The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
216. Minghao, aku bukan kakakmu!



***


Keesokan harinya di dalam sebuah ruangan yang sepi, terdapat seorang gadis sedang berdiam diri didepan cermin. Gadis itu adalah Xia yu, dia sedang menatap pantulan dirinya yang ada di dalam cermin. Tatapannya begitu menelisik, seolah mencari sosok lain di dalam pantulan cermin. Tidak berapa lama dia pun mengeluarkan suara dan berkata pada pantulan cermin itu.


"Maaf, aku terlambat.. Aku tidak bisa melakukan tugasku dengan baik, aku tidak berbakti kepada nenek mu. Orang yang selalu menyayangi dirimu selama kamu menderita di kehidupan ini, dia telah pergi menyusul mu." Jeda Xia yu untuk menarik nafas.


"Dan maaf.. Aku tidak bisa tinggal bersama keluargamu, karena aku tidak mau merebut posisimu di keluarga ini. Aku akan menjelaskan kepada mereka, bahwa aku bukan dirimu, karena anggota keluarga yang mereka anggap masih hidup ini, sebenarnya tiada tiada! Karena dia sudah meninggal setelah mendapatkan hukuman keji dari suaminya.


Akan ku katakan bahwa aku menemukan mu di dalam hutan, ketika kamu berusaha melarikan diri siksaan suamimu, biar semua anggota keluargamu tahu, bahwa kamu meninggal karena penderitaan yang di berikan oleh suami mu. Dan kamu memintaku untuk menegakkan keadilan untuk mu, dengan membalas semua perbuatan keji yang di lakukan oleh selir ayahmu dan kedua anaknya. Ku harap kamu tidak menaruh amarah padaku, sekarang kita tidak berhutang apapun lagi."


Setelah mengucapkan semua itu, dia beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar ruangan. Di temani oleh Fang yin di pergi ke ruangan keluarga, dia tahu kalau semua keluarga Xia wei berada di sana untuk melakukan ritual pelepasan.


Kalian pasti bingung, kenapa Xia yu tidak mau hidup sebagai anak dari keluarga itu?


Itu karena sifat Xia yu berbanding terbalik dengan Xia wei, dia tidak mau hidup sebagai gadis lemah yang bisa ditindas oleh orang-orang. Alasan keduanya adalah karena dia telah memiliki keluarganya sendiri, dan Jendral Ho tidak kekurangan keluarga.


Jendral Ho memiliki istri dan dua anak yang berbakti padanya. Sementara keluarga yang di pilih oleh Xia yu, sangat kekurangan anggota keluarga, lebih tepatnya penyemangat hidup mereka. Semenjak kedatangan Xia yu ke hidup mereka yang tengah di ambang kematian, mampu membangkitkan kembali semangat hidup mereka, dan hingga berhasil membalaskan dendam mereka.


Sebenarnya keluarga yang Xia yu pilih masih memiliki saudara jauh, tapi Tuan Li wei dan Li zyan tidak bisa percaya pada mereka lagi. Dan kenapa Xia yu lebih yakin untuk tinggal bersama mereka, itu semua tidak lain untuk membalas kebaikan seseorang dari keluarga Li, yang telah melahirkan kembali dia ke dunia ini.


***


Ruangan keluarga kediaman Jendral Ho..


Semua keluarga Jendral Ho tengah berkumpul di dalam ruang keluarga, mereka sedang melakukan ritual penghormatan untuk almarhumah ibu kandung Jendral Ho, penghormatan akan di lakukan selama tiga hari, menunggu abu jenazah almarhumah dingin.


Xia yu berjalan menghampiri semua anggota keluarga, langkahnya di ikuti oleh Fang yin yang berusaha tegar dan tidak menteskan air mata, karena dia harus ingat kalau saat ini dirinya sedang menyamar sebagai orang asing, dan seorang pria.


Xia yu mengambil beberapa dupa lalu membakarnya, kemudian menancapkan-nya kedalam kendi yang berisi beras. Lalu dia melakukan penghormatan yang biasa di lakukan oleh orang tiongkok, Fang yin juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Xia yu, bedanya dia tidak terlalu menunjukkan kesedihannya.


Usai melaksanakan upacara penghormatan, mereka melanjutkan tradisi penghormatan dengan jamuan makan. Semua orang berkumpul dalam satu meja dan menyantap makanan yang tersaji di atas meja, keheningan tercipta tatkala semua orang fokus dengan makanan di hadapan mereka, hanya bunyi peralatan makan saja yang terdengar.


Setelah selesai makan, satu persatu keluarga meninggalkan ruangan itu, mereka sudah sangat kelelahan karena bergantian menyambut pelayad yang datang ke kediaman mereka, meninggalkan Jendral Ho, Xia yu, Minghao, dan orang terdekat mereka.


Xia yu berdiri dihadapan Jendral Ho, dia menatap pria yang seumuran dengan ayahnya, dengan mata yang sendu. Di waktu yang sama Xia yu berlutut dengan wajah yang menunduk sedih, sikapnya yang tiba-tiba membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Yu'er! Apa yang sedang kamu lakukan?" Jendral Ho memegang kedua pundak Xia yu yang terasa bergetar, ternyata dia menangis dalam diam sambil berlutut di hadapan ayah Xia wei.


"Bangunlah.. Kamu jangan seperti ini." Sambungnya membantu Xia yu berdiri.


Bukannya bangun Xia yu malah menahan lengan Jendral Ho. "Tidak! Biarkan aku melakukan hal ini untuk yang terakhir kalinya." Ucapnya membuat semua orang tidak merengutkan alisnya karena tidak mengerti dengan maksud ucapannya.


"Apa maksudmu?" Tanya Jendral Ho.


"Kakak, bangunlah.. Kamu tidak boleh seperti ini." Sambung Minghao melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan oleh Jendral Ho.


"Minghao.. Aku bukan kakak mu! Aku bukan anggota keluarga ini." Sarkas Xia yu, mencoba memberitahu mereka dengan suara getirnya. Dia menatap kedua orang itu dengan tatapan dingin, berusaha untuk tidak terbawa perasaan.


Jendral Ho dan Minghao merengutkan alisnya, mereka berdua tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Xia yu.


"Apa maksudmu dengan mengatakan, kamu bukan anggota keluarga ini. Kamu ini putri pertama ku!" Sarkas Jendral Ho, tidak menerima ucapan Xia yu.


Dari situlah Xia yu menjelaskan apa yang sudah dia rencanakan untuk bisa terlepas dari keluarga ini. Dia mengarang sebuah cerita tentang pertemuannya dengan Xia wei.


Cerita berawal ketika pertama kalinya dia bertemu dengan Xia wei saat berada di dalam hutan, dengan tubuhnya yang di penuhi oleh luka pukulan, hingga gadis lemah itu berniat untuk mengakhiri hidupnya di dalam kesunyian hutan.


Xia yu juga mengatakan kalau sebelum meninggal, Xia wei meminta dirinya pergi ke ibu kota kerajaan Bei, dia meminta Xia yu menegakkan keadilan untuknya, juga memintanya untuk membalaskan dendamnya kepada orang yang menyakiti dirinya. Sebagai balasannya dia boleh menggunakan indentitasnya.


Tapi sejak awal Xia yu tidak menginginkan identitas Xia wei, dia hanya menggunakan indentitas gadis itu untuk misi pertama yang di berikan Kakek Li. Dan akhirnya dia bisa berdiri dan hidup sebagai dirinya, tidak meniru atau menggunakan identitas orang lain.


"Tidak! Tidak mungkin.. Kamu anakku! Kamu putriku!!" Jendral Ho membantah penjelasan Xia yu.


"Jika aku benar putri mu, kenapa aku tidak melawan Raja Liu dari dulu? Kenapa aku membiarkan selir Yenny dan kedua anaknya menyakitiku? Padahal aku memiliki kemampuan beladiri! Dan kenapa kau sebagai ayah selalu mengacuhkan putrimu?"


Xia yu memberikan beberapa pertanyaan untuk membuat mereka sadar, tentang perubahan sikap anaknya yang sama sekali tidak sama dengan putri mereka yang dulu. Karena putri mereka adalah gadis polos yang lemah dan mudah ditindas.


Kedua orang itu terlihat berpikir, mencerna setiap pertanyaan yang di berikan oleh Xia yu. Hingga tiba dimana mereka teringat, jika Xia yu yang dulu atau Xia wei tidak mengerti seni beladiri, dan tidak memiliki keberanian hanya untuk bersi tatap dengan lawan bicaranya.


Hingga mereka mengingat tentang kejadian, ketika Xia yu membunuh selir Yenny tepat di depan Jendral Ho dan semua anggota kerajaan. Di tambah lagi dengan kejadian saat dirinya bertanding dengan salah satu anak selir Yenny di depan semua penduduk yang ada di ibu kota kerajaan Xing, hingga kematian lah yang menjadi takdir mereka. Sejak saat itulah orang-orang yang pernah mencemoohnya sebagai Jalan*, mulai merasa terancam dan tidak berani lagi menyinggungnya.


Jendral Ho dan Minghao telah sadar, jika yang di ucapkan oleh Xia yu memang benar adanya. Mereka berdua pun menatap Xia yu dengan intens, dan bertanya dengan nada suara yang tak jelas, antara marah, kesal, dan juga bingung.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak langsung memberitahu kami, tentang kematian Xia wei?"


Xia yu mendelik, dia pun berkata dengan malas. "Apakah kalian akan percaya, jika aku mengatakan Xia wei telah tiada? Sedangkan di hadapan kalian ada seorang gadis yang begitu mirip dengannya?"


Xia yu telak membuat mereka berdua terdiam untuk sesaat, dia pun melanjutkan kata-katanya. "Kalian tidak akan percaya bukan?"


"Kami memang tidak akan percaya, tapi kenapa kamu mau melakukan permintaan kakak ku?" Tanya Minghao.


"Itu karena aku mendapatkan perintah dari seseorang yang telah menyelamatkan nyawaku. Orang itu menyuruhku membantu kakakmu mendapatkan kembali nama baiknya, dan membalaskan rasa sakit yang dia terima sejak ayahmu menikah dengan selir Yenny."


Jendral Ho dan Minghao sudah tidak sanggup bertanya apapun lagi pada Xia yu, semua yang terjadi pada Xia wei ada campur tangan mereka. Karena mereka tidak percaya dengan ucapan Xia wei, yang menuduh selir Yenny dan kedua anaknya tidak pernah bersikap baik pada Xia wei.


Karena tidak ada pertanyaan lagi dari mereka berdua, Xia yu pun berniat mengakhiri percakapan. "Karena semua tugas ku telah usai, aku akan kembali ke kerajaan Bei. Keluarga ku pasti khawatir dengan keadaan ku."


"Tidak!" Sarkas Jendral Ho, kini dirinya lah yang berlutut di hadapan Xia yu.


"Ayah.." Ujar Minghao terkejut dengan apa yang di lakukan ayahnya.


"Yu-yu'e.. egh..." Ujar Jendral dengan gagapnya, dia terlihat kebingungan dengan sebutan apa yang harus dia panggil untuk Xia yu. Hingga dia memutuskan untuk memanggil gadis itu dengan sebutan yang umum, meskipun terasa berat untuk di ucapkan.


"No-nona, bisakah kamu tinggal sehari lagi di sini." Ucap Jendral Ho dengan mengiba.


"Untuk apa? Bukan kah tugas ku sudah selesai?" Tanya Xia yu.


"Saya hanya ingin mengenang masa lalu dengan putri saya. Hiks.. Bisakah kamu membiarkan saya merasakan kembali kehadirannya? Meskipun untuk sesaat.. hiks.." Lirih Jendral Ho dengan air matanya yang sudah tidak bisa lagi di bendung, akhirnya suara tangis haru pun terdengar.


Xia yu dapat mengerti apa yang di maksud oleh Jendral Ho, dia bisa merasakan kerinduannya pada Xia wei, dia pun luluh dan ikut berlutut, kemudian memeluk Jendral Ho dengan pelukan yang hangat.


"Baiklah, saya akan mewujudkan permintaan kalian." Ucap Xia yu membuat Jendral Ho bahagia, mereka pun saling berpelukan, seolah menukarkan kerinduan yang ada di dalam benak mereka.


Sejak saat itu Xia yu di perlakukan seperti seorang puti yang begitu di sayang oleh ayahnya. Jendral Ho tidak membiarkan dia seorang diri, dia menyuapi Xia yu dengan makanan yang di siapkan oleh istrinya. Kemudian mengajaknya ke taman dan bermain ayunan, layaknya ayah dan anak yang sedang melepas rindu. Begitu pun dengan Minghao dan anggota keluarga yang lainnya.


Mereka bagaikan keluarga yang bahagia dan harmonis, meskipun hanya untuk satu hari. Hingga tiba dimana waktunya Xia yu harus kembali ke kerajaan Bei, dia tidak menyesal telah memberitahu setengah kebenarannya kepada keluarga itu, karena dia meninggalkan mereka dengan kebenaran dan kebahagiaan.


Saat ini Xia yu dan Fang yin telah melewati gerbang ibu kota kerajaan Xing, Xia yu memberhentikan langkah kudanya, begitu pun dengan Fang yin. Kemudian mereka berdua membalikan arah kudanya, dan Xia yu berkata pada pemuda tampan dan gadis imut yang berada di belakangnya.


"Selamat tinggal... Jangan lupa berkunjung jika kalian pergi ke kerajaan Bei.." Ujarnya dari kejauhan, dia melambaikan tangan untuk perpisahannya dengan kedua adik Xia wei.


"Kami akan mengunjungimu kak!" Jawab Minghao sembari melambaikan tangan.


"Aku juga kak.. Jangan lupa, carikan jodoh untukku.." Sambung Xinxin dengan polosnya, begitu imut di mata Xia yu. Xinxin adalah adik perempuan Xia wei.


Sementara Fang yin hanya menganggukkan pelan pada Minghao dan Dali, itu adalah bentuk penghormatannya pada mantan tuannya. Setelah berpamitan, mereka berdua pun melajukan kudanya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk keluar dari kerajaan Xing.


**tbc