
***
'Siapa itu?' batin Xia yu.
ia melihat sosok bayangan seorang perempuan berbalut pakaian megah dengan jubahnya yang menyentuh tanah, di bagian rambutnya di penuhi dengan perhiasan berwarna emas.
Tidak lama, bayangan sosok perempuan itu berganti menjadi sosok perempuan yang memakai pakaian sedikit terbuka, di bagian kepalanya terdapat hiasan dari bulu burung dan bunga. namun, tak kalah megah dan anggun.
Zi Hua menjawab pertanyaan Xia yu yang ia ucapkan dalam hati. "Kedua bayangan itu adalah masa depan mu. kamu akan menjadi permaisuri dari seorang pemimpin kerajaan. menjadi ratu yang di puja oleh rakyatnya. kamu juga akan di cintai oleh lelaki yang menjadi suamimu. namun, itu semua tergantung pilihan mu."
"Masa depan ku? Permaisuri? Ratu? dan itu semua tergantung pilihan ku?!" ulang Xia yu merasa bingung dengan jawaban Zi hua. "apa maksud mu aku tidak mengerti?!" sambung Xia yu.
"Bayangan pertama adalah dirimu yang memilih menjadi permaisuri, dari pemimpin kerajaan yang di takuti oleh semua orang. pemimpin itu sangat bijaksana dan kejam terhadap penghianat. sosok pemimpin itu adalah sosok kaisar yang tampan, sedikit angkuh, dingin, kejam dan tidak suka berbaur dengan orang lain.
Sementara bayangan kedua adalah dirimu yang menjadi permaisuri, dari pemimpin kerajaan yang di musuhi oleh semua kerajaan. pemimpin itu sangat haus akan kekuasaan, ia tampan, kejam, memiliki ambisi dan obsesi yang tinggi saat ia menginginkan sesuatu." jeda Zi hua.
"Pilih lah, kamu mau menjadi permaisuri dari kerajaan yang di takuti atau di musuhi..?" sambung Zi hua memberi pilihan pada Xia yu.
Xia yu mengerutkan alisnya, ia tampak bingung dengan penjelalsan Zi hua. setelah lama berpikir Xia yu pun mengeluarkan pertanyaan. "apa aku boleh, tidak memilih keduanya?"
"jika kau tidak memilih salah satu dari pilihan yang ku berikan, maka dinasti ini akan mengalami peperangan yang tiada henti." jawab Zi hua.
"PERANG!!" ulang Xia yu terkejut dengan jawaban Zi hua.
"ya perang.."
"kenapa bisa?" tanya Xia yu masih tidak mengerti.
"karena kehadiran mu di dunia ini ibarat sebuah maghnet, maghnet yang menarik kubu selatan dan utara. dimana pun kamu berada, kamu akan menjadi perhatian semua orang. para kaum hawa akan iri dengan kecantikan dan kemampuan mu dari semua seni yang kau bisa. kamu adalah makhluk sempurna yang di ingin kan oleh semua orang. entah itu lelaki atau perempuan! setidaknya dengan memilih salah satu dari kedua pilihan itu. kau akan mendapatkan kebahagiaan serta berguna bagi seluruh umat di dinasti ini. nama mu akan di kenang, itu menjadi ratu yang dikagumi atau yang disegani. semua itu tergantung pada pilihan mu!" jelas Zi Hua tanpa jeda.
"permaisuri dari kerajaan yang ditakuti dan kerajaan yang dimusuhi, itukah pilihannya?" Xia yu mengulang kembali pilihan yang di ucapkan Zi hua.
"ya.." jawab Zi hua.
"jika aku menjadi permaisuri dari kerajaan yang ditakuti, aku masih bisa di hargai oleh semua orang. tapi jika aku memilih kerajaan yang dimusuhi semua kerajaan, tentunya hidup ku tidak akan tenang! musuh dari lelaki yang aku pilih akan memanfaatkan aku sebagai kelelmahan nya." gumam Xia yu bingung dengan kedua pilihan itu. yang ia inginkan itu, hidup bebas tidak di atur karena terikat dengan pernikahan.
Zi hua melihat kebingungan Xia yu, ia juga tahu apa yang Xia yu inginkan. tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dua pilihan itu adalah syarat mutlak yang ia tukar dengan pencabutan kutukan dari para leluhur. kemudian ia berjalan mendekati Xia yu dan berkata:
"aku tahu kamu bingung! tapi ini adalah salah satu syarat agar kamu bisa menjadi manusia abadi." ujar Zi Hua.
"tapi aku tidak bisa menikah dengan lelaki yang berasal dari kalangan petinggi kerajaan! jika aku menikah dengan salah satu dari mereka. meskipun aku menjadi ratu, suami ku akan mendua, atau bahkan bisa lebih. aku tidak mau hidup bersama lelaki yang mempunyai banyak istri!!" tolak Xia yu tegas. ia sangat membenci dengan hubungan poligami.
"aku hanya memberi mu pilihan, dan kamu hanya di tugaskan untuk memilih! masa depan masih bisa di rubah oleh mu, namun takdir akan tetap bersama mu. jika kau memilih salah satu dari keduanya, kau bisa memberi mereka syarat. tapi aku ingatkan, kau jangan memberi alasan yang membuat dirimu menyesal."
"aku bisa memberi syarat kepada calon suamiku?! kalau begitu aku akan mengambil pilihan pertama." Xia yu sangat antusias saat memberi jawaban yang sedari tadi di tunggu-tunggu oleh Zi Hua. pilihan pertama yaitu, menjadi permaisuri dari pemimpin kerajaan yang ditakuti oleh semua kerajaan.
"Bagus.. sekarang kemarilah, lihat kembali bayangan yang ada di dalam mangkuk air." ucap Zi Hua kembali menghampiri mangkuk air, kemudian mengibaskan tangannya di atas air itu.
..Wushh!..
terdapat bayangan dari sosok perempuan pertama. namun, perempuan itu membalikkan badannya kearah pantulan air, sehingga nampak jelas tatapan yang bisa meluluhkan hati sedingin es. wajahnya begitu cantik meskipun tak memakai riasan tebal. sungguh sosok ratu idaman.
"Apa itu aku?!" beo Xia yu.
"ya.." jawab Zi Hua.
Xia yu begitu terpukau dengan bayangan dirinya di dalam mangkuk air. bahkan ia tidak sadar jika di sudut matanya terdapat buliran bening air mata. tentunya itu adalah air mata kebahagiaan, bahagia karena telah mengetahui masa depannya.
"bagaimana?" tanya Zi Hua meminta pendapat Xia yu tentang masa depannya.
"Hahaha.. baiklah, apa kita bisa mulai pelatihannya, murid ku?!" Zi Hua tertawa terbahak-bahak dengan suara yang keras. kemudian memberikan pertanyaan yang membuat Xia yu berbalik seketika.
Xia yu tidak berbicara lebih banyak namun hanya berlutut, dan membungkuk untuk mengakui gurunya, dengan berkata:
"guru yang terhormat, tolong terima hormat muridmu. aku Jing Xia yu, untuk pertama kalinya memberi penghormatan kepada mu sebagai pengakuan jika aku mengakui mu sebagai guru ku.!" setelah menyatakan itu, ia menurunkan dahinya ke tanah hingga menimbulkan suara
"bagus, bagus, bagus. aku Zi Hua, ratu dari hutan kehidupan akhirnya mendapat seorang murid untuk menjadi penerus ku! Hahaha.." Zi Hua senang, kelak Xia yu akan meneruskan tujuan hidupnya.
"bangunlah dan kemari, aku akan mengalirkan sisa energi spiritual ku kepadamu.." titah Zi Hua.
mendengar perintah itu, Xia yu menaikkan kedua matanya menatap Zi hua, ia pun bangkit kembali pada posisi tegapnya, Xia yu pun berjalan menghampiri nya.
"stabilkan kesadaranmu, tenangkan hatimu, dan diamkan Qi milikmu, proses ini akan sedikit menyakitkan tapi kamu harus menahan nya."
Zi Hua berkata dengan suara yang dalam, dan akhirnya mentransfer kan energi spiritual terakhirnya pada Xia yu. energi itu akan membantu fondasi energi Qi, Xia yu agar stabil saat pelatihannya nanti. karena jika fondasi itu tidak kuat, maka pelatihan nya akan membahayakan tubuh Xia yu.
sinar cahaya terlihat bergejolak di tubuh Xia yu, memasuki saluran meridiannya dan menyelimuti titik meridiannya..
Sakit!..
Sangat nyeri!..
semua saluran meridiannya secara paksa di selimuti, oleh lonjakan kuat dari yang Qi yang mengalir, dari tipis ke besar, meregang hingga terasa seperti hampir meledak. rasa sakit yang menyiksa membuat tubuhnya memandikan keringat dingin,lebih tak tertahankan dibandingkan meminta seseorang untuk memotong daging dengan pisau.
tapi, Xia yu menggertak kan giginya dengan keras, menolak mengeluarkan suara apapun. kedua tangannya mengepal dengan kuat, darah menetes dari luka di tangannya, dimana kuku-kukunya mencakar kulitnya karena menancap terlalu dalam.
Zi Hua merasa risau saat melihat wajah Xia yu yang menjadi benar-benar pucat, akibat membesarnya saluran Meridian. Zi Hua tahu jika gadis di hadapannya ini merasakan sakit yang luar biasa, namun ia takjup dengan pertahanan diri Xia yu yang tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.
sudah hampir satu jam sebelum aura yang menutupi badan Xia yu menghilang, ia terjatuh dengan lemah ke tanah dengan nafasnya yang terengah-engah.
Zi Hua merasa cemas. "apa kamu bodoh! kenapa tidak berteriak?!" cemasnya.
Xia yu berjuang melawan kelemahan yang dia rasakan di tubuhnya, kemudian dia melihat ke arah Zi Hua, lalu bertanya.
"Guru, apa yang kamu rasakan?" cemas Xia yu, padahal hanya dia merasakan sakit itu.
"gurumu ini orang yang sudah mati cukup lama, menahan kesadaran dengan arwah ini, tentu saja tidak merasakan apa-apa. menunggu selama ribuan tahun, sampai akhirnya mendapat kamu sebagai murid demi mewujudkan keinginan ku, aku tidak menyesal," Zi Hua mengelus lembut pipi Xia yu.
"Xia yu, sebelum kamu cukup kuat untuk melindungi dirimu sendiri, ingatlah untuk bersikap cerdik dalam berbuat. jangan biarkan ada yang tahu kalau kamu memiliki tubuh goddess spirit, atau kamu akan mengundang penyiksaan terhadap dirimu sendiri. dunia bagi para cultivator itu tanpa ampun dan sangat kejam bahkan sebagai cultivator yang paling luar biasa di antara mereka. ingat kamu harus tumbuh dan berkembang lebih dulu." ucap Zi Hua memberi pesan pada Xia yu.
"baik, guru. aku akan mendengarkan mu." Xia yu mengangguk, tiba-tiba ada kehangatan yang mengalir di hatinya.
Zi Hua berjalan ke arah pohon kehidupan, ia memetik satu buah pohon itu dengan kekuatan nya, kemudian menyerahkan buah itu pada Xia yu. "makan lah buah ini, satu buah ini mengandung banyak inti makanan, kamu tidak akan merasa lapar satu hari penuh setelah mengkonsumsi buah beri ini, dengan begitu kamu bisa berkultivasi seharian penuh tanpa merasa risau akan suara yang di hasilkan perutmu saat lapar."
Xia yu mengambil buah itu dan langsung memakannya, rasanya manis dan sangat lembut, saking lembut nya ia sampai memejamkan mata, efeknya langsung terasa setelah buah itu tertelan habis. Xia yu semakin takjub dengan dunia kultivator ini.
"terimakasih guru.." Xia yu berterimakasih.
"sekarang kau sudah bisa berkultivasi, ikuti aku. aku akan membawamu ke tempat dimana aku berkultivasi." ujar Zi Hua.
"baik guru.."
mereka pun berjalan melalui beberapa jalan setapak, di sisi kanan dan kirinya terdapat aliran air yang berhiaskan bunga warna warni.
tiba di depan air terjun kecil yang terdapat celah untuk melewati air terjun itu. mereka pun masuk tanpa halangan. ternyata terdapat goa kecil dengan pijakan batu yang tertancap di atas tanah. di sana terdapat tumpukan batu yang membentuk bunga teratai.
"di atas batu itulah aku berkultivasi, sekarang adalah giliran mu.." Zi Hua menunjuk batu teratai itu.
"Mm.." Xia yu berjalan di atas batu-batuan itu, kemudian ia duduk bersila dan memfokuskan pikirannya, mulai berkultivasi.
**tbc