
***
"AAAA.... Prank.. Prank..."
Suara raungan perempuan beradu dengan barang-barang yang dia lempar ke sembarang arah. Perempuan yang bernama Yuri atau sering di panggil dengan sebutan Nona besar Klan Yu, sedang menangis, marah dan berontak sejadi-jadinya.
"Hentikan Yuri, hentikan! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menghancurkan semua barang di dalam kamar mu?" Suara wanita paruh baya melengking keras dari arah luar kamar gadis yang tengah mengamuk itu.
"Bicaralah pada ibu.. Jangan membuat ibu mu ini takut nak.." Dia kembali berkata, berusaha mencari cara agar anak perempuan satu-satunya, dan kesayangannya itu mau menurunkan emosinya.
Tapi sayangnya ucapan wanita paruh baya itu di balas dengan teriakan nada tinggi. Namun tak terdengar jelas kata-kata apa yang di ucapkan-nya, karena berbaur dengan raungan tangisnya yang tiada henti, kemarahan dan emosi yang meluap-luap mampu membunuh siapa pun yang terlihat oleh sudut matanya.
Sang ibu yang khawatir dengan anak perempuannya pun mencari tahu penyebab kemarahan anaknya. Dia mulai bertanya pada pelayan pribadi anaknya, tentang apa yang sedang di ributkan oleh anaknya.
Dua orang pelayan yang sekaligus pengasuhnya itu sedang turut gelisah, hanya gelengan kepala yang bisa mereka tunjukkan sebagai jawaban dari pertanyaan nyonya besar Klan Yu.
Suara bantingan dan amukan masih terdengar jelas dari dalam kamar gadis itu. Sang ibu semakin cemas dengan keadaan anaknya, dia pun memutuskan memerintah pengasuh anaknya memanggil suaminya yang ada di ruangan kerja.
Sang pengasuh berjalan ke arah ruang kerja tuan besar Klan Yu, langkahnya terhenti ketika dia berada di depan pintu tuan besar yang di takuti oleh semua bawahannya.
Sepertinya tuan besarnya ada di dalam, tapi mengapa tuan besarnya tidak mencoba menghentikan amukan anak perempuannya, yang jelas-jelas suara teriakan gadis itu sampai terdengar ke ruang kerja ayahnya.
Pintu ruangan kerja yang sedikit terbuka itu di dorongnya perlahan, pengasuh itu terlihat sangat ragu, sayangnya dia tidak bisa mengabaikan perintah dari nyonya besar keluarga ini.
"Memberi hormat pada Tuan besar.." Ujar pengasuh itu setelah berdiri di ambang pintu, dengan mengucapkan salam, dia berharap tuan besarnya tidak marah atas sikap lancangnya, yang menggangu pembicaraan antara tuan besarnya dengan seorang pria tampan, yang diketahui identitasnya adalah Pangeran Xian Ming yang berasar dari kerajaan Xifang.
Pria yang masih berusaha untuk tenang itu menatap dingin pada pelayan pribadi putrinya, seolah bertanya. Ada apa kamu datang kesini! artian dari sorot matanya.
Untuk sementara Tuan besar mengacuhkan kedatangan pelayan itu, dia memilih melanjutkan pembicaraannya dengan Pangeran Xian Ming, selang beberapa menit pembicaraan pun usai, mereka berdua pun saling berjabat tangan dan tuan besar meminta pengawalnya mengantarkan tamunya keluar dari kediamannya.
Kemudian pria paruh baya yang memiliki aura dingin itu, menghampiri pelayan yang masih setia berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Tiba-tiba...
'Plak!'
Suara tamparan keras menggema di dalam ruang kerja itu. Dengan acuhnya Tuan Besar Yu menampar pelayan pribadi anaknya, dia tidak senang jika ada yang mengganggunya ketika berbicara dengan tamunya.
"Berani sekali kau mengganggu pembicaraanku!" Bentaknya pada pelayan paruh baya itu.
"Ma-maaf tuan.. Ha-hamba tidak bermaksud.." pelayan itu segera meminta maaf, bahkan dia berlutut dengan air mata yang sudah tidak bisa lagi dia bendung.
"Apa yang membuat mu berani datang ke ruang kerja ku?!" Tuan besar Yu berusaha meredakan amarahnya dan bertanya pada pelayan itu.
Sang pelayan pun menjawab. "Nyonya besar meminta saya untuk memanggil anda, karena entah mengapa Nona besar mengamuk di dalam kamarnya." Tutur kata pelayan itu dengan hati-hati, takut menyinggung tuan besarnya lagi.
Tuan besar Yu belum mengetahui apa yang menyebabkan anaknya mengamuk, dengan langkah besarnya Tuan Yu segera keluar dari ruang kerjanya, dia pergi ke arah kamar anaknya, meninggalkan pelayan yang tadi dia tampar.
Kepergian Tuan Besar Yu di ikuti oleh pelayan dan pengawal pribadi yang siap mengikutinya kemana pun. pelayan paruh baya itu juga mengikuti kepergian tuan besarnya.
Setibanya di depan kamar Yuri, Tuan besar Yu begitu terkejut dengan apa yang dia lihat, hampir semua pelayan dan pengawalnya berkumpul di depan kamar anak kesayangannya.
"Apa yang sedang kalian lakukan!!" Suara lantang dan berat itu berhasil mengejutkan semua orang yang tengah asik menyaksikan kegaduhan dari dalam kamar Nona besar kediaman ini.
Seketika semua orang yang ada di sana berlutut meminta maaf atas apa yang mereka lihat dan dengar, tubuh mereka bergetar hebat dan rasa takut menyeruak memenuhi relung hati mereka. Semua orang tahu tentang kekejaman dan ketidak belas kasihan Tuan besarnya.
Di saat yang sama setelah suara lantang itu terdengar, pintu kamar dari gadis yang membuat kegaduhan itu terbuka, dengan bersamaan seorang gadis dengan wajah sembabnya berlari menghampiri sang pemilik suara lantang itu.
"Ayah..." Panggil Yuri dengan pilunya menghampiri sang ayah, dia memeluk tubuh besar dan kuat ayahnya dengan sangat erat, seolah menyalurkan rasa sakit di hatinya.
"Kalian semua pergilah.." Sebuah titah berasal dari tuan besar Yu, dia memerintahkan para pelayan dan pengawal yang tadi asyik menonton kegaduhan yang di sebabkan oleh putrinya untuk bubar.
Seketika semua pelayan dan pengawal membubarkan diri, perasaan mereka lega karena tidak biasanya tuan besar Yu memaafkan sikap ketidak sopanan para pekerjanya.
Beralih pada Yuri yang masih memeluk erat ayahnya, bahkan dia menangis histeris sampai membuat ayahnya kewalahan. Setelah memastikan tidak ada orang lain di antara mereka berdua, tuan besar Yu pun berbicara pada Yuri.
"Anakku, tenanglah.. Lihat, ayah ada di sini. Katakanlah, apa yang membuatmu menangis tiada henti seperti saat ini?" Ujar tuan besar Yu mencoba menenangkan anak kesayangannya.
Perlahan-lahan Yuri melepaskan pelukannya pada sang ayah, lalu dia menatap dua manik hitam milik pria besar di hadapannya. Tatapan itu begitu hangat dan sendu ketika menatapnya, tapi berbanding terbalik ketika menatap orang lain. Bahkan istrinya tidak pernah mendapatkan tatapan sehangat itu.
"Ayah.. Kaisar Yuan tidak ingin memeriksakan dirinya lagi padaku. Aku tidak tahu mengapa dia memutuskan hubungan, antara jati diriku sebagai Tabib misterius dengannya. Aku tidak ingin menjauh darinya ayah, aku ingin menikah dengannya, dia adalah pria idamanku.." LIrih Yuri dengan tangis yang belum juga usai, tapi dia tidak segan memberitahu perasaan sukanya terhadap Yuan Zhu-Ming kepada sang ayah.
Selama dua bulan ini Tuan besar Yu telah di beri keuntungan yang sangat besar oleh anaknya, karena identitas yang di tiru oleh anaknya telah menghasilkan pundi-pundi uang dan ketenaran untuk dirinya. Hal itu juga mempermudah rencananya untuk masuk kedalam area keluarga kerajaan.
Awalnya dia tidak berniat menikahkan anak perempuannya dengan Kaisar Yuan Zhu-Ming, tapi setelah mengetahui perasaan anaknya terhadap Kaisar, membuatnya senang dengan takdir yang di inginkan oleh anaknya.
Dengan alasan bahwa putrinya telah menyelamatkan Kaisar dari masalah tentang penglihatannya, dan karena itu pula, tidak ada yang mengetahui jika di antara mereka terdapat sebuah perjanjian, untuk menyembunyikan masalah penglihatan Kaisar Yuan Zhu-Ming.
Padahal masalah tentang penglihatan kaisar Yuan tidak lah enteng, karena matanya akan berubah tatkala emosinya tidak terkontrol dan menyebabkan dirinya merasakan sakit di bagian mata hingga kepala selama tiga hari.
Tuan besar Yuan yakin bahwa Kaisar akan terpikat dengan keahlian putrinya, dalam memerankan wanita multitalenta, Karena Putrinya dianugerahi kecantikan meski kalah cantik dari Xia yu, dan putrinya juga memiliki talenta dalam ilmu pengobatan, seni peran karena dia senang meniru.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukan kah tadi pagi kamu pergi ke istana untuk memeriksa Kaisar?" Tanya tuan besar Yu, yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada putri kesayangannya.
Yuri yang di tanya seperti itu pun langsung menjawab, dan menjelaskan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
**tbc