saat yang lalu, Bayangan satu yang diberi tugas oleh tuannya untuk mencari keberadaan seseorang menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang utama Istana Tiankong. Dia menemukan sekelompok orang yang baru saja tiba. Dia memperhatikan mereka dari jarak aman agar tak diketahui oleh para penjaga dan pelayan yang hilir mudik bekerja. Benar saja kelompok itu adalah tamu yang diundang secara khusus oleh Tuannya.


'Syukurlah, orang yang sedari tadi dinantikan oleh Tuan telah tiba di istana dengan selamat.' Batin Bayangan satu.


Setelah memastikan tamu tuannya di perlakukan dengan baik, Bayangan satu pun kembali ke aula istana dengan langkah bayangannya yang menghilang dalam sekejap. Setibanya di dalam aula, dia segera memberi sebuah isyarat kepada Tuannya bahwa orang yang beliau nantikan telah tiba bersamaan dengan kasim yang menjelaskan keterlambatan kandidat nomor sepuluh.


Di sisi lain tepatnya dihalaman aula istana yang seluas lapangan besar. Terdapat banyak anak tangga yang menuju aula istana yang berada di atas puncak Kerajaan, Ketua prajurit segera menghentikan langkah kudanya dan memberitahu tamu yang dia pimpin jalan telah tiba ditujuan.


Instruksi yang tiba-tiba itu diikuti oleh He Tian dan Xiao Huang, kusir kuda yang tidak lain adalah Fang yin juga menghentikan laju kereta setelah mendapat arahan dari temannya. Fang yin menyimpan tali kekang kuda yang sedari tadi dia pegang ke pengait, setelah itu dia beranjak dari duduknya karena bangku yang menjadi tempat duduknya berfungsi sebagai anak tangga.


He Tian segera menghampiri Fang yin dan menarik turunkan bangku anak tangga yang akan digunakan sebagai pijakan tuannya agar aman ketika turun dari atas kereta. Di sisi lain Fang yin menyibakkan tirai penghalang yang menjadi penutup kereta, gadis itu memberitahu seseorang yang berada di dalam kereta bahwa mereka telah sampai di tujuan, dia juga mempersilahkan orang itu untuk turun dari kereta.


"Mm.." Terdengar gumaman lembut dari dalam kereta, menjawab ucapan Fang yin.


Dia adalah seorang gadis yang berparas cantik, akan tetapi kecantikannya sengaja ditutupi oleh satu helai kain putih tipis yang menggantung dari hidungnya, gadis itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya pelan ketika menjawab.


Xia yu menggerakkan tangannya mengambil sebuah tudung kepala yang memiliki kain putih di sepanjang sisi namun terbelah di bagian depan, lalu mengenakannya dengan gerakan lembut. Penampilannya terbilang sederhana namun terlihat begitu mempesona, warna putih bersih membungkus kecantikannya seolah tidak ingin terkontaminasi oleh bakteri.


Fang yin, yang sudah terbiasa dengan kecantikan itu pun selalu terpesona. Apalagi orang awam yang baru pertama melihat, mereka pasti tertegun bahkan mematung ditempat ketika melihat kecantikan yang setara dengan seorang dewi.


'Ya, seorang Dewi!' Fang yin meyakini jika kecantikan seluruh kontestan yang ada di aula istana tidak sebanding dengan kecantikan Nonanya, dia yakin bahwa Nona nya adalah gadis tercantik diantara mereka bahkan mungkin tercantik di benua ini.


Dialah Jing Xia yu, gadis abad 21 yang melakukan perjalanan waktu dari masa depan ke masa lalu karena takdirnya di tentukan untuk mensejahterakan abad kerajaan ini. Dia gadis yang telah masuk dalam kehidupan seorang kaisar dari level tertinggi kerajaan, yaitu Kaisar Yuan Zhu-Ming.


{Ilustrasi penam[ilan Xia yu, sedikit tambahan anggap saja dia memakai cadar putih diwajahnya}



'Hari ini adalah hari dimana aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya di negeri ini. Semoga pilihan dan langkah yang aku ambil ini sesuai dengan takdir masa depanku.' Batin Xia yu memantapkan hatinya. Tidak dipungkiri dalam hatinya ada perasaan gugup, namun sebisa mungkin dia menepis perasaan itu.


Semua orang yang berada di halaman aula istana seketika mengalihkan perhatian mereka pada siluet tubuh yang baru saja keluar dari dalam kereta sederhana, mulut mereka bahkan ada yang terbuka lebar saking takjub dan terpesonanya tidak terkecuali ketua prajurit, dia juga sama terkejut dengan apa yang di lihat oleh kedua matanya.


Dengan gerakan perlahan dan lembut, Xia yu keluar dari dalam kereta lalu menuruni anak tangga satu persatu dari tiga buah pijakan. Pakaian dan penutup kepala yang dia kenakan terbang terbawa angin sepoi-sepoi, membuat penampilannya terlihat sempurna.


Fang yin membantu Xia yu turun dengan memberikan tangannya untuk pegangan agar tidak terjatuh dan merusak keindahan yang tercipta. Cuaca hari ini begitu cerah, angin musim semi yang tidak terlalu kuat menerbangkan kain tipis yang menghalangi wajah Xia yu, rasa penasaran pun mulai menghantui orang-orang yang berada di halaman. Mereka penasaran dengan wajah yang ada dibalik kain penutup wajah atau cadar.


"Akankah indah seindah penampilan luarnya, atau tidak sama sekali? Namun melihat bagaimana Ketua prajurit memperlakukan gadis itu dengan sopan, tentunya gadis itu bukan gadis sembarangan bukan?" Pertanyaan dari orang-orang yang ada disana.


"Hari ini hari dimana Kaisar Yuan akan memilih calon permaisuri, tidak ku sangka akan melihat seorang tuan putri yang begitu menakjubkan." Gumam seorang penjaga yang berbicara pada temannya.


"Aku sangat ingin melihat wajah di balik cadar itu!" Balas temannya.


Mendengar bisikan itu, Xia yu menarik ujung bibirnya ke atas. Dia merasa tertarik bermain dengan mereka, 'Baiklah, karena kalian ingin melihat paras ku maka akan aku tunjukkan satu kali ini saja' Xia yu bergumam dalam hatinya.


Tangan Xia yu membuat sebuah gerakan kecil dibalik lengan bajunya, secara tiba-tiba semilir angin menerpa wajahnya membuat kain tipis yang berada diwajahnya terbang dengan gerakan lembut. Dalam momentum itu, Xia yu menaikkan wajahnya menoleh ke arah orang-orang yang membisikkannya. Senyuman manis terukir di bibirnya yang tersamar oleh cadarnya yang melambai-lambai tertiup angin. Namun tetap saja orang-orang itu dapat melihat kecantikannya yang tersembunyi.


"Benar-benar menakjubkan!" Seruan para penjaga yang sekilas melihat wajah dan senyuman manis nan menggoda milik Xia yu.


Xia yu sengaja melakukan itu, dia yakin orang-orang disana pasti akan menyebarkan rumor kecantikannya. Dia akan memberikan kesan yang tak terlupakan kepada mereka, menjalankan perannya sebagai gadis cantik yang misterius.


'Menarik sekali bukan.. Xixixi' batin xia yu terkekeh dengan kelakuannya sendiri.


"Wah, memang layak terpilih menjadi calon permaisuri, CANTIK SEKALI!"


"Eh, cadarnya tidak bergerak lagi, sudah tidak kelihatan."


"Sayang sekali, angin ayo berhembus lagi..."


'Sudah, aku tidak mau lagi berpura-pura lembut.' Batin Xia yu kembali pada mimik wajahnya yang datar.


'Nona, nona.. Anda selalu tahu saja cara memanfaatkan situasi.' Batin Fang yin yang secara naluriah sudah paham dengan kelakuan tuannya.


"Jaga sopan santun kalian!" Hardik Ketua prajurit pada para penjaga dan prajurit yang berjaga di sana. "Saya mohon maaf atas ketidak sopanan mereka nona." Lanjutnya meminta maaf pada Xia yu.


"Terimakasih atas pengertiannya Nona.." Ujar Ketua prajurit lagi. Xia yu hanya menanggapinya dengan santai.


"Kalian, kemari lah.." Ujar Ketua prajurit memanggil beberapa pria dewasa yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seketika empat pria yang berada disana segera datang menghadap pria itu seraya memikul kayu yang menopang tandu besar di masing-masing pundak mereka.


"Silahkan Nona menaiki tandu ini untuk tiba di gedung aula yang berada di atas sana." Ujar ketua prajurit itu mempersilahkan Xia yu untuk menaiki sebuah tandu yang sengaja dipersiapkan. Hal itu dilakukan karena Aula istana berada di gedung utama, yang berada di atas puncak. Tentunya orang asing akan harus melewati puluhan anak tangga untuk sampai disana. Karena itu pula tandu dipersiapkan untuk para gadis yang terpilih menjadi calon permaisuri agar tidak kelelahan.


Perhatian Xia yu pun teralih, dia mulai memperhatikan beberapa orang dewasa yang bisa di tebak umurnya lebih dari tiga puluh tahunan, dia juga melihat ke arah puncak dimana puluhan anak tangga itu yang mungkin tidak seberapa jauh dari jalan dan tanjakan yang pernah dia pijak.


"Terlalu berlebihan!" Gumam Xia yu dengan suara pelan. Dia tidak biasa dengan perlakuan itu, sebisa mungkin dia menolaknya secara halus.


"Terimakasih atas tawarannya tuan, tapi maaf saya lebih suka berjalan dengan kedua kaki, dibandingkan harus melihat wajah para penjaga kelelahan karena memikul berat badan saya dengan tandu besar itu."


Suara penolakan Xia yu terdengar begitu lembut namun tegas. Aura mendominasi menyeruak dalam dirinya hingga membuat ketua itu terkejut sekaligus kebingungan. Dia berpikir, 'Apakah ada yang bisa menjelaskan situasi ini?'


Seolah mengerti dengan apa yang sedang di pikirkan oleh ketua itu, He Tian melangkah maju dan berkata. "Maaf, Tuan. Nona saya tidak terlalu suka dengan hal yang berlebihan seperti menaiki tandu ini. Beliau lebih senang berjalan kaki menaiki tangga ini dibanding harus melihat seseorang kesusahan." Jelas He Tian


Akhirnya si ketua dan yang lainnya paham maksud dari kata-kata Xia yu. Dia pun mempersilahkan Xia yu dan memimpin jalan kembali. 'Baru kali ini melihat seorang nona memilih berjalan dengan kedua kakinya untuk menaiki tangga, dia memilih lelah dari pada harus melihat orang kesusahan karenanya. Benar-benar berbeda dari yang lain!' Batin ketua penjaga dengan sikap Xia yu.


"Wah, aku tidak menyangka Nona itu bisa memikirkan perasaan orang-orang seperti kita." Ujar pria yang bertugas sebagai pembawa tandu.


"Ya aku juga tidak menyangka, ku pikir dia akan sombong seperti beberapa kontestan yang tadi kita pikul dengan tandu." Sahut temannya.


"Aku yakin, nona tadi akan menjadi kontestan terkuat di pemilihan calon permaisuri. Dia cantik sekali!"


"Benar, aku rasa dia gadis tercantik dari semua kontestan yang tadi aku lihat, meskipun penampilannya sederhana tapi dia tetap memukau."


"Yang terpenting dia baik hati!"


"Ahh, sepertinya aku sudah jatuh hati pada Nona itu!"


.....


Kembali kedalam aula istana, para menteri mulai protes karena kandidat nomor sepuluh belum juga muncul.


"Tidak bisa di biarkan, kandidat nomor sepuluh ini tidak layak mengikuti kontes pemilihan permaisuri ini!" Ujar Menteri Chu dengan raut wajah kesalnya. Dia berani membuka suara karena ada Menteri Huang Yi di pihaknya, secara dia memprotes seperti itu hanya untuk mewakili sekutunya.


"Benar, bukankah kandidat yang terlambat akan di diskualifikasi? Kenapa ini dibiarkan?" Lanjut sekutu lainnya. Sementara Menteri Huang hanya menampilkan ekspresi datarnya. Dia tahu kandidat selanjutkan tidak akan muncul, sebab dia telah memesan para bandit untuk membunuhnya. Tapi dia tidak tahu jika kandidat nomor sepuluh telah berganti orang, hal itu juga yang membuat Xia yu sedikit terlambat.


Hiruk pikuk kembali terdengar, mereka saling berbisik karena merasa kesal menunggu kontestan itu tak menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Sudah lewat lima belas menit dari waktu pemanggilan tapi peserta itu tetap saja tak terlihat.


"Bagaimana ini?" Gumam Kasim ketua, dia membalikkan tubuhnya menghadap singgasana kaisar. Raut wajah bingung terlihat jelas, seolah meminta perintah selanjutnya dari Kaisar Yuan. Baru saja akan melangkah mendekati kaisar, dari arah pintu depan aula terdengar suara.


"Kandidat Nomor Sepuluh telah tiba!!"


Setelah seseorang memberi pengumuman kedatangan Xia yu. Panglima Di berkata pada Xia yu. "Apakah Nana yang terhormat bersedia masuk ke dalam?"


Xia yu hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Panglima Di.


"Silahkan lewat sini.." Panglima Di bersikap hormat, dia tahu kata di hadapannya itu bukanlah orang biasa dia tidak berani menyinggung Xia yu sedikitpun.


Xia yu masuk ke dalam aula istana, dia diapit oleh ketiga temannya Xiao huang He Tian dan Fang yin yang berada di barisan belakang tubuhnya. Xia yu berada di posisi tengah berjalan dengan anggun dan tidak terburu-buru. Bak seorang model kontes kecantikan yang sedang melenggak-lenggok di atas panggung.


Beberapa orang di dalam aula istana menoleh pada sosok berpakaian putih cerah yang baru saja masuk. Beberapa orang menatapnya dengan jijik sementara beberapa orang lainnya menatapnya dengan pandangan penuh selidik.


Pada saat yang sama, Xia yu juga melihat semua orang yang ada di aula, kemudian dia menatap orang yang duduk di kursi utama yaitu singgasana. Dia adalah seorang pria dewasa yang mengenakan jubah hitam megah dengan ukiran naga emas di bagian dada. Dia duduk dengan tenang, kedua kakinya agak terbuka. Aura kepemimpinan memancar dari tubuhnya, saat itu sepasang mata yang tajam sedang menatap Xia yu.


Kaisar Yuan sedang menatap lekat pada Xia yu, memperhatikan penampilannya yang berbeda. Dia mengerutkan keningnya berpikir sejenak. 'Kenapa dia memakai baju sesederhana itu? Dan kenapa dia memakai penutup kepala juga cadar? Apa yang sedang dia rencanakan?'


Aura misterius yang terpancar dari Xia yu begitu kuat, namun entah mengapa semua orang yang ada di sana tidak dapat melihat tingkat Kultivasinya. Membuat beberapa orang disana terlihat kebingungan untuk sesaat sebelum suara tegas nan lembut Xia yu menyadarkan mereka.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Kaisar, semoga kemuliaan Yang Mulia Kaisar selalu bersama rakyatnya." Ucap Xia yu ketika menghadap Kaisar Yuan yang berada di atas singgasananya. Sebenarnya dia enggan sekali melakukan hal itu, namun apa daya dirinya saat ini tidak ada pilihan lain selain berperan sebagai gadis berpendidikan yang hidup di masa kerajaan. 'Membosankan!'


**tbc