
***
Ketegangan yang terjadi di dalam ruang kerja Kaisar Yuan Zhu-ming bertambah tegang, tatkala seorang pengawal bayangan lainnya datang membawa kabar buruk dari Kerajaan Kegelapan.
Bayangan Satu segera menghampiri bawahannya, dia lalu bertanya dengan sedikit terburu-buru. Mungkin waktunya kurang tepat, karena saat ini Tuannya sedang murka.
"Ada apa?" Tanya Bayangan Satu.
"Maaf, Tuan Yuche, jika kedatangan saya telah mengganggu waktu anda.." Jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya meminta maaf karena melihat ekspresi tak terbaca dari atasannya.
"Berhenti berbelit-belit! Langsung pada intinya saja." Bayangan Satu memotong permintaan maaf bawahannya dengan tegas.
Mengetahui situasi saat ini tidak baik, pria itu langsung memberitahu alasannya datang ke gedung utama. Pria itu mengeluarkan sebuah bambu kuning tempat menyimpan surat dari balik pakaian luarnya, lalu menyerahkan bambu itu pada Bayangan Satu sambil berkata.
"Tuan Yuche, Pengawal Daihe berpesan agar menyerahkan pesan penting ini pada Yang Mulia secepatnya. Dia juga meminta anda, untuk tidak meninggalkan Yang Mulia ketika membaca surat ini. Karena ini besangkutan dengan Tabib Misterius." Jelas bawahan itu.
"Tabib Misterius?"
"Ya, Tuan.. Kata Pengawal Daihe, ada kabar penting yang harus segea di ketahui oleh Yang Mulia." Jelasnya lagi.
Bayangan Satu menerima bambu itu, lalu dia bertanya. "Kapan Pengawal Daihe mengirimkan pesan ini?"
Bawahannya langsung menjawab. "Kemarin siang, Tuan."
"Baiklah, kau kembali ke posisimu. Pastikan kabar apapun dari Kerajaan Kegelapan sampai dengan cepat seperti ini."
"Baik, Tuan."
Mengetahui kabar yang di terimanya besangkutan dengan Tabib Misterius, Bayangan Satu segera masuk kembali ke dalam ruang kerja Yuan Zhu-Ming. Dia juga langsung memberitahukan kabar yang di bawa oleh bawahannya tadi.
Raut wajah Tuan Neraka masih suram, namun amarahnya sudah tidak sebesar tadi. Dia menerima bambu pesan dan langsung membukanya. Kata demi kata dia baca dengan teliti, tidak meninggalkan satu huruf pun terlewat. Diwaktu yang sama matanya terbuka lebar, dia baru mengetahui kalau ternyata gadis yang berhasil menarik perhatiannya adalah seseorang yang pernah menikah. Dan mantan dari suami saat ini memiliki niat untuk menikahinya kembali.
Kabar itu, begitu mengguncang ketenangan hatinya yang kembali goyah. Kegundahan mulai menyelimuti Yuan Zhu-Ming, namun rasa ingin memiliki sosok gadis misteriusnya bertambah besar. Dia, ingat betul rasa ciuman pertama yang terjadi padanya dan gadis itu beberapa bulan yang lalu. Romansa pertama yang dia alami dalam kehidupannya, di tambah rasa nyaman dan tenang serta bahagia ketika dirinya melalui waktu bersama gadis itu.
Jing Xia yu, nama itu tertulis indah dan tersimpan rapi di dalam hati Yuan Zhu-Ming. Seolah nama Xia yu ditakdirkan untuknya. Akan tetapi, tidak di pungkiri kalau dalam hatinya ada rasa kecewa karena mengetahui dirinya adalah lelaki kedua dalam hidup gadis itu. Yuan Zhu-Ming menutup kedua matanya, membayangkan wajah cantik gadis misteriusnya. Ingatannya berputar ketika dirinya dan Xia yu tidur dalam satu tempat tempat tidur.
Malam itu, Xia yu terus berusaha melarikan diri darinya. Berbagai hal dia coba, bahkan sampai menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Pada saat itu, Yuan Zhu-Ming tertawa dalam diam. Dan di pagi harinya dia melihat jelas perubahan dari bocah nakal menjadi sosok bidadari yang muncul di bilik kamarnya. Bahkan pada waktu itu, dia merasa tidak rela mengenalkan Xia yu pada para pengawal bayangannya. Namun, dengan percaya dirinya dia membawa Xia yu kehadapan para pengawal. Saat itu juga, Yuan Zhu-Ming memproklamirkan bahwa gadis yang berdiri disampingnya adalah Calon permaisurinya.
Rasanya kejadian itu baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. Namun, detik berikutnya mata Yuan Zhu-Ming terbuka lebar. Mengingat kejadian itu menimbulkan keraguan dalam hatinya. Dia merasa calon istrinya itu sedang mempermainkannya dengan menggunakan masa lalu yang belum tentu benar.
Dalam ingatan Yuan Zhu-Ming, Xia yu adalah gadis pintar yang misterius dan licik. Berapa kali gadis itu berhasil mengecoh nya. Memikirkan itu, raut wajah suramnya berangsur menghilang, dan berganti dengan seringai licik yang tampak jelas di bibirnya.
"Aku rasa.. Gadis kecilku ini ingin melarikan diri lagi." Lirih Yuan Zhu-Ming yang langsung membuat kedua anak buahnya, menatap tak percaya padanya.
Beberapa saat yang lalu, Tuannya itu terlihat seperti raja singa yang sedang murka. Namun setelah membaca isi gulungan surat itu, ujung bibirnya terangkat, dan yang pasti kedua bawahnya itu tahu bahwa Tuannya tidak sedang tersenyum, melainkan sedang menyeringai dan menyusun rencana.
Benar saja, kini tatapan dingin Yuan Zhu-Ming beralih kearah mereka berdua. Dia menyerahkan golongan surat itu kepada Bayangan Satu, anak buahnya itu begitu terkejut melihat isi surat. Dia ingin bertanya tapi Tuannya lebih dulu memberikan perintah dengan suara yang dingin kepada Serigala abu-abu.
"Mo Han, beritahu Huang Yi, pria tua itu agar mengirimkan para gadis yang terpilih menjadi calon permaisuri untuk datang ke istana besok pagi. Aku ingin melihat, seberapa cantik dan sehebat apa perempuan yang dipilih mereka. Apakah daya tarik pion mereka dapat melebihi kelinci putihku?" Yuan Zhu-Ming berbicara dengan nada yang mengejek
Bayangan Satu dan Serigala abu-abu terkejut dengan ucapan Tuannya. Kalimat di atas menandakan jika Yuan Zhu-Ming akan mengikuti jalan cerita yang sedang di buat oleh Huang Yi. Dan kedua anak buahnya itu paham betul, mengapa tua Bangka Huang Yi begitu memaksa tuannya untuk segera menikah?
Pria tua itu ingin menjadikan cucu perempuan tersayangnya menjadi permaisuri atau selir agung di Kerajaan Tiankong. Sehingga setelah itu terjadi, dia bisa lebih leluasa menguasai kerajaan Tiankong kelak. Tentunya pikiran itu belum di ketahui oleh orang lain, hanya Yuan Zhu-Ming yang memiliki pikiran seperti itu padanya.
Meskipun dia tidak terlalu paham dengan apa yang di ucapkan Tuannya, Serigala abu-abu tetap menyanggupi tugas yang di perintahkan. Sebagai bawahan, Dia hanya bisa menjawab tanpa balik bertanya. Sebab aura kegelapan masih memancar dari tubuh Yuan Zhu-Ming, yang menandakan dirinya masih berada di fase murka, meski tidak sebesar beberapa jam yang lalu.
Usai kepergian serigala abu-abu, Bayangan Satu memberanikan diri untuk bertanya. Setelah dia membaca sekilas isi surat yang dikirim Daihe.
"Mohon maaf, Tuan. Apakah saya boleh bertanya?" Ujarnya dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Tuannya.
"Mm.." Yuan Zhu-Ming hanya bergumam, sambil mengangguk tanda memperbolehkan anak buahnya untuk bertanya.
"Tuan, apakah anda menyanggupi permintaan Raja Huang Yi, karena ternyata Xia yu pernah menikah? Dan, apakah Tuan akan menjadikan Putri Yimei sebagai permaisuri anda?" Dua pertanyaan dengan dua gadis berbeda keluar dari mulut Bayangan Satu. Sedari tadi dia ingin sekali bertanya mengenai pendapat Tuannya terhadap status Xia yu yang pernah menikah.
"Ck.. Ternyata kamu tidak sepintar itu Yuche? Aku pikir, kau bisa membedakan latar belakang dari dua gadis yang baru saja kau sebutkan namanya." Decak kesal Yuan Zhu-Ming, dia sengaja menyindir anak buahnya karena memanggil Xia yu tanpa embel-embel nona, nyonya atau apa itu.
Merasa bersalah, Bayangan Satu segera memukul mulutnya dan meminta maaf serta mengaku tidak sopan saat memanggil Xia yu.
"Maaf, Tuan. Saya sudah berlaku tidak sopan kepada Permaisuri Yu.. Tolong maafkan lidah anak buah anda yang tidak terpelajar ini." Ucap Bayangan Satu sambil menundukkan kepalanya, terlihat begitu menyesal.
Entah ide darimana Yuche membuat panggilan batu untuk Xia yu, padahal statusnya saat ini belum menjalin kasih dengan Tuannya. Sementara, Yuan Zhu-Ming sedikit terkejut saat mendengar panggilan baru Yuche untuk Xia yu. Dia menaikan alisnya dan berpikir sebelum akhirnya dia mengulang kembali panggilan untuk Xia yu.
"Permaisuri Yu?" Panggilan itu membuat garis lengkung yang indah di bibir Yuan Zhu-Ming. Detik berikutnya, pria tampan itu tertawa dengan raut wajah yang berbinar-binar. Wajah yang suramnya tenggelam dalam tawa bahagia. "Haha.. Bagus, tidak buruk! Permaisuri Yu, bukankan panggilan itu sangat cocok untuk kelinci putihku, Yuche?"
"Tentu saja Tuan, Panggilan itu sangat cocok untuk Yang Mulia." Jawab Yuche ikut bahagia karena Tuannya menyukai panggilannya.
"Hahaha!" Yuan Zhu-Ming kembali tertawa, dia benar-benar bahagia. Setelah cukup tertawa dia berhenti dan kembali berbicara pada Bayangan Satu. "Baiklah, sudah cukup tawa untuk sekarang. Sebaiknya kita susun rencana untuk membuat tua Bangka itu berhenti ikut campur dengan kerajaan ini."
"Baik, Tuan.. Oh, ya, apa Tuan benar-benar akan memilih salah satu perempuan yang terpilih menjadi calon permaisuri, Tuan?" Tanya Bayangan Satu masih mempertanyakan perintah Tuannya pada Serigala abu-abu sebelumnya.
"Tentu saja tidak! Aku sudah memiliki Permaisuri, untuk apa lagi aku memilih? Dan, bukankah kau tahu betul dimana permaisuri ku saat ini?" Jawab Yuan Zhu-Ming kembali memberikan pertanyaan.
"Tahu, Tuan.." Jawab Yuche.
"Kalau begitu, malam ini kita jemput Permaisuri Yu, dan kita buat Tua Bangka itu kehilangan muka dihadapan seluruh masyarakat!" Ujar Yuan Zhu-Ming dengan seringai licik di bibirnya. Matanya menyipit membayangkan tuan Huang Yi yang akan menanggung rasa malu karena di permainkan olehnya.
"Baik, Tuan" Yuche menjawab dengan semangat.
Tiba-tiba terlintas ide gila dipikiran Yuan Zhu-Ming, dia tersenyum sebelum bertanya pada Bayangan Satu. "Yuche, bukankah malam ini akan ada gerhana bulan?"
Bayangan Satu segera menjawab. "Benar Yang Mulia, menurut Guru Wuzi malam ini akan terjadi gerhana bulan."
"Baguslah, bagaimana kalau aku dan kelinci putihku menikah malam ini juga?" Pertanyaan ini tentu saja membuat Yuche terkejut bukan main. Sampai-sampai mulutnya terbuka karena saking kagetnya.
"Hah?!"
Yuan Zhu-Ming menghiraukan keterkejutan Bayangan Satu, dia malah memberikan perintah yang kembali mengejutkan pria itu.
"Perintahkan kepala pelayan istana, agar menyiapkan acara pernikahan untukku besok pagi secara diam-diam. Bila ada yang bertanya, katakan saja untuk menyambut Calon Permaisuri Kerajaan Tiankong."
****tbc
Maaf kalau berbelit-belit Yee**..