
***
Di dalam ruangan tamu balai agung, para juri dan penguji mulai berdiskusi bersama. Di sana ada beberapa menteri dan penasihat kerajaan.
"Guru Wu, sepertinya pemilihan kali akan terasa lebih sulit, tidak seperti ketika pemilihan para peserta sebelumnya." Salah satu penasihat mulai membuka suara.
"Benar, para peserta kali ini bukan gadis biasa, mereka semua gadis terbaik dari daerah yang berhubungan baik dengan kerajaan kita. Kemungkinan besar, kita bisa mendapatkan gadis yang cocok untuk pemimpin kita." Juri yang lainnya menimpali.
"Maka dari itu, kita sebagai juri harus adil dalam memberikan ujian dan nilai pada mereka. Semoga kerja keras kita bisa membuahkan hasil yang baik untuk kerajaan. Semoga Yang Mulia dapat menemukan gadis yang menjadi takdirnya dalam acara pemilihan ini." Jelas Guru Wuzi, dia mengingatkan mereka untuk bertindak adil.
"Semoga.." Ujar semua orang yang ada di dalam aula mengaminkan harapan terbesar mereka saat ini.
"Lalu, apa rencana Anda dalam pemilihan Permaisuri? Apakah Guru Wu memiliki pendapat dalam memberi ujian yang akan dilakukan besok pagi?" Salah satu juri bertanya pada Guru Wuzi.
"Ada, tahap pertama adalah membaca karakteristik. Pihak istana bekerja sama dengan perguruan Tezheng, senior dari sana akan membaca karakteristik para peserta."
"Apakah senior yang guru maksud adalah Senior Ying? Seorang ahli dalam membaca garis takdir seseorang melalui wajahnya?" Seorang juri bertanya dengan nada yang antusias.
"Ya, tapi.. Penilaiannya akan dirahasiakan terlebih dulu, karena nilai tahap pertama akan menjadi poin penentu ditahap akhir." Jelas Guru Wuzi, berhenti sesaat untuk menghela nafas setelah itu melanjutkan kembali.
"Untuk tahap kedua.." Ucapannya terhenti karena seseorang memotong ucapannya.
"Saya yang menentukan temanya." Nyonya Ye tiba-tiba berbicara dari depan pintu yang baru saja dibuka oleh pelayannya. Sorot mata tajam tertuju pada Guru Wuzi, bagaikan seekor binatang buas telah menemukan buruannya.
Semua orang mengalihkan pandangannya pada sosok perempuan itu, mereka serentak bangkit dari tempat duduknya lalu memberikan sikap hormat pada Selir Ye.
"Selamat datang, Selir Agung.." Beberapa orang menyambut kedatangan nyonya ye.
Nyonya ye melangkah maju, seorang pelayan menarik kursi dan mempersilahkan tuannya untuk duduk. Para juri dan penguji kembali mendudukkan tubuhnya dikursi mereka.
"Untuk tahap kedua dan seterusnya, saya yang menentukannya." Nyonya ye kembali membuka suara dan menegaskan dirinya yang akan mengambil keputusan untuk ujian yang akan diberikan pada para peserta.
"Terserah padamu, Nyonya Ye." Guru Wuzi mewakili yang lain menjawab ucapan nyonya ye.
Tatapan nyonya ye kembali menghunus pada Guru Wuzi, di wajahnya muncul senyuman merendahkan. Kemudian dia berkata. "Akhir-akhir ini, Anda jauh lebih melunak pada saya."
Guru Wuzi tersenyum canggung, "Saya telah mengesampingkan banyak hal saat berada di kuil." Guru Wuzi.
"Ck,ck,ck.. Jika Anda orang polos, saya mungkin tertipu dengan senyuman Anda" Nyonya ye mengejek senyuman canggung Guru Wuzi.
"Selir Agung, yang saya katakan itu tulus. Saya harap anda tidak salah paham. Jika Anda memandang segala hal di dunia dengan cara seperti itu, takkan ada seorang pun yang berada di sisimu." Jawab Guru Wuzi seraya menatap para pelayan yang datang bersama nyonya ye.
Seolah paham dengan tatapan Guru Wuzi di maksudkan untuknya, pelayan itu menatap nyalang pada lelaki paruh baya yang baru saja menyinggungnya.
"Selir Agung, karena tahap kedua dan selanjutnya Anda yang akan menentukannya, bagaimana menurut Anda jika tema untuk tahap terakhir diberikan oleh perguruan tinggi istana?" Salah satu juri sengaja berbicara diantara mereka berdua, niatnya untuk menyuarakan pendapatnya dan melerai pertikaian antara mereka berdua.
"Silahkan saja." Jawab Nyonya ye.
"Kalau begitu saya pergi keluar, karena tidak ada yang perlu saya utarakan lagi." Guru Wuzi beranjak dari tempat duduknya seraya menatap wajah nyonya ye.
"Kami juga pamit undur diri." Juri lainnya juga ikut berdiri, menyisakan Nyonya ye dan beberapa bebeapa pelayanannya.
Nyonya ye menoleh pada orang-orang yang berdiri bersama Guru Wuzi, dia pun menoleh pada pelayanannya dan berkata. "Antar kan guru wuzi dan yang lainnya kembali."
"Baik." Pelayan pribadi itu menjawab dan memberikan perintah pada bawahannya melalui sorot matanya.
Setelah kepergian mereka, sifat asli Nyonya ye muncul. Dia berkata dengan suara yang menggebu-gebu, "Pria tua itu masih saja membuatku kesal, kenapa tidak cepat mati saja?"
"Mohon bersabar Yang Mulia. Bagaimanapun saat ini pria tua itu masih menjadi orang kepercayaan Kaisar." Pelayan pribadinya memberikan pengertian.
"Cih, menghalangi jalanku saja.." Ujar Nyonya ye, raut wajahnya begitu kesal ketika membicarakan Guru Wuzi.
Diantara mereka berdua memang pertikaian, Nyonya ye begitu membenci Guru Wuzi karena selalu mencampuri urusan nya. Lelaki yang umurnya berbeda lima belas tahun darinya itu selalu menggagalkan rencananya, tidak hanya dimasa pimpinan kaisar terdahulu dan Kaisar Yuan, selalu saja menjadi orang pertama yang dapat mengetahui rencananya.
Dia baru saja kembali dari gunung woru karena mendapat hukuman dari Kaisar yang telah mengetahui bahwa dirinya telah menyiksa beberapa pelayan yang bekerja padanya. Ketika orang yang bekerja padanya dan melakukan sedikit kesalahan saja, maka akibatnya akan fatal. Beberapa bisa saja kehilangan kesadaran diri saat menjalani hukuman yang jauh dari kata manusiawi, mereka bahkan bisa kehilangan anggota tubuh jika menyinggung wanita itu.
"Yang Mulia, berapa tema yang akan anda berikan dalam ujian ini?" Pelayan pribadinya itu berusaha mengalihkan topik agar tuannya tidak menunjukkan kekejamannya lagi, bagaimana pun juga tuannya dan dirinya baru saja kembali kedalam wilayah istana. Dia tidak mau kembali ke tempat pengasingan itu.
"Lebih banyak lebih baik, aku tidak akan membiarkan orang lain menempati tempat permaisuri. Tidak akan ada yang aku loloskan selain putri ku." Jawab Nyonya ye, sebenarnya dia tidak memiliki anak dari kaisar terdahulu. Akan tetapi dirinya memiliki seorang putri dari selingkuhannya.
"Tunggu dan lihat saja, pemilihan ini akan sesulit melewati mata jarum.." Lanjutnya dengan seringai licik terlihat dari sudut mata dan bibirnya.
***
Seorang Nona mulai mencibir Xia yu, gadis menatap Xia yu dengan tatapan jijik dan merendahkan. Seolah dirinya memiliki drajat yang lebih tinggi dari Xia yu.
"Apa kalian dengar dia berasal dari mana tadi?"
"Dia dari kerajaan Xing kan?" Peserta
Kedua menjawab.
"Iya, tapi dia di usir dari kerajaannya karena selir dari ayahnya telah menjebak seorang raja dan membuatnya menjadi permaisuri. Sungguh keluarga yang memalukan!" Jawab Nona pertama yang memulai percakapan, tidak! Lebih tepatnya gosip.
"Benarkah? Aku juga dengar."
"Benar-benar konyol!"
Bla.. bla.. bla.. bla..
Suara para peserta yag sedang menggosip itu terdengar oleh Xia yu, raut wajah terlihat kesal. Sebenarnya dia sedang jenuh, hal yang membosankan dalam hidupnya ialah berkumpul dengan perempuan perempuan yang tergila-gila dengan status.
"Nona, bersabarlah. Mereka hanya gadis gadis-gadis manja yang tidak didik dengan benar oleh orang tuanya." Fang yin berbisik, dia mencoba mencoba memperingati Xia yu agar menahan amarahnya.
Akan terjadi masalah besar jika Nona nya ini turun tangan untuk mendidik beberapa gadis yang menggunjingnya itu. Mereka tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, untung saja singa betina di dalam tubuh Xia yu sedang bersemedi. Jika tidak, mereka sudah habis olehnya.
"Aku haus, tolong ambilkan aku minum." Ujar Xia yu meminta tolong pada Fang yin.
"Baik, Nona akan saya ambilkan. Tolong Nona hiraukan saja ucapan mereka yang tidak layak di dengar itu." Jawab Fang yin.
"Mm.." Xia yu hanya bergumam untuk menjawab peringatan Fang yin, bagaimanapun gadis itu yang lebih tahu tata krama seorang bangsawan. Tapi jika berhadapan dengan penghinaan, seekor semut pun dapat membela dirinya ketika terganggu.
Setelah mendapat jawaban dari tuannya, Fang yin keluar ruang peristirahatan untuk mengambil teh dari dapur istana karena di ruangan tadi tidak terdapat makanan atau pun minuman._
Yang namanya orang suka mencari masalah, pasti tidak akan kenyang jika hanya menghina dari belakang, apalagi orang yang dibicarakan tidak merespon ucapannya. Mereka pasti akan melanjutkan hinaannya tepat dihadapan orang yang mereka benci. Dan bernar saja, mereka langsung menghampiri Xia yu dengan ambisinya.
"Aku dengar kau seorang Janda?" Tanya peserta pertama.
Xia yu tidak menjawab. Dia tetap tenang karena memang kenyataannya dia seorang janda meskipun status itu milik Xia wei.
"Ya ampun sepertinya benar, dia seorang janda." Peserta lainnya membenarkan, mereka menertawai xia yu.
Tapi diantara mereka ada juga peserta yang acuh, memilih menghindar dari pada ikut ikutan mengolok-olok Xia yu. Sedangkan Xia yu malah sibuk merapihkan rambutnya dan pakaiannya, seolah-olah ke-enam gadis yang sedang mencibirnya itu terlihat geram.
"Sikap macam apa itu? Orang lain sedang berbicara padamu kau hanya diam membisu."
"Kau tidak tahu dimana tempat mu?"
"Lebih baik kau menyerah saja."
Tepat ucapan terakhir itu, Xia yu menoleh pada mereka dan berkata dengan angkuh.
"Jika kalian punya waktu luang, lebih baik mulai mencari koneksi!"
"Apa?"
"Kau? Apa katamu?!" Peserta pertama menatap nyalang pada Xia yu. Dia baru saja akan menampar Xia yu, tapi gerakannya terhenti oleh seseorang yang sedari tadi terlihat tenang.
"Cukup! Siapa yang peduli dia berasal darimana? Sekarang kita semua sama." Seorang gadis kultivator medis angkat bicara karen geram dengan tingkah para peserta lainnya yang tidak ada hentinya memojokkan Xia yu.
"Bagaimana dia bisa sama dengan kita? Dia dari kerajaan Xing yang telah dibuang oleh keluarganya, dia dijebak dan pernah menikah. Sangat tidak setara dengan kita yang bersih dan dari keluarga terpandang."
"Kau tidak malu bersaing dengannya?"
"Haah.." Gadis yang membela Xia yu menghela nafas berat, dengan wakah malas dia baru saja akan menjawab, namun seketika bungkam ketika melihat seorang peserta datang bersama dua pelayan pribadinya dengan wajah arogan yang dia tampilkan.
"Wajah kalian secantik bunga." Ujar peserta nomer sembilan ketika memasuki ruang peristirahatan. 'Akan tetapi, kecantikan kalian akan mengakhiri hidup kalian.' Gadis itu melanjutkan kata-katanya dalam hati. Matanya memperhatikan semua peserta, tatapannya terhenti ketika berhadapan dengan wajah seseorang yang masih tertutupi oleh sehelai kain tipis.
Sepersekian detik kedua matanya menatap tajam pada Xia yu hingga tidak ada yang menyadari nya, terkecuali gadis yang sedang dia tatap. Ya, Xia yu membalas tatapannya.
Seketika ada rasa tidak nyaman saat dia membalas tatapannya, dia memperhatikan setengah paras wajah Xia yu. Dia berasumsi jika gadis dihadapannya itu memiliki bekas luka di wajahnya, maka dari itu dia menutupinya dengan sehelai kain tipis. Senyum merendahkan muncul seketika dari sudut pandangan matanya. Dia yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam acara pemilihan permaisuri ini. Terlebih dirinya memliki koneksi yang baik untuk mencapai tujuannya.
**tbc