The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
274. Tertarik kepada wanita?



***


Di tempat lain Istana Neraka, Xia yu berjalan sambil menggosok kedua tangannya. Dia mengingat kembali tatapan Tuan Neraka yang terasa aneh baginya. Dia pun bergumam.


"Tuan Neraka tidak mengarahkan pandangannya padaku, kan?" Xia yu bertanya pada dirinya sendiri. "Lagi pula wajahku tidak diberi riasan sedikitpun, bahkan aku memakai topeng. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta padaku?"


"Itu tidak mungkin. Dia tidak akan melakukannya. Aku sepertinya terlalu memikirkan hal itu.."


Xia yu menarik nafas dalam-dalam. Dia melihat Menara Medis yang ada di depan dan segera mempercepat langkahnya.


Setibanya di sana dia melihat Pak Tua Lin sedang memeriksa tanaman obat di halaman. Dia pun menyapanya.


"Pak Tua Lin! Ini Misteri!"


Sosok yang di panggil menoleh ke belakang untuk melihat Xia yu. Tiba-tiba dia menoleh ke kiri dan kanan sebelum menghampiri Xia yu dan bertanya.


"Misteri, aku dengar.. Tuan meminta kamu menjaganya semalaman ya?" Tanya Pak Tua Lin setelah berhadapan dengan Xia yu. Dia bertanya dengan suara yang pelan.


"Mmm." Xia yu mengangguk.


"Kenapa Tuan meminta kamu yang menjaga dia? Apa yang dia inginkan?" Suara Pak Tua Lin terdengar kaget. Dia menatap Xia yu dengan wajah yang bingung.


Xia yu melihat sikap Pak Tua Lin yang sangat ingin tahu. Dia pun merasa bibirnya berkedut. Lalu menjawab pertanyaan Pak Tua Lin.


"Tidak banyak yang aku lakukan. Aku hanya membantu dia ganti baju lalu segera tidur." Jawab Xia yu jujur.


Suara Xia yu terdengar agak tidak berdaya. 'Sekarang aku adalah seorang pria, oke! Kenapa mereka bertanya sambil menatapku seperti itu,? Apakah mereka pikir aku melakukan sesuatu yang aneh dengan Tuan Neraka?' Batin Xia yu.


"Ti.. Tidur?!"


Pak Tua Lin berbicara sambil terkejut. Nada suaranya agak naik, ketika dia mengatakan hal itu. Membuat semua orang yang ada dihalaman menoleh ke arah mereka.


"Untuk apa kamu berteriak sekeras itu? Kami tidur secara terpisah." Bisik Xia yu sambil memutar bola matanya.


"HUffh! Kamu membuat pria tua ini merasa takut," Pak Tua Lin menepuk dadanya sambil menghela nafas. "Beberapa hari ke depan, tolong racikan obat ini untuk aku! Tidak masalah jika itu adalah tingkat tiga, tapi akan lebih baik jika kamu meracik obat tingkat empat sebanyak dua atau tiga botol." Sambung Pak Tua Lin sambil menyerahkan nama-nama obat yang dia minta Xia yu buatkan.


Ketika mendengar ucapan Pak Tua Lin. Xia yu kembali memutar bola matanya sambil berkata. "Baiklah, aku akan naik ke atas dan mengambil tanaman obat."


Setelah mengatakan hal itu, Xia yu naik ke lantai atas. Tidak peduli bagaimana Tuan Neraka pemuda itu. Dia diijinkan mengambil tanaman obat apapun yang dia inginkan. Pak Tua Lin hanya perlu mencatatnya. Oleh karena itu, dia tidak perlu mengikuti Xia yu.


...


Dua hari kemudian..


Di gedung utama. Tuan Neraka duduk diatas kursi batu yang ada di halaman. Dia menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memegang buku dengan tangannya yang lain. Tatapannya tidak terlepas dari halaman buku itu. Dia terlihat sangat Fokus, tapi..


Sudut bibir Bayangan Satu berkedut. Dia menatap langit dan tidak tahu harus berbicara apa? Dia sudah berdiri di sana hampir dua jam. Pikirannya bergejolak ingin bertanya.


'Haruskah aku memberitahu Tuan kalau buku yang dia pegang terbalik?' Batin Bayangan Satu.


Namun karena Tuan Neraka membalik halaman beberapa kali, Bayangan Satu menjadi berpikir. 'Apakah buku itu memang dibaca secara terbalik?'


"Bayangan Satu." Panggil Tuan Neraka.


Setelah mendengar Tuan Neraka memanggilnya, Bayangan Satu langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menjawab dengan lantang.


"Saya di sini, Tuan!"


Tuan Neraka mendongak. Dia melihat Bayangan Satu berdiri tegak dengan dada membusung dan terlihat bersemangat. Tuan Neraka merasa agak kebingungan.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


"Saya sedang menuggu perintah dari Tuan!"


Tuan Neraka memperhatikan Bayangan Satu mulai dari kepala sampai kaki. Setelah merenung selama beberapa saat, dia bertanya.


"Katakan padaku, ketika seseorang tanpa sadar selalu memikirkan orang lain. Apa penyebabnya?"


"Ingin membunuhnya!"


Bayangan Satu menjawab pertanyaan tuannya tanpa berpikir. Jika ada seseorang yang selalu muncul dalam pikirannya, maka dia adalah orang yang sangat ingin dia bunuh. (kelamaan gelut wae, jadi pikirannya hanya tentang membunuh.)


Tuan Neraka meliriknya dengan tatapan aneh setelah mendengar hal itu. Lalu dia kembali berkata.


"Jika bukan ingin membunuh, tap ingin.." Kata-katanya terhenti. Dia seolah-olah sulit mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


Bayangan Satu tiba-tiba menatap Tuan Neraka. Dia terlihat baru saja memikirkan sesuatu. Dia merasa ragu untuk mengatakannya. Tapi tetap dia ucapkan.


"Tuan, jika seorang pria memikirkan seorang wanita, mungkin pria itu memiliki perasaan padanya. Tapi.."


"Tapi apa?"


"Tapi jika seorang pria memikirkan pria lain.. Saya khawatir pria itu juga tertarik dengan sesama jenis." Bayangan Satu mengucapkannya dengan sangat hati-hati. Dia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Tuan Neraka.


"Tertarik kepada wanita?" Gumam Tuan Neraka sambil tersenyum.


Melihat senyuman itu, Bayangan Satu sedikit terhenyak. Dia terkejut sekaligus bahagia mengetahui Tuannya memikirkan seorang wanita. Bukankah dua hari yang lalu tuannya tidak senang karena dirinya mengungkit para gadis di menara kecantikan.


"Malam ini, pergilah ke Menara Keindahan. Bawalah dua wanita dari tempat itu."


Tuan Neraka memberi perintah secara mendadak, itu membuat Bayangan Satu terkejut. Kemudian, dia bertanya dengan agak ragu.


"Tuan, apa.. apa yang baru saja anda katakan? Apakah saya harus membawakan dua wanita untuk Tuan?"


"Mm." Tuan Neraka mengangguk.


Bayangan Satu terlihat begitu bahagia. 'Akhirnya, Tuan Neraka membuka hatinya untuk seorang wanita.'


Baru saja merasa senang, Bayangan Satu kembali di kejutkan oleh ucapan Tuan Neraka. "Dan pergilah ke halaman kecil Tabib Misterius. Bawa dia juga ketempat ku nanti malam!"


"Hah?!" Kedua mata Bayangan Satu terbelalak kaget.


Tuan Neraka melirik Bayangan Satu dengan tatapan dingin. Dia berbicara dengan suara yang berat.


"Pergilah jika aku memang menyuruhmu pergi. Kenapa kamu malah terkejut dan banyak bertanya seperti itu?"


"Baiklah, baiklah saya akan memberitahu mereka sekarang."


Bayangan Satu menjawabnya dengan patuh. Dia merasa sangat bahagia sekaligus bingung. Bingung kenapa tuannya juga meminta dia membawa pemuda tabib itu pergi ke tempatnya nanti malam.


Atau mungkin tuannya mengundang Tabib Misterius untuk bersenang-senang bersama wanita dari menara keindahan itu. Mungkin saja.


'Surga telah membuka mata Tuan. Akhirnya dia tertarik pada wanita! Selama dua hari terakhir ini, aku khawatir jika tuan benar-benar menyukai sesama jenis..'


Batin Bayangan Satu yang melihat keanehan dari sikap Tuan Neraka ketika orang-orang membicarakan Tabib Misterius. Kadang-kadang dia akan marah saat mendengar perkataan orang lain yang menjelekkan pemuda itu. Namun dia akan tersenyum ketika dia mendengar orang lain memuji kehebatannya dalam meracik obat.


Setelah berada di Menara Diatas Awan selama beberapa hari, Serigala Abu-abu baru keluar dari sana. Dalam perjalanan pulang dia melihat Bayangan Satu sedang berjalan sambil tersenyum konyol. Hal itu membuat dia bingung dan segera menghentikan langkah Bayangan Satu lalu bertanya.


"Ada apa? Apa yang membuatmu begitu senang?"


"Eh? Kau sudah kembali?" Bayangan Satu sedikit terkejut dengan kehadiran Serigala Abu-abu. Lalu dia berkata.


"Apakah kau bersikap baik selama di sana?" Bayangan Satu menggodanya sambil tertawa.


Ketika Serigala Abu-abu mendengarnya mengungkit tempat itu, raut wajahnya langsung menjadi suram.


"Jangan pernah menyebut tempat laknat itu di hadapanku." Setelah berbicara seperti itu, dia melirik Bayangan Satu dan berkata. "Kau belum memberitahuku. Kenapa kau terlihat begitu senang?"


"Hehehe.. Biar aku beritahu, Tuan memberikan perintah padaku agar aku pergi ke Menara Keindahan dan mengirimkan dua wanita cantik untuknya malam ini." Bayangan Satu berkata sambil tersenyum. Wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Wa.. Wanita?" Serigala abu-abu bertanya sambil menatapnya dengan terkejut. "Apakah Tuan menyuruhmu memanggil dua wanita untuk melayaninya malam ini? Apakah aku tidak salah dengar?"


"Lihatlah, kau saja terkejut! Tapi itu memang benar. Sepertinya pikiran Tuan akhirnya sudah tersadarkan."


Serigala abu-abu terlihat tidak percaya. Dia lanjut bertanya. "Hanya beberapa hari aku tidak ada di sini tuan mendapat pencerahan seperti itu! Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah.. Tuan merasa tidak tenang karena suatu hal?"


'Tuan Neraka biasanya tidak tahan jika ada wanita yang mendekatinya. Bagaimana mungkin dia memerintahkan Bayangan Satu menyiapkan dua wanita untuk melayaninya? Apakah kebencian Tuan pada wanita sudah hilang?' Batin Serigala abu-abu yang tidak seratus persen percaya pada ucapan Bayangan Satu.


"Kita bisa membicarakan hal ini setelah aku kembali. Aku harus segera pergi ke Menara Keindahan untuk memberitahu mereka tentang hal ini." Bayangan Satu berbicara sambil menepuk pundak Serigala abu-abu. Kemudian, dia segera berjalan menuju Menara Keindahan.


Menurut pendapatnya, menyiapkan dua wanita untuk melayani Tuan malam ini adalah peristiwa yang besar. Dan dia tidak boleh ceroboh.


Tapi satu hal yang membuatnya penasaran adalah. Kenapa Tuannya juga menyuruh dia membawa Tabib Misterius?


****tbc


Hay..hay..


Maaf beribu maaf dua hari kemarin Author tidak update. Berhubung suasana hati Author sedang tidak sinkron. Biasalah kalau seorang jandes mah selalu dapat kritikan pedas dari beberapa orang yang sepertinya merasa iri.. hehe.. maafkeun yee**...