
***
Meninggalkan keriuhan yang terjadi di aula istana saat ini kita beralih ke beberapa waktu yang lalu. Kita fokus pada satu kereta kuda yang baru saja tiba di jalanan menuju Istana Tiankong. Kereta itu terlihat sederhana, tidak tampak seperti kereta kerajaan atau bangsawan.
Laju kereta kuda berjalan dengan sangat pelan, mencoba membelah kerumunan orang-orang yang berjajar di jalanan Ibukota. Terdapat dua kuda jantan yang masing-masing di kendarai oleh pemuda tampan yang berpenampilan layaknya seorang pengawal pribadi namun sangat berkelas.
Sang pengawal berjalan terlebih dulu, guna menuntun si kusir kereta agar bisa leluasa melewati kerumunan masyarakat tanpa mencelakai mereka. Hal itu sangat jelas terlihat ketika sang pengawal mengisyaratkan tangannya pada orang-orang agar menyingkir dari jalanan. Seolah-olah tuan yang berada di dalam bilik keretanya itu adalah seorang bangsawan. Tanpa menunggu lama, orang-orang itu pun menepi dan memberikan jalan untuk kereta itu lewat. Tentunya dengan sejuta pertanyaan dalam benak mereka karena penasaran akan seseorang yang berada di dalam kereta itu.
Bagaimana masyarakat tidak penasaran jika, yang mereka lihat itu adalah penampakan orang-orang yang begitu memikat hati dan mempesona. Secara penunggang pertama adalah seorang pria tampan yang terlihat dewasa dan gagah dengan rambut merah panjangnya. Sedangkan penunggang kuda kedua adalah pria yang lebih muda, namun parasnya lebih tampan dan memukau dari penunggang kuda berambut merah.
Tidak hanya mereka berdua saja yang terlihat memukau, tatapan orang-orang juga mengarah pada seorang gadis yang sedang mengendarai kereta kuda. Biasanya kusir itu seorang lelaki, tapi kali ini mereka melihat seorang gadis yang mengendarai kereta.
Gadis itu berpenampilan sederhana namun tetap mempesona. Wajahnya terlihat begitu cantik seperti seorang nona, kulit putih mulusnya yang tak tertutupi kain begitu kontras dengan warna hitam yang mengelilinginya. Pakaian serba hitam yang dia kenakan memberi kesan acuh tak acuh, ditambah sebilah pedang yang terbungkus oleh sarungnya tergantung indah di bagian pinggang, membuat para lelaki berpikir dua kali untuk mengganggunya.
Dia memegang tali kekang kuda dengan kedua tangannya. Tatapannya lurus ke depan mengikuti arahan kedua penunggang kuda yang mengawal keretanya. Dia terlihat begitu misterius dengan sikap acuh tak acuhnya saat melewati kerumunan orang-orang yang sepertinya terpesona akan kedatangan mereka.
Ya, orang-orang yang menepi di sepanjang jalan tampak begitu terpesona melihat ketampanan dan kecantikan itu. Meskipun beberapa saat yang lalu mereka baru saja di suguhkan pemandangan yang sama, akan tetapi mereka menyadari perbedaan yang begitu jauh. Kedatangan orang-orang yang baru saja melintas dihadapan mereka begitu kuat, seolah-olah mereka terhipnotis!
Dalam benak mereka mulai bermunculan tanda tanya akan jati diri orang-orang itu. Terbesit beberapa pertanyaan, siapakah orang-orang itu? Darimana mereka berasal? Ada urusan apa mereka datang ke Kerajaan Tiankong?
Sayangnya diantara mereka tidak ada yang mengetahui, namun saat melihat kemana laju kereta itu berjalan, mereka mulai meyakini bahwa seseorang yang berada di dalam kereta itu pasti orang penting yang berkunjung atau di undang oleh pihak Kerajaan.
....
Tidak berapa lama, tibalah kereta sederhana itu didepan gerbang Istana. Beberapa penjaga yang berdiri di depan pintu datang menghadang mereka. Salah satu penjaga mulai menanyakan identitas dan maksud kedatangan mereka ke Istana Tiankong. Salah satu penunggang kuda turun dari kudanya dan segera menjawab pertanyaan penjaga itu. Pria berambut merah memberitahukan identitas mereka yang berasal dari Kota B, dia juga menjelaskan alasan kedatangan mereka dengan menunjuk seseorang yang berada di dalam kereta.
"Baiklah, Kalian tolong tunggu sebentar disini. Saya harus melapor terlebih dahulu kepada Ketua." Ujar penjaga itu setelah dia mengetahui identitas dan maksud kedatangan mereka.
"Ya, silahkan.." Jawab pria berambut merah. Kemudian dia memberitahu tuannya bahwa mereka di perintahkan untuk menunggu.
Tidak berapa lama, penjaga tadi kembali dengan seseorang yang tampilannya seperti seorang ketua prajurit. Mereka berdua menghampiri tamu yang masih menunggu di luar gerbang.
"Apakah mereka tamu yang kau maksud?" Tanya lelaki itu pada penjaga tadi sambil mengarahkan telunjuknya kearah kedua penunggang kuda yang saat ini sudah turun dari kudanya.
"Ya, Tuan.." Jawab penjaga pintu gerbang.
"Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu." Titah Ketua prajurit.
"Baik, Tuan." Jawab si penjaga dan berlalu dari hadapan ketuanya dan kembali ke posisinya.
Sementara itu sang Ketua berjalan menghampiri tamu yang dimaksud. Tatapannya meneliti penampilan dari kedua penunggang kuda dan si kusir kuda serta kereta sederhana mereka. Dalam hatinya dia berkata,
'Apa benar mereka dari Kerajaan Xing?' Ketua prajurit merasa tidak percaya, secara beberapa saat yang lalu dia berada di depan pintu gerbang utama. Menyambut kedatangan rombongan para putri yang lulus seleksi untuk menjadi Permaisuri Kerajaan Tiankong.
Biasanya tamu dari sebuah kerajaan akan mengantarkan seorang Putri atau Nona dengan jajaran pengawal dan penjaga serta pelayan yang banyak sekali. Sedangkan saat ini yang dia lihat hanya ada dua pengawal, seorang kusir perempuan dan seseorang yang berada di dalam kereta. Terhitung hanya ada empat orang saja, seperti lelucon bukan?
'Apa ini tidak salah?' Batin Ketua Prajurit itu hanyut dalam pikirannya untuk sesaat sebelum dia menghampiri mereka.
"Apa benar kalian dari kerajaan Xing?" Ujar Ketua prajurit itu seketika berhadapan dengan dua penunggang kuda, dia langsung memberikan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di kepalanya.
"Benar, Tuan. Namun, sudah lama kami tidak tinggal di kerajaan Xing, melainkan di Kota B kami tinggal." Jawab pria berambut merah yang tidak lain adalah He Tian.
"Kota B?" Ulang Si Ketua prajurit itu merasa bingung dengan jawaban berbelit belit dari He tian.
"Ya,Tuan. Perkenalkan kami adalah pengawal pribadi Nona Jing. Nona kami mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu kandidat calon Permaisuri Kaisar Yuan setelah lulus seleksi yang diadakan oleh kementerian Kota B. Dan maaf, kedatangan kami terlambat karena di perjalanan tadi ada sedikit kecelakaan tak terduga." Jelas He Tian.
"Tuan, Tuan..??" Panggil He Tian karena bukannya menjawab atau mempersilahkan masuk lelaki di hadapannya itu malah terlihat melamun.
"Hah? Apa, kenapa?" Ujar ketua itu seketika tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana, apa Nona kami masih bisa mengikuti seleksi selanjutnya?" Tanya He Tian langsung pada intinya.
"Oh, iya. Apakah, Nona kalian mempunyai bukti bahwa dia memang salah satu kandidat yang terpilih?" Jawab pria itu menjalankan tugasnya kembali seperti tadi dirinya juga menanyakan hal yang sama pada semua kandidat yang terpilih.
"Tentu saja, Tuan." Jawab He Tian. Dia segera mengeluarkan gulungan kertas dari dalam bajunya, kemudian memberikannya kepada lelaki di hadapannya seraya mengucapkan beberapa kata. "Ini adalah bukti tertulis bahwa Nona kami memang terpilih."
Ketua itu pun segera membuka gulungan kertas yang ternyata adalah sebuah dekrit dengan stempel Kerajaan Tiankong. Di dalam dekrit itu juga terdapat stempel atau bisa di bilang tanda tangan Kaisar Yuan yang tidak pernah diberikan secara cuma-cuma. Stempel dengan ukiran nama Kaisar Yuan Zhu-Ming yang selalu ada ketika sebuah pengumuman perang atau tanda kepemilikan yang dicantumkan atas namanya.
Kedua tanda stempel itu tepat berada dibawah sebuah ukiran nama yang tercantum jelas dalam dekrit. Seketika lelaki itu menegakkan wajahnya yang penuh keterkejutan seraya menatap He Tian dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.
Dia paham betul maksud dari Stempel Kaisar yang artinya secara tidak langsung gadis yang berada di dalam kereta sederhana itu adalah perempuan yang dipilih secara langsung oleh Kaisar. Tidak mau menunda waktu lebih banyak lagi, Ketua itu pun segera mempersilahkan mereka masuk dengan wajah terkejutnya.
"Ba-baiklah, karena ada bukti tertulis bahwa memang benar Nona kalian aa-adalah salah satu kandidat Calon Permaisuri. Mm-maka kalian boleh masuk, dan sepertinya waktu kalian sudah tidak banyak." Jelas ketua itu kepada He Tian dengan suara yang tergagap karena gugup. Dan tanpa menunggu lama pria itu langsung memerintahkan para penjaga pintu gerbang untuk segera membuka kedua pintu yang amat besar dan berat.
"Silahkan, Tuan. Mari saya antar.." Ujar Ketua itu dengan raut wajah yang berubah drastis tidak seperti ketika pertama kali dia berhadapan dengan He Tian. Seharusnya dari awal dia paham bahwa semua tamu yang datang ke Istana bukanlah orang biasa, contohnya kedua pemuda itu yang mengeluarkan aura spiritual yang begitu kuat, mungkin tingkat kekuatan mereka berada di level yang lebih tinggi dari seorang Wariorr atau Fighter.
"Terimakasih.." Ujar He Tian seraya mengajak Xiao Huang untuk menaiki kudanya kembali. Mereka berdua segera menstabilkan kembali aura mereka yang sengaja dipancarkan untuk mendominasi orang-orang di gerbang utama untuk melancarkan aksinya.
Mereka pun beriringan masuk ke dalam wilayah Istana Tiankong. Tidak lupa juga Ketua prajurit itu memerintahkan salah satu anak buahnya untuk memberitahu seniornya yaitu Panglima kerajaan yang saat ini sedang berjaga di aula Istana. Hal itu dilakukannya untuk mencegah acara tersebut dilanjutkan ke sesi berikutnya. Tentunya dia tahu jika hal itu terjadi maka, kandidat yang sedang bersamanya saat ini akan gugur atau di diskualifikasi. Maka dari itu dia menyuruh anak buahnya untuk bergegas ke aula istana lebih dulu.
Dan benar saja, apa yang terlintas di pikirannya saat ini sedang terjadi disana. Di dalam aula istana, jajaran para menteri mulai mendesak kasim ketua yang bertugas menjadi pembawa acara. Menteri Chu dan Menteri Ye menyuruh kasim itu segera menyudahi acara perkenalan dan melanjutkan ke sesi berikutnya, yaitu bakat. Kasim itu pun mau tidak mau harus melanjutkan, akan tetapi hal itu bisa terjadi jika mendapat izin dari pemimpin mereka. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan dengan tergesa-gesa untuk menghadap Tuannya lalu menyampaikan keluhan para menteri.
Sementara di depan pintu aula Istana prajurit yang diberi pesan telah sampai. Dengan raut wajah kelelahannya setelah berlari secepat mungkin saat menaiki puluhan anak tangga, segera menyampaikan pesannya kepada Panglima Kerajaan Tiankong. Panglima Di tahu betul orang yang memberi pesannya itu tidak mungkin berbohong, itu karena dia adalah prajurit yang berada di bawah naungan juniornya yaitu Ketua prajurit yang bertugas menjaga gerbang utama Kerajaan Tiankong, orang kepercayaannya.
Raut wajah Sang Panglima yang semula datar tanpa ekspresi tiba-tiba berubah tegang, setelah mendapat sebuah pesan dari prajurit itu. Dengan tergesa-gesa dia berjalan masuk ke dalam aula istana, dari tempatnya berdiri saat ini dia melihat Kasim ketua sedang berjalan menghampiri Kaisar Yuan, mau tidak mau Panglima berlari dengan cepat memecah perhatian orang-orang yang semula terarah pada pemimpin mereka.
Sesampainya dia dihadapan Kasim ketua, panglima segera menghentikan langkahnya dan segera membisikkan pesan yang baru saja dia terima dari prajurit itu. Raut wajah kasim ketua juga tak kalah kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Orang-orang menatap heran kepada Panglima Di yang secara langsung menghadang Kasim, seolah dia menghentikan kasim itu berbicara dengan Kaisar. Wajah terkejut Kasim itu juga tak luput dari pengelihatan mereka, akan tetapi keterkejutan kasim itu hanya berselang beberapa detik saja. Karena tugas yang sedang diembannya, Kasim itu pun kembali melanjutkan tugasnya.
"Mohon maaf sebelumnya karena telah menunggu terlalu lama kandidat nomor sepuluh, baru saja Panglima Di memberitahu saya tentang keberadaan Nona Xing. Beberapa saat yang lalu Kandidat nomor sepuluh baru saja tiba di gerbang utama. Dan sepertinya kandidat nomor sepuluh ini mengalami sedikit keterlambatan karena sebuah kecelakaan kecil dalam perjalanan menuju istana. Jadi, saya harap para tamu yang hadir di aula berkenan menunggu Nona Xing tiba di aula Istana." Jelas Kasim itu kembali memecah perhatian orang-orang, dia tahu bahwa apa yang diucapkannya akan menimbulkan kericuhan. Terbukti bahwa semua orang yang berada di dalam aula itu terkejut.
"Ternyata Kandidat nomor sepuluh sudah terlambat dari waktu yang tetapkan untuk tiba di Istana!"
"Seharusnya peserta yang terlambat otomatis gugur karena keterlambatan hadir sebelum acara dimulai! Kenapa ini malah dibiarkan?"
"Ya, seharusnya diskualifikasi karena lalai dan tidak mengikuti aturan!"
"Lalu, mengapa kasim menyuruh kita harus tetap menunggu kedatang kandidat itu. Kenapa tetap dipanggil saat waktu perkenalan yang di tentukan telah habis?"
"Ini tidak adil bukan?"
Bisikan-bisikan berbagai pertanyaan dan cemoohan pun terdengar. Bahkan Kaisar yang berada di singgasananya juga mendengar bisikan itu, indra pendengarannya sangat kuat. Dia tahu gadis yang sedari tadi dia tunggu akan segera tiba, Bayangan satu baru saja memberitahunya.
Sementara wajah beberapa Menteri terlihat kesal, mungkin karena mereka berpikir kandidat nomor sepuluh yang ingin datang seenaknya. Namun, ada pula orang-orang yang kembali penasaran dengan sosok Nona Xing yang sedari tadi dipanggil tapi tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
'Orang-orang yang datang dari negeri rendahan berani-beraninya berpikir kalau dia setara dengan Kaisar Yuan. Hum, Kita lihat saja, bagaimana kamu mempermalukan dirimu sendiri dalam acara ini. aku sangat ingin melihat bagaimana rupa orang yang berani-beraninya datang terlambat dan membuatku menunggu.' Batin seseorang yang juga kesal karena keterlambatan kandidat nomor sepuluh.
**tbc