The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
277. Duduklah dengan baik! Biarkan aku mengobatimu..



***


Bayangan Satu dan Daihe memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar Tuannya. Takut-takut pemuda itu melakukan hal yang tidak senonoh pada Tuannya.Tapi apa yang mereka lihat disana malah membuat mereka menyesal telah masuk.


Di waktu yang sama, Xia yu yang melihat tingkah aneh Tuan Neraka pun bertambah kesal. Dia beranjak dari atas tempat tidur dan berusaha menjauh dari pria aneh itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti karena tangannya ditarik oleh Tuan Neraka. Membuat tubuhnya kembali dalam dekapan pria itu.


"Tuan, apa yang kamu lakukan?" Pekik Xia yu dengan memicingkan kedua matanya.


Saat itu, Tatapan Tuan Neraka tertuju pada tangan Xia yu. Di bagian atas siku lengan pakaian putihnya terdapat bercak darah yang lumayan besar.


Xia yu mengikuti arah pandangan Tuan Neraka yang tertuju pada tangannya. Kemudian, Xia yu berbicara sambil meraih tangannya yang terluka itu.


"Akh! Jahitan luka ditanganku terbuka lagi. Tidak masalah. Tanganku akan baik-baik saja setelah aku membalutnya."


Setelah mengatakan hal itu, Xia yu berusaha lepas dari dekapan Tuan Neraka. Siapa sangka kalau pria itu tidak mau melepaskan dekapannya. Tiba-tiba tatapannya yang tertuju pada Xia yu sangat tajam dan dipenuhi dengan amarah. Setelah dia mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu, raut wajah bahagianya berubah menjadi sangat suram. Xi ayu merasa tegang. Dia tidak berani bergerak sedikitpun.


'Apa yang salah dengan pria ini?' Batin Xia yu bertanya-tanya. Namun karena merasa risih dengan pelukan itu, Xia yu pun berbicara.


"Tuan Neraka, kamu.."


"Diam!"


Suara Tuan Neraka kembali menggelegar, namun kali ini suaranya benar-benar terdengar menakutkan. Dia menggendong tubuh Xia yu dan berjalan menuju meja. Ketika Tuan Neraka melihat pintu kamarnya yang terbuka, dia tanpa sadar melirik dua gadis yang berlutut diatas lantai. Kedua alisnya mengkerut dan berbicara pada bawahannya yang ada di ambang pintu.


"Bayangan Satu, bawa mereka kembali!"


"Tuan.." Lirih Bayangan Satu, namun terpotong karena teriakan Xia yu.


"Jangan!"


Xia yu berteriak. Ketika dia menyadari keberadaan Bayangan Satu dan Daihe, dia langsung merubah kembali ekspresi wajahnya. Dia menatap Tuan Neraka yang sedang mendekap tubuhnya dan tidak ingin melepasnya. Xia yu segera berkata berusaha untuk terlepas dari dekapan pria itu.


"Bukankah mereka dibawa kesini untuk menemani Tuan tidur? Kenapa Tuan mengusir mereka? Lihatlah dua wanita itu, mereka sangat cantik. Sayang sekali jika dua sosok yang sangat mempesona itu harus kembali!"


Ini pertama kalinya Bayangan Satu setuju dengan Xia yu. Dia merasa kata-kata Xia yu persis dengan apa yang dia pikirkan.


'Ayolah pengawal bodoh, bantu aku terlepas dari dekapan Tuanmu!' Cibir Xia yu dalam hatinya.


'Tuan meminta dua wanita untuk menemaninya setelah seian lama dia tidak menyentuh wanita. Jika aku harus mengantar mereka berdua kembali sekarang, bukankah sia-sia saja. Tapi masalahnya adalah.. Tuan sekarang sedang tersesat! Apa yang harus aku lakukan?' Bayangan Satu terlihat begitu gelisah melihat Tuannya masih mendekap Xia yu.


"Menemani aku tidur?" Ucap Tuan Neraka membuyarkan pikiran Xia yu dan Bayangan Satu. Tuan Neraka menoleh pada Xia yu, dan bertanya.


"Siapa yang bilang bahwa mereka akan menemaniku tidur?"


Mendengar pertanyaan itu, Xia yu menoleh dan menjawabnya tanpa memikirkannya terlebih dulu.


"Bayangan Satu!"


Setelah mendengar jawaban Xia yu, Tuan Neraka langsung menatap Bayangan satu dengan tajam. Kemudian dia menundukkan kepalanya dan menatap Xia yu yang masih didekap olehnya. Dia bertanya.


"Jadi.. Kamu mau datang kesini karena ucapan Bayangan Satu yang berkata seperti itu?"


"Mm, sebenarnya aku datang karena Bayangan Satu bilang kalau kamu menyiapkan Hadiah Khusus untukku! Tapi ketika mengetahui.. Satu naga melawan dua phoenix, aku belum melihat hal yang menarik seperti itu.."


Xia yu sadar bahwa ada yang salah dengan ucapannya. Dia langsung menurup mulunya dengan erat.


"Tuan, bisakah anda.. menurunkan Tabib Misterius lebih dulu?"


Tuan Neraka melirik Bayangan Satu. Kemudian, dia mendudukan Xia yu di dekat meja bundar lalu memberikan perintah.


"Bawakan aku obat luka."


Bayangan Satu tidak punya pilihan lain kecuali mengantar dua wanita itu kembali. Lalu dia mengambil obat yang diperintahkan oleh tuannya, obat untuk menyembuhkan luka Xia yu. Dia meletakkan obat itu di atas meja, setelah itu dia berdiri di samping tuannya.


Bayangan Satu melihat Tuan Neraka kembali mendekap Xia yu sambil memintanya duduk di atas pahanya. Xia yu terlihat sangat pasrah. Bayangan Satu ingin membuka mulutnya dan berbicara, tapi dia tidak tahu harus mengatakan apa.


Xia yu sangat tegang. Dia sedang dipangku oleh Tuan Neraka, tapi dia merasa seperti duduk di ranjang yang penuh dengan paku. Tubuhnya merasa sangat tidak nyaman. Namun sebaliknya, Tuan Neraka tidak merasa ada sesuatu yang salah. Dia masih melakukan apa yang ingin dia lakukan dan bersikap seolah-olah tidak ada yang salah.


Xia yu terlihat sangat gelisah karena dia tidak bisa membiarkan orang lain memegang lukanya. Itu semua karena darahnya yang beracun. Tapi dia juga bingung bagaimana caranya dia bisa menghentikan Tuan Neraka tanpa memberitahu alasannya.


Xia yu terlihat menarik nafas dan menghembuskannya. Dia memegang pergelangan tangan Tuan Neraka, namun wajahnya terlihta sedikit terkejut. Kemudian, dia menggelengkan kepalanya dan berkata.


"Tuan Neraka, luka kecil ini bukan apa-apa.. Aku seharusnya tidak perlu merepotkan Tuan dan membuat Tuan mengoleskan obat ini.. Aku akan berdiri dan kembali." Ucap Xia yu. Dia ingin berdiri. Baru saja akan mengangkat tubuhnya, Tuan Neraka langsung menahan tubuh Xia yu.


"Duduklah dengan baik! Biarkan aku mengobati mu." Ucap Tuan Neraka sambil perlahan menyingkap langan baju Xia yu.


Xia yu tertegun. Namun dia benar-benar tidak bisa membiarkan orang lain menyentuh darahnya. Dengan gerakan cepat dia mengambil obat itu dan menaruhnya isinya diatas luka yang terbuka. Hal itu membuat Tuan Neraka menatapnya dengan tajam.


"Kamu!"


"Tuan, bisa membalutnya sekarang."


Ucap Xia yu sambil memalingkan wajahnya. Dia bernafas lega. Namun tubuhnya menjadi kaku seperti balok kayu setelah melakukan hal itu. Dia tidak berani bertindak ceroboh lagi. Tuan Neraka pun memilih membalut luka itu dengan kain putih yang panjang.


Ketika Bayangan Satu melihatnya, dia hanya bisa menghel;a nafas. Dia berjalan keluar dan berjaga di depan pintu. Apa yang sudah terjadi tidak perlu diragukan lagi. Tuannya telah jatuh ke dalam kubangan lumpur dan tidak bisa di tarik.


"Bayangan Satu? Kenapa aku melihat Daihe membawa dua wanita itu kembali? Apa yang terjadi? Bukankah Tuan meminta mereka menemani tidurnya?" Rentetan pertanyaan dari Serigala Abu-abu yang melihat Bayangan Satu berjaga di depan pintu. Dia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


"Kenapa kamu kesini?" Bayangan Satu malah balik bertanya sambil menghalangi pintu. Dia melihat sekilas ke dalam, kemudian dia menahan Serigala Abu-abu. Dia tidak ingin temannya itu melihat Tuan sedang memeluk Xia yu yang dia kira seorang laki-laki.


"Ada apa? Kenapa kamu menahanku?"


Serigala abu-abu tidak menyadari situasi yang sedang terjadi. Dia melihat pintu itu terbuka kemudian mengintip ke dalam. Tapi karena Bayangan Satu bersikeras mengahlanginya, Serigala Abu-abu frustasi. Dia mengulurkan tangan untuk mendorong Bayangan Satu sambil mengajukan protes.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?"


Tapi ketika kedua mata Serigala Abu-abu mengarah pada adegan yang ada di dalam kamar, kakunya menjadi lemas dan hampir terjatuh ke lantai.


"Apa.. Apakah aku tidak salah lihat? Tu.. Tuan sedang memeluk bocah itu?" Serigala Abu-abu meremas kerah Bayangan Satu dengan erat. Kedua matanya terbelalak karena kaget.


"Shutt!" Bayangan Satu menarik Serigala Abu-abu agar dia menjauh dari sana. Dia khawatir jika ucapan mereka akan terdengar oleh Tuan.


"Kamu harus pura-pura tidak melihatnya. Kembalilah ke tempat asalmu. Tuan sedang sibuk dan tidak bisa menemui kamu sekarang."


"Tidak.. Mereka.."


"Jangan bertanya padaku. Aku tidak tahu apa-apa," Ucap Bayangan Satu. Bibirnya agak tegang. Dia segera kembali untuk menjaga pintu. Sementara Serigala Abu-abu benar-benar tercengang dengan apa yang dia lihat.


**tbc